
Bara masih menimbang nimbang antara telepon atau mengirimkan pesan dulu setelah nomor Arum dia simpan dalam daftar kontaknya dia.
Oh come on Bara! Kamu tuh umur berapa? Masa nggak berani telepon cewek? Be a man cumiiii !
Akhirnya Bara memberanikan diri menelpon Arum. Setelah lima deringan, suara gadis itu pun terdengar.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam. Arum? Ini Bara" ucap Bara.
"Ya mas Bara. Mau ajak ke mangrove kan?" sahut Arum pede.
"Hah?" Bara melongo. Ini cewek ampun deh!
"Lho mas Bara telepon aku kan berarti mau ajak ke mangrove besok bukan?" tanya Arum lagi.
Bukan itu bambaaaaannggg! Bara jadi gemas sendiri.
"Besok? Aku besok tidak ada acara mau ke mangrove, Rum. Kan sudah tadi."
Arum tertawa renyah. "Ealaaahhh jebule aku sing kepedean meh diajak mas Bara ke mangrove. Maapkeun ya mas."
"Iya dimaafkan. Belum tidur Rum?" tanya Bara basa basi.
"Masih buat podcast buat kaum wanita supaya menjaga organ reproduksinya apalagi sekarang banyak yang hidup bebas jadi tidak tahu bahaya yang menyerang organ reproduksinya seperti penyakit menular *****ual, HIV/Aids, kanker serviks, gonorrhea dan macam-macam. Aku kan basicnya obgyn jadi sasaran ku adalah kaum perempuan terutama yang usia produktif bahkan anak remaja."
"Hebat kamu" puji Bara tulus.
"Hanya bisa membantu dengan cara begini. Didengar syukur Alhamdulillah, nggak ya berdoa didengerin" kekeh Arum tanpa beban.
"Kenapa kamu memilih jadi dokter obgyn?" tanya Bara.
"Benernya sederhana karena ada teman aku waktu SMA hamidun duluan dan mengalami pendarahan hebat karena tidak bilang dia hamil hingga meninggal jadi aku memutuskan menjadi dokter obgyn supaya juga bisa membuat kaum wanita aware."
"Begitu rupanya" ucap Bara.
"Iya mas hanya saja karena aku terlalu cablak, banyak yang meragukan diriku. Apa aku harus klemak klemek kayak putri keraton? Ora sabar aku, mas" keluh Arum.
Bara terbahak. Baru kali ini setelah setahun ditinggal Arum yang dulu, Bara bisa tertawa dengan wanita di luar keluarganya.
Tanpa sadar keduanya saling mengobrol berbagai macam hal dan Bara kagum dengan luasnya wawasan gadis cablak itu. Hingga sejam kemudian Bara baru sadar bahwa mereka sudah terlalu lama ngobrol.
"Maaf ya Rum, malah aku mengganggu acara membuat podcast nya" ucap Bara.
"Nggak papa mas. Aku malah seneng bisa ngobrol sama mas Bara, seru. Kapan-kapan ngobrol lagi ya mas."
"Absolutely."
***
Minggu pagi ini Bara bangun dengan perasaan bahagia. Entah kenapa sejak semalam mengobrol dengan Gendhis Arum Pradipta, semangat Bara muncul kembali. Kali ini aku akan serius mengejar Gendhis.
Suara ponselnya berbunyi dan tampak nama 'Mama' disana dan Bara pun menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum mama" sapa Bara.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam Mas. Kok kedengarannya bahagia?" selidik Alexandra.
"Iya kah? B ajah ma" sahut Bara sok cool.
"Iya deh. Kamu mau oleh-oleh apa dari Solo?" tanya Alexandra.
"Abon pak Mesran sama brem" jawab Bara.
"Oke deh. Acara kamu apa hari ini?"
"Sementara sih di rumah dulu, nggak tahu kalau Arya tiba-tiba ngajak pergi."
"Ya udah. Kemarin jadi ke mangrove?"
"Jadi ma. Senang sudah bisa motret seperti dulu lagi meskipun obyeknya kebanyakan monyet sih" gelak Bara.
"Kayak kamu nggak pernah motret monyet saja. Ada peristiwa apa lagi, mas?" tanya Alexandra.
Ish mama kok feeling-nya kuat banget!
"Gak ada ma."
"Ya udah. Ini mama mau ke Mesran sama Nisha dan Bu Kinanti."
"Salam buat semuanya ya ma. Je t'aime Maman."
"Je t'aime Bara."
***
Kemana ya? Ke Mall saja lah sudah lama gak jalan-jalan juga.
Bara pun menjalankan mobil Rubicon hitamnya menuju ke Mall Taman Anggrek. Sudah lama Bara tidak pergi ke mall dan hari ini dia kesana sekalian membeli lensa yang dia butuhkan.
Setelah memarkirkan mobilnya, Bara pun masuk ke dalam mall dan berjalan-jalan. Pria tampan itu memakai topi beanie hitam, Hoodie abu-abu, jaket army, celana jeans biru lusuh dan sneaker. Tidak tampak bahwa dirinya adalah CEO Giandra Otomotif Co.
Bara pun berjalan menuju toko kamera disana dan mulai memilih lensa yang diperlukan. Sejak kecelakaan 1,5 tahun lalu Bara benar-benar jarang memegang kamera dan kini semangatnya kembali.
Usai membeli lensa yang dibutuhkan, Bara pun berjalan-jalan sambil melihat-lihat baik baju, celana atau pun sepatu.
Ketika dirinya menuju ke sebuah kios buku, matanya melihat sesosok yang mulai dihapalnya sedang antri membeli Boba. Bara pun menghampiri sesosok itu.
"Gendhis" sapanya.
Arum yang disapa dengan nama depannya hanya manyun. "Kok dipanggil Gendhis mas?"
"Aku lebih suka memanggil kamu Gendhis, beda dan lebih jawani."
Arum tertawa. "Memang aku diragukan kejawaannya ya mas Bara? Sama siapa mas kemari?" Arum pun celingukan.
"Sendiri."
__ADS_1
"Kirain sama pacar. Kan nggak enak aku tuh, tar dikira ganggu pacar orang" cengir Arum.
"Aku jomblo kok" jawab Bara.
"Wah sesama jomblo ngenes, jalan-jalan sendiri ke mall. Beneran deh!" senyum Arum.
Panggilan SPG Boba membuat Arum mengambil pesanannya. "Maaf ya mas, aku cuma beli satu. Kan ga tahu mas Bara kesini juga."
"Nggak papa kok. Lagian mas ga begitu doyan minuman begitu."
Keduanya pun berjalan berdua.
"Kamu mau kemana lagi?" tanya Bara.
"Paling lihat-lihat saja soalnya aku sebal di kost. Lagi ada yang ribut jadi mending aku pergi saja lah!"
"Ya udah, jalan bareng saja yuk daripada gadha temen nih aku."
Arum mendelik ke arah Bara. "Mas Bara omongannya ambigu deh!"
"Ambigu gimana?" tanya Bara bingung.
"Jalan bareng. Kalau ada yang baper, dikira mas Bara ngajak pacaran padahal maksud mas Bara buka. itu kan?" kekeh Arum.
"Owalaahhh" gelak Bara. "Benar juga katamu, bisa salah maksud dan arti ya."
"Untung yang diajak ngomong aku, coba kalau cewek lain, udah klepek-klepek jebule bukan. Bisa nyesek sampai pengen kentut!" Arum tertawa ngakak.
Bara hanya tersenyum mendengar analogi receh Arum. "Kamu tuh kalau bikin istilah kok aneh-aneh sih Dis?"
"Dis? Gendhis atau Gadis? Soalnya aku juga punya temen namanya Gadis. Terus aku tanya apa kalau sudah menikah, perlu dipanggil 'Gadis' nggak soalnya sudah nggak gadis lagi. Eh aku malah dikeplak. Salahku apa ya mas?" tanya Arum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu tuh! Ya tetap namanya 'Gadis' soalnya orangtuanya kasih namanya pakai bubur merah putih plus aqiqah. Nggak heran kamu dikeplak" gelak Bara.
"Logikanya lho mas" eyel Arum.
"Ada satu keadaan yang dimana logika nggak bisa dipakai, dan itu salah satu contohnya."
Arum hanya mengangguk. "Besok kalau aku ketemu sama dia, aku panggil saja 'Mantan Gadis' soalnya dia sudah menikah" ucap Arum yakin.
"Kok aku merasa dia akan lebih dari sekedar mengeplakmu kalau ketemu, Dis" balas Bara dengan tatapan prihatin.
"Eh? Iya kah?" cengir Arum.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Lanjut besok
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1