
Bima tidak bisa konsentrasi ketika guru menerangkan tentang kisi-kisi ujian nasional tahun ini. Rasanya harum parfum lembut Arimbi masih terasa di jaketnya, kehangatan tangan Arimbi di pinggangnya seperti selimut tetangga...Eh? Ya ampun Bimaaaa!
"Bimasena! Kamu mendengarkan ibu nggak?" suara guru wanita itu membuat Bima buyar semua lamunannya.
"Nggak Bu. Bima nggak dengar" ucapnya jujur yang membuat guru itu jengkel dan teman sekelasnya tertawa.
"Keluar kamu!" Dan Bima pun keluar sambil mengangguk hormat.
"Permisi Bu" senyumnya. Yes! Tinggal nunggu Arimbi keluar jam istirahat.
Tentang Bima
Bima menunggu di kursi taman sekolah sambil membuka laptopnya. Bengkelnya buka hari ini dan dipegang oleh Bang Jono, orang kepercayaannya. Jono dulu adalah preman paling ditakuti di area tempat Bima membuka bengkel tapi setelah kalah bertarung dengan Bima, pria dengan muka seram itu akhirnya menjadi anak buahnya yang paling loyal.
Jono akhirnya diangkat Bima sebagai wakilnya jika dia harus bersekolah. Kemampuannya untuk membetulkan dan mengcustom motor, membuat bengkel Bima semakin ramai. Bahkan beberapa anak buahnya pun menjadi anak buah Bima. Remaja tampan itu pun rutin mengadakan pengajian buat para preman disana dan membuat semuanya menjadi pribadi lebih baik.
Memang tidak semua menjadi lebih baik tapi setidaknya Bima sudah berusaha, biarkan mereka mendapatkan hidayah nya sendiri. Bima teringat pesan almarhum mamanya. Kamu boleh urakan, kamu boleh berantem tapi harus ada alasannya. Jangan lupakan sholat, puasa dan sedekah.
Almarhum mamanya lah yang mendidik Bima tetap di jalurnya namun sayang penyakit kanker merenggut nyawa sang mama yang sangat dipujanya. Ketika ayahnya memutuskan menikah lagi, Bima menolak tinggal bersama dengan wanita asing itu yang dianggapnya hanya mengincar harta ayahnya. Bima keluar dari rumah mewahnya hanya membawa semua perhiasan sang mama dan barang-barang yang penting termasuk motor Kawasaki D Tracker hadiah dari sang mama sebelum meninggal.
Bima mendapatkan sebuah rumah tua tapi berada di pinggir jalan ramai dan mencoba membelinya dari sang pemilik yang memang butuh uang. Setelahnya, pelan-pelan Bima mulai membuka bengkel motor. Meskipun dia masih berusia 14 tahun, Bima sudah mempelajari motor sejak usia tiga tahun dari sang Oom yang membuka bengkel.
Berkat keuletan dan ketangguhannya, Bima berhasil menghidupi dirinya sendiri dan menghidupi keluarga orang lain. Kini Bima memeriksa semua lewat CCTV yang dipasangnya tanpa sepengetahuan anak buahnya kecuali Jono.
Bengkel hari ini ramai dan Bima bisa melihat anak buahnya bekerja dengan sungguh-sungguh. Remaja itu lalu membuka aplikasi pendaftaran ujian masuk perguruan tinggi dan mulai mendaftar ke fakultas mesin di beberapa kampus terkenal di Jakarta.
Andaikan aku nggak punya usaha, rasanya pengen ikut Arimbi ke Amrik buat kuliah disana.
Tentang Bima End.
Suara bel tanda istirahat pun berbunyi dan para siswa keluar dari kelas masing-masing dan Bima melihat gadis incarannya berjalan bersama Rina mencari tempat duduk di taman. Di tangannya terdapat paper bag yang dibawanya tadi pagi dan Bima yakin itu isinya adalah bekal makannya Arimbi.
"Arimbi Maheswari!" panggilnya membuat dua gadis itu menoleh. "Sini kosong."
Kedua gadis itu celingak-celinguk mencari tempat makan yang kosong memang tidak ada dan hanya tempat Bima yang masih kosong. Akhirnya mau tidak mau keduanya menghampiri Bima.
"Kak Bima nggak makan siang?" tanya Arimbi lembut.
"Preman macam dia mah ngapain kamu tanyakan sudah makan atau belum? Biarin aja kenapa sih?" sungut Rina. Meskipun masih ada hubungan saudara tapi jauh sekali membuat Rina dan Bima tidak dekat.
"Idiiihhh! Kalau kagak inget elu masih ada hubungan sodara, udah gue pites kayak kutu!" balas Bima sebal.
__ADS_1
"Pites gih kalau bisa!" timpal Rina yang masih ada darah timur tengah nya.
Bima hanya mengambil kertas bekas coret-coret dia dan langsung dikremes-kremes. Arimbi tertawa melihat keduanya.
"Kamu bawa makanan apa Arimbi?" tanya Bima. Arimbi mengeluarkan kotak dari paper bagnya.
"Hanya bawa ini" jawab Arimbi.
Bima langsung memajukan tubuhnya. "Aaaakkk" tanpa malu-malu minta disuapin yang membuat Arimbi mendelik.
"Kakak makan sendiri lah! Nih, aku kasih sumpit, aku pakai sendok garpu saja." Arimbi memberikan sumpit bewarna pink itu.
"Nggak mau, maunya didulang" ucap Bima dengan wajah sok imut tapi membuat Rina ingin muntah.
"Huweeeekkk!" Rina bersikap seolah muntah. Bima mendecih.
"Lebay lu, Rin!"
"Lebay mana ma lu?" pelotot Rina judes.
"Are you crazy? Dia sodara jauh gue! Masih ada hubungan darah! Amit-amit!" Rina memukul meja taman tiga kali.
Bima menatap Arimbi dengan tatapan horor lalu memegang dahi Arimbi dengan punggung tangannya. "Kamu nggak kesambit kan, Rimbi?"
Arimbi semakin terbahak.
***
Bima menunggu Arimbi keluar kelas pada jam pulang sekolah. Tadi dirinya dipanggil oleh Oomnya yang kepala sekolah, mengatakan bahwa pengajuan untuk mengambil kuliah di teknik mesin didukung penuh olehnya.
"Kamu nggak laporan sama papamu, Bim?" tanya Radit, Oom Bima.
"Malas Oom. Lagian semenjak Bima keluar dari rumah, mana pernah papa cariin? Kayaknya seneng anaknya ini ilang" dengus Bima kesal.
"Nggak boleh gitu Bim, bagaimana pun dia papa kamu" ucap Radit.
"Cuma nyumbang kecebong dia doang tapi setelahnya, mama semua yang urus aku! Mana pernah papa perhatian sama aku! Kagak ada Oom!"
Radit hanya bisa menghela nafas panjang. Savita, mama Bima, adalah kakak kandungnya dan Radit tahu bagaimana kelakuan Prayogha yang menikah dengan kakaknya karena dijodohkan. Beruntung Bima adalah hasil didikan Savita yang menjadi pribadi yang baik. Selama ini Radit lah yang mengawasi pendidikan keponakannya. Prayogha sendiri tampak tidak peduli dengan anaknya apalagi setelah menikah lagi.
__ADS_1
"Semoga kamu bisa lolos masuk UI ya" ucap Radit.
"Aamiin Oom."
Dan sekarang wajah Bima sumringah melihat gadisnya keluar dari kelas dan lagi-lagi bersama Rina. Bima menghampiri keduanya sambil tersenyum manis.
"Yuk pulang" ajak Bima.
"Eh? Tapi kak, aku ada latihan nari."
"Ya udah aku antar!" Bima menggandeng tangan Arimbi namun gadis itu berusaha melepaskan.
"Bukan begitu, tas nya di mobil Rina. Kak Bima pulang saja ke bengkel, soalnya aku sampai sore latihannya" tolak Arimbi halus.
"Ambil tas mu, kakak antar!" ucap Bima tegas dengan nada tidak menerima penolakan.
Arimbi menatap Rina yang hanya mengedikkan bahunya. "Kalau dia macam-macam, hajar saja Rimbi!"
"Ya sudah, aku sama kakak." Arimbi akhirnya mengalah daripada debat kusir.
"Nah gitu dong! Kamu berangkat sama aku, pulang juga sama aku!" senyum Bima penuh kemenangan.
Arimbi dan Rina hanya menghela nafas panjang.
***
Bima Dewasa
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Maaf telat Up-nya nanti soalnya aku sibuk di dunia nyata
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1