
Sebulan sesudah pertemuan dengan Travis dan Hoshi, Bima sekarang sedang mengikuti ospek di Universitas Indonesia setelah dia diterima menjadi mahasiswa disana jurusan teknik mesin. Arimbi sendiri lebih memfokuskan ke kelas akselerasi jadi dia bisa ke Harvard tahun depan setelah dia lolos ujian awal masuk.
Travis dibantu oleh sang ayah, James, sudah merubah semua data pribadi Bima dengan namanya yang baru, Bimasena Rahadian Hermawan. Bima pun mengikuti sidang di pengadilan negeri setelah membuat laporan ke dukcapil. Radit selalu mendampingi keponakannya sedangkan Prayogha mewakilkan melalui Gavin yang terkejut Bima dibantu oleh James dan Travis Blair.
Setelah semuanya selesai, Bima bisa bernafas lega tidak harus berurusan dengan ayah dan ibu tirinya. Sekarang dia bisa fokus untuk menuntut ilmu dan bekerja.
***
Hubungan Bima dan Arimbi sendiri seperti halnya hubungan ABG sering naik turunnya bahkan terkadang Bima ke mansion tidak bertemu Arimbi melainkan menantang catur Bara atau Ghani.
Seperti malam Minggu ini, Bima seperti biasa datang ke mansion menggunakan Kawasaki D Tracker nya. Ghani yang sedang bermain sudoku di iPad hanya menggelengkan melihat dandanan mahasiswa slengean itu yang hanya mengenakan kaos, jeans sobek-sobek dan sepatu Vans.
"Assalamualaikum Opa Ghani" sapa Bima sambil meraih tangan Ghani dan mencium punggung tangannya.
"Wa'alaikum salam. Kok kamu nggak pakai jaket?" tanya Ghani.
"Dipinjam Arimbi belum dikembalikan" jawab Bima cuek. "Wuuiihhhh pizza!" Tanpa basa basi langsung mengambil sepotong pizza..
"Arimbi Minggu depan ke Amerika lho" ucap Ghani yang sukses membuat Bima tersedak. Alexandra yang melihat Bima terbatuk-batuk, langsung menepuk punggung remaja itu.
"Mas Daniswara, jangan bikin Bima kaget dong!" tegur Alexandra ke arah suaminya yang cuek. "Minum dulu Bima." Alexandra menyerahkan sebotol air mineral yang memang tersedia di meja ruang tamu.
"Terima...kasih Oma" ucap Bima dengan suara serak.
"Lho ada kak Bima? Katanya nggak datang, kok malah datang sih?" suara Arimbi terdengar ketus membuat Ghani dan Alexandra melongo dan...kepo.
"Kan sudah rutin kalau malam Minggu pasti kesini buat ketemu kamu atau main catur dengan Oom Bara. Kan kemarin beliau kalah dua kali" jawab Bima sedikit gugup.
"Hhhmm. Nggak ketemu sama siapa itu, Nesia lah! Rubi lah! Atau cewek-cewek dari fakultas lainnya?" sindir Arimbi sambil berdiri dengan bersidekap dan menatap Bima tajam.
Ghani dan Alexandra duduk berdampingan melihat drama anak remaja itu sambil menikmati teh wasgitel dan camilan pizza.
Opa dan Oma Kepo
"Eh?" Bima terkejut. Tahu dari mana gue pergi sama Nesia dan Rubi? Padahal kita pergi ke perpustakaan, kagak ngapa-ngapain! "Kok kamu tahu?" tanya Bima pelan tak urung takut juga melihat gadisnya marah dan mode cemburu.
"Hhhmm. Berarti benar kan?" Arimbi memincingkan matanya.
"Iya tapi kita ke perpustakaan, Rimbi" jawab Bima apa adanya.
"Aku tahu kalian ke perpustakaan tapi nggak pakai acara nempel-nempel gitu juga tuh cewek! Dasar gatel! Sudah deh kak Bima, kayaknya kita nggak bisa lanjut kalau kak Bima seperti itu!" Arimbi memberikan paper bag dan diberikan ke Bima. "Ini jaket kak Bima. Sudah dicuci!"
__ADS_1
Setelahnya Arimbi pun masuk ke dalam meninggalkan Bima yang terbengong-bengong. "Hah? Arimbi? Serius? Kamu kok ninggalin aku?" teriak Bima lupa kalau dia masih di dalam rumah gadisnya.
Ghani dan Alexandra hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Kok sepertinya Bima diputusin Arimbi, ya Lexa?" celetuk Ghani tanpa beban.
"Alamat deh, bukan jodohnya Bima kalau begitu" timpal Alexandra sambil tersenyum.
Bima menatap Opa dan Oma Arimbi itu dengan tatapan melas. "Beneran ini aku diputusin Arimbi?"
"Menurut mu?" balas Ghani. "Makanya kalau kamu nggak bisa jaga hati dan mata kamu, jangan sok-sokan gaya bilang Arimbi calon istri kamu. Sekrang Opa angkat tangan karena yang menjalani itu kamu dan Arimbi. Dan Opa tidak ikutan jika Hoshi menghajar mu" ucap Ghani sadis.
Bima hanya bisa manyun.
***
Semenjak itu, Bima kesulitan bertemu dengan Arimbi bahkan telpon dan pesannya tidak ada yang dibalas satu pun.
"Aaaahhhh tega kamu, sayang!" teriak Bima di Dojo milik Takei. Hari ini dirinya memang latihan disana sembari menyalurkan emosinya diputuskan oleh Arimbi.
"Kenapa kamu?" tanya Takei.
"Arimbiku nggak kesini?" Bima menatap melas ke Takei. Pria Jepang itu melongo melihat wajah sedih Bima.
"Nggak, kan dia persiapan mau ke Harvard" jawab Takei apa adanya.
"Aku diputusin" keluh Bima sedih. Takei terkejut.
"Serius bang! Sedih aku tuh!"
"Gara-gara apa?" Takei lalu duduk di sebelah Bima. Percintaan anak ABG itu selalu membagongkan.
"Aku baru tahu dari Rina kalau pas itu Arimbi datang ke kampusku pas aku sedang berjalan dengan teman-teman kuliah yang ndilalahnya cewek semua. Kami memang hendak ke perpustakaan dan aku tidak tahu kalau Arimbiku mengikuti. Sesampainya disana dia melihat beberapa teman cewekku itu duduk sangat dekat denganku padahal aku tidak ada perasaan apa-apa karena saat itu kita sedang membahas kuliah." Bima menengadahkan kepalanya.
"Mana Arimbi memutuskan aku di depan Opa Ghani dan Oma Alexandra. Duuuhh Gusti!" Takei bisa melihat Bima benar-benar shock diputuskan Arimbi.
"Bim, mungkin memang Arimbi bukan jodoh kamu" ucap Takei hati-hati yang langsung diberikan tatapan judes Bima.
"No! Arimbi adalah jodohku!" ucap Bima tegas.
"Buktinya dia memutuskan kamu" kekeh Takei durjana.
Bima semakin manyun.
"Bim, kalian masih muda, masih punya mimpi-mimpi yang ingin kalian gapai. Arimbi memang ingin kuliah di Harvard sejak lama, sedangkan kamu ingin menjadi insinyur..."
"Udah kagak ada bang gelar insinyur!"
__ADS_1
"Si Doel masih dibilang tukang insinyur sama babeh Sabeni" celetuk Takei.
"Dih, Abang kebanyakan nonton si Doel! Sok klasik lu bang!" cebik Bima.
"Biarin! Itu namanya prinsip!" Takei dan Bima terbahak bersama.
"Quotesnya Mandra kena banget di gue! Kalau ingin Arimbi kembali, gue kudu komitmen sama omongan gue di depan Hoshi dan bang Travis!" ucap Bima penuh tekad.
"Nah! Gening pinter! Kemana saja elu selama ini?" goda Takei.
"Bang, elu kok sama njelehi nya sama Hoshi sih?" Bima memincingkan matanya.
"Keseringan kumpul sama klan Pratomo ya gini deh!"
***
Bima datang ke bandara Soekarno Hatta untuk mengantarkan gadisnya berangkat ke Massachusetts Amerika Serikat tempat kampus Harvard berada. Hoshi sudah kuliah disana bersama dengan Rama, anak Arjuna McCloud.
"Kalian kan nanti satu rumah jadi aman. Oom Arjuna dan Oom Levi akan sering nengok soalnya papi dan mami nggak bisa seenaknya ke Cambridge" pesan Bara.
"Iya papi."
"Tuh si Werkudara datang. Terserah mau kamu apain!" sarkasme Bara yang tahu hubungan keduanya putus gara-gara Bima banyak didekati cewek-cewek.
"Aku banting, boleh nggak papi?" seringai Arimbi.
"Boleh banget!" sahut Bara yang mendapat keplakan dari Arum.
Arimbi menghampiri Bima. "Aku pergi dulu kak Bima. Selamat kuliah dengan cewek-cewek itu!"
Bima hanya diam saja. "Ucapanku masih berlaku, Arimbi. Aku akan selalu menjaga hatiku untukmu."
"Hhhmm. Kita lihat saja nanti kak" ucap Arimbi.
Bima hanya menghela nafas panjang. Cewek kalau cumbokur serem yak! Eh, cumbokur kan tanda sayang ma cinta? Berarti Arimbi masih sayang ma gue dong! Bima langsung tersenyum lebar dan memeluk Arimbi.
"Aku jangan kamu hajar! Dengar kata-kataku. Bimasena Rahadian Hermawan adalah milik Arimbi Maheswari Pradipta Giandra. Begitu juga sebaliknya! Jadi aku akan menunggumu pulang ke Jakarta. Kalau aku ada kesempatan ke Massachusetts, aku akan menjengukmu. I love you Arimbi" bisik Bima di sisi telinga Arimbi yang hanya bisa terdiam. Hati gadis itu menghanga dan membalas pelukan Bima erat.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️