
Neil Blair menatap dingin ke arah Prayogha sedangkan Ghani dan Bara memilih meninggalkan mereka dan melihat kondisi Bima dari balik kaca. Meskipun selama ini mereka berdua sering darting dengan bocah slengean itu, tapi tanpa disadari, kedua ayah dan anak itu sudah menganggap Bima seperti anak mereka sendiri. Apalagi saat mengetahui kehidupan Bima yang selama ini tidak pernah dianggap ada oleh sang ayah.
"Bagaimana bisa? Siapa yang ingin membunuh Bima?" ucap Prayogha berulang-ulang.
"Kamu pikir saja sendiri!" ucap Neil dingin yang mengingatkan kepada Edward Blair, Oomnya, karena wajahnya sedikit mirip tapi kejamnya sama apalagi dengan klien dan lawannya. "James, kamu urus Prayogha! Daripada tensi Daddy naik!"
James hanya menggelengkan kepalanya. Daddy-nya kalau sudah tidak suka, bakalan sulit ditembus. James mirip Aurora sang mommy yang bisa lebih luwes jika menghadapi klien. Travis adalah gabungan dari keduanya.
"Kita duduk di sana saja, Prayogha." James mengajak duduk di kursi ruang tunggu yang agak menjauh dari keluarganya.
Prayogha dan James duduk bersama. "Tadi ada yang menaruh bom mobil di bengkel Bima dan mengakibatkan bengkelnya luluh lantak sedangkan Bima, Thanks God, sedang berada di rumahnya zoom dengan Arimbi. Travis sendiri setelah mengantarkan Bima, harus kembali karena dompet Bima terjatuh di mobilnya. Makanya Bima langsung dibawa ke rumah sakit oleh Travis karena langsung ditemukan dibantu Jono, asistennya Bima kebetulan juga disana."
"Apakah ada korban jiwa?" bisik Prayogha.
"Dua pegawainya Bima meninggal di tempat karena mereka sedang berada di ruang istirahat bengkel. Yusman dan Trisman memang diminta oleh Jono tinggal disana sambil menjaga dan menemani Bima."
"Jadi Bima tidak berada di ruang kantornya?"
"Tidak. Bima sedang di rumah nya. Beruntung anak itu cerdas membangun rumah dengan desain yang apik dan kuat." James menoleh ke arah Prayogha yang termenung. "Dia anak yang cerdas dan kuat. Harusnya kamu bersyukur memilikinya. Kamu tahu, tadi siang Bima mengatakan bahwa dia akan membantumu menerima semua asetmu tapi setelah semuanya selesai, dia akan mengembalikan semuanya."
Prayogha tersentak. "Dikembalikan?" James mengangguk.
"Jawabannya 'Aku tahu Prayogha tidak bisa hidup tanpa asetnya jadi setelah semuanya usai, aku kembalikan karena aku sudah cukup memiliki bengkel dan toko emas dari mama'. Bahkan kami bertiga disana terbengong bengong mendengarnya."
Mendengar penjelasan James, Prayogha pun menangis tersedu-sedu. "Bima, maafkan papa nak. Maafkan papa..."
***
Nathan tiba dari Singapore bersama istrinya Haura dan putrinya Safira yang berusia 14 tahun. Dokter ahli jantung itu langsung memeriksa kondisi jantung Bima dan bernafas lega melihatnya baik-baik saja mengingat parahnya luka di rusuknya.
"Arimbi bagaimana?" tanya Nathan ke Arum.
"Ini perjalanan dari New York ke Jakarta bersama Abi, Hoshi dan Ega."
"Pasti shock berat secara dia menyaksikan sendiri tubuh Bima terpental." Nathan melihat Alexandra tampak berdiskusi dengan Haura yang juga dokter spesialis syaraf. Mereka tampak serius membahas cidera kepala Bima bersama dengan dokter yang menangani.
"Terimakasih kalian mau datang. Aku lebih suka jika Bima dirawat oleh keluarga. Kasihan anak itu, tidak salah apa-apa malah jadi korban" Arum menatap sendu ke arah Bima yang masih belum sadar.
"Aku dan Haura akan tinggal di Jakarta sampai Bima sembuh sedangkan Safira bisa online school nantinya." Nathan menepuk bahu Arum. "He's tough and warrior, Dis."
"Thanks Nathan."
***
__ADS_1
Bima menge*rang ketika merasakan tubuhnya sakit semua. Brengsek! Hoshi kurang ajar! Sakit semua badanku!
"Bima" suara feminin yang sangat dikenalnya terdengar di telinganya. Arimbi? Pelan-pelan dia mulai membuka matanya dan tampak gadis yang disukainya lengkap dengan baju steril dan masker di hadapannya. Astaghfirullah! Kaget gue!
"Sayang... kok kamu ... disini? Aku... kenapa ya?" senyum Bima asal.
"Nggak, kamu nggak papa."
"Aku... dimana?"
"Di rumah sakit."
"Apa..?"
Dokter pun masuk ke dalam ruangan sambil memeriksa semua panca indera Bima bahkan mengetahui respon syaraf di semua tubuh Bima.
"Mas Bima, terasa semua ya syarafnya, tangan, kaki?" tanya dokter itu.
Bima hanya mengangguk. Alhamdulillah gue kagak lumpuh.
"Rimbi, kamu keluar dulu biar Bima bisa dibawa ke ruang rawat inap" panggil Arum dari pintu kamar. Arimbi pun menurut dan berjalan keluar kamar setelah menggenggam pelan tangan Bima.
"Halo Bima. Kenalkan aku Tante Haura, tantenya Arimbi. Tante mau tanya, apa yang terakhir kamu ingat?"
"Iya, Tante dokter syaraf. So, apa yang kamu ingat?"
Bima menatap dokter cantik itu. Terakhir yang aku ingat? "Saya habis berantem... dengan Hoshi di... Dojo keluarga."
Haura menatap Arimbi dan Hoshi bergantian di jendela kaca.
"Kenapa kamu berantem sama Hoshi?" tanya Haura lagi ke Bima.
"Disuruh Opa Eiji."
Haura mengangguk. "Tante, saya kalah berantem ya?" Haura hanya bisa menganga.
***
"Bima mengalami lost short memories. Dia hanya ingat saat terakhir berantem denganmu Hoshi tapi ledakan itu, dia tidak mengingat sama sekali." Haura menatap keluarga suaminya. "Belum mengingat tepatnya."
"Untungnya Bima tidak sampai amnesia parah. Alhamdulillah" ucap Arum.
"Bima membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk benar-benar sembuh total. Dan penjagaan ketat karena bukan tidak mungkin si pembunuh akan mengulanginya lagi jika mengetahui Bima selamat" timpal Ghani.
__ADS_1
"Kuliah baru dimulai besok September, sekarang bulan Juli jadi anggap saja kita liburan sambil nunggu orang sakit" sahut Hoshi tanpa beban. Abi langsung mengeplak kepala sepupunya.
"Mas Abi! Jangan kepalaku dong!" protes Hoshi.
"Biar otakmu sinkron sama mulutmu, Hoshi!" pendelik pria blonde bermata coklat itu.
"Kita gantian menjaga Bima. Keep alert." Ghani menatap saudara sepupunya dan keponakannya.
***
"Bagaimana hasil penyelidikannya, pak Kapten Kosasih?" tanya Ghani usai mengetahui Bima sudah dipindahkan ke ruang rawat. Kini dirinya bersama Gozali Ramadhan yang baru saja tiba dari Bali. Setelah pensiun, Gozali memutuskan pindah ke Bali dan tinggal disana bersama Humaira, istrinya.
Mendengar kekasih cucunya nyaris jadi korban pembunuhan, Gozali dan Maira pun bergegas pulang ke Jakarta. Meskipun sudah pensiun, tapi koneksinya dengan aparat kepolisian masih tetap terjalin.
"Bang Jono sudah membuka semua rekaman CCTV sebelum hancur terkena ledakan dan memang ada seorang wanita muda datang membawa CRV putih. Sekarang kami sedang mengejarnya karena identitas nya." Kapten polisi Kosasih mengambil map dan memberikan kepada Ghani dan Gozali.
Gabriella Samuel.
"Siapa ini?"
"Dia adalah adik bungsu Gavin Samuel, pengacara itu."
"AAAPPAAA?"
Neil Blair dan James Blair yang baru saja masuk ke ruangan Kosasih terkejut. Ghani dan Gozali saling berpandangan dengan keduanya.
"Kenapa Gavin berani menyuruh adiknya menaruh bom mobil itu ke bengkel Bima?" tanya Ghani emosi.
"G, ingat tensi" bisik Gozali.
"Itu yang sedang kami selidiki."
James langsung menelpon Bryan Smith. "Bry, tolong bantu cari aib orang."
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1
*Masih pada salah nebak nggak?* 😁😁😁