Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Bonchap - Travis Blair


__ADS_3

Bima dan Radit mendatangi RR's meal yang terletak di area segitiga emas Jakarta. Restauran milik keluarga Reeves itu sekarang dipegang oleh Aidan Blair dan keponakannya, Rajendra McCloud yang mengikuti jejak Oomnya menjadi chef. Tak heran jika Arimbi meminta Bima dan Radit bertemu disana.


Keduanya tiba dan seorang pelayan memberitahukan bahwa mereka sudah ditunggu di ruang VVIP. Keduanya mengikuti pelayan masuk ke ruangan yang hanya keluarga dan tamu khusus disana.


Bima melihat Arimbi duduk bersebelahan dengan seorang pria tampan berdarah bule yang sedang menatap layar MacBook nya. Buset! Itu sepupunya Arimbi? Travis Blair? Gue insecure chuy! Kalah ganteng!



Arimbi tersenyum melihat Bima dan Radit datang lalu berdiri. "Kak Bima, Pak Radit, silahkan duduk."


"Halo" sapa Travis sambil berdiri dan Bima melihat dia lebih tinggi darinya. "Saya Travis Blair, sepupu Arimbi."


Bima dan Radit menerima uluran tangan Travis dan menjabatnya. "Silahkan duduk, Bimasena, Pak Radit."


Bima dan Radit pun duduk di hadapan Arimbi dan Travis. Seorang pelayan pun datang dan mereka mulai memesan makanan dan minuman. Setelahnya, Travis menatap kedua Oom dan keponakan itu.


"Sebelumnya saya perkenalkan diri dulu ya. Saya Travis Blair dari kantor Blair & Blair Advocate Association. Saya generasi keempat dari klan Blair dan semuanya memang terjun di dunia pengacara. Kemarin, adik saya yang cantik ini sudah memberikan bayangan tentang masalah yang dihadapi calon suami masa depannya" cengir Travis yang membuat wajah Bima memerah.


"Bang, serius dikit dong" protes Arimbi yang juga memerah wajahnya.


Radit hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan keponakannya.


"Eh Abang serius, cumiiii. Oke kembali ke topik. Jadi saya sudah menyelediki permasalahan anda berdua. Pak Radit, bisa diceritakan bagaimana duduk permasalahannya jadi saya bisa ada bayangan harus berbuat apa saja." Travis menatap Radit dengan serius.


Radit pun menceritakan bagaimana mantan kakak iparnya itu berbuat seenaknya dengan kakaknya karena mereka menikah karena perjodohan. Savita Hermawan memutuskan tidak ingin bercerai karena masih memandang ayah mertuanya dan karena tahu perilaku anaknya, Baskara senior memberikan warisan toko emas yang paling besar untuk Savita dan Prayogha dilarang mengutak-atik toko itu.


Ketika Savita menderita kanker, dia memutuskan untuk mengalihkan kepemilikan toko emas itu ke tangan Radit dan Bima dengan syarat jika memang hendak menjual, harus ada tanda tangan keduanya tidak bisa salah satu.


Keputusan Savita untuk melindungi aset milik Bima dianggap Radit sangat tepat dan karena itu, Radit memutuskan untuk tidak menikah.


"Anggap saja saya seperti Albertnya Bruce Wayne karena Bima sebenarnya memiliki uang yang banyak tapi karena masih di bawah umur, aset masih dikelola saya sebagai walinya dan semuanya transparan. Bima pun tahu akan hal itu" ucap Radit.


Travis mengangguk. "Kalau boleh tahu, berapa nilai aset, pendapatan, cash flow di toko itu?"


Radit menyerahkan sebuah flashdisk dan mengambil beberapa buku dari tas kerjanya yang merupakan pembukuan toko itu. "Semuanya ada disini, Mr Blair. Kalau income bersih setiap bulan..." Radit menyebutkan nominal rata-ratanya yang membuat Travis bersiul.


"Nggak heran Prayogha sumbut pengen ambil." Travis memasang flashdisk dan mulai membuka buku catatan pembukuan. Dengan teliti pria tampan itu memeriksa satu persatu.

__ADS_1


"Arimbi, sepupumu beneran mau bantu kami? Bayar berapa?" bisik Bima ke Arimbi.


"Saya dengar itu Bimasena" sahut Travis. "Untuk kamu, saya pro Bono tapi syaratnya banyak!"


Bima hanya bisa deg-degan. Syarat apalagi? Jangan bilang gelut di Dojo, dilihat apa gue patut sama Arimbi apa kagak! Duh Gusti, bengep dong muka gue yang masih minimalis ini!


"Syarat pertama adalah jika memang kamu mau melepaskan nama Baskara dari nama belakang mu berganti ke Hermawan, semua aset Baskara kamu tidak berhak minta. Bagaimana?"


"Saya tidak perduli dengan aset keluarga Baskara, toh saya bisa mencari uang sendiri bahkan punya usaha sendiri dengan nama saya sendiri tanpa membawa-bawa nama Baskara disana." Bima menatap Travis dengan wajah tegas.


"Oke. Syarat kedua, banyak belajar bela diri, Bim. Kamu tidak bisa kalau hanya modal Taekwondo saja karena kemarin saja kamu kalah kan sama Takei?" kekeh Travis jahil.


Bima melongo. "Bagaimana..."


"Tidak ada yang lolos dari pengamatan klan Pratomo. Dan benar kata Hoshi, kamu harus berisi sedikit karena sekarang agak terlalu kurus." Arimbi dan Radit terbahak.


Dasar Hoshi sialan!


***


Travis dan Radit masih berdiskusi tentang toko miliknya dan Bima termasuk syarat penggantian nama belakang Bima karena mencakup data pribadi remaja itu semuanya, akta kelahiran, ijazah, KTP, SIM, keuangan dan kepemilikan aset.


"Arimbi, benar itu bang Travis saudara kamu?" tanya Bima.


"Lho iya, dia saudara aku, keponakannya Tante Kaia dan Oom Aidan, saudara sepupu papi. Opa buyutnya Bang Travis itu adiknya Opa buyutnya mas Abi, anaknya Tante Kaia."


Bima merasa pusing mendengar rumitnya keluarga besar Arimbi.


"Bisa nggak sih keluarga kalian nggak banyak-banyak" keluh Bima sambil meletakkan kepalanya di atas meja.


"Pusing ya mas" senyum Arimbi yang dijawab anggukan Bima. "Kalau pusing, mulai sekarang belajar silsilah keluarga ku dulu."


Bima hanya mendengus. "Banyaknyaaaaa..." Arimbi tertawa.


"Mas Bima tahu kenapa bang Travis mau membantu?"


Bima menggeleng.

__ADS_1


"Satu, karena aku yang meminta. Kedua, ada cerita di balik semua ini."


Bima menarik kepalanya dari meja dan bersikap duduk tegak bersiap untuk mendengarkan. "Ada cerita apa itu Arimbi?"


"Aku juga baru tahu dari mami kenapa papi dan Opa Ghani agak gimana mendengar mas Bima anaknya Prayogha Baskara yang menikah dengan Arum Banowati." Arimbi menatap lekat ke Bima. "Karena dulu papi nyaris menikah dengan ibu tirimu."


Bima melongo. Ternyata ini masalahnya kenapa Oom Bara dan Tante Gendhis mukanya langsung tidak suka ketika aku bercerita soal keluargaku.


"Serius kamu, sayang?" celetuk Bima tanpa sadar memanggil Arimbi dengan sebutan 'sayang'.


Arimbi mengangguk meskipun wajahnya sedikit memerah mendengar panggilan yang manis itu.


"Terus kenapa nggak jadi menikah?" tanya Bima penasaran.


"Karena papi ditinggal nikah Arum dengan Azzam Mustafa. Pada saat itu Azzam memiliki rumah sakit di Surabaya sedangkan papi saat itu baru belajar memegang Giandra Otomotif Co setelah Oom Arya memutuskan menyerahkan ke papi karena Oom Arya hendak mengurus perusahaannya sendiri."


Bima menepuk jidatnya. "Kekayaan Oom Bara itu nggak bakalan habis tujuh turunan tujuh samudera tujuh tanjakan dan tujuh belokan lho padahal!"


"Itu yang tidak diketahui waktu itu karena papi hanya bercerita memiliki showroom mobil saja tapi tidak bisnis kelas kakap di belakangnya."


Bima tertawa terbahak-bahak. "Dan tuan Prayogha Baskara terhormat itu pun dibodohi oleh janda matre. itu! Karma is a b1tch !"


"Mas Bima, kami tahu mas Bima berbeda dari pak Prayogha, makanya kami mau membantu." Arimbi menatap Bima sambil tersenyum.


"Kami? Siapa kami itu?"


"Papi, Opa Ghani dan aku."


Bima melongo.


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Lanjut besok


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2