
Readers ku... karena aku mengalami blocking di novelnya Davina, jadi aku hanya bisa up sehari satu chapter. Sementara aku kasih bonchap di Bara yaaaa mumpung hasil bakar obat nyamuk dapat wangsit.
"Rimbiiii !" teriak seorang gadis remaja berusia 15 tahun ke arah seorang gadis sebayanya yang sedang berjalan sambil mendengarkan airpods. Tangan gadis yang dipanggil 'Rimbi' itu tidak berhenti bergerak mengikuti irama Gending Jawa yang terdengar di airpods nya.
"Ih kamu tuh! Dipanggil malah asyik nari!"
Gadis yang dipanggil 'Rimbi' itu langsung melepaskan airpods nya. "Apa sih Rina? Aku lagi latihan buat besok acara di gedung kesenian Jakarta."
Rina hanya mendegus kesal. "Kamu tuh! Pinjam pe er matematika dong! Aku nggak bisa bikin yang nomor delapan. Salah melulu!"
Rimbi menarik Rina ke arah kursi taman sekolah dan mengeluarkan buku tulisnya. "Nih buat. Aku udah selesai kok!"
"Dih Rimbi, hari gini pakai buku tulis" cebik Rina sambil mengeluarkan Ipad-nya.
"Biarin! Biar tangan tetap lemas bisa nulis!" Rimbi memakai airpods nya lagi.
"Anak CEO Giandra Otomotif Co malah old fashion! Senengnya nari Jawa tradisional, padahal muka lebih cocok jadi idol. Manggil ortunya emak babeh" kekeh Rina yang memang sahabat Rimbi sejak SD hingga SMA sekarang.
"Biarin lah, setidaknya aku manggil emak babeh kan sesuai dengan panggilan khas Indonesia." Rimbi tersenyum.
Rina hanya memutar matanya malas. "Iya deh!"
Gadis itu lalu menyalin peer matematika dari Rimbi dan keduanya menoleh ketika mendengar suara motor yang berisik knalpotnya.
Rina melihat banyak teman-temannya heboh saat pemuda yang datang dengan sepeda motor itu turun dan membuka helm full facenya.
"Aaaahhhh cakepnyaaaa!" teriak para cewek-cewek itu sedangkan pria itu hanya berjalan cuek meninggalkan sekelompok groupie itu.
"Hah! Preman sekolah ingat belajar juga" sungut Rina sambil terus menyalin peer Rimbi.
Pria itu berjalan dan melihat Rina dan Rimbi di kursi taman yang acuh dengannya. Tumben ada cewek cuek! Eh manis juga tuh cewek yang pakai airpods. Ngapain tuh tangan gerak-gerak kayak nari?
"Bimaaa!" panggil beberapa temannya yang langsung menghampiri pria tampan itu. "Lu liatin siapa?" tanya Yudha, salah satu anggota gang nya.
"Tuh cewek siapa?" tanya pria tampan yang bernama Bima itu.
"Yang mana? Rambut pendek atau rambut panjang?" tanya Yudha.
"Rambut panjang." Bima tidak lepas-lepas melihat gadis berambut coklat tua panjang yang hanya diikat separuh itu.
"Namanya Arimbi Maheswari Giandra, putri Bara Giandra" jawab Yudha.
"Bapaknya CEO Giandra Otomotif Co?" tanya Bima.
"Iya. Kenapa?"
__ADS_1
"Kok gue kagak pernah lihat dia?"
"Elu ajah yang tukang bolos, bro! Rimbi mah siswa teladan. Itu rambut pendek sahabatnya bernama Rina Kareem, putri pemilik toko karpet Persia di Plasa Senayan."
Bima menghampiri kedua gadis itu dengan pedenya.
"Arimbi Maheswari Giandra."
Rina dan Rimbi menoleh ke arah suara. "Ya? Ada apa ya?" tanya Rimbi. Bima terpesona dengan suara halus gadis itu.
"Kamu cantik. Jadi pacarku sekarang!"
Rimbi melotot sedangkan Rina mendelik tidak percaya dan para cewek-cewek pemuja Bima menatap Rimbi dengan tatapan membunuh.
Dan suara bel tanda masuk kelas pun berbunyi.
***
Bima menanti Rimbi keluar dari kelasnya dengan perasaan gelisah. Di usianya yang menginjak 17 tahun, Bima sudah menjadi ketua geng preman di area Jakarta Selatan. Ayahnya adalah seorang pemilik toko emas yang sudah tidak mau tahu tentang anaknya hingga akhirnya Bima memutuskan keluar dari rumahnya dan tinggal sendiri.
Bima berhasil membuka usaha bengkel bersama teman-temannya yang sesama anak jalanan dan dia tetap bersekolah meskipun sering bolosnya. Kali ini dia harus rajin masuk karena hendak ujian Nasional. Bima ingin segera lulus SMA dan memfokuskan diri untuk berbisnis bengkel.
Kenapa gue baru lihat Arimbi chuy?
Gue kan fokus di bengkel gue, sapi!
Jangan dekatin Arimbi, Bim. Kamu dan dia bagaikan Starbucks dan kopi sachet!
Tapi dia bakal jadi milik gue! Arimbi Maheswari adalah calon istri masa depan gue!
Realistis Bim! Bokapnya CEO, Opanya mantan polisi NYPD. Dia dari anggota keluarga Sultan!
Memang dia berapa bersaudara?
Dia punya adik laki-laki bernama Anarghya sekarang duduk di kelas dua SMP.
Gue yakin Arimbi jodoh gue!
Mimpi lu ketinggian!
Bima tersenyum mengingat percakapannya dengan Yudha. Bimasena Rahadian Baskara adalah nama lengkapnya. Sejak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi, Bima sudah tidak mau berurusan dengan ayah dan ibu tirinya yang dianggapnya hanya mengincar kekayaan keluarga Baskara yang bisnisnya di perhiasan emas.
Keputusannya untuk hidup mandiri membuatnya menjadi keras di jalanan. Baginya menjadi pecundang itu bukan opsi. Berbekal dengan perhiasan warisan almarhum mamanya, Bima membuka bengkel yang memang menjadi passion nya selama ini, yaitu di dunia mesin, di usianya ke 14 tahun dan sekarang setelah tiga tahun bisnisnya berjalan pesat.
Bima berencana, setelah lulus SMA ini, dia akan mengambil kuliah di teknik mesin. Padahal sebelumnya tadi pagi sebelum berangkat sekolah, aku sudah tidak mau kuliah. Tapi gara-gara melihat siapa itu Arimbi, aku tidak mau membuatnya malu di depan keluarganya.
__ADS_1
Tak lama, gadis yang diincarnya keluar dari kelasnya bersama dengan Rina sahabatnya.
"Arimbi Maheswari!" panggilnya yang membuat kedua gadis itu menoleh.
"Ngapain elu bilang begitu sama temen gue? Kagak tahu apa! Gara-gara elu, Rimbi jadi dibully di sosmed!" bentak Rina yang kesal melihat akun Instagram milik Rimbi jadi sasaran hate speech para pemuja preman satu itu.
"Siapa yang berani ngebully elu? Sini kasih tahu gue! Biar gue hajar mulut dan jarinya!" umpat Bima.
"Sudah! Pokoknya elu tarik omogan elu soal pernyataan cinta kagak jelas elu dari Rimbi!" hardik Rina.
"Kok jadi elu yang ngomong? Memang elu jubirnya?" pendelik Bima yang memang lebih tinggi dari kedua gadis itu.
"Iya! Gue jubirnya! Kenapa? Masalah buat elu?" Rina menatap Bima judes.
"Sudah, sudah. Jangan bertengkar" suara lembut Arimbi membuat keduanya terdiam.
"Kak Bima, maaf tapi aku tidak bisa menerima pernyataan kakak soal menjadi pacar kakak karena aku tidak kenal siapa kakak dan lagipula aku mau fokus sekolah dulu." Arimbi menatap Bima lembut. "Maafkan aku ya kak."
Bima terpesona melihat wajah gadis remaja itu. Cantiknya.
"Mungkin kamu menolak sekarang tapi kamu bakalan akan jadi milikku, Arimbi!" ucap Bima yakin.
"Ngimpi! Preman kayak elu kagak pantas buat Rimbi! Ngaca woy!" cebik Rina. "Ayo, Rimbi kita tinggalkan orang gak jelas gini!" Rina menggamit lengan Arimbi yang menatap Bima dengan senyum maaf.
"Maaf kak Bima. Rimbi pergi dulu."
Bima menatap nanar kepergian kedua gadis itu.
Gue ditolak? Bima tersenyum smirk. Tenang saja, Bim. Masih banyak jalan mendapatkan Arimbi. Seperti cerita Mahabarata. Kalau disana Arimbi yang mengejar Bima tapi sekarang Bima yang akan mengejar Arimbi.
Visual mereka setelah dewasa
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Biasa edisi dapat wangsit
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1