Bara Dan Arum

Bara Dan Arum
Nembung


__ADS_3

Hari yang ditentukan oleh Raka Pradipta pun tiba dan hari ini Bara bersama kedua orangtuanya datang ke restauran RR's meal milik Aidan Blair untuk bertemu dengan keluarga Arum.


Di ruang VIP inilah dua keluarga bertemu. Raka dan Ghani saling bersalaman, Luna dan Alexandra berpelukan dan cipika cipiki. Tampak Gasendra dan Rani pun sudah berada disana dengan Arum.



"Pak Raka apa kabar?" sapa Ghani.


"Alhamdulillah baik pak Ghani. Akhirnya ketemu langsung ya setelah hanya via zoom dan video call. Mari pak Ghani. Perkenalkan ini putra sulung saya Gasendra dan calon istrinya Rani. Bara sudah bertemu dengan Rani ya?" tanya Raka ke Bara.


"Sampun Oom."


"Gasendra" sapa Gasendra ramah sambil menyalami Ghani, Alexandra dan Bara. "Ternyata calonnya Gendhis malah keluarga bossku" kekeh Gasendra.


"Siapa yang nyangka ya mbak Alexandra" ucap Luna ke Alexandra.


"Lha iya tho mbak Luna, anak-anak ternyata lingkungannya itu-itu lagi" kekeh Alexandra.


Setelah semuanya duduk bersama, Raka membuka percakapan.


"Jadi Bara dan Gendhis memang pacaran ya pak Ghani?"


"Betul pak Raka. Keduanya memang sedang menjalin hubungan dan insyaallah serius hingga ke pernikahan. Karena kakaknya Gendhis mau menikah dulu, saya dan Lexa bersama Bara memikirkan bagaimana acara lamaran resminya setelah pernikahan Gasendra dan Rani tapi memang kami hendak menembung Gendhis dulu sekarang mumpung kita semua bertemu disini."


Ghani menatap Bara.


"Oom Raka, saya jatuh cinta dengan putri Oom meskipun pada awalnya shock juga dengan kerecehannya" senyum Bara ke Arum yang wajahnya memerah.


"Benar Ndis kamu kentut di depan Bara?" selidik Raka ke Arum.


"Haaaiissshhhh, sampai papa pun tahu!" cebik Arum jengah.


"Maafkan putri saya pak Ghani tapi kalau Bara mau menerima Gendhis yang begini ini, saya sangat maturnuwun" gelak Raka.


"Saya yang maturnuwun Oom bisa mendapatkan Gendhis. Dia wanita yang awesome" puji Bara. "Meskipun doyan petai dan jengkol."


Raka, Luna dan Gasendra terbahak. "Jengkol tuh enak lho Bara" ucap Luna.


"Mas Bara dan Oom Ghani nggak doyan padahal mau ta masakin" adu Arum sambil manyun. "Mas tuh dibilang nggak percaya sih!"


"Aduh, maafkan Gendhis ya pak Ghani, Bu Alexandra. Anak ini memang ketularan almarhum ibu saya yang receh" senyum Raka.


"Ndak papa pak Raka. Saya malah suka sama Gendhis yang cablak bahkan saudara sepupunya Bara juga sering nanggap Gendhis buat gesrek bareng" jawab Ghani.

__ADS_1


"Tuh kan papa dibilang nggak percaya! Aku tuh diterima dengan tangan terbuka sama keluarganya mas Bara, termasuk bossmu, mas Sendra. Kebayang nggak aku guyon sama kak Fuji dan Davina" cengir Arum.


"Hah? Kamu panggil pak Fuji dan Bu Davina begitu?" pelotot Gasendra.


"Hak privilege aku lah sebagai pacar mas Bara. Mas Sendra tetap manggil formal" ucap Arum jumawa.


Gasendra hanya manyun sedangkan Rani tertawa melihat calon suaminya gelut dengan adiknya.


"Jadi kalian memang serius?" tanya Raka.


"Serius Oom" jawab Bara. "Saya serius meminang Gendhis menjadi pendamping hidup saya."


"Sejujurnya ketika Oom tahu Gendhis punya pacar, ada sedikit kekhawatiran. Wajar sebagai seorang ayah, memikirkan anak wedhok satu satunya, apakah mendapatkan pendamping yang bisa bertanggung jawab dan mencintai putri Oom. Dan saat tahu siapa pria itu, Oom merasa lega karena yang menjalin hubungan dengan Gendhis berasal dari keluarga yang sangat dikenal baik." Raka menatap dalam ke Bara.


"Oom hanya minta, kamu yang sudah meminta anak Oom, jaga, sayangi, hormati dan tanggung jawab atas anak Oom, Gendhis Arum Pradipta dan menerima semua kekurangan dan kelebihannya" pinta Raka.


"Insyaallah saya akan laksanakan amanah Oom. Saya bukan pria sempurna Oom tapi saya akan berusaha menjadi suami, partner, dan ayah yang baik bagi anak-anak kami kelak. Saya melihat bagaimana Ogan Abi, papa saya memberlakukan pasangan masing-masing. Saya juga punya mama dan adik perempuan jadi saya tahu bagaimana harus bersikap dengan Gendhis. Mendapatkan Gendhis itu susah Oom, sering unpredictable apa yang keluar dari bibirnya" senyum Bara.


"Ya jadi deritamu Bar" gelak Raka. "Kalian sudah dewasa, bukan remaja lagi. Itu juga berlaku di kamu Sendra, sayangi dan hormati Rani karena kamu berani minta anak orang yang selalu menjadi princess di ayahnya."


"Ya pa. Rani itu the one and only" jawab Gasendra.


"Hah? Memangnya aku barang antik mas Gas?" pendelik Rani.


"Iya, saking antiknya pengen aku kekepi terus!" balas Gasendra cuek.


"Jadi keputusannya?" tanya Ghani.


"Saya terima nembung awal pak Ghani. Jadi seminggu setelah Sendra menikah, rencananya pak Ghani akan melamar resmi Gendhis?" tanya Raka.


"Hemat saya begitu pak Raka kan masih ada keluarga yang hadir di pesta pernikahan Sendra dan Rani jadi sekalian saja."


Percakapan mereka terhenti ketika para pelayan membawakan makanan yang sudah dipesan sebelumnya oleh Raka.


"Alhamdulillah kita sudah mendapatkan jawaban yang pasti dan tinggal acara lamaran resmi. Saya senang bisa berbesan dengan pak Ghani" senyum Raka.


"Saya juga pak Raka tapi sebelumnya saya minta maaf jika nanti acara lamaran agak rusuh" ucap Ghani dengan wajah murung.


"Memang kenapa pak Ghani?"


"Papa belum tahu aslinya keluarga mas Bara. Rusuh dan gesrek!" gelak Arum.


"Well, gak usah nanggap ludruk tho kalau begitu" kerling Raka.

__ADS_1


Gasendra melongo. "Gak sekalian ketoprak Pa?"


***


Arum sedang menuju toilet dengan ditemani Bara yang setia menunggu di depan sambil membalas chat grup durjananya. Tanpa diduga, seorang wanita hamil berjalan menuju toilet juga.


"Mas Bara?" sapa wanita itu.


Bara mengangkat wajahnya dari ponselnya dan hanya menatap datar.


"Arum" jawabnya dingin.


"Sama siapa?" tanya Arum Satu ramah.


"Sama Gendhis."


"Gendhis atau Arum? Mas Bara benar-benar belum bisa move on dari namaku ya?" ucap Arum Satu yang terdengar sindiran di telinga Bara.


"Hah? Siapa bilang tidak bisa move on dari kamu, Rum? Hanya kebetulan saja namanya sama dan aku tidak pernah memanggil tunanganku sama dengan namamu ya" sahut Bara. Hatinya kesal melihat tingkat kepedean yang tinggi.


"Sayang, lama nunggu ya?" sapa Arum. "Eh dokter Arum. Gimana kandungannya? Sudah sehat?" tanya Arum basa basi.


"Kasihan deh mas Bara tidak bisa move on dari namaku" kekeh Arum Satu.


"Whoah! Dokter Arum, ingat lagi hamil jangan julid lah. Mas Bara sudah move on lama bahkan kita mau menikah tahun depan. Terimakasih sudah menjaga jodohku ini. Terimakasih kamu sudah melepaskan pria terbaik ini sehingga menjadi milikku. Dan satu lagi dokter Arum, nama boleh sama tapi hati dan sifat berbeda. Kenapa mas Bara tidak jodoh sama kamu, dok karena Tuhan memperlihatkan aslinya sifatmu dok dan mas Bara terlalu baik jika menjadi pasangan mu. Yuk mas, kita kembali ke ruangan." Arum menggamit Bara yang memeluk kekasihnya mesra.


"Ohya Rum, jangan GeEr kamu! Begitu kamu memilih menikah dengan Azzam, detik itu juga kamu sudah aku hapus dari semua memoriku." Bara menatap tajam Arum Satu yang hanya terdiam lalu keduanya berjalan kembali ke ruang VIP.


"Lega mas?" bisik Arum.


"Lega luar biasa, Dis! Terimakasih!" Bara mencium pelipis Arum.


"Aku hanya mempertahankan milikku dan mas Bara adalah milikku dan aku milik mas Bara." Arum semakin mempererat pelukannya.


"Love you Gendhis."


"Love you mas Bara."


***


Yuhuuu Up Sore


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2