Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Rasanya di madu


__ADS_3

Mas Dani keluar dari kamar utama, kamar kami dulu ketika Desi, sahabat suamiku yang sekarang sudah berubah status menjadi maduku itu datang. Mas Dani tampaknya sudah rapi dengan setelan kemejanya. Walau hatiku masih sakit dan kecewa, tapi pernikahan mereka ini adalah atas izinku, jadi mentabahkan hati adalah jalan keluar.


"Pagi, dek. "


Ucapnya seraya mengecup singkat pipi ini, membuat hatiku semakin tergores mengingat kalau tadi malam dia sudah tidur satu ranjang dengan wanita lain, dan itu berada satu rumah denganku.


"Kok nangis?  Mas ada sakitin adek yah? "


Oh Tuhan, apa dia sedang mempermainkan hati ini, dengan cara bertanya dengan polosnya?  Sungguh, aku ingin berteriak di depan wajahnya, mengatakan kalau aku tidak mau untuk di madu. Namun, yang dapat kulakukan hanya menghapus air mata yang meleleh dan mencoba untuk tersenyum walau sulit. Biar bagaimana pun, dia adalah suami yang harus kuhargai.


"Bentar yah mas, biar aku ambilin dasi. "


Setelah menemukan dasi yang cocok dengan kemejanya, aku bergegas berjalan kearahnya. Namun, saat tangan ini hendak memasangkan dasi itu, suara bariton itu kembali datang.


"Eh, mbak. Jangan dasi itu. Mbak tahu kan kalau Mas Dani ngak kerja di tempat biasa. Dia udah naik jabatan mbak, jadi semua pakaiannya harus yang berkelas. Jangan malah buat malu "


Bagai bom, hati ini hancur rasanya. Suamiku sendiri, tapi tiada hak bagiku untuk mengatur pakaiannya seperti yang aku lakukan dulu. Sedangkan Mas Dani hanya diam dengan tatapan memelas yang dia tujukan kepadaku. Dengan sigap, desi berjalan mendekat kearah Mas Dani. Dengan sedikit berjinjit dia melingkarkan tangannya keleher mas Dani dan memakaikan dasinya.

__ADS_1


Rasanya begitu muak. Menangis di depan mereka bukanlah pilihan yang tepat. Di tambah dengan Mas Dani yang sepertinya lebih memihak kepada maduku itu. Aku berjalan cepat kearah dapur. Menyalakan air pada wastafel, agar isak yang sedari tadi kutahan keluar tanpa terdengar.


Coba bayangkan bagaimana rasanya jika berada dalam posisiku. Dengan sesosok wanita yang tiba tiba datang dalam rumah tangga kami, menjelma menjadi seorang nyonya yang mana semua perintahnya harus di lakukan.


"Mbak, sarapannya udah? "


Aku segerah menghapus kasar air mata yang membanjiri pipi, tidak ingin ada yang melihat.


"Udah, Des. "


Dia duduk dan menyendokkan nasih kepiringnya dan juga Mas Dani.


Lihatlah. Apakah dia benar benar seorang wanita?  Jika dia benar benar seorang wanita, dia pasti tahu bagaimana rasanya menjadi diriku. Aku menatap mata Mas Dani yang duduk berhadapan dengan Desi, dengan tatapan marah, kecewa dan kesal.


"Mbak, bisa ngak sih?  Kalau orang ngomong itu di jawab. Lagian kalau mbak ngak mau, aku masih sanggup kok. "


Dia berkata begitu meremehkanku, menganggapku bagaikan babu yang di haruskan melakukan segala perintahnya.

__ADS_1


"Desi, ngak usah teriak teriak. Biar bagaimana pun, Sarah masih lebih tua darimu. Hargain dia. "


Kali ini hatiku bagai tersiram air dingin di panasnya keadaan. Ada rasa haru yang membuncah dalam hati ketika mendengar pembelaan dari suamiku itu. Sakitnya perlakuan mereka tadi mulai terobati hanya dengan kalimat biasa itu.


***


Sebenarnya kehadiran Desi dalam rumah tangga kami ini adalah bermula dari Mas Dani yang kena PHK dari kantornya. Mencari pekerjaan zaman sekarang tidaklah mudah, apalagi dengan adanya hutang kredit mobil yang baru kami ambil sungguh membuat keadaan sangat mendesak. Di tambah juga dengan kehamilanku yang memasuki usia ke empat bulan, yang memerlukan biaya yang cukup banyak.


Desi, sahabat Mas Dani datang dengan sendirinya di tengah masa gentingnya kehidupan kami.


"Aku bisa bantu. Kamu bisa kerja di perusahaan papa dengan jabatan yang  jauh lebih baik. "


Meskipun aku hanyalah wanita biasa, tapi mendengar tawaran dari wanita itu sungguh membuatku merasa tidak nyaman. Tidak mungkin dia mau melakukan itu dengan percuma tanpa balasan apa pun.


"Tapi tunggu nikahin aku. "


Bagai tombak yang datang dari segalah penjuruh, aku begitu terkejut mendengar ucapannya itu.

__ADS_1


"Aku sedang mengandung. Pernikahan ini cukup berjalan selama setahun. Setelah bayi ini lahir aku akan pergi dari kehidupan kalian. "


Bersambung...


__ADS_2