
Beberapa jam kemudian, akhirnya Belinda dan Dario telah tiba di bandara internasional Lombok. Seperti yang dikatakan Jeanara katakan, ada seorang laki-laki yang mengaku merupakan sopir hotel yang telah bersiap menjemput mereka untuk diantarkan ke hotel yang telah Jeanara booking sebelumnya.
Setelah memastikan Belinda dan Dario benar merupakan tamu hotel mereka, sang sopir pun segera mengantarkan Belinda dan Dario ke Savior Hotel. Savior Hotel termasuk hotel bintang lima di Lombok yang berdiri di bawah naungan Angkasa Grup.
Setibanya di Savior Hotel, Dario dan Belinda pun segera diantarkan ke kamar hotelnya dengan dibantu seorang belboy untuk membawakan barang-barang mereka.
Setelah masuk ke dalam kamar hotel, mata Belinda terbelalak. Kamar hotel yang dibooking Jeanara ternyata merupakan tipe presidential suite. Terdapat sebuah ranjang ukuran king size yang dibalut sprei putih dan di atasnya bertabur bunga mawar yang dibentuk sedemikian rupa hingga membentuk gambar hati.
Belinda sampai speechless melihatnya. Ia tak menyangka, dirinya yang orang biasa saja bisa menjalani momen bulan madu yang begitu indah ini. Bisa menikah saja tak pernah ada dalam kamusnya, lalu kini, ia bukan hanya menikah atau ke lebih tepatnya dinikahi laki-laki yang katanya mencintai dirinya, tapi juga diberikan pelayanan luar biasa indah dan mewah. Sesuatu yang bahkan dalam mimpi pun tak pernah melintas, apalagi untuk sekedar membayangkannya.
Deg ...
Tiba-tiba Belinda tersentak saat ada sepasang lengan yang urat-uratnya sedikit menonjol, menunjukkan bahwa ia merupakan lelaki yang cukup pekerja keras. Tubuh Belinda menegang, jantungnya berdebar, bahkan tanpa sadar ia menahan nafasnya membuat lelaki yang telah menyandang status sebagai suaminya itu terkekeh geli.
"Bernafas, Adindaku," bisiknya tepat di daun telinga. Bahkan dengan usilnya, ia meniup daun telinga Belinda hingga calon mantan gadis itu meremang dengan bulu kudu yang berdiri.
Belinda mencoba menetralisir kegugupannya dengan menarik nafas panjang.
"Bagaimana, kau suka?" tanya Dario sambil menumpukan dagunya di pundak kanan Belinda.
Lidahnya kelu, tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Hanya ada anggukan kepalanya saja sebagai jawaban. Dario lantas makin mengeratkan pelukannya.
"Sama, aku pun suka. Aku nggak nyangka kalo Jea bisa setotalitas ini dalam ngasi hadiah. Jerva dan Riri juga, benar-benar bikin speechless, ngasi hadiah 100 juta. Padahal kamu tahu nggak, setiap si bos ngasi tugas, pasti aku dapet bonus yang gede. Mereka memang ya, benar-benar ... " Dario tidak melanjutkan kalimatnya, melainkan terkekeh mengingat betapa banyaknya kebaikan yang keluarga atasannya itu berikan padanya.
"Makanya, kita harus bersyukur karena masih dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Bu Mentari dan Pak Jerva. Nggak semua atasan bisa sebaik itu sama bawahannya. Kebanyakan malah karena merasa mereka berada di atas, jadi mereka bebas menginjak-injak bawahannya. Tapi atasan kita beda, mereka benar-benar baik," imbuh Belinda yang akhirnya mau bersuara.
__ADS_1
Dario tersenyum, akhirnya ia berhasil mencairkan suasana pun membuat ketegangan Belinda perlahan berkurang.
"Sudah nggak gugup lagi?" tanya Dario seraya memutar tubuh Belinda menghadapnya.
Belinda mengerjapkan matanya lalu menggigit bibir bawahnya. Entah mengapa tatapan mata Dario saat ini seolah menghipnotis dirinya.
"Ma-maksudnya?" cicit Belinda.
"Aku mau sekarang, bisa?" bisik Dario tepat di depan wajah Belinda. Hangat nafas beraroma khas laki-laki itu menerpa wajah Belinda hingga terhirup masuk ke rongga hidungnya.
"Memangnya mas nggak capek?"
Dario menggeleng, "udah biasa. Malah pernah penerbangan 5 jam, sampai-sampai langsung lanjut meeting dan survey lapangan, jadi 3 sampai 4 jam perjalanan kayak gini udah biasa," ujarnya sambil merapikan helaian rambut Belinda yang mulai memanjang ke balik telinganya. "Kamu tahu, mas udah dari semalam pingin, tapi takut kasur jebol, ranjang ambruk, dan dinding rumah bergetar terus tiba-tiba roboh, jadi mas tahanin sampai sekarang. Tapi karena kita udah di tempat yang tepat, nggak masalah kan kalau mas mau mulai?"
"Mas nggak mau mandi dulu? Atau aku mandi dulu ya, biar seger."
Keduanya kemudian saling pandang. Belinda memejamkan matanya, paham itu merupakan lampu hijau dari sang istri, Dario pun segera mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka.
Dario mengecup bibir Belinda bergantian atas dan bawah. Dario terus mengecup lalu gerakkan itu berubah menjadi luma*tan yang panas dan menggebu. Tak lama kemudian terdengar suara lengu*han saat tangan Dario mulai menyusup melalui bawah dengan gerakan perlahan terus hinggap di salah satu bukit Belinda dengan gerakan mere*mas. Tak menyiakan kesempatan, Dario menyusupkan lidahnya, menerobos masuk dan mengobrak-abrik isi dalam mulut Belinda membuat calon mantan gadis itu kian belingsatan hingga keduanya tak sadar bergerak hingga kaki keduanya menubruk tepian ranjang dan brukkk ...
Keduanya jatuh ke atas kasur dengan posisi Dario di atas membuat tautan bibir dan lidah mereka terlepas. Keduanya kini telah dikuasai hasrat membara. Keinginan menjelajah lebih lagi sudah tak mampu dicegah hingga akhirnya satu persatu kain yang melekat di tubuh keduanya terlucuti sempurna. Keduanya saling menatap kagum satu sama lain. Keduanya sama-sama belum pro, tapi urusan ranjang tak perlu bantuan mentor, bukan! Hanya tinggal mengikuti kata hati dan naluri, keduanya akhirnya berhasil melakukan penyatuan bahkan mencapai titik tertinggi dari sebuah keindahan. Bersatu padu dengan peluh bercucuran. Keduanya saling melempar senyum dengan nafas tersengal, hingga akhirnya keduanya saling menyerukan nama satu sama lain saat gelombang keindahan itu berhasil menggulung keduanya dalam pusara kenikmatan terindah.
Sementara kedua pasangan pengantin baru itu tengah sibuk memadu asmara dan benar-benar memanfaatkan serta menikmati momen bulan madu mereka, maka Mentari sepulang kerja justru segera menyambangi rumah sakit untuk melihat keadaan ibu Belinda.
Selain itu, Mentari ingin mengetahui detil kesehatan ibu Belinda dan menanyakan apa yang harus dilakukan untuk kesembuhannya. Hingga sebuah kesepakatan pun terjalin, yaitu sepulang Belinda dan Dario bulan madu, maka ibu Belinda akan segera menjalani operasi pemasangan ring pada jantungnya. Anggap saja, ini merupakan surprise untuk pasangan pengantin itu.
__ADS_1
"Tapi nak, biaya pemasangan ring kan sangat mahal," ujar Ibu Belinda merasa cemas bagaimana putrinya bisa membiayai operasinya nanti.
"Ibu tenang saja. Yang harus ibu lakukan sekarang hanya mempersiapkan diri agar operasi nanti bisa berjalan lancar. Tentu ibu pingin kan gendong cucu ibu sendiri?"
"Ya tentu saja mau, nak. Tapi ... biayanya ... "
"Anggap aja ini hadiah dari Riri buat Belinda. Binda itu udah baik banget sama Riri, Bu. Dia selalu siap sedia membantu Riri dimana pun dan kapan pun dibutuhkan. Sulit mendapatkan orang yang mau bekerja dengan kita dengan begitu setia dan totalitas. Apalagi ibu adalah satu-satunya keluarga Belinda dan Riri ingin sekali, menyempurnakan kebahagiaan Belinda dengan membantu biaya operasi ibu supaya bisa sembuh, ibu mau kan?"
Sontak saja mata ibu Belinda berkaca-kaca, ia merasa amat sangat bersyukur putrinya memiliki atasan yang luar biasa baik seperti Mentari.
"Terima kasih, nak. Terima kasih. Belinda benar-benar beruntung memiliki atasan seperti dirimu. Ibu doakan semoga kamu selalu bahagia dan selalu dalam lindungan Allah," ucap ibu Belinda tulus.
"Aamiin ya rabbal alamin. Terima kasih doanya ya, Bu. Dia yang sama untuk ibu dan Belinda berikut keluarga kecilnya," balas Mentari.
Setelah berbincang sejenak dengan ibu Belinda, Mentari pun segera pamit setelah memastikan segalanya aman, termasuk perawat yang ia tugaskan untuk menjaga ibu Belinda selama Belinda berbulan madu.
Saat baru saja menutup pintu kamar rawat ibu Belinda dan membalikkan badannya, tiba-tiba ia menangkap keberadaan mantan suaminya yang masih mengenakan setelan kerjanya sambil mendorong brankar dengan wajah panik. Mentari mengerutkan keningnya saya melihat kemeja bagian depan Shandi telah berlumuran darah, sangat kontras dengan warna kemejanya yang putih bersih.
Karena terlalu fokus dengan sesosok perempuan yang tengah terbaring tak berdaya di atas brankar, Shandi sampai tak menyadari keberadaan Mentari yang berdiri tak jauh dari posisinya. Hingga saat Shandi lewat tepat di hadapannya, Mentari menarik sedikit lengan kemeja Shandi, membuat laki-laki itu menoleh dan membelalakkan matanya.
"Tari ... " serunya dengan mata terbelalak.
"Mas, itu ... " tunjuk Mentari yang dalam hitungan detik langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia merasa shock saat melihat siapa yang tengah terbaring di atas brankar itu.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...