Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
EMPAT PULUH ENAM


__ADS_3

"Kenapa kamu diam aja sih, Ri?" tanya Jervario saat selama dalam perjalanan Mentari hanya diam membisu. Pandangannya selalu mengarah ke jendela, mengamati jalanan yang tampak padat merayap karena kini sudah menunjukkan jam pulang baik bagi para pekerja maupun yang lainnya.


Ya, sore ini karena Jervario sudah merasa sedikit lebih baik, ia pun berencana mengantar Mentari pulang ke apartemennya. Awalnya Mentari menolak apalagi ia tahu Jervario masih sakit, tapi Jervario dengan keras kepala memaksa ingin mengantarkan Mentari pulang. Akhirnya ia pun terpaksa menerima.


"Kamu masih kepikiran dengan segala kata-kataku kah? Kamu masih menganggap aku ngawur? Asal kamu tahu, Ri, semua yang aku katakan itu serius. Aku tidak membual sama sekali saat mengatakan ingin menjadikan kamu istriku. Menantu mamaku," tutur Jervario, tapi Mentari masih tampak terpaku. Ia tak bergeming sama sekali, membuat Jervario sedikit khawatir.


Sedikit banyak memang Mentari sedang memikirkan apa yang akhir-akhir ini Jervario lakukan dan katakan, tapi kali ini yang mendominasi pikirannya justru permintaan si kecil Ashadiva sebelum ia tertidur tadi.


"Onty, Onty sayang nggak sama Asha?" celetuk Ashadiva tiba-tiba saja membuat Mentari yang duduk di samping Asha sambil mengusap puncak kepalanya menatapnya lekat.


"Sayang dong. Kalau nggak sayang, mana mau Onty temenin Asha bobok," tutur Mentari menjawab dengan jujur.


"Benarkah?" tanya Asha lagi memastikan. Mentari pun mengangguk dengan pasti.


"Beneran, sayang. Emangnya kenapa Asha nanya kayak gitu?" tanya Mentari heran.


"Kalau memang Onty sayang sama Asha, Onty mau nggak jadi mami Asha? Asha pingin Onty jadi mami Asha. Asha pingin punya mami, Onty, tapi Asha maunya Onty, bukan yang lain," ujar Ashadiva penuh harap membuat Mentari sedikit terhenyak dengan pertanyaan sekaligus pernyataan dari bibir mungil Ashadiva.


"Kenapa harus Onty? Emang mami Asha kemana?" Sebenarnya ia tak ingin menanyakan ini, tapi ia pun penasaran. Jeanara tidak pernah menceritakan tentang ibu Asha sedikit pun. Iya tahu, mereka telah bercerai. Karena apa, ia juga tak tahu. Dan selama ini, apakah Asha masih berkomunikasi dengan ibunya atau tidak.


"Mommy pergi jauh, Onty."


"Pergi jauh?"


"Iya. Mommy cuma suka telepon aja, tapi nggak pernah temenin Asha." ujar Ashadiva dengan raut sendunya. "Onty mau kan jadi mami Asha? Onty kan sayang sama Asha sama kayak Asha sayang Onty jadi Onty mau kan jadi mami Asha? Papi juga sayang Onty kok."


Mentari tersenyum mendengarnya kalimat terakhir yang Asha ucapkan. Dari mana pula gadis sekecil ini tahu kalau ayahnya sayang pada dirinya?


"Iya kah? Emang siapa yang bilang?"


"Papi sendiri. Papi kan nanya, Asha pingin punya mami nggak, Asha jawab mau. Terus papi tanya lagi kayak siapa, Asha jawab lagi kayak Onty Riri terus Papi senyum-senyum gitu. Terus papi tanya lagi, emang Asha sayang sama Onty, Asha jawab dong, sayang terus lagi kata papi sama dong kayak Papi, papi juga sayang sama Onty," tutur Asha bercerita dengan begitu antusias membuat Mentari terperangah mendengarnya. "Kan Asha sama Papi sama-sama sayang sama Onty, Onty mau kan jadi mami Asha? Mau ya, Onty, please!"


"Ri, Riri ... "


"Ah, ap-apa? Ka-kamu bicara sama aku, Jer?" sahut Mentari gelagapan. Ia benar-benar tidak mendengar apa yang dikatakan Jervario barusan. Angannya justru melambung mengingat percakapannya dengan Ashadiva tadi. Setiap perkataan Ashadiva tadi kini terngiang-ngiang di benaknya, apa benar laki-laki yang berada di sampingnya ini menyayanginya?


"Kamu ngelamunin apa sih?" tanya Jervario benar-benar penasaran. Ia bahkan sampai menepikan mobilnya di tempat yang cukup sepi membuat Mentari kebingungan.


"Kenapa mobil kamu berhenti di sini?" tanya Mentari sedikit gelagapan.

__ADS_1


Jervario menghembuskan nafasnya sedikit kasar, lalu melirik perempuan yang duduk di sampingnya itu. Jervario melepaskan seat belt yang melingkari tubuhnya, kemudian sedikit memutar tubuh agar bisa berhadapan dengan Mentari.


"Ka-kamu mau apa?"


"Ri, kamu kenapa sih? Kok dari tadi kayak bengong, gelisah, melamun, apa yang mengganggu pikiran kamu? Apa itu karena kata-kataku yang selalu kamu anggap ngawur itu?" cecar Jervario tapi Mentari hanya terdiam, bingung harus menjawab apa.


Lalu Jervario mencondongkan tubuhnya ke depan membuat Mentari reflek memundurkan tubuhnya hingga membentur pintu mobil.


"Jer, kamu mau ... "


"Aku hanya ingin melepaskan seat belt mu, biar kita bisa bicara dengan leluasa!" potong Jervario sambil meraih seat belt di tubuh Mentari dan melepaskannya.


"Tapi kenapa mesti ngomong di sini? Kayak nggak ada tempat lain aja," protes Mentari bersungut-sungut. Tapi ia membiarkan apa yang ingin dilakukan Jervario.


"Aku itu tipe laki-laki yang malas menunda-nunda pekerjaan termasuk menyelesaikan masalah kita."


"Emangnya kita ada masalah?"


"Ada."


"Apa?"


Mentari lagi-lagi bungkam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Kenapa diam?"


Mentari masih tak bergeming.


"Apa sesulit itu untuk mempercayai segala ucapanku?"


"Sangat sulit. Kau tahu kan apa alasannya."


"Tapi Ri, semua yang aku katakan itu sungguh-sungguh. Aku benar-benar berharap kau mau menjadi istriku, pendamping hidupku."


"Tapi aku tidak."


"Kenapa? Coba jelaskan alasannya!" pinta Jervario.


Mentari menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia menatap lekat netra Jervario yang juga sudah menatapnya hangat.

__ADS_1


"Jer, aku yakin kamu pasti tahu alasan perceraianku. Aku mandul, aku tidak bisa memiliki anak dan aku ... bukanlah wanita yang sempurna yang pantas menjadi istrimu. Suamiku diam-diam selingkuh hanya karena aku tidak bisa memberikan keturunan dan aku tidak ingin kejadian tersebut terulang kembali. Aku tidak ingin kembali hancur, kembali patah hati, dan kembali bercerai. Karena itu, aku memilih sendiri. Tak ingin menjalin hubungan ataupun komitmen dengan siapapun. Aku hanya ingin melindungi diriku, Jer. Mungkin bila kejadian serupa terjadi kembali, aku bisa benar-benar mati, Jer. Aku akan benar-benar hancur dan tak mampu bangkit kembali," ujarnya dengan sedikit terbata. Nafasnya tercekat. Bayang-bayang masa lalu melintas di benaknya. Cintanya pada Shandi memang telah mati, tapi rasa sakit itu masih meraja di hati dan jiwanya. Sesakit itu memang luka yang mantan suaminya itu torehkan, hingga untuk menarik nafas saja, rasanya sesak.


Jervario paham apa yang dirasakan Mentari, ia lantas menggenggam tangan Mentari dan mengecupnya membuat mata Mentari yang basah mengerjap karena apa yang barusan Jervario lakukan.


"Ri, percayalah, aku tidak mempermasalahkan itu. Aku terima segala kelebihan dan kekuranganmu. Lagipula, bukankah kita sudah memiliki Asha? Asha akan jadi anakmu juga, bukankah itu menyenangkan. Syukur-syukur Allah memberikan mukjizat dan kau bisa mengandung anak kita, tapi bila pun tidak, kita sudah memiliki Asha, kita syukuri saja apa yang telah Allah beri. Aku takkan menuntutmu untuk memberikan ku anak seperti yang dilakukan mantan suamimu dan keluarganya selama ini," turut Jervario.


Mentari menatap lekat netra Jervario. Ia pandang dengan seksama netra itu untuk mencari kebohongan dalam setiap tutur katanya. Namun, yang Mentari lihat hanyalah kesungguhan. Jervario terlihat begitu serius dalam menyampaikan segala yang menjadi beban dalam hati dan jiwanya.


"Apa yang kau katakan tadi serius?"


"Aku tidak pernah seserius ini dalam mengharapkan sesuatu."


Mentari kembali diam, netranya masih terpaku pada sosok di hadapannya ini.


"Mengapa kau ingin menjadikanku istrimu? Apakah kau ... mencintaiku?"


Diam. Jervario sejenak terdiam kemudian ia menghela nafasnya pelan.


"Jujur, aku belum yakin dengan perasaanku, sudah ada cinta atau belum. Tapi satu yang pasti, aku menyayangimu, dan aku ingin menjadi pelindungmu, sekaligus pendampingmu. Aku ingin terus menjagamu hingga maut memisahkan kita."


"Aku tidak butuh kasihan darimu," ucap Mentari datar. Jervario mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan kalimat yang barusan Mentari lontarkan. "Dari kalimat yang barusan kau ucapkan, aku dapat menarik kesimpulan kalau kau melakukan ini karena kau merasa kasihan padaku dan aku tidak butuh itu."


"Aku tidak kasihan padamu, Ri, tapi aku sayang. Jangan salah mengira dengan kata-kataku karena aku serius ingin menjadikanmu sebagai pendamping hidupku hingga maut memisahkan kita. Perkara cinta, aku yakin seiring berjalannya waktu, rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Jangan belum adanya cinta, kau jadi takut untuk membina rumah tangga. Bukankah kau pun dahulu menikah karena cinta tapi lihatlah akhirnya bagaimana? Tidak semua pernikahan yang dilandaskan kata cinta bisa berakhir happy ending. Yang kita butuhkan adalah komitmen untuk saling percaya, saling setia, dan saling menjaga, insya Allah, rumah tangga kita akan sakinah, mawadah, dan warohmah. Tolong percayalah padaku, Ri. Jadi bagaimana, Ri, mau kah mau menikah denganku?"


Mentari tertunduk sambil menatap tangan yang masih menggenggam tangannya itu. Rasanya hangat dan nyaman. Mungkinkah ia bisa kembali membuka hatinya untuk laki-laki di hadapannya ini? Apakah ia bisa memberikan kepercayaan pada laki-laki ini? Apakah ia bisa hidup bahagia sedangkan tak ada rasa cinta diantara mereka?


Mentari menghela nafasnya panjang, kemudian kembali mengangkat wajahnya, menatap lekat netra laki-laki yang tidak mengalihkan pandangannya sejak tadi.


"Tolong beri aku waktu! Aku ... aku bingung. Aku ... "


"Jangan terlalu kau jadikan beban pikiran, sayang. Tidak perlu terburu-buru," ucap Jervario sambil tersenyum lebar membuat Mentari mendengkus lalu mendelik tajam. "Aku akan menunggu jawabanmu. Tapi, tolong jangan lama-lama ya!" ucapnya lagi kemudian segera melepaskan genggaman tangannya dan mengacak rambut Mentari sambil terkekeh, berusaha mencairkan suasana yang sempat menegang.


Mentari mengangguk. Lalu Jervario kembali mengemudikan mobilnya menuju apartemen Mentari. Setelah tiba di depan lobby, Mentari pun melepaskan seat belt. Saat Mentari memutar tubuhnya untuk membuka pintu mobil, tiba-tiba Jervario menarik lengannya hingga wajahnya menubruk dada Jervario. Wangi parfum Jervario seketika memenuhi rongga hidungnya. Lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Jervario mengecup dahi Mentari dalam dan cukup lama membuat Mentari membeku seketika.


"Sampai jumpa besok," ucap Jervario sesaat setelah menarik tubuhnya menjauh. Dengan jantung yang berdegup kencang, Mentari pun segera turun bahkan tanpa berpamitan lagi membuat Jervario terkekeh geli melihatnya.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2