
Termenung, hanya itu yang bisa Septi lakukan sekarang. Ya, Septi telah sadarkan diri dan operasi pun telah berjalan lancar. Beberapa hari telah berlalu sejak saat-saat menegangkan itu. Septi hanya bisa termenung sembari mengingat segala hal yang telah ia lakukan di masa lalu. Perbuatannya, kelakuannya, segalanya, tak luput dari benaknya.
Septi mengusap perutnya yang tak ada lagi benjolan sebagai bukti adanya kehidupan di dalam sana. Calon buah hatinya, telah tiada, pergi dan takkan mungkin kembali apalagi diganti dengan yang baru sebab kini ia hanyalah perempuan cacat. Ya, apalagi sebutan yang pantas untuknya selain perempuan cacat. Bahkan perempuan mandul pun masih memiliki rahim, tetapi dirinya tidak. Ia sudah tidak memiliki kedua rahimnya lagi.
Mungkin ini hukuman yang pantas untuk dirinya. Kini, apa yang dikatakan adiknya benar-benar terjadi. Septian pernah mengingatkannya agar tidak sembarangan menghina apalagi merendahkan seseorang. Ia mengingatkan akan adanya hukum tabur tuai, tapi Septi tak menggubris itu. Ia justru bersikap jumawa dan makin merendahkan Mentari, perempuan baik yang tak pernah sekalipun pun menyakitinya.
Padahal mereka sesama wanita, tetapi ia dengan begitu tega menyakiti Mentari yang tak pernah melakukan kesalahan apapun padanya. Septi memejamkan matanya, kilasan perbuatan buruknya berputar-putar di benaknya. Septi terisak pilu, mengapa ia bisa begitu kejam dahulu. Dan kini lihat, siapa yang telah berbaik hati membayar semua biayanya selama di rumah sakit. Mulai dari biaya operasi bahkan hingga biaya perawatan.
Ya, Shandi telah menceritakan padanya siapa yang telah membayar biayanya selama di rumah sakit termasuk biaya operasinya. Bahkan setelah ia dan keluarganya sakiti sedemikian rupa, Mentari masih mau berbaik hati padanya. Entah terbuat dari apa hati Mentari. Dan entah bagaimana cara dirinya untuk membalas segala budi baik mantan kakak iparnya itu, sedangkan ia tidak bisa melakukan apapun. Ia hanyalah wanita bodoh yang mau saja dimanfaatkan oleh Edward untuk mengandung anaknya. Ia hanya perempuan bodoh yang tidak bisa melakukan apapun.
Septi tergugu di atas tempat tidurnya. Tubuhnya bergetar, Shandi dan Septian yang sedang terlelap saat menungguinya pun sampai tersentak dan terbangun dari tidurnya.
"Mbak, mbak Sep kenapa?" tanya Septian yang reflek melompat dan mendekati ranjang Septi.
"Sep, kamu kenapa? Ada yang sakit? Kakak panggil dokter ya!" seru Shandi panik. Baru saja Shandi hendak memencet tombol di atas brankar, tapi tangan Septi telah lebih dahulu mencegah.
Septi menggeleng, sekarang sudah jam 9 malam,. seharusnya Septi tidur, tapi sampai sekarang ia tak dapat memejamkan matanya. Rasa bersalah menyeruak, membuat dadanya sesak dan tak mampu membendung air matanya.
"Kak, aku benar-benar nyesel. Aku harus bagaimana, aku ... aku ... aku benar-benar malu sama mbak Tari. Aku udah jahat sama dia selama ini. Aku benar-benar jahat, tapi ... tapi mbak Tari justru masih aja baik sama aku. Masih mau nolong aku. Aku ... benar-benar malu. Septi bener-bener nyesel, kak, Tian. Padahal Tian udah sering ngingetin aku, tapi aku terus aja sering menghina mbak Tari. Aku ngata-ngatain dia seenaknya. Mempermalukan dia. Tapi kenapa mbak Tari masih baik? Seharusnya mbak Tari nggak usah tolong aku, biar aja aku sakit terus mati. Aku benar-benar malu, Kak, Tian, benar-benar malu," ujarnya seraya tergugu.
Septi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, tanpa berupaya meredam isak tangisnya yang justru kian menjadi. Inilah yang namanya penyesalan, datangnya selalu terlambat. Septi hanya bisa menyesali perbuatannya tanpa tahu harus bagaimana untuk menembus segala apa yang telah dilakukannya. Apalagi perbuatannya bukan hanya menyakiti hati dan perasaan mantan kakak iparnya, tapi juga membuat rumah tangga kakak dan kakak iparnya kandas. Seandainya ia tak pernah memupuk benci yang tak beralasan itu, sudah pasti keluarga besar mereka akan bahagia. Begitu pula sang kakak, pasti akan tetap berbahagia bersama istrinya yang ia cintai.
"Kak Shandi, maafkan Septi, maafkan perbuatan Septi. Gara-gara Septi, rumah tangga kakak hancur. Kakak kehilangan orang yang kakak cintai. Maafkan Septi, kak, maaf ... "
Septi terus meracau dan meratap dalam penyesalan. Tak terasa, Shandi pun meneteskan air matanya. Memang salah satu penyebab rumah tangganya hancur ada andil sang adik, tapi itu semua pun takkan terjadi bila ia tegas dan terus berupaya mempertahankan keutuhan rumah tangganya. Semuanya juga takkan terjadi andai ia bisa meyakinkan ibu dan adiknya, bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, bukannya justru mengikuti alur dan menuruti apa yang mereka inginkan dan perintahkan.
Shandi berhambur memeluk tubuh ringkih sang adik. Keduanya menangis, meratap pilu karena penyesalan yang tiada berguna lagi.
Septian yang sejak tadi hanya mematung pun turut berkaca-kaca. Bohong bila ia tak ikut sedih melihat kehancuran satu persatu anggota keluarganya. Kaca-kaca itu kian menggenang dan akhirnya pecah membentuk aliran bening saat sesak itu kian menyergap sanubarinya.
__ADS_1
Septian pun turut bergabung, memeluk kedua saudaranya. Kini, satu persatu orang-orang yang pernah mendzalimi Mentari telah mendapatkan hukumannya. Tanpa perlu ia turun tangan, semua pun mendapatkan balasannya.
...***...
"Lagi apa, sayang?" tanya Jervario sembari mendudukkan bokongnya tepat di samping sang istri yang sedang duduk sambil bersandar di kepala ranjang.
"Ini lho bang, liat, bagus-bagus ya bajunya. Riri udah nggak sabar nungguin twins lahir. Pasti menyenangkan bisa dandani mereka pakai baju lucu-lucu kayak gitu," seru Mentari dengan mata berbinar saat melihat berbagai pakaian bayi yang dijual di salah satu toko online yang ada di aplikasi belanja berwarna Oren. "Riri mau mulai ngumpulin kebutuhan twins ah."
"Hmmm ... bagus-bagus sih, tapi apa nggak sebaiknya kita belanja langsung di toko aja, lebih menyenangkan dan meyakinkan juga. Kalau di toko-toko kayak gini, Abang ragu sama ... "
"Abang nggak pernah belanja online sih nggak tahu betapa asyiknya belanja online. Tinggal klik-klik, bayar, barang dikirim. Untuk kualitas, nggak jauh-jauh amat kok bedanya. Banyak yang bagus-bagus sesuai deskripsi. Nggak perlu repot nawar, nggak perlu capek mondar-mandir kesana-kemari dari toko satu ke toko lainnya bila di salah satu toko ada yang kosong barangnya, pokoknya menyenangkan banget tahu bang," cerocos Mentari penuh bersemangat. Mentari sama kayak othor, doyan belanja online. Apalagi othor jarang ada waktu buat keluar. Mudah capek juga. Belum lagi banyak buntut jadi repot kalo mau belanja langsung di toko. Jadi mending belanja online aja, tinggal pilih, klik bayar, selesai. Hahaha ...
"Oh ya!"
"Iya, bang. Kecuali yah, kalau mau sambil jalan-jalan, okelah langsung ke tokonya. Sekarang para pedagang udah pinter-pinter, mereka menjajakan dagangannya di berbagai aplikasi sampai medsos pun dijadiin lapak jualan. Bukan hanya pedagang kecil, pedagang besar pun juga gitu. Malah produk perusahaan Riri sekarang udah mulai masuk pangsa pasar online. Era digital kayak sekarang mesti pinter-pinter memanfaatkan teknologi, bang. Jadi nggak perlu takut apalagi ragu buat belanja. Cuma ya ... harus pintar-pintar juga. Soalnya banyak juga penipu berkedok penjual online. Apalagi kalo ada yang menawarkan barang dengan harga jauh di bawah harga umum, itu mesti hati-hati, bisa jadi penipu dia."
"Ya iyalah, Riri kan dulu irt sejati, jarang keluar. Kalaupun keluar cuma karena sedang suntuk. Jadi kalau mau belanja apapun, Riri selalu belanja online. Nggak repot, nggak capek, bisa sambil guling-guling juga belanjanya." Ujarnya dengan jemari tetap sibuk menscrool layar, mencari perlengkapan bayi yang sesuai keinginannya, mulai dari bedong, gurita, alas ompol atau perlak, baju bayi, dan lain-lain.
"Sayang, coba liat yang itu tadi, bandananya lucu banget deh, pasti lucu kalo Asha pakenya," seru Jervario saat melihat sebuah bandana berbentuk telinga kelinci.
"Hmmm ... iya bang, lucu. Beli ah. Warna apa ya bang?"
"Warna merah muda sama putih aja."
"Oke ... " Mentari pun segera memasukkan bandana pilihan Jervario ke dalam keranjang belanjaanya.
"Sayang, di sini kita bisa cari obat kuat dan tahan lama nggak?" tanya Jervario tiba-tiba membuat mata Mentari memicing tajam.
"Nggak pake obat aja Abang sekali on, bisa sampai berapa ronde. Sampai Riri mikir, coba aja ada tombol power on-off nya, jadi Riri bisa atur sesuka hati, gimana kalo dibantu obat, bisa-bisa besok-besoknya Riri tepar, nggak bisa bangun," cibir Mentari yang sudah mendelik tajam.
__ADS_1
Jervario terkekeh lalu dengan sekali gerakan ia mengangkat tubuh Mentari ke atas pangkuannya kemudian tanpa izin, ia memasukkan tangannya ke balik piyama yang Mentari kenakan.
"Wah, artinya golok naga Abang hebat dong! Abang jadi penasaran, hebatan golok naga Abang atau ... "
"Ckk ... nggak usah bahas itu deh. Tangan ini kok makin hari makin nakal sih. Duh ... bang ... " Mentari bergidik geli saat telapak tangan hangat Jervario sudah memberikan gerakan me re mas dan me mi lin choco chips milik Mentari.
"Gemes banget sama si putih dua ini. Abang buka ya? Mau n e n," ucap Jervario tidak malu-malu lagi.
"Abang ish, geli ... " rengek Mentari tapi dengan ekspresi keenakan.
Jervario terkekeh, "geli-geli nikmat, hm?"
"Tangannya nakal banget sih ... " Mentari menggeplak lengan Jervario yang menyelinap ke balik piyamanya.
"Kalau nggak nakal, adeknya lambat jadinya. Lagian, mumpung twins belum lahir. Kalau udah lahir, pasti Abang sulit minta jatah. Mau ya?"
"Idih, pake tanya. Biasanya juga langsung terkam."
Dan benar saja, baru saja Mentari mengucapkan kalimat tersebut, Jervario pun gegas membungkam bibir Mentari dan menerkamnya hingga hanya ada suara desa han dan bunyi penyatuan yang terdengar di dalam kamar itu.
...***...
Bab ini udah update dari siang. Sempat heran kok belum terbit juga eh pas dicek, ditolak gaes. 3x pula.ππ Katanya ada yang itu tuh. Terpaksa, part Dario-Belinda di cut, mungkin part yang itu dianggap hot padahal menurut Othor nggak terlalu. Tapi ya nggak tau menurut mereka jadi terpaksa di-cut. Semoga yang ini bisa lolos. Capek juga othor ketik revisi ketik revisi. Ratusan kata terbuang sia-sia jadinya. π
Ini revisi ke empat, padahal nggak ada yang berlebihan. Yang othor penggal itu biasa aja kan?
Yang mau liat versi cut, ke GC aja kali ya! πBiar para kakak bisa nilai, parah nggak nya. Yg setuju, komen. π
...HAPPY READING π₯°π₯°π₯°...
__ADS_1