
"Eeuunghhh ... " seorang perempuan tampak melenguh sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit berdenyut. Ia lantas mengerjapkan matanya saat menghidu aroma desinfektan yang sangat pekat. Seketika perempuan itu membuka matanya dan menatap bingung ke sekeliling. Kemudian ia meraba perutnya yang tidak lagi membuncit seperti terakhir kali saat ia keluar dari lobby apartemen kekasihnya.
"Anakku ... anakku ada di mana? Di mana anakku?" pekik perempuan itu panik.
Seorang wanita paruh baya yang sedang berbicara dengan seorang dokter lantas segera masuk ke dalam ruangan serba putih itu saat mendengar suara perempuan itu panik.
"Erna, tenangkan dirimu, nak! Erna ... tenang, sayang. Jangan seperti ini!" sergah wanita paruh baya bernama Asma itu, yang merupakan ibu kandung dari Erna.
"Ma, mana anak Erna, ma? Di mana bayiku? Ma, katakan dimana bayiku, ma? Dia tidak apa-apa kan? Dia sehat-sehat saja kan? Dia ... Dia baik-baik aja kan, ma? Dia ... dia ... "
"Sayang, kamu yang tabah ya!" tutur Asma sambil memeluk tubuh sang putri. "Bayimu ... cucu mama ... sudah ... sudah tiada. Dia ... meninggal sebelum sempat dilahirkan."
Tangisnya pecah karena baru saja kehilangan calon cucunya. Asma tak mampu membendung kesedihannya. Mungkin ini karmanya karena telah merusak rumah tangga orang lain.
Asma menyadari perbuatannya menikahkan putrinya dengan lelaki beristri tanpa izin istri pertamanya merupakan sebuah kesalahan besar. Ditambah ternyata selama ini putrinya menjalin hubungan dengan suami orang lain bahkan sampai hamil dan yang dimintai pertanggungjawaban justru suami perempuan lainnya, tentu hal tersebut merupakan sebuah kesalahan yang fatal. Karena ulahnya dan putrinya, rumah tangga istri dari lelaki tersebut hancur lebur tak bersisa. Dan kini, putrinya telah menuai karmanya. Hidup putrinya hancur. Anaknya meninggal sebelum dilahirkan. Menyisakan ratapan kesedihan dan penyesalan.
"Apa maksud mama? Nggak. Itu nggak mungkin. Mama jangan bercanda, ma. Bercanda mama nggak lucu. Aku tahu, anakku baik-baik aja. Dia baik-baik aja. Aku mau ketemu anak aku, ma. Aku mau ketemu sama bayi aku? Mana ma ... mana .... "
Erna tidak percaya perkataan mamanya. Ia terus memaksa ingin bertemu anaknya. Jangankan bertemu dengan anaknya, jasadnya pun telah tiada sebab Erna sempat koma selama satu Minggu akibat kecelakaan itu. Tentu saja jenazah anaknya telah dimakamkan. Asma sebenarnya kecewa dengan kelakuan sang anak yang ternyata hamil anak laki-laki lain, tapi melihat Erna kembali membuka matanya setelah sempat koma selama satu Minggu, membuat amarahnya meluruh. Tak dapat ia bayangkan bila putrinya pun ikut pergi akibat kecelakaan itu. Pasti rasa penyesalannya akan kian membuncah.
__ADS_1
Karena Erna yang terus-menerus mengamuk tidak percaya dan tidak terima kenyataan kalau anaknya telah tiada, akhirnya dokter pun menyuntikkan obat penenang.
Sementara itu, akibat terlalu terpukul dengan kenyataan yang tak pernah ia duga kalau anak yang dikandung menantunya bukanlah anak putranya, Rohani benar-benar shock. Penyakit hipertensinya kambuh hingga kembali membuatnya terkena serangan jantung. Bukan hanya itu, stroke ringan yang belum sempat sembuh kini justru kian parah. Mati rasa yang hampir sembuh, kini kian mengkhawatirkan. Bibir Rohani tampak miring, dengan salah satu sudutnya tertarik ke samping. Jemari tangannya pun melekuk kaku dan tak dapat kembali ke posisi semula. Septi yang menyaksikan kondisi ibunya yang kian parah hanya bisa tergugu pilu. Ia sudah mencoba menghubungi Shandi sejak berhari-hari yang lalu, tapi kakak laki-lakinya itu tak kunjung bisa dihubungi. Septi kalut dan juga bingung. Belum lagi ia sedang hamil muda. Perutnya sering sakit tak tertahankan sampai-sampai rasanya seperti dicengkeram erat.
Brakkk ...
Pintu ruang rawat Rohani dibuka tanpa permisi oleh seseorang. Septi yang tengah meringis sakit di area perutnya pun mendongak, melihat siapa yang datang ke ruangan itu. Matanya berkaca-kaca, melihat adik yang selalu diremehkannya tiba-tiba saja datang padahal ia tidak pernah mengabarinya.
"Tian," cicit Septi melihat kedatangan Septian.
"Mbak, bagaimana keadaan mama?" tanya Septian khawatir.
"Mama ... terkena serangan jantung dan kini mama mengalami stroke," lirih Septi.
"Ahssssttttthhhh ... " ringis Septi membuat dahi Septian mengernyit.
"Mbak Sep kenapa?" tanya Septian khawatir. "Mbak Sep sakit? Kalau iya, mbak pulang aja kalau emang sakit. Biar aku yang jaga mama," ujar Septian memberi saran.
"Benar kau tak apa-apa? Perutku sedang sakit. Aku ingin istirahat. Aku sudah berjaga sendirian berapa hari ini soalnya. Tapi ngomong-ngomong, kau tahu dari mana mama dirawat?"
__ADS_1
"Oh, itu, ada temanku yang lihat mbak, jadi dia kemarin sempat ngikutin terus kasi tau aku. Emang kak Shandi mana? Kenapa nggak gantian sama dia?"
Septi menghela nafasnya, "mbak nggak tahu. Semenjak mbak Erna ketahuan selingkuh dan hamil anak lelaki lain, kak Shandi marah besar kemudian menceraikan Erna. Setelahnya dia pergi dan sampai seminggu ini dia belum pulang." Septi menceritakan masalah yang menimpa sang kakak.
"Lagian kalian, seperti buta mata buta hati, hanya demi perempuan seperti itu kalian tega membuang Mbak Tari yang sudah begitu baik dengan kita. Seharusnya kalian bisa bersikap bijak. Banyak solusi supaya bisa hamil, bukannya justru menyodorkan perempuan lain seperti itu. Seharusnya kalian mikir, bisa saja ini teguran karena kalian telah bersikap dzalim dengan mbak Tari," tukas Septian menasihati.
"Nggak usah sok bijak kau, Tian. Masalah ini tak ada hubungannya dengan perempuan mandul itu," ketus Septi yang belum juga mau menyadari kesalahannya. "Sudahlah, aku mau pulang. Jaga mama. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku," pungkas Septi membuat Septian menghela nafas panjang. Ia benar-benar tak habis pikir dengan sikap sang kakak yang seperti begitu sulit untuk menerima kebenaran dan menyadari kesalahan.
Setibanya Septi di rumah, ia terkejut melihat keberadaan sang kakak yang tampak begitu kacau. Sepertinya kakaknya baru pulang kerja, tapi kenapa penampilannya benar-benar kacau. Shandi tampak terguling di atas sofa sambil menutup matanya dengan sebelah tangannya.
"Kak, kemana aja? Kenapa baru pulang? Mama kena serangan jantung lagi dan kini dirawat di rumah sakit," ujar Septi. Tapi Shandi tampak mengabaikan semua perkataan Septi. Baru saja Septi ingin marah karena merasa diabaikan, tiba-tiba Septi melihat sebuah amplop berlogo rumah sakit ternama di kota itu. Septi pun bergegas mengambil amplop itu dan mengeluarkan lembaran di dalamnya kemudian membacanya. Kaki Septi seketika melemas dengan mata terbelalak.
"Nggak, nggak mungkin. Ini pasti salah. Hasil test ini pasti salah," gumam Septi yang tak ingin percaya dengan apa yang tertulis di sana.
"Tidak mungkin apa, Sep? Kenyataannya memang seperti itu, kakakmu inilah yang mandul. Kakak infetil, tidak bisa memberikan keturunan, bukan Tari. Selama ini kita kerap menyudutkan Tari dan mengatakan dia mandul, tapi lihat ... secepat itu Tuhan membalikkan semuanya. Ternyata bukan dia yang mandul, tapi ... aku. Aku laki-laki yang mandul," lirih Shandi yang frustasi. Ia benar-benar menyesal telah terpengaruh dengan kata-kata ibunya sehingga ikut menuding Mentari mandul. Padahal Mentari sering mengajaknya memeriksakan diri, tapi Shandi selalu menolak. Dan kini ... matanya benar-benar terbuka, diikuti penyesalan yang tak mungkin lagi diredam sebab ternyata dirinya lah yang mandul. Setelah seminggu yang lalu melakukan pemeriksaan dan hari ini hasilnya keluar, terjawab sudah mengapa hingga kini Mentari tak kunjung hamil, hal itu karena kondisinya yang infertil.
Shandi tergugu. Matanya memanas. Perlahan, tangisnya pecah diikuti penyesalan yang kian menggerogoti batin dan jiwanya.
'Tari ... maafkan aku. Entah bagaimana caranya aku untuk menebus segala kesalahanku. Aku tahu, kesalahanku sungguh sangat besar dan tak termaafkan. Kesalahanku sangat fatal. Aku merindukanmu, Ri. Tapi sayang, rindu ini kini sudah terlarang. Kau telah memiliki pendamping yang baru. Meskipun sebenarnya aku tak rela karena rasa cintaku yang tak pernah surut, tapi aku mencoba ikhlas dan mendoakan semoga kau selalu bahagia. Aku mencintaimu, Tari. Sangat mencintaimu.'
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...