Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
LIMA PULUH LIMA


__ADS_3

Sudah 5 jam berlalu, tapi Rohani masih saja betah memejamkan matanya setelah tadi disuntikkan obat penenang oleh dokter. Semua itu bukan tanpa alasan, sebab sejak sadarkan diri, Rohani mengamuk sebab separuh bagian tubuhnya mengalami kesulitan untuk digerakkan sebagai akibat dari stroke ringan yang ia alami.


Padahal dokter sudah menjelaskan ini tidak akan berlangsung lama asalkan ia bersikap tenang dan menjalani perawatan beberapa hari ke depan. Tapi Rohani yang kadung panik justru mengamuk dan memaksakan diri untuk menggerakkan tubuhnya. Alhasil, dokter terpaksa menyuntikkan obat penenang agar Rohani dapat tidur dengan tenang.


"Mama kenapa bisa sampai jatuh sakit lagi sih kak?" tanya Septi setibanya di rumah sakit.


Shandi mengedikkan bahunya, enggan bercerita. Lebih baik ia pura-pura tak tahu sebab ia terlalu malas membahas masalah tersebut dengan Septi. Apalagi ia sangat tahu Septi tak pernah menyukai mantan istrinya itu.


"Hufh." Shandi menghembuskan nafas kasar. Benaknya justru terbayang-bayang bagaimana Mentari tadi yang dirangkul mesra oleh seorang lelaki yang dari penampilannya saja Shandi merasa kalah jauh. Belum lagi tampangnya yang di atas rata-rata, mulai dari tampan, putih, sorot matanya tajam, tubuhnya tinggi tegap, dan meskipun tubuhnya tertutup jas, tapi sebagai laki-laki ia Thu tubuhnya pasti sangat kokoh dan berotot. Shandi memperhatikan penampilan dirinya sendiri, ia seketika meringis, mereka bagaikan bumi dan langit. Sungguh-sungguh berbeda.


"Tapi siapa ya laki-laki itu? Apakah ia kekasih Tari yang baru? Ah, tidak-tidak, itu tidak mungkin. Mana mungkin Tari melupakanku secepat itu. Tapi ... " Shandi lagi-lagi menghembuskan nafas kasar setelah bergumam pelan.


Septi yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik kakaknya memicingkan mata. ia merasa aneh dengan sikap sang kakak. Baru saja mulutnya hendak terbuka untuk bertanya, tapi tiba-tiba terdengar suara lenguhan dari atas ranjang. Septi dan Shandi pun bergegas mendekati ranjang untuk melihat keadaan sang mama. Mereka pun segera menghubungi dokter untuk melakukan pemeriksaan khawatir Rohani tiba-tiba kembali mengamuk. Beruntung kali ini Rohani sudah sedikit lebih tenang. Setelah memastikan Rohani tidak akan mengamuk kembali, dokter itu pun segera keluar dari ruangan itu meninggalkan Septi dan Shandi untuk menjaganya.


"Ma, sebenarnya mama kenapa sih? Kenapa mama bisa sampai terkena stroke ringan sampai mati rasa kayak gini? Untung saja ringan dan tidak membutuhkan waktu lama untuk pulih, coba kalau berat, gimana?" tanya Septi dengan nada jengkel yang begitu kentara.


Terang saja ia jengkel sebab Shandi menghubunginya saat ia sedang asik berjalan-jalan dengan Edward. Edward begitu royal padanya. Apapun yang ia minta pasti akan diberikan Edward, tapi karena ulah telepon Shandi, ia terpaksa pulang lebih awal.


"Ini semua gara-gara si mandul itu. Mentang-mentang sekarang sudah kaya, dia jadi begitu sombong. Pake pamerin calon suaminya yang kaya. Mama kesal banget pokoknya," ketus Rohani membuat Septi ikut menggeram kesal.


"Lagi-lagi perempuan mandul itu. Emangnya siapa sih calon suaminya? Palingan dia belum tahu kalau perempuan itu mandul. Pasti kalau laki-laki itu atau keluarganya tahu siapa Tari sebenarnya, dia pasti akan langsung ditolak mentah-mentah. Memangnya keluarga kaya mana yang mau menerima wanita mandul. Apalagi orang-orang kaya pasti menginginkan pewaris untuk usaha mereka, sedangkan dia ... mandul, mana bisa kasi keturunan," sahut Septi. "Lagian mama mau ngapain sih ketemuan sama dia?"


"Mama cuma mau bantu kakak kamu biar bisa balik lagi sama dia. Mama juga salah, seharusnya mama tidak menyuruh kakak kamu cepat-cepat menceraikan Tari, kalau Tari masih jadi istri kakak kamu, hidup kita pasti akan aman dan sejahtera." ucap Rohani yang belum juga menyadari kesalahannya. Sepertinya sifat iri dengki dan serakahnya sudah benar-benar mendarah daging sehingga sulit sekali untuk menyadari kesalahannya selama ini. Dan kini sifat buruk itupun telah menurun pada anak perempuannya. Tidakkah ia berpikir perbuatannya itu bisa berdampak pada sang anak.


"Kalau mama mau bikin kak Shandi dan perempuan mandul itu balikan, lalu gimana dengan Erna? Pasti dia nggak akan setuju dengan rencana mama itu."

__ADS_1


"Terserah dia. Mama hanya akan mempertahankannya sampai dia melahirkan terus mengambil anaknya. Setelah anaknya ada dengan kita, mama akan suruh Shandi segera menceraikannya. Buat apa mempertahankan perempuan bodoh dan pembohong seperti dia. Kau tahu Sep, ternyata Erna itu bukanlah bekerja sebagai manager, tapi hanya SPG dan kini sudah dipecat juga. Yang bikin Mama tambah panas itu ternyata pemilik showroom itu calon suami Tari," ujar Rohani bercerita dengan menggebu-gebu.


Lalu mata tuanya berputar, melirik kesana-kemari.


"Mama cari apa?"


"Kamu lihat majalah nggak di sini?"


"Oh, majalah yang itu," tunjuk Septi pada sebuah majalah yang ditimpa tasnya. Lalu ia pun segera mengambilnya, "ngapain mama baca majalah bisnis kayak gini? Ngerti juga nggak."


"Bukan masalah majalahnya, tapi itu ... laki-laki yang ada di cover majalah itulah calon suami Tari. Dia tadi datang pas mama lagi ngomong sama Tari. Awalnya mama nggak percaya dan ngira dia pria sewaan Tari untuk bohongin mama, tapi pas dia kasih majalah itu, baru mama percaya kalau laki-laki itu emang kaya." Rohani bercerita dengan tangan yang mengepal. ia tidak terima kehidupan Mentari kini jauh lebih baik. Bahkan Mentari memiliki calon suami yang nyaris sempurna seperti Jervario.


Jelas saja Septi membelalakkan matanya. Dipandanginya lekat-lekat foto Jervario di majalah itu. Ia juga membaca profil tentang Jervario. Sama seperti Rohani, Septi pun tak terima bila Mentari kini hidup lebih baik dan memiliki calon suami seperti Jervario. Tangannya mengepal, binar kebencian berpendar di dalam netra Septi. Ia tak terima bila Mentari kini hidup bahagia setelah berpisah dengan kakaknya.


...***...


"Pa, ma, Oma, Opa, kakek, nenek, Jerva ingin menikah."


"Hah! Menikah? Alhamdulillah. Kamu serius, nak?" cecar Nanda.


"Cucu Oma mau nikah lagi? Beneran? Oma senang mendengarnya," sahut Lavina bahagia.


Gathan, Doni, Nuri, dan Ganindra pun turut bahagia mendengarnya, tak terkecuali Jeanara.


"Jerva, loe serius? Apa perempuan itu ... "

__ADS_1


Jerva tersenyum tipis, "ya, aku bakal nikahin sahabat kamu, Mentari," tukasnya membuat Jeanara membulatkan matanya.


"Beneran? Emang dia udah nerima loe? Jangan sampai kami udah susah payah lamarin Riri, tau-tau dia nolak."


"Aku serius dan dia udah nerima lamaran aku kok. Karena itu, aku mohon dukungan semuanya untuk segera melamarkan Mentari atau yang lebih sering kami panggil Riri. Kalau bisa, semua dilakukan sesegera mungkin," ucap Jervario seolah sudah tak sabar lagi ingin menikah.


"Kok buru-buru banget. Dia nggak lagi hamil anak kamu kan?"


"Nggak lah, Oma. Riri nggak seperti itu. Dia janda terhormat. Pemilik MTR Furniture. Jerva ingin segera mengikatnya sebab Jerva takut dia tiba-tiba berubah pikiran lagi."


"Ck ... bilang aja udah bucin," ejek Jeanara. "Tapi kok Riri nggak cerita sih loe lamar, Va? Awas ya kalau bohong, entar sosis kamu aku sambel pakai cabe setan, biar tau rasa," sambar Jeanara membuat Abdi yang sedari tadi diam, diam-diam mengulum senyum.


"Apa loe bang? Nggak usah pake ketawa ya! Istri loe ini bang, benar-benar dah," jengkel Jervario.


"Bagaimana ma?" tanya Gathan pada sang istri, Nanda.


"Mama sih seneng aja, pa. Riri itu selain cantik juga baik. Asha pasti senang onty Riri nya mau jadi mami dia."


"Apa? Onty Riri mau jadi mami Asha? Yessss, akhirnya onty kabulin permintaan Asha," pekik Asha girang membuat yang lainnya terkekeh. Melihat reaksi Asha, mereka pun turut yakin kalau perempuan yang hendak dipersunting Jervario itu memang merupakan perempuan baik-baik dan menarik sebab ia mampu menarik perhatian Asha yang memang sedikit sulit berinteraksi dengan orang baru.


"Asal kau dan Asha bahagia, Opa dan Oma senang," ujar Ganindra menanggapi.


"Kakek dan nenek juga. Semoga perempuan kali ini memang benar-benar jodohmu ya, nak," timpal Doni yang turut berbahagia karena cucunya akhirnya menemukan kebahagiaannya lagi.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2