Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
DELAPAN PULUH DELAPAN


__ADS_3

Seperti biasa, sepulang kerja Belinda akan pulang ke kontrakannya dahulu untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Sebelum mandi, ia memasukkan pakaian kotornya ke dalam mesin cuci dan menyalakannya setelah memasukkan deterjen khusus dan air. Selama ibunya di rumah sakit, Belinda nyaris tidak pernah masak. Tak ada waktu baginya untuk melakukan hal yang sebenarnya menyenangkan itu. Alhasil, setiap hari ia membeli makanan di luar. Kadangkala ia rindu kegiatannya memasak seperti yang kerap ia lakukan bersama ibunya dulu. Kegiatan yang hampir dua tahun ini tak pernah lagi mereka lakukan.


Semua berawal pada peristiwa yang terjadi 2 tahun yang lalu. Saat dimana ibunya shock saat mendengar berita kecelakaan yang menimpa ayahnya. Namun, ternyata ada fakta yang lebih menyakitkan saat itu. Ternyata ayahnya mengalami kecelakaan dengan istri muda dan anak laki-lakinya. Kecelakaan tunggal yang menewaskan mereka bertiga. Anak itu berusia sekitar 10 tahun. Bukankah artinya, ayahnya telah menikah lagi tanpa sepengetahuan ibunya lebih dari 10 tahun yang lalu.


Hati ibu Belinda hancur. Terlebih perempuan itu merupakan sepupunya sendiri. Ia menyayangi sepupu pun putra sepupunya itu dengan tulus. Tapi ternyata, mereka menusuknya dari belakang. Rasa sakit dan kecewa itu sungguh luar biasa. Meskipun sebelum meninggal keduanya sempat memohon ampun, tapi hati ibu Belinda terlanjur luluh lantak hingga tak berbentuk. Sebelum sempat memaafkan, ibu Belinda roboh akibat serangan jantung.


Bukan hanya ibunya yang hancur, tapi juga Belinda. Ia tak menyangka, cinta pertamanya itu telah mengkhianati cinta tulus ibunya. Ia tak menyangka, Tante kesayangannya itu merupakan benalu dan duri dalam pernikahan orang tuanya. Ia tak menyangka, adik sepupu yang disayanginya itu ternyata adik seayahnya sendiri. Wajar saja ayahnya kerap mencurahkan perhatian yang berlebih pada Fadhil. Ternyata penyebabnya karena Fadhil merupakan putra kandung ayahnya sendiri. Sejak itu, Belinda menutup mata dan hatinya pada setiap lelaki. Hatinya jadi dingin dan beku. Ia tak percaya akan adanya cinta di dunia ini. Baginya cinta merupakan sumber malapetaka. Karena cinta, hidup ibunya menderita. Bahkan kini, penyakit jantung ibunya makin parah. Dokter menyarankan pemasangan ring, tapi Belinda belum bisa melakukannya. Keuangannya terbatas. Sedangkan pemasangan ring membutuhkan biaya ratusan juta. Dari mana ia bisa mendapatkan uang tersebut?


Seandainya saja rumah mereka masih ada, mungkin ia bisa menggadaikannya untuk sementara. Tapi hal itu tidak bisa ia lakukan. Ia tak menyangka keluarga ayahnya ternyata begitu kejam, tanpa perasaan mereka mengambil rumah mereka dengan dalih rumah itu merupakan warisan orang tua mereka. Karena ayahnya telah tiada, artinya rumah itu kembali pada mereka, saudara-saudara ayahnya.


Mereka pun terusir dari rumah mereka sendiri. Belinda benci, Belinda marah, hatinya yang beku kian membatu. Dendam, amarah, dan kecewa berkobar di dadanya. Ia benci, bagaimana ada manusia yang begitu tega tanpa rasa iba mengusir mereka dari rumah mereka sendiri. Padahal mereka tahu, mereka baru saja dirundung duka. Ibunya pun sedang tak berdaya karena serangan jantung yang menimpanya. Belinda merasa, sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Tak adakah bahagia untuknya walau sedikit saja?


...***...


Belinda menyusut air matanya yang jatuh sambil memperhatikan wajah ibunya yang tengah tertidur lelap. Ibunya, semangat hidupnya, kini terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Digenggamnya tangan ibunya, dikecupnya dengan sayang punggung tangan wanita yang telah mengorbankan nyawa demi melahirkannya itu.


"Bu, bertahan ya! Jangan pernah tinggalkan Belinda. Belinda tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini selain ibu," bisik Belinda lirih. Matanya memerah. Sesak, itu yang ia rasakan saat ini.


"Aaargh ... " Belinda terlonjak kaget saat tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. "Kau ... " Belinda membulatkan matanya saat melihat seseorang yang tersenyum lebar padanya seakan tidak merasa bersalah sama sekali.


"Kaget ya? Sorry," bisik laki-laki yang ternyata adalah Dario itu.


Belinda menarik nafas panjang untuk menetralkan degupan jantungnya karena terkejut. Untung saja ibunya tidak terganggu dengan pekikannya barusan.


Memang semenjak malam dimana Dario terluka karena menolong Belinda, Dario jadi sering menemui gadis pendiam itu. Dario tahu ibu Belinda di rumah sakit pun karena malam itu Belinda harus kembali lagi ke rumah sakit jadi Dario pun menawarkan diri menemani. Meskipun mereka kerap bertemu, tapi sikap Belinda tidak berubah sama sekali. Ia tetap datar, dingin, tak tersentuh.

__ADS_1


"Kau sudah makan?" tanya Dario saat Belinda tidak menggubris ataupun meresponnya sama sekali.


Belinda mengangkat wajahnya kemudian menggeleng. Ia justru mengambil laptopnya dan memeriksa beberapa pekerjaan yang sebenarnya bisa ia kerjakan esok hari.


"Kamu bisu ya? Apa sih susahnya ngomong!" kesal Dario tapi Belinda tak menggubris sama sekali membuat Dario berdecak.


Dario sendiri bingung, kenapa ia mesti repot-repot memperhatikan Belinda padahal jelas-jelas Belinda tak mempedulikannya sama sekali.


Dario menghembuskan nafas lelah. Lalu ia membuka kantong yang ia bawa tadi dan mengeluarkan isinya. Isinya adalah dua porsi sate Padang. Entah Belinda menyukainya atau tidak. Kemudian ia beranjak dan mengambil laptop yang ada di hadapan Belinda dengan acuh tak acuh membuat Belinda mendelik. Lalu Dario meletakkan seporsi sate Padang tepat di depan Belinda dan menyuruhnya makan.


"Balikkin laptop saya!"


"Makan dulu. Pekerjaan bisa diselesaikan nanti." Dario melotot, tapi Belinda tidak takut sama sekali.


"Kata siapa nggak ada kerjaan. Aku ada kerjaan kok. Nih, lagi ngasi makan manusia kaku bin bebal. Disuruh makan aja susah." Dario mendelik sebal. Dibuat dari apa sih gadis di depannya ini, kok nggak ada manis-manisnya jadi orang. Bukan perihal wajah, tapi sikap. Dario akui, Belinda cantik. Ia juga yakin, senyum gadis itu pasti manis sebab ia pernah melihat foto KTP nya. Di foto itu Belinda tersenyum. Ia jadi penasaran, kenapa Belinda tidak pernah tersenyum sama sekali seperti di KTP itu. Ia melirik ibu Belinda yang sedang tertidur, 'apa mungkin ini ada hubungannya dengan ibunya?


Malas berdebat, Belinda menggeser sate Padang itu agar lebih dekat dengan wajahnya kemudian ia segera melahapnya dengan wajah ditekuk masam membuat Dario diam-diam tersenyum.


...***...


"Hon, kapan sih kamu nikahi aku? Ini perut aku udah makin membesar. Aku takut tetanggaku pada tahu dan mencemooh diriku," rengek Septi sambil bergelayut manja di lengan Edward.


"I'm so sorry, honey, bukan aku tak mau. Aku udah cerita sama mereka tapi orang tuaku menentang hubungan kita. Kau tahu kan, perbedaan kita terlalu besar," kilah Edward membuat Septi mendengkus.


"Kenapa sih harus izin merk dulu? Kita kan bisa menikah diam-diam. Atau kita menikah di luar negeri saja?" Usul Septi, tapi Edward menggeleng tegas.

__ADS_1


"No, itu rumit, honey. Tidak semudah itu. Kenapa kita perlu izin, aku ini anak tunggal orang tuaku, honey. Aku tak mungkin mengecewakan mereka dengan menikah diam-diam."


"Jadi kita harus bagaimana? Terus-terusan seperti ini?" sentak Septi marah.


"Apa salahnya?"


"Aku masih single, Ed, apa kata orang-orang kalau tahu aku hamil tanpa suami?"


"Kau tak perlu bingung, kau bisa menempati apartemen ini. Mulai saat ini, kau tinggal saja di sini. Di sini kau bisa aman dan yang pasti tak ada yang akan menggunjingmu karena hamil tanpa suami. Kau tenang saja, aku akan sering berkunjung nanti." Putus Edward membuat mata Septi berbinar.


"Aku bisa tinggal di sini? Sungguh?"


"Really, honey." Ujarnya seraya mengecup puncak kepala Septi membuat Septi tersenyum lebar.


"Aaargh ... " Pekik Septi tiba-tiba.


"What happen, honey?"


"Aku nggak tahu, Ed, akhir-akhir ini perutmu makin sering sakit. Jujur, aku takut terjadi sesuatu dengan kandunganku," ujar Septi seraya meringis.


"Minggu depan kandunganmu sudah 4 bulan kan? Minggu depan kita ke dokter kandungan. Aku minta kamu jaga anakku baik-baik. Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya. Jangan berpikir macam-macam, apapun yang terjadi, kau harus mempertahankan kandunganmu. Kalau kau masih ingin aku tetap di sisimu, kau harus mempertahankan anak ini, kau mengerti?" tegas Edward membuat Septi mengerutkan keningnya, tapi ia tetap mengangguk patuh. Ia tak mau Edwar meninggalkannya. Bagaimana pun, ia terlanjur mencintai Edward. Apalagi Edward sangat royal padanya, tentu ia tak ingin kehilangan sosok Edward dalam hidupnya.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2