Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
SEMBILAN PULUH ENAM


__ADS_3

Satu jam lagi pesawat yang membawa Jervario, Gathan, dan tim mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta, Mentari dan Jeanara pun segera bergegas sebab lama perjalanan dari cafe tersebut menuju bandara kurang lebih 40 menit. Belinda dan Dario yang melihat hal tersebut pun bergegas beranjak dari sana. Terlebih dahulu Dario pergi ke meja kasir untuk menyelesaikan pembayaran sesuai perintah Jervario bila mana istrinya tersebut makan atau melakukan apapun di luar sana.


Selagi Dario melakukan pembayaran, Mentari dan Jeanara pun berjalan menuju pintu keluar, tapi baru saja Mentari dan Jeanara berdiri di depan pintu cafe tersebut, pintu itu telah terlebih dahulu bergeser ke samping hingga menampakkan sesosok perempuan dengan wajah kuyunya telah berdiri di depan pintu. Sepertinya perempuan itu hendak masuk ke dalam cafe, berbanding terbalik dengan Mentari dan Jeanara yang hendak keluar.


Mata mereka bersirobok beberapa detik, hingga perempuan itu sendiri yang kemudian memutuskan pandangan dengan menundukkan wajahnya. Mentari sampai mengerutkan keningnya, merasa heran sekaligus aneh dengan tingkah gadis di hadapannya itu. Sikap yang yang sangat bertolak belakang dengan apa yang kerap ia lakukan selama ini setiap kali mereka berpapasan.


Merasa masa bodoh, Mentari pun berjalan melewati perempuan itu begitu saja, keluar dari cafe dengan Jeanara di sisinya.


Tak lama kemudian, Dario dan Belinda pun turut keluar. Belinda berhenti sejenak kemudian menyeringai sinis. Tatapan mencibir Belinda arahkan pada perempuan itu membuat perempuan itu kain menunduk sambil meremas kedua tangannya. Dario sampai bertanya-tanya, mengapa Belinda menatap sinis perempuan itu. Hingga sebuah rangkulan di pundak Belinda membuatnya bergeming sambil menatap kesal Dario yang justru tersenyum lebar.


"Nggak usah pasang wajah sinis, bikin aku tambah gemes tau nggak. Civok di sini baru tahu rasa!" seloroh Dario membuat Belinda menganga tak percaya dengan kata-kata gila yang Dario ucapkan. Lantas Belinda mengangkat kakinya sebelah dan menginjakkanya tepat di atas pantofel yang Dario kenakan, membuat laki-laki itu menjerit kesakitan.


"Aaargh ... astaga, calon istriku bar-bar sekali sih! Jadi nggak sabar. nyeret ke KUA," selorohnya lagi seakan tak kenal lelah apalagi menyerah.


"Bisa tutup mulut nggak!" sentak Belinda yang sudah bersungut-sungut sambil berjalan begitu saja melewati Dario.


"Bisa, bisa banget. Tapi pakai bibir kamu yah!" goda Dario sambil mensejajarkan langkahnya dengan Belinda membuat sudut bibir Belinda tanpa sadar terangkat, Dario sampai terperangah tak percaya akhirnya ia bisa membuat Belinda tersenyum walau masih sangat tipis. Kemudian Dario menahan lengan Belinda membuat gadis itu menoleh lalu cup ... sebuah kecupan mendarat tepat di pipi Belinda membuat gadis itu mematung dengan wajah bersemu merah. Setelahnya Dario langsung melarikan diri, masuk ke dalam mobil yang ia bawa untuk mengantarkan Jeanara ke bandara.


Mentari dan Jeanara yang masih berdiri di depan pintu mobil masing-masing sampai tergelak dengan tingkah Dario yang berhasil membuat Belinda mati kutu.


Sementara itu, dari ambang pintu masuk, seorang perempuan dengan kaos oversize di tubuhnya untuk menyamarkan perutnya yang mulai membukit, menatap nanar ke arah Mentari. Matanya memanas saat melihat perut Mentari yang begitu besar. Padahal kehamilan Mentari baru memasuki trimester kedua, tapi ukurannya justru dua kali lebih besar dari perut wanita hamil seusianya.


Setitik air mata mengalir dari sudut matanya, penyesalan itu menyeruak begitu saja. Kilasan-kilasan hinaan yang ia dan ibunya lontarkan kini membuatnya sungguh merasa malu. Berulang kali bahkan mungkin ratusan kali ia lontarkan cacian dan cibiran, mengatakan Mentari mandul. Namun kini, semua telah terbukti, Mentari tidaklah mandul. Dapat ia lihat dari perut Mentari yang sudah sangat besar. Ia juga masih ingat surat keterangan dari dokter yang Shandi tunjukkan padanya beberapa waktu yang lalu, dimana di dalam surat tersebut kakaknya dinyatakan infertilitas alias mandul.

__ADS_1


Malu ... itu yang Septi rasakan pertama kali mereka berpapasan tadi. Padahal Mentari bisa saja membalas hinaannya dengan memamerkan kehamilannya, tapi Mentari justru mengabaikan dirinya, seakan mereka tak pernah saling mengenal sama sekali.


Ya, ia akui, dirinya amat sangat salah di sini. Sifat iri dan dengki, membuatnya tidak menyukai sosok mantan kakak iparnya tersebut. Padahal Mentari sudah sangat baik dengan dirinya dan keluarganya, tapi ia justru memperlakukan Mentari dengan sangat tak berperasaan. Dan kini, apa yang ia tabur, perlahan ia tuai. Rahimnya bermasalah, ia disarankan melakukan operasi pengangkatan janin dan rahim demi keselamatannya. Dirinya terancam mandul. Bagaimana bila rahimnya benar-benar diangkat, artinya ia selamanya ia takkan bisa memberikan keturunan pada pasangannya.


Septi dilema. Sebagian benaknya berisi ketakutan bagaimana bila nyawanya tak dapat tertolong karena mempertahankan bayi itu, tapi sebagian hatinya lagi dihiasi ketakutan bagaimana bila ia tidak bisa hamil lagi setelah mengorbankan bayi yang tak berdosa. Hingga sebuah suara menginterupsi lamunannya agar segera menepi karena mengganggu pelanggan yang hendak keluar masuk ke cafe itu. Septi yang gelagapan lantas menggeser tubuhnya. Bola matanya mengerjap, kemudian ia terkekeh sendiri mengundang tatapan aneh dari pengunjung cafe tersebut. Sadar kalau dirinya sudah menjadi sasaran tatapan mengejek orang-orang, Septi pun bergegas pergi dari sana.


Sementara itu, tepat 2 jam kemudian, tampak seorang laki-laki berlari dengan senyum merekah di bibirnya sambil merentangkan kedua tangannya untuk meraih sesosok wanita yang amat sangat dirindukannya ke dalam pelukannya.


"I Miss you so much my love. Huh, seminggu rasanya kayak setahun. Lega rasanya bisa memeluk dan mencium kamu lagi, sayang," seru Jervario dengan buncahan kerinduan yang berkobar.


"Miss you Abang juga," balas Mentari dalam pelukan Jervario.


"Pulang sekarang yuk, udah mau Maghrib," tukas Jervario yang diangguki Mentari.


Karena Belinda harus segera ke rumah sakit, ia pun segera berpamitan dengan semua yang yang ada di sana.


"Kok kamu cepet banget pulangnya, Bel? Nanti aja, kita makan malam dulu sama-sama," ajak Nanda pada Belinda yang baru saja berpamitan hendak pulang.


"Iya, Bel, kita makan dulu aja! Yuk!" ajak Mentari juga.


"Maaf Bu, bukannya nggak mau. Tapi saya harus segera ke rumah sakit menjaga ibu saya. Mungkin lain kali saja Bu," tolak Belinda sopan.


"Ya udah kalau gitu, tapi pulangnya minta anterin sopir aja gimana?" tawar Nanda.

__ADS_1


"Ah, nggak usah, Bu. Saya bisa pulang sendiri." Tolak Belinda lagi. Jervario yang mendengar kalau Belinda berpamitan hendak pulang, lantas tersenyum lebar.


"Yo, anterin gih Belinda ke rumahnya, loe mau kan!" seru Jervario sambil melemparkan kunci mobilnya.


"Dengan senang hati!" seru Dario tak kalah girang membuat kedipan penuh tanya dari Nanda dan Gathan yang belum paham tujuan putranya.


"Tidak usah tuan, saya ... "


"Tidak ada penolakan." Tegas Jervario membuat Belinda menghela nafasnya sambil melirik Dario yang sedang cengar-cengir.


Setelah mengatakan itu, Jervario pun masuk sambil merangkul pundak Mentari.


"Jaga Belinda baik-baik, Dario! Awas kalau kamu macam-macam!" Ancam Mentari sambil memicingkan matanya dengan sorot mata menggoda. Dario yang paham malah cengengesan. Sepertinya banyak yang mendukungnya untuk menaklukkan hati Belinda.


"Semangat Dario! Fighting ... Lombok menantimu!" seru Jeanara heboh.


"Pasti!" balas Dario sambil mengangkat sebelah tangannya meninju udara membuat Belinda mengerutkan keningnya.


"Lombok?" gumam Belinda penasaran dengan apa yang barusan diteriakkan Jeanara. "Ada apa dengan Lombok?" Belinda bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sedangkan Dario justru tersenyum penuh arti.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2