Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
SEMBILAN PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Pagi ini rumah sakit tampak lebih ramai dari biasanya. Bukan karena banyaknya pasien yang masuk, tapi karena akan diadakannya pernikahan di salah satu ruangan pasien. Siapa lagi kalau bukan pernikahan Belinda dan Dario. Ya, mereka akan melangsungkan akad nikah di ruang rawat ibu Belinda.


Semenjak mereka diminta untuk segera menikah, maka mulai malam itu pula Dario melakukan segala persiapan. Entah berkah atau musibah, tapi yang pasti Dario merasa sangat bahagia. Ia seakan mendapat jackpot super besar. Dario yang nyaris putus asa ingin mendekati Belinda tapi tak kunjung mendapatkan lampu hijau, justru mendapatkan kesempatan tak terduga. Dalam hati, Dario berterima kasih pada sahabat sekaligus atasannya, sebab berkat titahnya yang memerintahkan dirinya mengantarkan Belinda pulang lah, ia sampai bisa mendapatkan kesempatan emas untuk mendapatkan Belinda. Bahkan ia akan langsung menikahinya, tanpa perlu pusing memikirkan bagaimana cara meluluhkan hati dan melamarnya. Rasanya kali ini Dario bukan hanya mendapatkan durian runtuh, tapi hujan emas. Senangnya calon pengantin.


Dario juga sudah menemui kedua orang tuanya dan menceritakan kronologisnya. Orang tuanya tentu saja menyambut bahagia kabar tak terduga tersebut. Mereka yang sudah lama menantikan putra sulungnya itu menikah, tentu saja menyambut antusias niat sang putra. Dario terdiri dari empat orang saudara. Dia merupakan si sulung sekaligus putra satu-satunya, sedangkan ketiga adik perempuan Dario yang lainnya telah menikah dan ikut suami masing-masing. Orang tua Dario sempat berpikir putranya tersebut memiliki kelainan seksual, tapi nyatanya dugaan mereka salah. Hal ini terbukti kalau ternyata putranya tengah mendekati seorang gadis dan kini justru mereka dipaksa menikah karena kesalahpahaman warga. Menurut mereka, ini adalah kesalahpahaman membawa berkah.


Oleh sebab itu, malam itu juga orang tua dan saudara-saudara Dario mempersiapkan segala hal untuk menikahkan Dario dengan pujaan hatinya. Dario juga sudah menemui ibu Belinda pagi-pagi sekali dan menceritakan perihal kesalahpahaman warga pada mereka yang berakhir dengan keputusan ia yang akan segera menikahi Belinda. Keputusan yang alih-alih menyelamatkan nama baiknya. Padahal itu mah memang yang Dario inginkan. Dasar licik bin cerdik. Sambil menyelam minum air.


"Nak, bisa ibu bicara berdua denganmu?" tanya ibu Belinda pada putrinya. Hari masih menunjukkan pukul 7 pagi, sedangkan akad nikah akan dilakukan pukul 10 pagi. Dario yang paham Belinda dan ibunya membutuhkan waktu untuk bicara berdua pun segera pamit undur diri untuk mempersiapkan segala sesuatunya.


"Ibu mau ngomong apa?" tanya Belinda lembut setelah memastikan Dario benar-benar pergi. Tentu mereka membutuhkan privasi dan tak ingin orang lain ikut campur dalam pembicaraan mereka. Belinda bertutur dengan sangat lembut dan santun, sikap yang hanya ditujukan pada sang ibu.


Ibu Belinda lantas meraih tangan Belinda dan menggenggamnya erat.


"Nak, ibu tahu kamu masih trauma dengan apa yang dilakukan ayah pada ibu di masa lalu. Tapi kamu tidak boleh terkurung dalam dendam masa lalu. Percayalah, tidak semua laki-laki seperti ayahmu, nak. Dan ibu yakin, Dario benar-benar menyayangi kamu. Ibu juga percaya, dia bisa membahagiakan kamu. Bukalah hatimu untuknya, nak." Ibu Belinda mencoba menasihati putrinya agar mau membuka hatinya untuk Dario. Meskipun ia baru mengenal sosok Dario, entah mengapa, ia yakin dan percaya, Dario mampu. menghapuskan kenangan buruk yang terpatri di benak Belinda pun memberikan kebahagiaan, cinta, dan kasih sayang serta perhatian yang telah lama hilang dari dalam hidupnya.


"Bisakah Belinda mempercayai, Bu? Belinda takut ... "


"Kau takkan tahu kalau tak mencoba. Ibarat makanan, mana tahu rasanya enak atau tidak kalau tidak kita coba, bukan. Percayakan hatimu padanya, insya Allah dia bisa jadi suami dan ayah yang baik untukmu dan anak-anakmu kelak."


Mendengar kata-kata 'anak-anakmu' dari bibir sang ibu sontak saja membuat otak Belinda traveling. Belinda tidak sebodoh itu untuk mengetahui proses pembuatan dan terjadinya seorang anak. Meskipun belum pernah melihat secara langsung apalagi mencoba, tapi bukankah saat SMA kita telah diajarkan tentang proses reproduksi pada manusia. Tentu ia sedikit banyak memahami bagaimana prosesnya.


"Ibu juga pingin lho punya cucu dari kamu. Apalagi kamu satu-satunya anak ibu, putri kesayangan ibu. Kamu mau kan membuka hati untuk nak Dario? Siapa tahu, dengan adanya cucu, ibu jadi lebih cepat sembuh. Ingat, ibu nggak mau kalian nikah pakai perjanjian-perjanjian segala. Apalagi perjanjian kayak sejenis kontrak pernikahan gitu. Ibu ingin kalian menikah dan menua bersama, hingga hanya maut yang memisahkan. Kalian tidak melakukan pernikahan kontrak ataupun sejenisnya kan?"

__ADS_1


Belinda yang mendapatkan cecaran seperti itu gegas menggeleng dengan cepat. Ya, memang mereka tidak melakukan hal-hal konyol seperti itu. Cukup pernikahan mereka saja yang terjadi karena kesalahpahaman dan fitnah konyol, tapi jangan pernikahannya juga dianggap sesuatu yang konyol. Pernikahan itu sakral. Ada janji yang harus ditepati, baik itu kepada pasangan, orang tua, dan sang Pencipta pastinya.


"Nggak lah, Bu. Belinda nggak segila itu untuk membuat perjanjian konyol." Sanggah Belinda cepat membuat sang ibu tersenyum.


"Baguslah. Oh ya, satu lagi nasihat ibu, ibu mohon pertahanan pernikahan kalian sebaik mungkin. Mungkin saat ini kamu belum mencintainya, tapi tetap kau harus melayaninya sebaik mungkin, baik itu urusan perut, kebutuhan hariannya, apalagi kebutuhan bawah perut. Buat dia ketergantungan padamu. Cukup ibu yang pernah gagal mempertahankan pernikahan ibu. Cukup ibu yang gagal menjaga ayah kamu agar tetap setia di sisi ibu, tapi jangan kamu. Penuhi kebutuhannya, layani dia sepenuh hati, penuhi kewajibanmu sebagai seorang istri, jangan malu-malu, ragu, apalagi menolak. Kamu yang cuek bebek dan ketus ini aja mampu membuat calon suamimu itu tergila-gila, apalagi kalau kamu mampu menaklukkannya, suamimu pasti akan makin menggilaimu. Ingat, jangan ragu dan jangan pernah menolak ajakan dan keinginannya. Apalagi kebutuhan batinnya seperti hubungan suami istri. Itu bila kau mau dia tetap setia dan menjadikanmu ratunya. Kamu mengerti, nak?"


Mendengar nasihat sang ibu yang sarat akan harapan dirinya dapat menjaga dan mempertahankan rumah tangganya dengan Dario kelak, membuat Belinda mengangguk. Apa yang disampaikan ibunya memang benar adanya. Selama ini ia enggan membuka hati karena trauma masa lalu pada perbuatan ayahnya. Namun, karena pernikahan ini tak mungkin lagi ia tolak dan cegah, ia pun berusaha menerimanya dengan lapang dada. Mungkin ini memang jalan takdirnya. Mau bagaimana pun ia berusaha menghindari yang namanya pernikahan, bila ia sudah ditakdirkan menikah dengan Dario, pernikahan itu pasti akan tetap terjadi. Pun nasihat agar ia melayani Dario sebaik mungkin. Ia berjanji pada diri sendiri, akan berusaha membuka hati dan berusaha menjadi istri sebaik mungkin agar tak memberikan celah sedikitpun untuk Dario memikirkan wanita lain. Hanya ia ratu dalam hidup Dario, tak ada yang lain.


...***...


Tak terasa, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10 pagi. Semua orang pun tampak sudah berkumpul untuk menjadi saksi pernikahan Belinda dan Dario. Belinda tampak cantik dan anggun memakai kebaya berwarna putih yang dibawakan khusus oleh Mentari. Pun Dario tampak begitu tampan dengan setelan jas berwarna hitam yang melekat erat di tubuhnya. Mereka berdua sampai terpaku dengan penampilan satu sama lain. Belinda yang merasa malu terus dipandangi lantas menunduk.


Akad nikah Belinda akan dilakukan oleh paman Belinda dari sebelah sang ayah. Sebenarnya Belinda enggan meminta bantuan keluarganya ayahnya, tapi menurut Dario, bila masih ada orang yang bisa dijadikan wali sah, maka sangat dianjurkan meminta bantuannya. Alhasil, Belinda pun mengalah.


Tepat pukul 10 pagi, penghulu pun mulai memimpin acara akad nikah tersebut di hadapan wali sah dan para saksi hingga kini Belinda pun telah resmi menjadi istri dari seorang Dario.


"Saya terima nikah dan kawinnya Belinda Pitaloka binti Syarifuddin dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 25 gram, dibayar tunai."


"SAH."


"SAH."


"SAH."

__ADS_1


Rasa haru tiba-tiba saja menyeruak memenuhi rongga dada Belinda dan Dario. Belinda yang tak pernah menyangka ia akan menikah dan menyandang status sebagai seorang istri, pun Dario yang tak menyangka bisa menikahi gadis dinding beton yang terkenal dingin dan datar plus kaku itu.


Setelah dinyatakan sah, Belinda pun diminta mencium punggung tangan Dario. Dengan patuh Belinda mencium punggung tangan itu yang dibalas Dario dengan sebuah doa di puncak kepala Belinda kemudian mencium keningnya. Mata Belinda memerah. Ia pun mengangkat wajahnya untuk menatap lekat wajah laki-laki yang kini telah sah menjadi suaminya. Untuk pertama kalinya, Belinda mengukir senyum semanis mungkin membuat Dario sampai terperangah sekaligus terpesona.


"Aduh, aduh jantungku," seru Dario sambil menekan dada kirinya dengan telapak tangan dan memasang kesakitan membuat semua orang tiba-tiba panik.


"Mas, mas, kamu kenapa?" pekik Belinda panik sambil meraih pundak Dario dan membimbingnya untuk duduk di kursi yang ada di sana.


"Sini!" panggil Dario sambil menarik telapak tangan Belinda dan meletakkan di dada kirinya yang jedag-jedug, "jantungku sontak jumpalitan karena senyuman kamu yang aduhai manisnya, istriku. Aku nggak nyangka, senyum kamu semanis ini. Kamu jadi makin cantik aja, tahu nggak," Ucapnya dramatis membuat mata Belinda terbelalak pun orang-orang yang sudah menahan tawanya karena tingkah absurd Dario. "Dan apa tadi? Mas? Aduh jantungku."


Plakkk ...


Kesal dengan tingkah absurd sang sahabat, Jervario lantas menggeplak kepala Dario dengan telapak tangannya membuat Dario melotot.


"Ayang, liat, mas mu dizalimi suami bos kamu tuh! Balas dong, Yang!" rengek Dario yang kian membuat Belinda jengah campur malu. Bagaimana tingkah suaminya itu benar-benar tak tahu malu, pikirnya.


"Balas aja sendiri. Aku nggak mau dipecat Bu bos gara-gara belain kamu," ketus Belinda yang mengundang tawa orang-orang di dalam ruangan itu.


"Bel, selamat ya! Aku turut bahagia dengan pernikahanmu. Semoga kalian jadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Oh ya, kalau Dario sampai macam-macam sama kamu, jangan sungkan bilang ya! Nanti aku bantu kirim dia ke perbatasan Israel - Suriah, biar dia jadi relawan di sana." Tukas Mentari membuat mata Dario melotot.


"Eh, enak aja! Tenang aja, aku nggak mungkin macam-macam kok. Aku kan suami setia. Kamu jangan khawatir ya, sayang. Aku akan selalu setia hingga maut memisahkan." Ucap Dario sungguh-sungguh sambil menggenggam tangan Belinda membuat gadis itu kembali tersenyum untuk kedua kalinya di hadapan Dario.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2