Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
TIGA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Seorang pria tampan, gagah, dan berkharisma berjalan dengan penuh wibawa masuk ke lobby kantor MTR Furniture. Terang saja pemandangan indah tersebut mengundang tatapan penuh tanya dari para karyawan yang melihatnya. Apalagi dari pakaian yang dikenakannya sudah jelas kalau pria tersebut merupakan salah seorang kalangan atas.


Bisik-bisik penuh tanya pun riuh terdengar hampir di setiap meja staf berbagai divisi.


Kemudian pria itu segera menghampiri meja resepsionis untuk menyampaikan tujuannya.


"Permisi, saya ingin bertemu dengan ibu Mentari," ucapnya sambil melepaskan kacamata hitam yang bertengger di atas hidungnya.


Bukannya langsung menjawab, resepsionis itu justru mematung dengan mata membulat. Bukan terkejut karena kenal, melainkan terkejut karena dapat melihat pria tampan dan juga keren berdiri tepat di hadapannya.


"Halo, apa kamu mendengarku?" ucap laki-laki itu sekali lagi dengan sorot mata memicing tajam membuat perempuan itu gugup seketika.


"Ah, i-iya, maaf dengan tuan siapa? Dan ... apakah Anda sudah memiliki janji dengan ... "


"Beritahu saja di mana ruangannya, saya bisa ke sana sendiri!" tukas Jervario datar membuat resepsionis itu menelan ludah.


"Ta-tapi tuan Anda harus ... "


Jervario makin memicingkan tatapannya. Sorot mata tajam dan mengintimidasi itu membuat resepsionis kesulitan bernafas.


"Ru-ruangan Bu Mentari ada ... ada di lantai 5, tuan," jawab resepsionis itu terbata. Sebenarnya ia sudah tahu di lantai mana ruangan Mentari, tapi tak ada salahnya berbasa-basi dengan resepsionis pikirnya. Apalagi ini kali pertama ia masuk ke perusahaan milik Mentari, tentu orang-orang akan menatapnya heran bila nyelonong begitu saja masuk ke perusahaan itu.


Setibanya di lantai yang dituju, pria itu segera melangkahkan kakinya yang panjang hingga ke depan meja asisten pribadi Mentari.


"Linda ... "


"Ah, tuan!" ucap Belinda terkejut melihat keberadaan orang yang merekomendasikan dirinya agar bekerja dengan Mentari.


"Ibu di dalam, mau saya beritahukan kedatangan tuan?"


Laki-laki itu menggeleng, "kamu di sini saja." pungkasnya yang langsung diangguki Belinda.


Ceklek ...


Pintu ruangan Mentari dibuka dari luar, tanpa mendongak atau melihat siapa yang masuk, Mentari justru melemparkan pertanyaan.


"Ada apa, Bel?" tanya Mentari dengan mata berbingkai kacamata bening yang tampak begitu fokus ke layar laptop. Pun jari-jarinya tampak sibuk beradu dengan papan keyboard.

__ADS_1


"Kau makin cantik saat sedang serius seperti itu," puji laki-laki itu mengagetkan Mentari yang tadinya sibuk mengetik sekaligus memperhatikan kurva dan grafik yang menunjukkan angka penjualan di layar laptopnya.


"K-kau ...? Kenapa kau ada di sini?" cetus Mentari tergagap campur bingung.


Laki-laki yang ternyata Jervario itu menggelengkan kepalanya lantas duduk dengan santai di sofa yang ada di ruangan itu.


"Jangan pura-pura amnesia, Ri!" cetus Jervario sambil melipat kaki kanannya di atas kaki kiri. Terbiasa bersikap bossy membuatnya selalu bersikap demikian dimana pun berada.


"Tapi ini kan baru jam berapa, Jer!" omel Mentari sebab memang saat itu masih pukul 11 kurang.


"Tak ada salahnya bukan datang lebih awal. Aku tak suka menunda-nunda waktu soalnya."


"Kalau datang terlalu cepat emangnya nggak buang waktu?"


"Nggak," jawab Jervario cepat.


"Nggak dari mana, kalo cuma duduk-duduk doang gitu," omel Mentari dengan bibir maju mundur cantik membuat Jervario gemas sendiri.


"Jangan ngomel mulu, aku cium tahu rasa!" ucapnya acuh tak acuh membuat Mentari melotot.


"Ya udah, kita pacaran aja biar aku bisa cium kamu suka-suka aku."


Gubrakkkk ...


"Jervario ... makin lama kok kamu makin nyebelin sih!" teriak Mentari sambil melemparkan sebuah ballpoint ke arah Jervario yang langsung ditangkapnya dengan gesit membuat ia tersenyum miring.


"Sengaja, biar kamu selalu ingat sama aku."


"Astagaaaa ... kamu kesambet apa sih Jer sebelum ke sini. Aku jadi takut tahu."


"Nggak perlu takut. Aku nggak kesambet. Aku kayak gini hanya sama kamu aja kok biar ... "


"Biar apa?" ketus Mentari dengan mata melotot.


Jervario berjalan mendekat ke arah Mentari dengan kedua tangan berada di saku celananya. Kemudian Jervario berdiri di belakang Mentari membuat wanita itu jedak-jeduk, lalu sedikit membungkukkan badannya sehingga posisi bibirnya berada tepat di samping telinga Mentari.


"Biar kamu selalu mengingat aku dan biar kamu ... jatuh hati padaku," bisiknya pelan namun sukses membuat sekujur aliran darah Mentari terasa panas dan bergelora hingga kemudian membuat kinerja jantungnya pun berdebar tidak menentu.

__ADS_1


"Ngawur," ketus Mentari sambil memalingkan wajahnya. Ia yakin, pipinya yang merah karena blush on makin terlihat merah. Kinerja jantungnya sudah tak baik-baik saja. Bisa-bisa ia benar-benar terkena serangan jantung bila Jervario terus-menerus bertingkah aneh seperti ini, pikirnya.


...***...


Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Mentari dan Jervario pun berjalan bersisian keluar dari ruangannya kemudian masuk ke dalam lift.


"Belinda, kau makan sendiri saja! Biar atasanmu pulang bersamaku!" tukas Jervario yang sudah seperti sebuah perintah membuat alias Mentari naik ke atas.


"Kalo kamu yang ngasih perintah sih? Yang bos siapa yang beri perintah siapa?" dengus Mentari dengan mata mendelik tajam.


Jervario menyunggingkan seringaiannya, "bentar lagi juga aku jadi bos dia juga," ucapnya santai membuat Mentari makin tak habis pikir dengan sikap Jervario yang makin menjadi-jadi.


"Mana bisa begitu."


"Bisa aja."


"Gimana caranya?" tanya Mentari polos.


"Gampang, tinggal kita nikah aja otomatis aku jadi bos dia juga kan."


Ada yang berdetak hebat dalam dada Mentari. Ia tak menyangka Jervario bisa bicara seperti itu. Mentari menggigit bibirnya yang hendak menyunggingkan sebuah senyuman.


"Astaga jantungku ... Jerva kamu kok makin menjadi sih? Aku jadi bingung harus menanggapi kamu kayak gimana? Apa yang kamu katakan itu serius atau cuma main-main untuk menghiburku? Jangan terlalu baik deh Jer, aku takut aku tidak bisa mengontrol perasaanku kalau kau terus-terusan bersikap dingin-dingin manis kayak es krim kayak gini." Gumam Mentari namun yang pasti hanya berani ia gumamkan dalam hati.


Mentari kunci rapat bibirnya. Ia tidak menanggapi sedikit pun kata-kata Jervario. Ia menganggap itu tak lebih dari sekedar bualan.


Selama lift bergerak, Mentari dan Jervario hanya membungkam. Mentari berdiri dengan kepala tertunduk, sedangkan Jervario menatap lurus ke depan dengan kedua tangan berada di saku celananya. Namun, bola matanya terpusat pada satu sosok yang terpantul di dinding lift.


Saat denting lift berbunyi, keduanya pun keluar dari ruangan berbentuk kotak dari besi tersebut. Semua pandangan mata terpusat pada kedua orang yang berjalan itu dengan benak yang penuh tanda tanya, siapa laki-laki yang bersama bos besar mereka tersebut? Dan apa hubungan keduanya?


Bahkan saat keduanya benar-benar menghilang di dalam sebuah mobil mewah senilai puluhan milyar itu, suasana kantor makin riuh dengan berbagai dugaan dan asumsi. Gosip-gosip pun berseliweran. Grup chat kantor pun jadi sasaran, membuat hati sang mantan meradang. Apalagi saat ia melihat foto-foto bagaimana Jervario memperlakukan Mentari bak seorang ratu.


"Aaargh ... sialan! Siapa laki-laki itu? Apa benar dia kekasih baru Tari? Ah, tidak-tidak! Mana mungkin. Ini tidak boleh terjadi. Tari hanya milikku," racaunya seperti orang gila.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2