Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
SEMBILAN PULUH TUJUH


__ADS_3

Mobil yang dibawa Dario telah berhenti tepat di depan kontrakan milik Belinda. Belinda pun bergegas turun sebelum Dario melakukan adegan-adegan romantis seperti membukakan seat belt, membukakan pintu mobil untuknya, dan mempersilahkan dirinya turun.


Eh, boleh kan Belinda ke'GR'an?


Tapi ... Belinda sadar diri, dia tidak seiistimewa itu. Pasti Dario hanya berniat main-main saja dengannya, bukan? Mana mungkin laki-laki seperti Dario serius terhadapnya? Memangnya apa menarik dari dirinya? Nggak ada.


"Kata siapa kamu nggak menarik? Bagi orang lain mungkin iya, tapi bagiku kau sangat-sangat menarik." Tiba-tiba Dario telah berdiri di sisinya yang baru saja turun dari dalam mobil. Gadis itu sampai tersentak dan mundur mendadak sehingga punggungnya menabrak pinggiran mobil.


"Kau ... kenapa ... bisa ngomong gitu? Emangnya aku udah ngomong apa?" tanya Belinda gelagapan.


"Aku tahu, kamu pasti berpikir mana mungkin aku tertarik padamu kan? Terus apa yang menarik dari dirimu kan? Jangan terlalu menilai rendah dirimu sendiri. Bagaimana orang lain akan menilaimu tinggi bila dirimu menganggap rendah dirimu sendiri," tukas Dario dengan sorot mata tajamnya membuat Belinda menganga mengapa Dario bisa tahu apa yang ia pikirkan. Ia tak sadar, dirinya menggumamkan itu di bibir, bukan di hati, wajar aja Dario tahu sebab ia mendengar dengan telinganya sendiri. Dario sampai terkekeh sendiri melihat wajah cengo Belinda yang heran bagaimana ia tahu apa yang ia tadi pikirkan. "Udah, buruan mandi sana, entar aku antar ke rumah sakit."


"Nggak usah. Aku bisa pergi sendiri."


"Nggak, pokoknya aku yang anterin. Aku nggak mau calon istriku pergi seorang diri malam-malam begini. Gimana kalau calon istriku yang cantik tapi datar seperti beton diculik cowok cakep, bisa-bisa aku nggak jadi nikah dong! Wah, bisa beneran jadi jodi dong! Terus nggak jadi ke Lombok juga, ah, no no no, itu nggak boleh terjadi. Aku bukan hanya nggak sabar jadiin kamu istri, tapi juga udah nggak sabar jadi menantu ibu dan kasi cucu buat ibu, sama emak bapakku juga tentunya," cerocos Dario tanpa jeda membuat Belinda menghela nafasnya. Ampun dah, bawel banget nih cowok! Belinda tidak mengerti, mengapa ada laki-laki sebawel ini. Apa itu karena Dario memang benar-benar jodohnya ya? Dirinya yang pendiam, dingin, datar, no bawel, tentu bila menikah dengan orang yang juga sama seperti dirinya, bagaimana rumah tangganya? Bisa-bisa rumah jadi seperti kuburan karena sepi, senyap, tanpa obrolan-obrolan absurd sebab tanpa Belinda sadari kehadiran Dario cukup memberi warna dalam kehidupannya. Bahkan hanya Dario yang benar-benar berani mendekatinya. Sifatnya yang introvert membuat semua orang enggan berdekatan dengannya. Wajah dinginnya membuat dirinya dinilai cewek galak sehingga tak ada seorang pria pun yang berani mendekatinya dengan tujuan pdkt walaupun itu memang tujuannya sih memasang wajah datar dan dingin. Pantaskah ia memberikan kepercayaan pada sosok seperti Dario?


Tanpa banyak bicara, Belinda segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya tanpa mengunci. Dario yang paham alasannya pun segera duduk di lantai teras yang dingin sebab di sana tak ada sebuah kursi pun untuk ia duduki.


Namun, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh bersamaan dengan padamnya lampu di area itu membuat Dario sontak berdiri. Keadaan benar-benar gelap dan lagi-lagi terdengar suara benda jatuh yang sepertinya terbuat dari kaca disertai pekikan kecil suara Belinda.


Dario pun segera merogoh ponsel di dalam kantong celananya dan menyalakan power on. Setelahnya, Dario menyalakan senter di ponselnya kemudian masuk begitu saja untuk mencari sosok Belinda.


"Nda, kamu dimana?" tanya Dario sambil berjalan hati-hati mencari keberadaan Belinda. "Nda, apa yang terjadi? Kamu kenapa dan dimana?" tanyanya panik.

__ADS_1


"Akh ... aku nggak papa. Kamu ... keluar saja. Ssshhht ... " jawab Belinda seraya mendesis.


Tapi Dario masa bodoh, ia terus masuk hingga akhirnya menemukan sosok Belinda yang sedang ragu untuk melangkah. Dario pun menyenter ke arah lantai yang ternyata dipenuhi serpihan pecahan gelas.


"Tadi lantainya entah kenapa licin jadi aku terpeleset. Pas mau berdiri, karena gelap, aku salah berpegangan, malah pegang gelas yang akhirnya jatuh terus pecah." Jelas Belinda reflek padahal Dario belum bertanya sama sekali.


"Kamu tetap di sana!" titahnya sambil mencari celah lantai yang tidak terdapat serpihan beling untuk mendekati Belinda, kemudian ia meraih Belinda ke dalam gendongannya sebab ia melihat kaki Belinda ada yang tertusuk pecahan gelas.


Baru saja Dario melangkah beberapa langkah dengan Belinda berada dalam gendongannya, tiba-tiba saja lampu menyala. Dan yang lebih mengejutkan, sudah ada beberapa orang berdiri di ambang pintu rumah kontrakan yang terbilang kecil itu. Jarak ruang tamu ke dapur yang hanya beberapa meter tanpa pembatas apa-apa dapat membuat semua orang melihat apa yang terjadi di dalam sana.


Jelas saja, Belinda dan Dario kebingungan, apalagi beberapa laki-laki itu menatap mereka dengan pandangan yang aneh.


"Kalian mau buat mesyum di sini? Ternyata benar kata Bu Suminten, perempuan ini suka berbuat mesyum di rumahnya," desis salah seorang dari mereka membuat Belinda dan Dario membulatkan matanya.


Dengan acuh, Dario lantas mendudukkan Belinda di lantai sambil bersandar ke dinding.


"Benar apa yang dikatakan Dario sebab kami memang tidak melakukan apa-apa seperti yang kalian tuduhkan." Belinda ikut menyuarakan kekesalannya.


"Sudahlah, nggak perlu menyangkal lagi. Pak RT liat kan, apa yang barusan mereka lakukan. Apalagi kalau mereka mau berbuat mesyum di sini!" imbuh Bu Suminten yang tiba-tiba saja muncul.


"Bu Sum, ibu apa-apaan sih? Kapan saya mesyum? Ibu lihat kaki saya," tunjuk Belinda pada kakinya yang masih tertancap pecahan gelas, "Dario hanya membantuku agar tidak kembali menginjak pecahan gelas, bukannya mau berbuat yang tidak-tidak seperti yang ada di otak kotor buk Sum!" bentak Belinda geram.


"Bu, saya bisa memperkarakan Anda karena telah menuduh kami yang tidak-tidak." Sentak Dario dengan rahang mengeras.

__ADS_1


"Sudah, sudah, ini sudah larut, sebaiknya kita bicara baik-baik, bukannya bertengkar kayak gini. Bukannya masalah selesai, yang ada malah memperkeruh," imbuh Pak RT mencoba melerai pertengkaran itu.


"Apanya yang mau dibicarakan baik-baik pak bila kalian tiba-tiba datang dan menuduh seenaknya! Mending kita langsung ke kantor polisi aja!" Seru Dario dengan suara meninggi.


"Udah nak, maaf kalau kami sudah salah menuduh. Sebaiknya tenangkan diri Anda lalu kita cari jalan tengah saja, nggak perlu sampai ke kantor polisi." Pak RT kembali mencoba menengahi.


"Nikahkan saja mereka pak atau usir dari sini!" seru suara dari luar menambah kehebohan di dalam sana.


"Iya pak. Jangan percaya omongan pasangan mesyum itu. Paksa nikah mereka atau mereka harus pergi dari sini segera!" timpal yang lainnya membuat mata Belinda dan Dario melotot.


Bu Suminten yang sudah ketar-ketir pun ikut menimpali, "kalau memang kalian bukan pasangan mesyum, segera nikahi Belinda. Kami tak mau perbuatannya ditiru anak-anak gadis disini, kok bawa laki-laki ke rumah malam-malam gini, wajar aja kan orang mikirnya macam-macam," kelit Bu Suminten sekaligus untuk mengamankan dirinya sebab dirinya lah yang mengundang pak RT ke sana. Bukan tanpa alasan, putranya sering kali menanyakan tentang Belinda. Bahkan ia sering melihat putranya mencuri pandang pada Belinda. Belinda memang acuh tak acuh, tapi tetap saja Bu Suminten tak suka. Alasannya karena Belinda miskin dan ia tak ingin mempunyai menantu miskin. Karena itu, Bu Suminten memfitnah Belinda agar anaknya berhenti menaruh rasa pada Belinda yang miskin.


Mendengar seruan tersebut, entah mengapa justru membuat Dario tersenyum lebar. Sebuah ide seketika melintas di benaknya.


"Baiklah, meskipun sebenarnya Ki memang tidak melakukan apa-apa, kalau dengan begitu bisa membersihkan nama baik Belinda, saya bersedia menikahinya." Ujar Dario tanpa keraguan sedikitpun membuat mata Belinda terbelalak. Belinda sampai lupa kakinya masih tertancap pecahan gelas. Ia terlalu terkejut dengan apa yang barusan terjadi, begitu pula apa yang barusan Dario sampaikan.


"Heh, apa yang kau ... "


"Sudahlah, Nda. Lebih baik kita turuti permintaan warga RT kamu ini. Demi kamu, demi ibu, aku bersedia menikah denganmu," potong Dario yang disetujui semua warga yang turut hadir di sana. Belinda mengatupkan mulutnya kesal, bisa-bisanya Dario mengambil keputusan secara sepihak seperti ini. Tapi Belinda bisa apalagi, ia hanya bisa pasrah apalagi seruan warga di luar sana kian ramai. Ia seolah-olah digerebek karena memang telah melakukan perbuatan yang iya-iya, padahal tidak sama sekali.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2