
Pagi-pagi sekali Milea telah datang ke kediaman Jervario untuk menjemput Asha. Melihat kedatangan Milea dan Andrian membuat darah Jervario memanas. Namun sebisa mungkin ia tahan amarahnya agar bisa segera mengetahui tujuan kebaikannya pada putrinya. Meskipun Asha adalah putri kandungan Milea sendiri, namun Jervario dapat merasakan tidak adanya ketulusan di dalamnya. Sangat kontras dengan sikap dan perlakuan Mentari pada putrinya yang bahkan sejak awal pertemuan saja sudah memiliki rasa sayang. Apalagi semenjak Asha benar-benar jadi Putri sambungnya, Mentari kian menyayangi Asha seperti putri kandungnya sendiri. Tak dapat dipungkiri, jiwa keibuan Mentari memang luar biasa. Sayangnya, ia belum diberikan kepercayaan untuk memiliki buah hati sendiri. Ia yakin, Mentari akan menjadi sosok ibu yang sempurna bagi anak-anaknya kelak. Entah dapat keyakinan dari mana, ia yakin suatu hari nanti akan diberikan kepercayaan untuk memiliki buah hati kembali yang lahir dari rahim istrinya itu. Penyempurnaan kisah cinta mereka yang belum sempurna sepenuhnya.
"Mau apa kau datang kemari?" tanya Jervario datar. Ia pura-pura tidak tahu tujuannya datang ke sana di hari weekend seperti ini. Ia sebenarnya sangat kesal, padahal ia sudah berencana ingin mengajak Mentari dan Asha berlibur ke puncak, tapi Jervario terpaksa menunda rencananya itu karena rencana Milea yang tanpa izin terlebih dahulu.
"Aku ingin mengajak Asha ke Surabaya. Bukankah Senin tanggal merah jadi Senin sore kami akan mengantarkan Asha kembali," sahut Milea santai dan tanpa beban sama sekali.
"Kau harus sadar posisimu, Milea!" ketus Jervario dengan sorot mata tajam.
"Aku sangat sadar, mas. Aku sadar aku adalah ibu kandungnya jadi aku harus bisa tetap memberikan kasih sayang dan perhatian seorang ibu meskipun kita telah berpisah. Bukankah cukup adil, Asha bersamamu saat weekdays, sedangkan denganku saat weekend. Selain itu, apakah kau tak kasihan padaku, aku hanya ingin menikmati hari-hariku yang sewaktu-waktu bisa saja tiba-tiba berakhir. Aku ingin memberikan kenangan indah akan kebersamaan kami untuk ia kenang di saat aku telah tiada nanti, mas. Aku mohon agar kau dapat mengerti dan tidak menghalangi aku untuk menghabiskan waktu bersama putriku, Ashadiva," tutur Milea dengan memasang wajah sendu. Bahkan matanya tampak berkaca-kaca, membuat siapa saja yang melihatnya pasti jatuh iba.
Pikiran Jervario seketika rumit. Begitu pula Mentari yang berdiri tak jauh dari sana. Sekelumit rasa menggerogoti sanubarinya. Tapi Jervario dengan cepat menepis rasa itu. Bagaimana pun, ia belum tahu kebenaran sesungguhnya. Ia ingin mencari tahu kebenarannya lebih dahulu. Hatinya tak boleh lemah. Bukankah laki-laki lebih menggunakan logika dibandingkan perasaan. Meskipun apa yang dikatakan Milea cukup membuat batinnya tertekan, tapi itu tak serta-merta membuatnya mengurungkan rencananya untuk menyelidiki segala hal yang menyangkut Milea.
...***...
Dengan senyum merekah, Milea dan Andrian meninggalkan kediaman keluarga Jervario dengan Asha duduk di samping Milea yang duduk di bangku belakang. Sedangkan Andrian duduk di bangku depan di samping sang sopir.
"Asha nggak bilang sama siapapun kan tentang Affan?" tanya Milea dan Asha menggeleng.
"Baguslah," ujarnya sambil mengusap kepala Asha. Tanpa ia sadari, dari belakang ada mobil Van hitam yang mengikutinya sejak dari kediaman orang tua Jervario tadi.
Tak sampai 1 jam kemudian, mobil yang mereka tumpangi telah tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta. Asha yang hanya menurut saja hanya mengikuti saja apa yang hendak dilakukan Milea. Ia pikir, Milea akan membawanya ke Surabaya seperti sebelumnya. Tanpa ia sadari, pesawat yang ia masuki justru akan membawanya ke luar negeri, lebih tepatnya negara Singapura.
Orang-orang suruhan Dario yang tadi mengikuti lantas mencari tahu tujuan penerbangan Milea, Asha, dan Andrian. Setelah mendapatkan informasi, ia pun segera menghubungi Dario. Dario yang tahu tujuan penerbangan Milea pun terkejut. Ini benar-benar di luar dugaannya. Ia pun jadi penasaran apa rencana Milea sebenarnya. Orang-orangnya yang dikirim ke Surabaya juga belum mendapatkan informasi yang akurat.
"Halo," ucap Jervario saat mengangkat panggilan dari Dario.
__ADS_1
'Gawat Jev,' ucap Dario panik. Bila saat seperti ini, ia bersikap layaknya teman dengan Jervario.
"Katakan apa yang terjadi? Kau dapat informasi apa?" cecar Jervario yang benar-benar penasaran dengan rencana Milea.
'Untuk masalah di Surabaya, aku belum mendapatkan laporan. Tapi ada yang lebih genting, ternyata Milea tidak mengajak Asha ke Surabaya, tapi Singapura. Penerbangannya 25 menit lagi.'
"Apa? Singapura? Untuk apa Milea mengajak Asha ke sana?"
'Aku pun belum tahu. Apa kau ingin ikut menyusul ke sana? Aku khawatir dengan rencananya kali ini. Bila kau ingin menyusul, aku akan mencarikan dan memesankan tiket penerbangan tercepat ke sana. Mungkin selisih waktunya lumayan, tapi ... '
"Pesankan saja segera 2 tiket untukku dan Mentari. Aku dan Riri akan segera ke bandara. Kita tidak bisa membuang waktu lebih lama lagi. Entah mengapa, aku memiliki firasat buruk," ucap Jervario dengan gigi bergemeluk dan jantung yang berdegup kencang.
'Baiklah. Nanti aku kirim e-tiket nya ke email-mu," pungkas Dario sebelum menutup panggilannya.
...***...
"Ke bandara? Memangnya kita mau kemana, bang?" tanya Mentari bingung. Tapi ia menuruti perintah suaminya dengan mengambil baju kaos lengan panjang yang terasa nyaman di tubuhnya dan juga celana jeans dengan warna senada dengan yang dikenakan Jervario. Ia pun ikut mengenakan jaket dan tak lupa sebuah kacamata hitam untuk menyempurnakan penampilannya. Setelah itu, ia meraih tas dan pouch make up nya. Rencananya ia akan memakai bedak dan lipstik di mobil saja. Entah kemana dan untuk tujuan apa Jervario mengajaknya ke bandara secara mendadak seperti ini, yang pasti ia dapat melihat Jervario tampak begitu tergesa. Pasti ada sesuatu hal yang genting yang tak bisa ditunda-tunda lagi.
"Nanti aku jelaskan dalam perjalanan saja, sayang. Oke!" ujarnya seraya memasukkan dompet ke dalam saku celananya. Ia pun meraih kacamata hitam miliknya agar penampilannya tampak sama dengan Mentari.
"Kita tidak membawa pakaian ganti?" cetus Mentari. Bagaimana bila masalahnya tidak selesai dalam satu hari, artinya kan mereka harus menginap di sana dan butuh baju ganti.
"Itu kita pikirkan nanti. Ayo!" Jervario mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Mentari dan mengajaknya segera pergi dari sana.
Setibanya di bandara, ternyata penerbangan ke Singapura yang tercepat satu jam lagi. Sedangkan lama penerbangan adalah hampir 2 jam. Jervario benar-benar kalut. Bahkan ia belum sempat cerita tujuannya yang sebenarnya ke Mentari.
__ADS_1
"Bang, tolong jelaskan, ada apa? Kita mau kemana? Kenapa Abang kelihatan panik kayak gini?" cecar Mentari yang kini benar-benar penasaran.
"Kita akan ke Singapura. Asha ... Asha dibawa ke sana oleh Milea entah dengan tujuan apa. Tapi entah kenapa, Abang merasakan firasat buruk. Abang juga sudah meminta orang untuk menyelidiki segala hal yang menyangkut tentang Milea, termasuk dengan apa yang dilakukan saat mengajak Asha tempo hari," tukas Jervario membuat jantung Mentari tiba-tiba berdebar hebat.
"Apa ini ada hubungan dengan penyakitnya?" gumam Mentari gusar. "Bang ... " Tampak begitu jelas kekhawatiran di wajah Mentari. Jervario hanya bisa memeluk tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya sambil merapal doa dalam hati, semoga saja Milea tidak berniat buruk apalagi berusaha memanfaatkan Asha untuk kepentingannya sendiri. Bila pun sampai itu terjadi, ia mohon semoga ia diberikan kesempatan untuk menggagalkan rencana Milea itu.
"Kau tenanglah, Abang takkan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Putri kita," pungkas Jervario mencoba menenangkan Mentari.
Karena perasaan panik berlebih, tiba-tiba perut Mentari terasa keram membuatnya meringis kesakitan.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Jervario khawatir. Apalagi wajah Mentari tampak pucat.
"A-ku ... aku nggak papa, bang. Cuma sakit perut aja," tukas Mentari sambil mencoba menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.
"Kita ke rumah sakit saja, bagaimana?"
Mentari menggeleng, "nggak usah, bang. Aku bawa minyak angin. Mungkin masuk angin aja. Lagian nanti nggak keburu. Penerbangannya tak sampai 30 menit lagi."
"Jervario lantas duduk di samping Mentari kemudian mengambil minyak angin yang ada di tangan Mentari. Setelah itu, ia membuka tutupnya dan menuangkannya di telapak tangan. Kemudian ia menelusupkan tangannya di balik kaos Mentari dan mengusapkan minyak angin itu di perut Mentari dengan perlahan. Tak lama kemudian, rasa keram itu perlahan menghilang, berganti rasa nyaman dan menenangkan.
"Bagaimana? Sudah merasa baikan?" tanya Jervario dan Mentari mengangguk seraya merebahkan kepalanya di pundak Jervario. Tak lama kemudian panggilan untuk penerbangan tujuan Singapura terdengar, mereka pun bergegas menuju garbarata untuk segera naik ke dalam pesawat. Tak butuh waktu lama, pesawat yang membawa Mentari dan Jervario pun segera lepas landas menuju Singapura.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1