Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
EMPAT PULUH TUJUH


__ADS_3

Seminggu telah berlalu semenjak Jervario menyatakan isi hati dan keinginan untuk mempersunting dirinya. Tapi Mentari belum juga bisa memberikan keputusan. Bukannya tak ingin memberikan kesempatan atau apalah itu namanya, tapi yang namanya luka dan trauma itu cukup mengakar di relung jiwanya. Bayang-bayang pengkhianatan membuatnya ragu sekaligus takut untuk melangkah ke depan. Ini bukan tentang pengkhianatan 1 atau 2 hari, 1 atau 2 bulan, 1 atau 2 tahun, tapi lebih dari 5 tahun.


Mentari pernah berjuang dan terus bertahan meski prahara menerpa pun orang tua dan keluarga mantan suami terus merendahkan dan mencemooh dirinya, tapi yang ia dapat justru pengkhianatan. Hati siapa yang tak hancur.


Tidak mudah kembali merekatkan puing-puing hati yang hancur. Tidak semudah itu. Dan tidak semudah itu ia untuk membuka hati, sedangkan lukanya saja masih terasa basah. Mereka baru bercerai dalam hitungan bulan, tentu saja luka itu masih terasa sangat basah.


Mentari butuh waktu. Meskipun debar-debar itu mulai menyusup relung jiwanya, tapi tidak semudah itu untuknya langsung membuka lebar pintu hati itu. Karena ketakutan akan luka dan kecewa itu masih meraja dan mengakar kuat.


Bukannya Mentari ingin terus berkalang sakit. Bukan Mentari ingin terus berkubang dalam duka lara dan kecewa, tapi mau bagaimana lagi, ini perkara hati. Hati ini milik sang pencipta dan hanya pencipta lah yang memiliki kuasa untuk meredam segala duka lara dan kecewa itu, serta membuka kembali hatinya untuk kembali percaya. Mentari hanya bisa berdoa, semoga hatinya lekas baik-baik saja sehingga ia bisa kembali merajut asa dengan orang yang tepat dan mampu dipercaya.


...***...


Siang ini Mentari ada pertemuan dengan rekan bisnisnya yang berasal dari Semarang. Mereka lantas melakukan pertemuan di sebuah restoran yang ada di XX hotel. Pertemuan kali ini ia ditemani Arga dan Belinda karena pertemuan ini memang memerlukan Arga sebagai kepala divisi perencanaan dan pengembangan.


"Terima kasih pak Malik sudah bersedia bekerja sama dengan kami. Semoga ke kerja sama kita bisa saling menguntungkan," ucap Mentari seraya menyalami rekan bisnisnya itu.


"Seharusnya saya yang mengatakan itu Bu Mentari. Saya sangat senang akhirnya diberikan kesempatan untuk bekerja sama dengan Anda. Semoga ke depannya, kerja sama kita akan semakin solid dan menguntungkan kedua belah pihak," tukas rekan kerjanya yang bernama Malik itu sambil berjabat tangan. "Oh ya, sekali lagi saya minta maaf karena tidak jadi ikut makan siang bersama sebab istri saya mendadak tidak enak badan siang ini. Kalau begitu, saya permisi," pamitnya seraya membungkukkan sedikit badannya pada Mentari dan menganggukkan kepalanya pada Arga juga Belinda.


"Iya pak, tidak apa-apa. Pasti istri Anda sedang sangat membutuhkan Anda saat ini," sahut Mentari ramah.


Setelah Pak Malik benar-benar berlalu, mereka pun kembali duduk di tempat masing-masing.


"Kita lanjut langsung makan saja, gimana? Saya sudah lapar. Ternyata meeting kali ini cukup menguras tenaga ya!" seloroh Mentari sambil tersenyum lebar.


Arga dan Belinda mengangguk, lalu Arga menjentikkan jarinya agar waiters mendekat.


"Bu Mentari mau pesan apa?" tanya Arga seraya menyodorkan daftar menu pada Mentari.


"Emmm ... apa ya?" gumam Mentari bingung. "Ini aja, ayam bakar madu, capcay, minumnya es jeruk saja." Setelah pesanannya dicatat, Mentari menyodorkan daftar menu itu pada Arga dan mempersilahkan Arga dan Belinda memesan makanan mereka. Setelah pesanan kedua orang itu dicatat, waiters itupun segera berlalu untuk menyerahkan daftar pesanan pada chef restoran itu.

__ADS_1


"Bu, saya izin ke toilet sebentar ya!" ucap Belinda.


Mentari pun mengangguk seraya tersenyum. Arga yang duduk satu meja dengan Mentari pun sampai tak bisa memalingkan wajahnya. Pesona janda muda itu memang luar biasa membuat laki-laki itu berdebar-debar tak menentu.


Saat Belinda izin ke toilet, Mentari pun bercengkerama sambil menunggu pesanannya datang. Saat sedang bercengkrama, tiba-tiba ada seorang perempuan berpakaian seksi yang menghampiri Mentari sambil melontarkan kata-kata penuh ejekan.


"Heh, ternyata inilah rupa aslimu! Ternyata benar dugaanku kalau kau itu hanyalah jalaaang yang suka menggaet laki-laki kaya dan memanfaatkan hartanya. Aku yakin, kamu mendirikan perusahaanmu itu dari hasilnya menjual diri, dasar tak tahu malu. Aku pastikan, kau akan segera dibuang oleh pak Jerva setelah melihat ini seperti Mas Shandi yang membuang dirimu."


Cekrek ...


cekrek ...


cekrek ...


Erna yang sudah sejak tadi menyiapkan handphonenya lantas mengambil beberapa foto Mentari bersama Arga. Bukannya takut, Mentari bahkan tersenyum lebar dan dengan sengaja mendekatkan tubuhnya pada Arga sehingga ia seperti sedang berpose berdua. Membuat Arga kebingungan sendiri.


Erna mengerutkan keningnya saat melihat Mentari tampak begitu santai.


"Anda siapa? Mengapa Anda tiba-tiba datang dan mengacau di sini?" hardik Arga tak suka melihat keberadaan Erna yang tiba-tiba saja datang dan mengacau.


"Sudahlah pak Arga, tak perlu pedulikan keberadaan perempuan gila itu, nanti kita bisa ikutan gila," seloroh Mentari sambil mengulum senyum.


"Kau ... kau yang gila. Kemarin dengan Jerva, sekarang dengan laki-laki lain, dasar perempuan murahan!" hardik Erna murka karena dikatai gila oleh Mentari.


"Yang murahan itu sebenarnya siapa, hm? Perempuan yang mau saja tidur dengan laki-laki beristri atau aku yang hanya makan siang dengan seorang laki-laki? Perlu kau ingat, i'm single dan dia single, so what? Tak masalah kan. Oh ya, aku tegaskan padamu 1 lagi, AKU ... TIDAK PERNAH DIBUANG. JUSTRU AKULAH YANG MEMBUANG LAKI-LAKI TAK BERGUNA ITU. JADI JANGAN SEMBARANGAN BICARA. Lagipula kenapa sih kau repot sekali mengurus hidupku toh aku saja enggan ikut campur urusanmu. Bahkan saat kau menikahi suamiku pun aku rela melepaskannya dengan ikhlas. Dasar perempuan aneh!" Mentari menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan sifat istri dari mantan suaminya itu.


Arga mengerjap pelan, akhirnya ia tahu siapa perempuan aneh yang tiba-tiba saja menghampiri meja mereka itu.


"Sikap Anda benar-benar keterlaluan nona. Benar-benar tak punya malu. Silahkan pergi dari sini sebelum saya memanggil keamanan untuk menyeret Anda dari sini!" hardik Arga yang sudah berdiri sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


"Heh tuan, aku beritahu padamu, perempuan yang sedang berkencan dengan mu ini bukanlah perempuan baik-baik. Dia memiliki hubungan dengan banyak lelaki untuk memanfaatkan kekayaannya jadi lebih baik Anda mundur sebelum Anda menyesal."


Mentari hanya memperhatikan Erna tanpa menanggapi. Ia justru mengambil ponselnya yang lain lalu mengirimkan sesuatu kepada mantan ibu mertuanya secara diam-diam.


'Akhirnya foto ini berguna juga. Kira-kira gimana ya reaksi mantan mertuaku itu. Ah, aku jadi penasaran!' Mentari terkekeh sendiri dalam hati.


"Kalau tidak tahu apa-apa, sebaiknya Anda diam kalau tidak ... "


"Arrghhh ... "


"Apa yang kau lakukan, nona? Sepertinya kau sangat suka sekali mengganggu atasan kami!" hardik Belinda yang kini sudah mengunci kedua tangan Erna di belakang. "Kalau kau tidak sedang hamil, sudah dari tadi aku lempar kau ke jalanan!" lirih Belinda penuh intimidasi di telinga Erna.


"Lepas!" teriak Erna berang bersamaan waiters yang datang mengantarkan pesanan mereka dan seorang keamanan hotel.


"Usir perempuan ini dari sini! Dia sudah membuat nona kami tidak nyaman!" tegas Belinda pada seorang pria yang merupakan pihak keamanan hotel.


"Baik, nona. Ayo, ikut saya keluar!"


"Lepas, saya juga tamu di hotel ini kalian tidak bisa memperlakukan saya seperti ini!" pekik Erna tak terima saat petugas tersebut menyeret paksa dirinya keluar dari restoran hotel. "Mentari, awas saja kau! Aku pastikan, pak Jerva akan segera tahu kebusukanmu!" ancam Erna sambil melototkan matanya yang memerah karena marah.


"Silahkan! Suka-sukamu saja," ucap Mentari masa bodoh.


Sementara itu, di rumahnya, Rohani tampak bingung saat tiba-tiba saja ada pesan masuk berupa gambar dari nomor yang tidak ia kenal. Lantas ia segera membuka pesan itu dan membelalakkan matanya.


"A-apa? Ini ... ini tidak mungkin. Mana mungkin Erna hanya bekerja sebagai SPG. Orang ini pasti hendak memfitnah Erna. Pasti orang ini merupakan salah satu saingan Erna di kantor. Dia pasti iri dan ingin memfitnah menantuku," gumam Rohani tak percaya saat melihat foto-foto Erna menawarkan mobil sambil menjelaskan spesifikasi mobil mewah yang sedang dipromosikan ke beberapa pengunjung di sebuah pameran mobil beberapa waktu yang lalu.


"Aku akan membuktikannya sendiri. Aku juga akan memberitahukan hal ini pada Erna agar berhati-hati sebab ada rekan kerjanya yang hendak memfitnahnya. Ya, aku harus segera mendatangi showroom mobil itu siapa tahu pelakunya bisa segera diberikan hukuman," lanjut Rohani Yang segera beranjak dari tempat duduknya. Ia pun segera bersiap untuk mendatangkan JV Showroom tempat Erna bekerja.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2