Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
SEMBILAN PULUH


__ADS_3

Hari sudah begitu larut, tapi Dario tak kunjung bisa memejamkan matanya. Setiap kata yang ibu Belinda tadi ucapkan selalu terngiang-ngiang di benaknya.


"Kayaknya itu lampu ijo deh? Tapi kok ibunya Belinda ngomong kek gitu? Semoga saja bukan pertanda buruk," gumamnya seraya melipat kedua tangannya di belakang kepala sebagai bantalan. Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya yang bernuansa kelabu.


Dario juga mengingat setiap detil cerita yang diungkapkan ibu Belinda. Dario sampai mengutuk perbuatan ayah dan juga Tante dari gadis datar tersebut. Kenapa mereka begitu tega menusuk ibu Belinda dari belakang dengan menikah secara diam-diam. Bukan hanya ayah Belinda dan tantenya, tapi keluarga mereka juga. Mereka tahu, tapi mereka menutupi. Hati siapa yang tak hancur ditusuk seperti itu.


Kemudian tanpa rasa bersalah, keluarga ayah Belinda juga mengambil rumah yang menjadi hak Belinda dan ibunya. Sungguh kejam. Mereka seperti tidak memiliki hati nurani lagi. Belum kering kuburan ayah Belinda, mereka justru kembali mendzalimi mereka dengan mengambil rumah itu dan mengusir Belinda dan ibunya.


"Dasar keluarga nggak ada akhlak. Semoga kalian mendadak miskin, biar tau rasa!" Geram Dario dengan gigi bergemeluk.


Dario seketika emosi mengingat perbuatan keluarga Belinda yang benar-benar kejam dan tidak berperasaan.


"Wajar aja Belinda jadi gitu, lha dari bapaknya, tantenya, paman dan bibinya, semuanya nggak ada akhlak. Andai gue tau gimana rupa mereka, udah gue bejek-bejek terus ceburin ke dalam septik tank, udah kotor juga kan hatinya, sekalian aja orang-orangnya juga dibauin, biar mereka ingat seumur hidup. Kalau perlu, viralin, biar makin terkenal seantero negeri sebagai manusia kotoran," omel Dario sambil bersungut-sungut.


"Eh, by the way, dinding beton itu lagi ngapain ya? Chating ah, semoga aja dibalas," gumamnya sambil tersenyum-senyum. Tapi baru beberapa kata ia ketik, matanya tiba-tiba mengerjap, kemudian ia menepuk kepalanya sendiri dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Otak loe dimana sih Yo, Yo. Nggak liat jam loe. Si dinding beton pasti udah berlayar ke pulau mimpi."


Sebelum ia ikut merebahkan tubuhnya, ia mengetikkan sebuah pesan kepada Belinda. Entah akan dibaca atau tidak, ia tak peduli. Entah, sebenarnya ada apa dengan dirinya. Mungkinkan dirinya tertarik pada Belinda? Dario menggelengkan kepalanya, ia masih berusaha menyangkal perasaan itu. Tapi semakin disangkal, dia justru makin kepikiran segala hal tentang Belinda.


[Good night, sleep tight.]


Sementara itu, Belinda yang sebenarnya belum tidur, justru sedang menikmati streaming drama Korea melalui ponselnya, tiba-tiba mengerutkan keningnya saat melihat sebuah notifikasi pesan masuk di layar ponselnya. Ia pun segera menghentikan sementara kegiatan menontonnya, kemudian membuka pesan yang ternyata berasal dari Dario tersebut.

__ADS_1


Dahinya makin berkerut-kerut, tampak jelas ia sedang kebingungan dengan pesan yang masuk ke ponselnya tersebut. Tapi kemudian ia mengedikkan bahunya acuh sebab ia pikir Dario pasti sudah salah kirim.


"Ah, palingan dia salah kirim. Mau kirim ke pacarnya, malah ke kirim ke aku. Bodo amatlah. Mending aku nonton. Karena hidup tak semanis kurma, mari kita nonton drama," gumamnya tapi dengan raut wajah datar. Mungkin bagi yang melihatnya akan menyamakan Belinda dengan robot karena ekspresinya yang terlampau datar, tanpa senyum sama sekali.


....***...


00.13 [Sayang, kangen.]


Sebuah pesan masuk yang ke ponsel Mentari. Mentari membelalakkan matanya saat melihat jam pesan itu terkirim. Ia pun semalam merindukan suaminya. Padahal baru sari hati ia ditinggal, tapi rasanya sudah berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Diliriknya lagi jam yang tertera, 00.13, artinya pesan itu masuk pukul 21.13 waktu Dubai sebab Indonesia lebih cepat 3 jam dari waktu Dubai.


Dibacanya lagi pesan di bawahnya, Mentari menghela nafasnya. Hari sudah pukul 11 siang. Karena sibuk mempersiapkan presentasi meeting, ia sampai lupa mengecek ponselnya sejak lagi tadi.


00.20 [Kamu udah tidur ya sayang? Maaf, kalau Abang ganggu. Abang nggak bisa tidur. Kangen berat. Biasa peluk kamu, sekarang dipaksa peluk bantal, benar-benar nggak nyaman.]


Alhasil, pagi ini wajah Jervario tampak kusut, matanya memerah, kantong matanya membesar, bahkan raut mukanya tampak benar-benar kacau. Seolah ia sedang dalam mode senggol bacok. Karyawannya yang diajak ikut serta ke Dubai sampai bergidik ngeri. Mereka menjaga jarak, takut-takut ditelan hidup-hidup oleh sosok Jervario.


"Kenapa wajah kamu kusut gitu?" tanya Gathan pura-pura tak tahu. Ia justru memasang ekspresi datar membuat Jervario menyipitkan matanya.


"Papa nggak usah pura-pura nggak tahu deh. Papa pun bucin ke mama sama kayak aku ke Riri. Aku yakin, pas papa jauh kayak gini, papa pun rindu setengah mati sama mama, ayo jawab, benarkan dugaan Jerva?" tukas Jervario membuat Gathan tersenyum samar. Senyum yang hanya ia berikan pada orang-orang tertentu.


Baru saja ia hendak beranjak menuju tempat diadakannya meeting, sebuah pesan masuk disertai sebuah foto membuat wajah kusut Jervario seketika berubah cerah. Senyumnya merekah, sampai-sampai karyawannya yang tadi bergidik ngeri jadi terpesona.

__ADS_1



...[I Miss you bad, my lovely husband.]...


"Assalamu'alaikum pak Gathan," ucap seseorang yang diucapkan dalam bahasa Arab. Karena mendengar kalimat Assalamu'alaikum, Jervario dan Gathan pun tahu kalau orang tersebut menyapanya dengan salam dan segera menjawabnya.


"Wa'alaikum salam," jawab Gathan dan Jervario.


"Senang bertemu kalian. Aku Malik Assegaf dan ini putriku sekaligus sekretaris ku, Raniah Jamilah." Ujar laki-laki bernama Malik yang merupakan investor yang ingin menanamkan modalnya di perusahaan TJ Group. Karena ia berujar menggunakan bahasa Arab, karyawan yang mereka ikut sertakan karena memang mampu berbahasa Arab pun segera maju untuk menerjemahkan.


"Senang juga bertemu dengan Anda tuan Malik dan nona Raniah," bakas Gathan yang langsung diterjemahkan kembali agar lawan bicara mereka mengerti.


Setelah saling sapa, mereka pun segera menuju tempat diadakannya meeting. Sebelum masuk ke ruangan, tak lupa Jervario membalas pesan sang istri disertai sebuah foto yang sempat ia ambil tadi.



...[Miss you more and more. Jangan terlalu capek, oke! Jangan telat makan juga! Abang mau meeting dulu. See you, love.]...


Setelah mengirimkan pesan itu, ia langsung menyimpan ponselnya karena kegiatan meeting akan segera dilaksanakan dan dirinya sendiri lah yang kali ini akan melakukan presentasi di hadapan tuan Malik Assegaf tadi. Tentu ia harus berkonsentrasi penuh dan melakukannya sebaik mungkin. Tidak mungkin ia sia-siakan kesempatan ini. Apalagi karena meeting ini, ia harus berjauhan dengan sang istri. Tentu saja ia tak mau menyia-nyiakan pengorbanannya dengan hasil yang tidak memuaskan.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2