
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pesta pernikahan yang cukup megah dan mewah kini tengah berlangsung di sebuah ballroom hotel mewah. Tentu saja hal tersebut tidak dilewatkan oleh awak media untuk berlomba-lomba menyiarkan pesta pernikahan terbesar tahun itu. Pesta pernikahan antara pewaris TJ Group sekaligus pemilik JV Showroom dengan seorang pengusaha Furniture atau lebih tepatnya pemilik MTR Furniture.
Acara resepsi pernikahan Jervario dan Mentari diselenggarakan pada malam hari, sedangkan akad nikah telah dilaksanakan tepat pukul 10 pagi tadi. Kilatan Blitz kamera tampak mengikuti kemana pun pasangan pengantin itu melangkah, menimbulkan decak kagum campur iri karena keduanya memiliki paras yang rupawan pun kekayaan tak main-main. Tak ada kisah Cinderella dimana gadis miskin menikahi pangeran kaya, sebab keduanya sama-sama memiliki kekayaan dan perusahaan yang cukup besar.
"Kamu lelah?" tanya Jervario sarat perhatian saat melihat raut muka Mentari tampak tak nyaman.
"Kaki aku pegel. Emang ini tamu undangannya berapa sih, Jer? Kok kayaknya nggak habis-habis?" tanya Mentari tetap memasang wajah ramah dan tenang.
Meskipun tubuhnya sudah terasa remuk redam tak mungkin ia menunjukkannya di depan para tamu undangan. Bagaimana ia tak lelah, selama hampir 2 Minggu ini ia begitu sibuk, mulai dari persiapan pernikahan hingga mengurus perusahaan agar ia bisa cuti selama 2 Minggu sebab besok rencananya mereka akan bertolak ke Italia untuk berbulan madu di sana.
"Emmm ... mungkin sekitar 1.500 tamu undangan. Maklum, papa dan mama banyak kerabat dan sahabat. Meskipun papa dan mama sama-sama anak tunggal, tapi mereka memiliki kenalan yang sudah seperti keluarga sendiri. Belum lagi rekan kerja papa, Opa, dan kakek. Jadi wajar aja sih tamu undangan membludak kayak gini," tukas Jervario menjelaskan sambil membantu Mentari duduk di singgasananya. Ia juga meminta keluarganya agar diberi waktu istirahat sejenak. Kemudian tanpa sungkan, Jervario membantu memijit betis Mentari yang terasa pegal.
"Eh, kamu mau ngapain?" tanya Mentari cepat saat Jervario hendak memijit betisnya.
"Katanya pegal, sini aku bantu pijit," tukas Jervario sambil menari betis Mentari yang sempat wanita itu tarik.
"Nggak usah, Jer. Nggak enak dilihat tamu undangan. Masa' calon pewaris perusahaan besar mijitin kaki istrinya di pesta pernikahannya sih?" tutur Mentari kekeh menolak. Tidak etis saja rasanya kegiatan semacam ini dipertontonkan di muka para tamu undangan.
Dan benar saja, aksi Jervario tersebut menarik perhatian para tamu undangan. Bahkan banyak yang tak sungkan-sungkan meneriaki Jervario sebagai bucinnya Mentari karena interaksi dan perlakuan Jervario yang menurut para wanita begitu manis, romantis, dan sarat perhatian.
"Akhirnya loe benar-benar berhasil move on, Jer!" ucap seseorang membuat Jervario segera menoleh ke sumber suara.
"Ck ... kalau iri bilang. Makanya jangan keenakan jomblo, entar golok loe karatan, nggak bisa dipakai lagi, tahu rasa loe!" cibir Jervario membuat Mentari mengerutkan keningnya, merasa bingung, apa hubungan antara golok karatan dengan jomblo? Berbeda dengan laki-laki yang baru saja menghampiri Jervario itu yang kini justru cemberut.
__ADS_1
"Sialan loe, mentang udah 2 kali laku, jadi bisanya cuma ngejek," ketus laki-laki itu.
"Jer, emang apa hubungannya golok karatan sama keenakan jomblo?" tanya Mentari dengan mimik wajah polos membuat Jervario tersenyum geli. Berbanding terbalik dengan temannya yang sudah mendengkus.
"Bu bos mau ngejek nih? Padahal dia udah pengalaman, tapi pura-pura nggak tahu," cebik Dario. Ya, laki-laki itu bernama Dario. Dia merupakan asisten pribadi Jervario di TJ Group. Mereka merupakan sahabat kental sejak seragam putih biru.
"Aku serius nggak tahu, Yo."
Jervario tergelak mendengar penuturan wanita yang baru pagi tadi resmi menjadi istrinya itu.
"Sayang, kamu ada temen wanita yang jomblo nggak, biar kita jodohin sama si jomblo akut ini," potong Jervario agar Mentari tak membahas masalah pergolokan lagi.
"Temen wanita aku kan cuma adik kembar kamu, Jer. Oh ada, ada satu orang lagi."
"Belinda," jawab Mentari dengan senyum lebarnya. Wajah antusias itu seketika meredup dan berubah jadi ditekuk. "Kenapa wajah kamu tiba-tiba berubah? Belinda kan cantik, pintar, berbakat, pintar bela diri juga, ada yang salah?"
Dario mendengkus mendengarnya, sedangkan Jervario tersenyum geli, "iya, dia emang cantik, pintar, berbakat, dan pintar bela diri, tapi ... ada tapinya. Orangnya lempeng banget. Pelit senyum juga. Kakunya ngalahin triplek dilaminating, bisa mati jenuh aku sama perempuan kayak gitu," tukas Dario yang memang mengenal sosok Belinda sebab gadis itu pernah bekerja di perusahaan mereka sebagai sekretaris Jervario. Oleh sebab itu, ia sudah khatam mengenai sifat Belinda.
"Eh, kamu jangan salah Yo, justru orang-orang kayak gitu bisa dipegang kesetiaannya dan dia hanya akan bersikap manis dengan orang-orang terdekatnya. Kamu lihat aja triplek dilaminating yang berdiri di samping aku ini, kamu tahu sendiri kan sifatnya kayak gimana ke orang-orang, tapi khusus ke orang terdekatnya, dia bisa bersikap jauh berbeda," ungkap Mentari membuat Dario terkekeh seraya mengiyakan.
Lalu ia melirik Belinda yang duduk seorang diri dengan memasang wajah datar. Sungguh jarang ada perempuan yang bersikap seperti itu. Saat sedang menatapnya, di saat bersamaan Belinda menoleh ke arahnya. Bila perempuan lain akan langsung melemparkan senyum saat melihat dirinya, maka Belinda justru sebaliknya. Ekspresinya tetap datar, tak pernah tersenyum, dan kini ia justru memalingkan wajah.
"Perempuan aneh," cibir Dario.
__ADS_1
"Hati-hati lho, sekarang ngatain aneh, besok-besok malah terbucin-bucin," ejek Mentari membuat Dario memutar bola mata jengah.
"Mata loe minta dicolok?" sentak Jervario seraya melotot membuat Dario meringis dan meminta maaf.
Sementara ketiga orang itu asik berbincang sambil bergurau, dari sudut lain ada seorang lelaki yang menatap nanar pada seorang wanita yang tampak begitu cantik layaknya seorang putri kerajaan. Wanita itu terlihat begitu bahagia mendapatkan seorang pria yang begitu perhatian padanya. Dia dapat melihat, tatapan penuh cinta dari sang pengantin pria. Sungguh hatinya begitu sakit melihat pemandangan tak jauh dari hadapannya itu. Tanpa sadar, air matanya mengalir begitu saja diiringi rasa sesak yang kian menyiksa.
"Sepertinya kini aku harus benar-benar menyerah. Semoga kau bahagia, Tari. Maafkan aku yang telah gagal menjadi seorang suami. Maafkan aku yang tak bisa membahagiakan mu. Semoga dia dapat memberikanmu kebahagiaan yang tak pernah bisa aku berikan," lirih Shandi sambil menyeka air matanya.
"Heh, bro, ngapain loe nangis? Jangan bilang loe patah hati karena Bu bos nikah? Astagaaaa, dasar gila!" ledek rekan kerjanya.
"Berisik," delik Shandi seraya menegakkan tubuhnya dan segera berlalu dari sana. Ia sudah tak mampu bertahan lebih lama lagi di sana. Hatinya akan makin hancur tak bersisa bila terus-terusan berada di sana.
Sementara itu, Rohani, Erna, dan Septi pun sedang menyaksikan siaran langsung pesta pernikahan Jervario dan Mentari melalui layar 50 inci di depan mereka. Perasaan mereka terasa carut-marut melihat betapa besar dan mewah pesta tersebut. Mereka benar-benar tak menyangka, seorang janda seperti Mentari bisa mendapatkan laki-laki yang lebih segalanya dari Shandi.
Tangan Septi sampai mengepal erat karena rasa iri dan benci yang masih saja meraja di jiwanya. Karena terlalu emosi, membuat perut Septi tiba-tiba saja terasa sakit. Sakit hingga nyeri berdenyut seakan perutnya dicengkeram begitu erat. Tempo hari ia mengira itu merupakan tanda-tanda ia akan segera datang bulan, namun hingga seminggu berlalu, ia tak kunjung datang bulan juga. Benaknya kini dipenuhi tanda tanya.
"Mungkinkah ... " gumamnya sambil mencengkram perutnya.
...***...
Yang mau kondangan, dihaturin ya! 😁
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1