Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
TUJUH PULUH


__ADS_3

Malam harinya keluarga besar Jervario tampak kumpul bersama. Di sana juga hadir Galih bersama istri dan anak mereka.


"Mami, kapan Asha punya adek, Mi? Asha mau punya adek kayak dedek Naina, mi. Lucu ... " celetuk Asha yang tiba-tiba saja datang dan duduk di pangkuan Mentari yang tadinya sedang mengobrol dengan keluarganya.


Sontak aja Mentari tercekat dengan lidah yang kian kelu, bingung harus menjawab apa pada sang putri sambungnya itu.


"Asha sayang, yang kasih dedek bayi itu siapa?" tanya sang Oma, Nanda.


"Allah, Oma," jawab Asha tegas tanpa ragu.


"Nah, jadi kita mintanya seharusnya sama ... "


"Allah," sahutnya lagi dengan bibir mengerucut.


"Karena itu, mulai sekarang Asha harus lebih banyak berdoa, minta sama Allah biar dikasi dedek yang lucu," nasihat Nanda pada sang cucu yang diangguki Asha dengan raut lucunya.


Setelah mengatakan itu, Asha kembali berlari melihat Naina yang sedang bermain di atas karpet bulu. Naina yang sudah aktif merangkak membutuhkan penjagaan ekstra sehingga sang ibu tak bisa jauh-dari bayi mungil berusia 10 bulan itu.


"Ri, loe tau nggak pas kalian pergi bukan madu, di sini ada berita heboh lho!" celetuk Jeanara yang baru saja muncul setelah menidurkan bayinya.


"Berita heboh apaan? Palingan gosip para artis, nggak penting banget," jawab Mentari sambil menyodorkan cheese cake yang baru saja dicicipinya ke mulut Jervario membuat semua yang melihatnya tersenyum bahagia.


"Ck ... dengerin dulu kek. Emang sih ada hubungannya sama artis, tapi ini juga ada hubungannya sama loe," timpal Jeanara sambil memutar bola matanya.


Galih tersenyum paham apa yang dimaksud sahabat Mentari itu.


"Soal perselingkuhan suami Listya Morinka," cetus Galih santai sambil tersenyum.


"Apa hubungannya perselingkuhan suami Listya sama aku? Kalian bener-bener aneh deh," tukas Mentari yang memang tidak paham apa hubungannya. Sedangkan dirinya saja tidak tahu-menahu tentang perkembangan berita para artis.


"Ada hubungannya. Loe pasti bakalan shock dengar berita ini," tukas Jeanara menyeringai. Pun Jervario ikut mendengarkan apa yang sebenarnya tali merah antara berita perselingkuhan suami artis tersebut dengan istrinya.


"Dengerin, suami Listya itu ternyata selingkuhan istri mantan laki loe dan anak yang dikandung wanita itu ternyata anak dari laki si Listya ini," ucap Jeanara membuat mata Mentari terbelalak sempurna. Ia bahkan sampai menegakkan punggungnya merasa tak percaya dengan apa yang baru saja diungkapkan Jeanara.


"Nih, beritanya! Listya juga udah menggugat cerai suaminya setelah memergoki sendiri mereka sedang ngamar di sebuah apartemen," sambung Galih sambil menyodorkan ponselnya yang di layarnya telah ada tag line berita viral beberapa waktu yang lalu.


"Gila," umpat Mentari sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Karma does exist, right? Loe nggak perlu bersusah payah membalas perbuatan mereka, tapi karma sendirilah yang akan membalasnya. Mereka membuang loe hanya demi perempuan sampah kayak gitu. Hahaha ... benar-benar sial. Gue jadi penasaran, gimana kabar keluarga benalu itu saat ini." Jeanara tergelak sendiri membayangkan betapa carut-marutnya keluarga itu setelah mengetahui fakta ini.


"Kalau laki-laki itu sih, kerja kayak biasanya. Cuma ya itu, penampilannya makin kacau," imbuh Galih.


Jervario memegang pundak Mentari yang sejak tadi terdiam membuat Mentari menoleh ke arahnya.


"See, perlahan tapi pasti, Tuhan akan membalas mereka yang sudah menyakitimu," ujar Jervario membuat Mentari tersenyum.


...***...


Hari ini Mentari sudah aktif bekerja kembali. Ia datang ke kantor diantar oleh Jervario. Sebenarnya Mentari ingin berangkat sendiri dengan Belinda, tapi Jervario tidak mengizinkannya. Jiwa posesif dan protektif Jervario telah tumbuh jadi jangan harap Mentari bisa menolaknya. Tapi Mentari justru tidak mempermasalahkannya. Bukankah itu artinya memang Jervario begitu mencintai dirinya sehingga ingin selalu turut andil dalam keseharian Mentari.


"Aku turun di sini aja, bang. Abang langsung ke kantor Abang aja. Pasti kerjaan Abang pun udah numpuk," tukas Mentari setibanya di basement kantornya.


Jervario mengangguk lalu Mentari mengulurkan tangannya untuk bersalaman, kemudian Mentari mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Baru saja Mentari hendak melepaskan tangan itu, Jervario justru menarik Mentari mendekat sehingga jarak mereka hanya bersisa 1 inci saja.


"Bang," pekik Mentari terkejut saat dada mereka saling membentur.


"Ada yang lupa," tukas Jervario dengan memasang wajah datar membuat Mentari mengerutkan keningnya.


"Ada."


"Apa?"


"Ini ... " Tanpa membuang banyak waktu, Jervario segera membungkam bibir merah Mentari dan memagutnya mesra. Mentari pun membalas pagutan itu tak kalah bersemangat sehingga ciuman itu kini berganti dengan luma*tan yang bergairah namun tak memancing hasrat mereka untuk melaju ke tahap yang lebih tinggi. Mereka hanya meluapkan rasa cinta mereka yang menggebu dengan sebuah pagutan dan luma*tan. Saling mencecap, bertaut lidah, bertukar saliva dengan penuh semangat. Di saat pasokan oksigen mulai menipis, barulah mereka melepaskan tautan bibir itu dengan senyum merekah di bibir keduanya.


Jervario menyeka sisa-sisa saliva yang membasahi bibir Mentari dengan ibu jarinya membuat pipi Mentari bersemu merah. Sungguh, perlakuan Jervario terasa amat sangat manis. Bagaimana Mentari tak melayang coba bila selalu diperlakukan dengan begitu lembut, hangat, dan manis. Perutnya terasa tergelitik, bagai ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam sana. Melihat tingkah Mentari yang tersipu selalu saja membuat Jervario gemas. Si kaku dan miskin ekspresi itu bisa begitu ekspresif bila sudah berhadapan dengan Mentari-nya. Bahkan ia jauh lebih ekspresif dibandingkan saat bersanding dengan Milea dulu. Kadangkala Jervario merasa ketakutan sendiri. Ia takut masa lalunya terulang lagi, yaitu wanita yang dicintainya kembali pada cinta pertamanya.


"Kerja yang benar. Jangan nakal, ok!" peringat Jervario membuat alis Mentari mengkerut.


"Maksudnya?"


"Jaga jarak aman sama laki-laki," jelasnya membuat Mentari terkekeh.


"Kalau nggak mau?" Mentari memicingkan matanya.


"Abang bakal hukum semalaman sampai kamu nggak bisa kemana-mana keesokan harinya," tukasnya mengancam membuat Mentari tergelak.

__ADS_1


"Wah, Riri jadi merasa tertantang nih mau nyobain! Gimana ya rasanya dihukum sampai nggak bisa jalan keesokan harinya," ujarnya sambil menyeringai membuat Jervario terperangah. Ia kira Mentari akan takut, tapi nyatanya ...


"Oh, mau nantangin! Silahkan aja! Abang malah dengan senang hati menghukummu. Siapa tahu hukuman dari Abang bisa jadi kejutan terindah untuk kita kelak," ujarnya membuat Mentari bingung dengan maksudnya. Tak mau Mentari banyak tanya, Jervario pun gegas membuka pintu mobil lalu berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Mentari. "Selamat bekerja, sweetheart! Cup ... " Jervario mengecup dahi Mentari dengan penuh kasih sayang membuat semburat merah kembali muncul di pipi sang istri.


"Selamat bekerja juga, sayang," ucap Mentari kemudian segera mengecup pipi Jervario dan segera membalikkan badannya, berlari sambil tersenyum girang. Jervario menyunggingkan senyum seraya mengusap pipinya. Ini kali pertama Mentari menciumnya dengan inisiatif sendiri. Tentu aja ia merasa amat sangat senang. Berbanding terbalik dengan perasaan seseorang yang sejak tadi diam di dalam mobilnya yang berada tepat di samping mobil Jervario. Kaca mobil yang Jervario pakai kali ini agak transparan sehingga apa yang dilakukan pasangan pengantin baru tadi dapat dilihat jelas oleh seseorang yang masih duduk di dalam mobilnya dengan tatapan nanar dan hati terluka.


Setitik air mata jatuh begitu saja di pipi laki-laki itu. Ia tidak bisa marah ataupun kecewa pada Mentari. Ia justru marah dan kecewa pada dirinya sendiri yang begitu bodoh telah menyia-nyiakan permata seindah Mentari. Seandainya sejak awal ia menyetujui ajakan Mentari untuk memeriksakan diri, pasti semua ini takkan terjadi. Ia akan tahu, dialah yang bermasalah. Jadi ia pun bisa mencegah ibunya menuding Mentari mandul dan melakukan skenario yang membuat mereka akhirnya terpisah. Pastinya, bila ia memeriksakan diri sejak awal, Mentari pasti masih akan tetap berada di sisinya karena ia tahu, Mentari dulu mencintainya dengan begitu tulus dan apa adanya.


"Aku senang melihatmu bahagia, sayang. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu," ucapnya lirih setelah menyeka air matanya.


...***...


"Hep-hi, hamyu ha-mhil?" tanya Rohani.


Septi menggigit bibirnya dan mengangguk membuat Rohani memejamkan matanya.


"Hi-ha-vha ay-yahnua?"


"Dia ... dia kekasih Septi, ma. Tapi mama nggak usah khawatir, dia janji akan segera menikahi Septi. Dia orang kaya, ma. Hidup kita akan lebih baik setelah Septi menikah dengannya. Mama juga bisa berobat ke luar negeri sampai sembuh," tukas Septi mencoba menenangkan sang ibu.


Rohani yang sulit untuk bicara hanya terdiam. Entah mengapa, ia memiliki firasat buruk. Ia hanya berharap, semoga apa yang dikatakan Septi benar. Seharusnya ia senang, ia akan segera memiliki seorang cucu, tapi tetap saja ada perasaan mengganjal di benaknya. Apalagi saat ia melirik Septi yang tengah meringis kesakitan seperti itu. Ingin bicara, tapi sulit. Jadi ia hanya bisa berdoa semoga semuanya baik-baik saja.


Sementara itu, Erna yang sudah sejak beberapa hari lalu pulang ke rumah, tak pernah bisa beristirahat dengan tenang sebab warga di sekitar tempat tinggalnya selalu saja mencemooh keluarganya. Bahkan ibunya pun sudah tidak diizinkan berbelanja di warung terdekat. Mereka menolak uang yang Asma gunakan untuk berbelanja di warung mereka. Mereka mengatakan uang yang Asma gunakan merupakan uang haram sebab diperoleh anaknya dari menjual diri. Hinaan demi hinaan diterima ibunya. Bahkan ayahnya pun kini pergi meninggalkan mereka karena tak tahan dengan gunjingan orang-orang. Bukan hanya para tetangga, tapi juga rekan kerja sang ayah pun mencemooh sehingga ayahnya tak tahan kemudian pergi. Begitu pula saudaranya, mereka merasa malu. Mereka sudah cukup malu karena membiarkan Erna menikahi suami orang. Kini ditambah kenyataan Erna bukanlah hamil dari laki-laki yang dinikahinya, melainkan suami orang lain. Mereka kadung malu dan merasa terhina akibat ulah Erna sehingga mereka pun pergi dan enggan melihat keadaan adiknya sama sekali.


"Eh, hati-hati Bu, ada ibunya pelakor tuh! Entar dia malah nyuruh anaknya godain suami-suami kita. Dia kan udah dibuang oleh suaminya, bisa jadi suami kita jadi sasaran," ujar salah seorang ibu-ibu dengan suara lantang. Asma yang baru saja pulang dari pasar hanya bisa menunduk dalam seraya menahan malu.


"Punya anak perempuan satu kok amit-amit. Padahal anakku dulu sempet lho Bu naksir dia. Untung aja aku nggak kasi restu, lha dari penampilannya aja udah kelihatan murahan. Beruntung anakku dapat yang jauh lebih baik. Biar nggak cantik-cantik amat, tapi yang penting dia perempuan baik-baik. Nggak murahan. juga."


Mendengar kata-kata penuh sindiran dan cemoohan itu, Asma pun berjalan dengan cepat sambil menulikan telinganya. Namun karena terlalu terburu-buru, Asma tak sengaja tersandung batu hingga tersungkur. Bukannya iba, ibu-ibu itu justru tergelak kencang membuat Asma tak kuasa menahan air matanya.


Erna yang melihat peristiwa itu dari jendela kamarnya, hanya bisa menangis sambil menutup mulutnya. Ia kini baru merasakan dampak perbuatannya selama ini ternyata begitu besar. Seandainya ia tahu semua akan berakhir seperti ini, maka ia takkan pernah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain. Erna kini hanya bisa menyesali dalam diam segala perbuatannya.


"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku," lirihnya seraya berjongkok dan menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2