Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Murka


__ADS_3

"Mas kecewa sama kamu, Sarah. "


What the ....


Aku diam mematung, tidak juga membantah ucapan suamiku itu sebab hati sedang mencoba menerka dan pikiran berusaha mencerna makna dari perkataannya barusan.


Hatiku berdenyut nyeri. Air mata pun tak kalah untuk keluar. Kuremas ujung bajuku kuat, kali ini rasanya begitu sakit dan jauh lebih sakit. Apa dia meragukan keberadaan janin yang berada dalam rahimku?


"Kamu meragukan anak yang berada dalam kandunganku ini, Mas? "


Ucapku parau, menahan isak yang hampir keluar tiap kali berucap.


"Kamu lebih memilih mendengar omongan Desi, ketimbang aku yang adalah isteri sahmu?  Yang mendampingimu dalam segala situasi? "


"... "


"Apa kamu sadar akan arti ucapanmu, perkataanmu yang kembali menggores hati ini? "


"Bukan maksudku untuk berkata begitu, tidak ada niat hati untuk meragukan kesetiaanmu, tapi melihat apa yang kamu lakukan barusan benar-benar membuat memikirkan kembali akan kebenaran cintamu. "

__ADS_1


Lututku bergetar, dan napas pun ikut memburu. Tanggapannya begitu diluar dugaan. Hanya karena wanita, dia rela menyingkirkan rasa cinta, bahkan kepercayaannya dari istri sendiri. Secepat inikah benalu itu merampas segalanya dariku?


Tatapan mata tetap fokus pada Mas Dani yang duduk bersandar pada sofa dengan tangan yang meremas rambut.


"Secepat inikah benalu itu merampas apa yang seharusnya menjadi milikku? "


"Siapa yang mbak maksud sebagai benal-"


Tiba tiba Desi bersuara. Mungkin dia tidak terima akan gelar yang kusematkan untuknya, padahal gelar itu begitu sempurna untuk dirinya. Mendengar suaranya yang sok berkuasa, benar-benar membuatku di landa amarah.


"DIAM KAMU, DESI! "


Bentakanku membuat dirinya terkejut. Aku datang bukan lagi untuk di injak atau di perlakukan semaunya.


Mas Dani berdiri, lalu beranjak mendekat denganku.


"Apa pedulimu, Mas?  Apa kamu masih ingat akan keberadaan darah dagingmu yang kukandung?  Apa kamu masih menyadari keberadaannya?  Bahkan dengan teganya kamu meragukan anakku. Jahat banget sih kamu, Mas. "


Mas Dani mencoba meraih tanganku yang terus mendorong tubuhnya dengan jari telunjuk, tapi kutepis. Rasa ini tidak lagi dapat kutahan. Rasa sakit yang selalu menekan diri.

__ADS_1


"Aku muak, Mas. Muak akan drama yang kalian ciptakan. Coba kamu ingat kapan terakhir kamu ada untukku?  Kamu bahkan lebih memilih wanita sialan ini dari pada istrimu sendiri. "


"Semenjak dia ada disini, apa pernah kamu menyapa anakku ini?  Apa pernah kamu membuatkanku susu hamil seperti biasa?  Ngak kan, Mas. Coba kamu renungkan segala perlakuanmu selama ini. Tengah malam kamu bangun hanya untuk membuatkan secangkir susu untuk Desi. Untuk anak yang bukan dari darah dagingmu. Sedangkan di kamar belakang sana, tempat yang tak layak di sebut sebagai kamar itu, aku menangis. Menangisi semua perlakuan kurang ajar kalian. Setetes susu pun tak lagi pernah kau buatkan untukku,  Walau pun itu hanya untuk menambah kekuatanku dalam melihat tindakan kurang ajar kalian "


"Ini rumahku, Mas. Apa kamu lupa?  Tapi aku rela di perintah pindah kekamar belakang karna kamu bilang dia ngak biasa di tempat yang sempit. Oke, aku mengalahkan, Mas. "


"Sudah terlalu banyak perasaan yang kukorbankan, tapi apa pernah kalian menghargai itu?  Apa pernah kamu memikirkan perasaanku?  Ngak kan, Mas!  Yang ada kalian semakin ngelunjak. "


"Maaf, sayang. Maaf. "


Mungkin ada sedikit sentakan dari ucapanku barusan, terbukti dari air mata Mas Dani yang keluar.


"Kamu terlalu lemah jadi laki laki, Mas. Suami adalah pondasi dalam keluarga. Jika pondasinya saja rapuh, maka seluruh rumah akan roboh  hanya dengan satu guncangan kecil. "


"Mas minta maaf, sayang. Mas baru sadar. Perkataanmu memang benar. Tidak seharusnya semua ini terjadi. Mas memang lemah. "


Tidak ada lagi rasa berdesir mendengar penuturannya, walau air mata tetap keluar. Apa aku seorang istri yang jahat?  Terserah mereka mau mengatakan apa, karna memendam rasa sakit hati setiap waktunya benar benar memudarkan rasa sayangku padanya. Sudah terlalu dalam goresan hati yang dia berikan.


"Dan kamu, Desi . seharusnya kamu sadar diri. Kamu disini bukan untuk merebut milik orang lain. Kamu itu hanya menumpang. keberadaan Mas Dani hanya untuk menutup aib yang kau lakukan, bukannya malah mengambilnya. Ingatkan akan perjanjian kontrak itu?  Tidak ada ikatan antara kamu dan suamiku. Jadi cukup sampai disini saja kau menikmati apa yang seharusnya tidak kau pantas kau nikmati. "

__ADS_1


Rasakan itu, wanita sialan.


Bersambung ...


__ADS_2