Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
EMPAT PULUH TIGA


__ADS_3

Mentari merenggangkan kedua tangannya setelah selesai berkutat dengan berbagai berkas dan laporan yang menumpuk di mejanya. Ia menopang dagunya dengan kedua telapak tangan yang disatukan, otaknya berpikir, makan siang apa yang Jervario inginkan.


"Kira-kira si matic mau makan apa ya?" gumamnya pada diri sendiri.


Malas banyak berpikir, Mentari lantas mengambil ponselnya dan mencari kontak yang bertuliskan "Duda Gila" di layar ponselnya itu. Setelah ketemu, tanpa ragu ia menghubungi sang pria yang beberapa waktu ini kian getol memepet dirinya.


Dasar, si motor matic!!!


"Assalamu'alaikum janda kesayangan," ucapnya saat panggilan itu telah ia angkat membuat Mentari memutar bola matanya jengah.


"Wa'alaikum salam, duda gila," sahut Mentari. Mentari dapat mendengar suara kekehan dari seberang sana. Entah bagaimana, kekehan itu kini menular pada Mentari.


"Ada apa Bu janda? Kangen?" seloroh Jervario membuat Mentari kembali melotot.


"Ck ... mentang aku janda, nggak perlu kali diingetin mulu," protes Mentari.


"Jadi mau dipanggil apa? Sayang? Cinta? Honey? Atau Ayang Beb?" goda Jervario membuat Mentari rasanya ingin menangis.


"Jerva, kamu usil banget sih!" pekik Mentari manja membuat Jervario makin gemas dan gencar menggodanya.


"Habisnya dipanggil Bu janda, salah. Dipanggil sayang, cinta, honey, sama ayang beb juga salah. Jadi apa dong?"


"Yayaya, terserah pak duda aja lah maunya gimana," ketus Mentari membuat Jervario tak sanggup menahan gelak tawanya.


"Nah, bener tuh, Bu janda pasangannya yang cocok emang pak duda. Jadi Bu janda, ada apa Bu janda sampai tumben-tumbenan telepon pak duda, hm? Udah kangen? Kan bentar lagi ketemu."


Bibir Mentari mencebik karena kesal dengan sikap Jervario yang makin semaunya.


"Itu, aku mau tanya, kamu emangnya mau makan apa?"


"Mau makan kamu boleh?"


"HEH MOTOR MATIC, AKU SERIUS!" pekik Mentari membuat Jervario tertawa terbahak-bahak hingga terbatuk-batuk.


"Ukhuk ... ukhuk ... ukhuk ... "


'Bapak tidak apa-apa?'


Terdengar suara seorang perempuan yang tampak mengkhawatirkan Jervario dari seberang telepon membuat Mentari bersungut-sungut.


"Oh, ada yang temenin ya di sana? Kalau gitu minta dia aja ya beli makan siangnya. Aku sibuk," ketus Mentari yang langsung menutup panggilannya.


"KAMU APA-APAAN, HAH! MASUK KE RUANGAN SAYA TANPA PERMISI!" bentak Jervario dengan mata melotot membuat perempuan yang tampak mengkhawatirkan Jervario itu sontak menciut takut.


"Saya ... saya hanya mengkhawatirkan pak Jerva saja," cicit perempuan itu.

__ADS_1


"AKU NGGAK BUTUH PERHATIAN KAMU DAN LAGI PULA INI BUKAN WILAYAH UNTUK KAMU MELENGGANG BEBAS. SEBELUM KESABARAN SAYA HABIS, LEKAS PERGI DARI SINI!" bentak Jervario lagi dengan kekesalan yang sudah mencapai ubun-ubun.


Baru saja ia merasa senang karena bisa mendengar suara Mentari dan bercanda dengannya, tapi gara-gara salah satu karyawan wanitanya itu, Mentari jadi marah dan menutup panggilannya sepihak.


Gegas Jervario pun mencari nama kontak "Janda Kesayangan" di riwayat panggilannya, kemudian segera menekan tombol panggil pada kontak tersebut. Entah mengapa, perasaannya tidak tenang karena Mentari menutup panggilannya begitu saja. Padahal ini merupakan pertama kali Mentari mau menghubunginya, tapi gara-gara karyawan yang sok perhatian itu, Mentari jadi kesal padanya.


Jervario sudah mencoba menghubungi Mentari, tapi mentari tak mengangkatnya sama sekali hingga panggilannya yang ketiga kali pun Mentari tetap tak mengangkatnya. Kemudian pada panggilan yang ke-empat, barulah ia dapat mendengar kembali suara Mentari.


"Ri, kamu marah?" tanya Jervario hati-hati.


"Marah? Ngapain? Emang situ siapa?" ucapnya datar membuat Jervario menghela nafasnya.


"Itu tadi karyawan aku, Ri. Bukan siapa-siapa. Jangan marah ya! Kamu tetap mau kemari kan ? Aku nunggu lho. Aku nggak mau mau makan kalau bukan kamu yang anterin," ucap Jervario.


"Suruh karyawanmu itu aja. Aku lagi malas kemana-mana," tukas Mentari datar.


"Ya sudah kalau kamu nggak bisa. Nggak papa. Jangan lupa makan siang ya, Ri. Wassalamu'alaikum," ucap Jervario lemah.


"Wa-wa'alaikum salam," balas Mentari.


Setelah panggilan itu ditutup, ada perasaan tidak enak di benak Mentari. Entah mengapa, ia merasa tidak nyaman, perasaan yang mengganggu. Apalagi tadi suara Jervario terdengar lemah dan sedikit parau.


Setelah menimbang sejenak, Mentari pun segera keluar dari ruangannya.


"Bel, kosongkan jadwalku 2 jam ke depan ya! Kalau ada yang cari, bilang aja aku sedang ada urusan mendesak," tukas Mentari pada Belinda.


"Tidak. Aku makan di luar saja. Kamu juga jangan lupa makan siang ya! Kalau begitu, saya pergi dahulu," ucap Mentari sebelum benar-benar berlalu dari sana.


Satu jam kemudian, akhirnya Mentari telah tiba di JV Showroom atau lebih dikenal JVS. Setelah memarkir mobilnya, Mentari turun dari dalam mobil sambil menenteng beberapa paper bag dan tas tangan miliknya. Ia berjalan dengan anggun masuk ke dalam JVS. Melihat kedatangan Mentari, seorang karyawan JVS pun membukakan pintu dan menyambutnya dengan ramah. Apalagi dapat dilihat dari penampilan Mentari, ia bukanlah orang biasa. Mereka pikir, mungkin Mentari merupakan salah satu costumer yang ingin membeli mobil di sana.


"Selamat siang nona, ada yang bisa saya bantu!" sambut salah seorang karyawan dengan senyuman lebarnya.


"Oh, saya ingin bertemu dengan Jervario, dia ada kan?" tanya Mentari ramah membuat karyawan wanita itu mengerutkan keningnya.


"Maaf, ada keperluan apa ya? Apa Anda telah membuat janji dengan atasan kami?"


"Saya ... "


Baru saja Mentari hendak membuka mulutnya, tiba-tiba ia melihat seseorang yang sedang menatapnya dengan penuh kebencian.


Mentari pun menyeringai, "katakan saja, Mentari mencarinya," pungkas Mentari membuat dahi karyawan tadi mengerut.


"Emmm ... baiklah, silahkan nona tunggu di sini! Saya akan segera menyampaikan pesan nona!" ujarnya sopan sambil mempersilahkan duduk di salah satu kursi. Meskipun ia tidak mengenali Mentari, ia tetap harus bersikap ramah pada tamu. Apalagi yang dicari adalah atasannya. Ia tak mau membuat kesalahan.


"Baiklah." Mentari pun segera duduk dengan senyum terkembang.

__ADS_1


Setelah karyawan itu pergi, seseorang yang tadi menatap Mentari dengan tatapan benci pun mendekat.


"Mau ngapain loe temuin atasan kami, hah? Dasar janda gatel, pasti loe mau dekatin pak Jerva kan? Heh, sadar diri, udah janda, mandul lagi, mau deketin pak Jerva. Meskipun dia duda, loe nggak selevel sama dia. Nggak ada pantas-pantasnya. Sadar diri dong!" cibir Erna membuat Mentari tersenyum lebar.


"Oh ya? Jadi ... yang pantas siapa? Kamu?" seloroh Mentari sambil terkekeh kecil.


Erna mengepalkan tangannya kesal, "pulang sana! Sebelum kau dipermalukan di muka umum karena mencoba menggoda atasan kami yang sempurna."


"Kalau aku tidak mau?"


"Kau ... "


"Kau mau apa?"


"Pergi sana janda gatal!"


"Ada apa ini?" tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sejak tadi Mentari tunggu-tunggu. Mentari pun tersenyum lebar saat melihat kedatangan Jervario.


"Riri, kamu kenapa nggak bilang jadi ke sini?" tutur Jervario sumringah. "Dan kamu ... apakah aku membayarmu untuk merendahkan dan mengusir tamuku, hah?" bentak Jervario pada Erna membuat perempuan itu gelagapan. "Ri, apa yang dilakukan dia padamu?" Jervario mengalihkan pandangannya pada Mentari.


"Oh, managermu ini ... "


"Apa? Manager? Dia bukan manager di sini, tapi SPG. Apa kau mengaku-ngaku sebagai manager dengan tamuku?" bentak Jervario membuat Mentari menyeringai.


Dahi Jervario telah berkerut-kerut dalam. Dalam sehari, Erna telah beberapa kali membuatnya kesal dan ini merupakan puncak dari kekesalannya.


"Ti-tidak, pak. Perempuan ini hanya membual. Saya ... "


"Segera bereskan barang-barangmu dan segera urus surat pengunduran dirimu! Aku tidak mau melihat kau di sini lagi!" tegas Jervario.


"Tapi pak ... "


"Tidak ada tapi-tapi. Kau sudah membuat kesalahan besar dengan mengusik calon istriku. Pergi dari hadapanku cepat!" tegasnya membuat Erna mengepalkan tangannya. Berbanding terbalik dengan Mentari yang sudah membeliakkan matanya karena mendengar kata-kata Jervario yang mengakui dirinya sebagai calon istrinya.


'Sepertinya si duda udah ngebet kawin nih. Kelamaan solo karir, jadi otaknya rada geser.' dalam hati Mentari cekikikan sendiri.


"Baiklah kalau itu mau bapak. Tapi izinkan saya menyampaikan satu hal. Saya hanya tidak ingin Anda menyesal menikah dengan perempuan ini. Pak dia ini perempuan yang tidak baik. Dia suka mendekati laki-laki kaya dan memmanfaatkan kekayaannya. Selain itu, dia ini perempuan mandul. Sangat tidak pantas untuk bapak yang ... "


"Sudah bicaranya?" potong Jervario dengan nada dinginnya membuat beberapa karyawan yang mendengar merasa ngeri sendiri. Berbeda dengan Mentari yang justru telah berdiri dengan tangan bersedekap di depan dada. Ia ingin dengar, apa yang disampaikan Erna dan bagaimana tanggapan Jervario.


"Jangan sok tahu tentang Mentari karena kau tidak berhak sama sekali ikut campur dalam urusanku! Silahkan pergi dari sini, sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeret paksa dirimu keluar dari sini!" tegas Jervario lalu ia segera meraih telapak tangan Mentari dan membawanya. "Kayla, urus perempuan itu segera!" titah Jervario pada sekretarisnya.


"Baik, pak," sahut Kayla.


Sebelum benar-benar menghilang mengikuti langkah Jervario, Mentari menoleh ke arah Erna yang wajahnya sudah merah padam. Mentari menarik salah satu sudut bibirnya ke atas membuat Erna makin terbakar emosi.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2