Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
EMPAT PULUH SEMBILAN


__ADS_3

"Heh, bangun sana! Beres-beres, masak, cuci baju, cuci piring, jangan malas-malasan aja kerjanya. Udah pengangguran, pemalas juga!" hardik Shandi sambil menarik kasar selimut yang membalut tubuh Erna yang masih asik berpetualang di PIS alias Pantai Indah Spring bed hingga membuatnya tersentak dengan kepala berdenyut nyeri.


"Aawhsshhh ... apa-apaan kamu, mas? Kau sudah gila, hah!" Erna balas menghardik suaminya dengan tatapan nyalang.


"Kau sudah berani membentak ku, hah!" desis Shandi sambil mencengkram rahang Erna. Shandi kini menunjukkan sisi kejamnya. Shandi sebenarnya lelaki yang lembut dan penuh perhatian, mungkin karena kekecewaan karena ditipu mentah-mentah dan permasalahan yang terus datang bertubi-tubi, belum lagi sikap Mentari yang tak tersentuh membuat sisi kejamnya menyeruak begitu saja.


"Ma-mas, sa-kit," cicit Erna dengan mata memerah menahan sakit. Ia tak menyangka Shandi akan bersikap kasar seperti ini padanya. Padahal setahunya selama ini Shandi sangat lembut. Meskipun kesal, ia tak pernah menumpahkan kekesalan dan amarahnya.


"Ayo, teriak lagi! Bentak aku lagi, ayo! Kenapa diam, hah? Mana suaramu yang selalu memekakkan telinga itu? Sakit?"


"M-mas, ma-afkan a-ku," lirih Erna yang kini sudah berurai air mata.


"Baiklah, tapi lakukan tugasmu sebagai istri di rumah ini. Sudah cukup kau memperbudak mama untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Bukankah kau juga sudah menjadi pengangguran!" tegas Shandi sambil menghempaskan rahang Erna hingga ia kembali terguling di atas kasur.


"Kenapa masih diam di situ!" bentak Shandi membuat Erna bergegas turun dari atas ranjang dan melakukan apa yang diperintahkan Shandi barusan.


Setelah melihat Erna berlalu, Shandi langsung menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.


Selesai mandi, ia segera menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. Namun, tak ada satupun pakaian kerjanya yang tergantung rapi seperti saat ada Mentari di rumah mereka dulu. Shandi memejamkan matanya, sesak, itu yang ia rasakan. Tanpa sadar, bulir-bulir bening mengalir dari sudut matanya.


"Aaaargh ... " teriak Shandi sambil meraup isi lemarinya dan melemparkannya sembarang.


"Tari ... Maafkan aku, Tari. Aku memang bodoh, hanya karena perkara belum dikaruniai seorang anak, aku sampai menduakanmu, menikah dengan perempuan yang sangat tidak sebanding denganmu. Tari ... aku merindukanmu. Aku butuh kamu, sayang. Aku mohon, maafkan aku," lirih Shandi yang sudah tergugu sambil mengacak rambutnya frustasi.


...***...


"Sayang, ini beneran untuk aku?" ucap Septi dengan mata berbinar saat menerima hadiah berupa kalung dengan liontin berbentuk hati.


"Tentu, honey. Sini aku pakaikan!" ucap seorang lelaki dengan paras bule. Lelaki yang pernah menjadi pengunjung di club' malam tempatnya bekerja. Di club' malam itu tugas Septi menemani tamu-tamu VIP minum.

__ADS_1


"Cantik," ucapnya saat melihat kalung yang terbuat dari mas putih itu telah melingkar di leher putih Septi. Tentu saja Septi begitu bahagia. Berawal dari menemani minum tamu VIP, kemudian berkenalan, dan kini mereka telah menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih. Akhirnya, impiannya memiliki kekasih yang kaya raya dan tampan bisa terwujudkan. Setelah ini, ia bisa berbangga diri terutama di hadapan Mentari. Ia tidak lagi kere, ia pun tak lagi memerlukan bantuan Mentari untuk memenuhi kebutuhannya sebab ia bisa memenuhinya hanya dengan menjadi kekasih dari pria bule bernama Edward itu.


"Terima kasih, sayang. Kau memang yang terbaik," ucap Septi dengan mata berbinar. Lalu ia segera mengecup bibir Edward sebagai ungkapan terima kasih.


"Oh ya, aku ada satu lagi hadiah untukmu."


"Apa itu?" serunya dengan sorot mata penasaran.


"Ini."


"Kunci?" beo Septi saat melihat Edward menunjukkan sebuah kunci di hadapannya.


"Ya, kunci. Sekarang mobilku ku hadiahkan untukmu, bagaimana? Kau senang?"


"Be-benarkah?"


"Ah, thank you, thank you, baby. I love you so much," seru Septi bahagia.


"Just say thank you?" Edward menyipitkan matanya membuat Septi langsung melingkarkan tangannya di leher Edward.


"Tentu saja tidak. Karena aku sedang sangat bahagia pagi ini, maka akulah yang akan memimpin pertempuran pagi kita. Aku akan membuatmu mendesah nikmat dengan menyebutkan namaku hingga berulang kali, bagaimana? Kau ... tertarik?" bisik Septi seduktif sambil memainkan ujung jarinya di dada Edward yang sedikit berbulu.


"Oh, yeah, aku sudah tak sabar lagi menantikannya," balas Edward yang langsung meraup bibir merah Septi sambil membawanya ke atas ranjang. Dan bila biasanya Edward lah yang memimpin pertempuran mereka, maka khusus pagi ini, Septi lah yang memimpin sebagai ungkapan terima kasihnya atas segala yang telah Edward berikan padanya.


...***...


Mentari baru saja tiba di kantornya. Seperti tak pernah lelah, lagi-lagi Arga telah berdiri di ambang pintu masuk untuk membukakan pintu. Mentari sebenarnya merasa tak enak hati, tapi ingin menegurnya rasanya tak etis. Ia tak ingin menyakiti hati Arga. Namun bila dibiarkan, ia khawatir semakin memupuk harapan laki-laki berusia 32 tahun itu.


"Pak Arga," panggil Mentari pelan seraya mendekat agar tak ada yang mendengar apa yang ingin ia katakan pada Arga.

__ADS_1


Melihat Mentari mendekat seraya memanggil namanya sontak saja membuat jantung Arga bertalu-talu. Ia pikir Mentari akan mengucapkan terima kasih, tapi apa yang didapatkannya justru mematahkan hatinya. Meskipun Mentari mengatakannya dengan lembut, tapi cukup menggoreskan harapan Arga untuk mendekati janda muda itu.


"I-iya, Bu," sahut Arga gugup. 'Sialan, kok jadi gugup kayak gini sih?'


"Pak Arga, saya mohon maaf, untuk lain sebaiknya Anda tidak perlu menunggu kedatanganku lagi. Aku hanya tidak enak di depan karyawan lainnya. Terima kasih atas kebaikan pak Arga selama ini, kalau begitu, saya permisi," ucap Mentari pelan agar tak ada yang mendengar.


Arga menghembuskannya nafasnya, ternyata cukup sulit menaklukkan hati wanita itu. Haruskah ia mundur dengan perlahan?


Baru saja Mentari menghenyakkan bokongnya di kursi kebesarannya, tiba-tiba pintu ruangannya diketuk dari luar. Mentari pun mempersilahkan seseorang yang ternyata itu adalah Belinda untuk masuk. Mata Mentari terperangah seketika saat melihat apa yang Belinda pegang saat itu.


"Bunga mawar?" beo Mentari saat Belinda masuk sambil memeluk sebuah buket bunga mawar merah yang sangat cantik di tangannya.


"Iya Bu. Tadi resepsionis menerima paket Bunga ini , katanya untuk ibu," tukas Belinda seraya menyerahkan buket bunga yang cukup besar itu


Mentari pun menerimanya Dilihatnya ternyata ada sebuah kartu ucapan. Ia pun segera mengambilnya kemudian membaca goresan tinta di dalamnya.


[Selamat pagi calon makmumku. Semoga harimu indah seindah bunga mawar yang sedang merekah indah ini ya!


^^^By : Calon Imammu]^^^


Mata Mentari terbelalak saat melihat apa yang tertulis di dalamnya. Kemudian ia pun tersenyum, ia tak menyangka si dingin, kaku, dan datar itu bisa bersikap romantis seperti ini.


Mentari pun gegas mengetikkan sebuah pesan yang langsung ia kirimkan pada Jervario.


[Terima kasih. Aku suka bunganya.]


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2