
Sementara Jervario dan Mentari sudah dalam perjalanan udara menuju Singapura, Dario yang sedang menggantikan pekerjaan Jervario di kantor TJ Group mendapatkan telepon dari orang suruhannya yang ia utus ke Surabaya semalam. Ia harap orang-orangnya dapat mencari tahu dengan cepat sebenarnya apa yang direncanakan Milea atau minimal sesuatu yang disembunyikannya.
Dario tahu, semua itu tidaklah mudah sebab baik Milea maupun Andrian sebenarnya masih kalangan old money, bahkan setara dengan Jervario. Sepertinya pula setiap rencana yang mereka lakukan telah tersusun rapi. Sebab untuk mengorek informasi saja tidak membutuhkan waktu yang sebentar.
Orang suruhannya sampai membayar pelayan yang bekerja di rumah keluarga Milea. Mereka pun tak bisa memberikan informasi apa-apa selain kalau tuan rumah mereka tengah pergi ke Singapura. Tapi satu yang menjadi titik terang Dario, ternyata Milea dan Andrian telah dikaruniai seorang anak laki-laki. Tapi semenjak lahir ia sakit-sakitan dan di rawat di rumah sakit terbesar di kota Surabaya.
Dari informasi tersebut orang-orang Dario pun mengembangkan penyelidikan sehingga tepat jam 10 pagi akhirnya Dario memperoleh sebuah informasi yang sangat-sangat mengejutkan hingga membuatnya membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang direncanakan Milea.
Pukul 11.25, akhirnya pesawat yang ditumpangi Jervario dan Mentari mendarat dengan sempurna di bandara Changi, Singapura. Setelah turun dari pesawat, Jervario pun gegas menyalakan kembali ponsel yang sempat ia alihkan ke mode pesawat. Setelah ponselnya aktif, ternyata ada sebuah pesan masuk dari Dario yang mengabarkan kalau ia telah mendapatkan apa yang Jervario perintahkan.
Jervario pun segera mencari tempat yang aman dan tenang untuk berbicara dengan Dario. Setelah ketemu, Jervario pun segera melakukan panggilan internasional pada Dario.
"Halo," ucap Jervario.
'Jer, gawat, loe segera meluncur ke rumah sakit Mounth Elisabeth! Putra Milea akan melakukan transplantasi ginjal dan yang jadi pendonornya itu Putri loe, Asha. Dan untuk penyakit Milea itu, itu sepenuhnya bohong. Dia cuma mau cari simpati sama loe dan ... '
Dario lantas membeberkan semua hasil investigasi timnya yang ia terjunkan semalam. Jervario benar-benar terhenyak dengan fakta yang barusan dibeberkan Dario. Ia benar-benar tak menyangka Milea dengan tega menumbalkan putri kecil mereka untuk kesembuhan putranya dengan suami barunya.
Jervario benar-benar tak menyangka, wanita yang pernah ia nikahi itu berhati iblis. Ia tak ubahnya monster berparas manusia. Tidakkah ia berpikir bagaimana nasib Putri kecil mereka ke depannya bila salah satu ginjalnya diambil? Tidakkah ia merasa sedih atau minimal kasihan dengan nasib putrinya sendiri? Jervario mengutuk perbuatan Milea yang sangat tidak pantas menyandang gelar sebagai seorang ibu. Padahal Milea adalah ibu kandung Asha, tapi sifat dan sikapnya lebih kejam dari dongeng-dongeng ibu tiri.
Dengan jantung yang berdegup kencang , rahang mengetat, dan tangan terkepal, ia segera menutup sambungan telepon itu. Matanya memanas. Auranya tampak gelap dan kelam. Jervario kini benar-benar sedang dikuasai emosi yang kian menggelegak hingga sebuah tepukan di pundaknya menyurutkan emosinya.
"Bang," panggil Mentari tampak khawatir.
__ADS_1
"Ah, ya! Ayo, kita segera ke depan, ada Revin, anak Om Rio yang akan antar kita ke rumah sakit Mounth Elisabeth," tukas Jervario sambil menggenggam tangan Mentari mengajaknya menuju ke tempat parkir dimana Revin berada. Beruntung Dario sigap dan cekatan, setelah ia tahu tujuan Milea, ia langsung menghubungi Revin yang memang menempuh pendidikan S2 di negeri Singa tersebut untuk mengantarkan Mentari dan Jervario ke Mounth Elisabeth Hospital. Dario sendiri kenal dengan Revin sebab Revin pernah jadi karyawan magang di TJ Group.
Mentari sebenarnya bingung, mengapa Jervario tiba-tiba mengajaknya ke rumah sakit Mounth Elisabeth, tapi ia dapat melihat kepanikan di mata Jervario. Tak ingin banyak tanya, Mentari pun ikut saja kemana Jervario mengajaknya.
Tiba di tempat parkir, tampak seorang pemuda melambaikan tangan ke arah mereka. Jervario pun gegas mendekat ke pemuda tersebut.
"Rev, tolong buruan anterin gue ke Mounth Elisabeth Hospital!" tukas Jervario sambil membukakan pintu untuk Mentari. Kemudian ia segera memutari mobil saat Mentari telah masuk untuk masuk ke sisi lainnya.
"Siap, bang!" seru Revin yang memang sudah tahu perihal mantan istri Jervario yang mengajak Asha untuk dijadikan pendonor ginjal untuk transplantasi ginjal putra Milea dengan suami barunya tersebut.
Kini mobil yang dikendarai Revin telah membelah jalanan ibu kota Singapura dengan kecepatan penuh. Mounth Elisabeth Hospital sendiri terletak di jantung distrik pertokoan utama Orchard Road di Singapur. Tak butuh waktu lama, hanya memakan waktu sekitar 21 menit akhirnya mobil yang dikendarai Revin telah berhenti tepat di depan pintu masuk Mounth Elisabeth Hospital. Jervario dan Mentari turun terlebih dahulu, sedangkan Revin segera meminta petugas vallet untuk memarkirkan mobilnya. Setelah selesai, Revin pun bergegas mengajak Mentari dan Jervario menuju ke bagian resepsionis untuk mencari keberadaan Asha.
"Maaf, di daftar tidak ada pasien atas nama Ashadiva," ujar resepsionis tersebut dalam bahasa Inggris.
"Bang, sebenarnya ada apa sih? Kenapa Abang nanyain nama Asha ke resepsionis tadi? Apa terjadi sesuatu dengan Asha?" cecar Mentari dengan raut muka paniknya.
Jervario menyugar rambutnya frustasi, ia diburu waktu saat ini. Apalagi menurut informasi, operasi akan dilakukan pukul 1.15 siang, sedangkan jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.43. Tak ada waktu lagi untuk menjelaskan, pikirnya.
"Aku jelaskan nanti ya, sayang. Kita benar-benar diburu waktu saat ini. Ini demi Asha, kita harus menyelamatkannya sekarang," ujarnya sambil menarik lengan Mentari agar ikut berlari memasuki lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai dimana Asha berada.
Mentari yang melihat Jervario panik pun tak dapat menutupi kepanikannya. Jantung keduanya berdegup dengan kencang. Mentari benar-benar dilanda kekhawatiran saat ini. Karena kelelahan dan juga panik berlebih, tiba-tiba perutnya mendadak sakit kembali. Rasa nyeri itu bahkan lebih menyakitkan dari sebelumnya. Tapi Mentari mencoba untuk tetap tenang , bagaimana pun Asha yang sedang menjadi prioritas mereka saat ini. Ia tak mungkin membuat Jervario kian panik dengan mengatakan keadaannya.
Mentari hanya bisa menarik nafas dalam-dalam sambil mencengkram perutnya.
__ADS_1
'Ya Allah, perutku kenapa sakit begini? Kenapa rasanya ... benar-benar menyakitkan,' lirih Mentari dalam hati.
Denting lift berbunyi, tak lama kemudian pintunya pun terbuka. Lagi, Jervario menarik lengan Mentari agar ikut berlari dengannya. Dengan langkah terseok-seok, Mentari mencoba mengimbangi langkah Jervario. Hingga mereka menangkap sosok Milea, Andrian, dan kedua orang tua Milea. Danda Jervario seketika memanas. Ia pun segera melepaskan tangan Mentari dan mendekati Milea dengan langkah panjangnya.
"Katakan dimana anak gue, sialan!" bentak Jervario mengejutkan keempat orang itu. Keempat orang tersebut sampai terperanjat kaget mendengar bentakan sekaligus kedatangan sosok yang tak terduga itu. Keempat orang itu sontak berdiri dengan wajah pias.
Kemudian Jervario meraih leher Milea dan mencekiknya, "jawab gue, bit*ch, dimana anak gue atau loe mau gue bunuh sekarang juga!' bentak Jervario murka membuat beberapa dokter yang baru saja hendak bersiap melakukan operasi membuka pintu.
"Tolong jangan membuat keributan di sini!" seru seorang dokter dari ambang pintu.
Milea sampai kesulitan menelan ludahnya, ia benar-benar ketakutan saat ini. Pertama, ia khawatir proses operasi dihentikan secara paksa, kedua ia khawatir Jervario benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Ia belum mau mati. Ia masih ingin menikmati hidup.
Melihat pintu terbuka, Jervario pun melepaskan cengkeramannya pada leher Milea dan meringsek masuk ke dalam ruang operasi.
Mata Jervario memerah, giginya bergemeluk hingga menimbulkan bunyi yang memilukan. Bagaimana tidak, di depan matanya sendiri, ia melihat Asha terbaring dengan mata tertutup. Ada beberapa alat medis menempel di tubuhnya. Dokter dan beberapa perawat sampai bingung melihat keberadaan Jervario yang matanya sudah memerah menyiratkan kemarahan. Dengan langkah panjang, Jervario segera melepaskan selang infus dan beberapa alat medis lainnya kemudian meriah Asha ke dalam gendongannya dan membawanya ke luar.
"Hei, mau kamu apakan gadis kecil itu? Baringkan dia kembali, cepat!" titah salah seorang dokter.
"Shut up! Ini putriku, takkan aku biarkan kalian menyentuh kulit putriku walau hanya sesenti saja!" bentak Jervario membuat semua tenaga medis di dalam sana tersentak kemudian ia segera membawa Asha keluar dari ruangan itu dengan emosi yang membuncah.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1