Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Fitnah


__ADS_3

"Tidak ada orang tua yang mendidik anaknya supaya menjadi pribadi yang buruk. Tiap-tiap anak di didik dengan cara yang berbeda, sesuai dengan karakternya masing-masing."


"Kadang keras, kadang lembut. Begitulah kami dalam menempah karakter setiap anak. Namun, memang sudah hukum alam kala kekerasan yang sudah menjadi pilihan, sakit hati yang akan tersemat dalam relung hati. Menikmatinya, hingga menimbulkan rasa kebencian. Sulit kalian untuk menyadari arti dan tujuan akan setiap tindakan yang orang tua berikan. "


Panjang lebar Pak Anto berbicara. Tidak dapat di pungkiri, bahwa apa yang ia katakan adalah segala kumpulan  beban yang selama ini tersimpan dalam hatinya.


Sebagai orang tua, tidak sedikit tanggung jawab yang berada dalam pundaknya. Tidak sedikit pula masalah yang membebani pikirannya. Entah apa yang sedang bermain-main dalam pikiran setiap manusia dikala hidupnya, hingga dengan gampangnya mengucap kata kasar yang bahkan sudah menggores hati mereka.


Jika kelak engkau sudah merasakan apa arti kehadiran ayah dan ibu, mungkinkah segalah penyesalan yang menyeruak dalam hati, menjadikan setiap desahanmu di iringi dengan pejaman mata akan hilang dengan adanya kata 'Maaf' yang engkau lontarkan dengan 1000 kata?  Tidak. Sesal itu akan selalu melekat dalam hatimu. Namun, jika dirimu bijak, ajarkanlah segala yang kau alami kepada generasimu, maka pedihnya hati akan semakin terobati.


"Maksud Om kalau Desi itu bukan anak Om, apa? "


Kulirik Om Anto dan Tante Maya sekilas. Yah, sejak mendengar penuturan bijak mereka, memberi sebutan Om dan Tante bukanlah pilihan yang buruk.


Tangan tante Maya menggenggam erat tanganku, kemudia mengelusnya. Setelah menarik napas dalam-dalam, Om Anto mulai menceritakan apa yang membuatku di landa kebingungan.


"Dulu itu, kami menemukan Desi dari tempat sampah depan rumah. Dengan wajah dan sekujur tubuhnya yang sudah memerah akibat gigitan serangga. Hati dan nurani mulai bekerja saat itu, hingga menguatkan niat kami untuk mengadopsinya. "


"Setelah mendengar ceritamu barusan, kami tidak menyangkah kalau sipatnya tidak jauh bedah dari asalnya. Sama-sama SAMPAH! "


Aku terlonjak kaget saat dengan penuh emosinya Om Anto mengucap kata di akhir kalimatnya.


Ternya benar adanya, jika curiga boleh, tapi menuduh jangan.


Segala penyesalan langsung merasuki pikiran. Bagaimana dengan lancang dan tidak tahu malunya diri ini mengucapkan kata kata gila tadi.


Tidak ada yang mampu kulakukan kecuali hanya diam, menunduk. Bahkan hanya untuk sekedar menatap mata mereka rasanya tak sanggup. Ternyata begini rasanya menahan malu akibat kecerobohan diri sendiri. Menyesali dan merutuki diri bukanlah pilihan, tapi hanya hal itu yang kulakukan.


Mulut adalah maut. Benar. Jika tidak hati-hati maka segala penyesalan akan selalu siap berdiri sesuai dengan luka hati.


Ada rasa yang bercampur aduk dalam hati. Mendengar penuturan mereka yang seharusnya menikmati masa tua dalam ketenangan, malah berujung menyesakkan. Ternyata Desi bukanlah anak kandung dari sepasang orang tua yang duduk dekat denganku saat ini. Melihat mata tua mereka yang sedang menerawang, mungkin mengingat ngingat kembali masa yang telah berlalu, membuat hatiku nyaris teriris. Tak tega. Kadang bibir wanita yang berada dekat denganku saat ini bergetar menahan pilu, sebab pertumbuhan bayi yang telah di rawatnya dengan penuh cinta dan kasih sayang malah berujung mengecewakan. Karakter yang hadir dalam jiwa Desi bagai anak panah yang melukai jati, menjatuhkan harga diri.

__ADS_1


  Dalam panas dan pengapnya matahari dan tempat sampah, dengan serangga serangga yang mulai melukai kulit sensitifnya, menangis pun tak mampu. Mungkin akibat kelelahan, hingga hanya sekedar mengeluarkan suara nyaris tak mampu. Lalu, di tengah antara hidup dan mari, pasrah dan berjuang, seseorang datang dan langsung mendekap tubuh mungil yang penuh kesakitan itu. Hingga dia di besarkan dalam keadaan materi dan kasih sayang yang melimpah. Tumbuh dalam keluarga yang harmonis. Namun sayang, pergaulan buruk memang merusak  apa yang sempat tertanam dalam hidup. Bar adalah tempatnya, hingga bukan tidak mungkin dirinya ikut kotor dan kini telah mengandung entah itu anak siapa.


Semoga Om Anto dan Istrinya semakin di kuatkan dalam menghadapi segala kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi nanti.


***


"Dari mana kamu? "


Aku terlonjak kaget saat kaki baru menapak di dalam rumah. Rumah yang kubangun dengan segala usaha dan doa.


Di sofa, Mas Dani duduk dengan mata menatap tajam, setajam mata elang,  kearahku.


"Apa jawabanku semalam masih juga belum menjawab pertanyaanmu? "


"Menenangkan diri, huh?  Dengan kencan sama pria lain, bahkan sekarang udah mulai terang-terangan di depan mata kepalaku sendiri, apa masih bisa di sebut menenangkan diri? "


"Apa maksudmu, mas? "


Aku melayangkan tatapan maut kearahnya, biar dia sadar akan ucapannya yang melukai hati.


Tiba tiba Desi datang dan langsung duduk di sebelah Mas Dani. Disini mereka bagaikan hakim dan aku adalah si pembuat kejahatan. Ingin kutarik tarik rambut panjang Desi, lalu kukoyak koyak mulutnya, tapi itu tinggallah sebuah keinginan sebab ada Mas Dani yang akan mencegah walau tanganku belum terulur.


"Apa maksudmu? "


Kutatap Desi dengan tatapan menantang.


"Kemarin kemarin pulang bareng cwo, dan tadi juga. Apa namanya kalau bukan karna kamu adalah wanita murahan? "


Tajam sekali ucapan wanita ini. Dasar, tidak tahu diri.


"Disini yang tidak tahu diri saya atau kamu?  Menghalalkan segala macam cara untuk menutup aib sendiri, dan sekarang mulai merebut suami orang. "

__ADS_1


Kata kata itu kuucapkan dengan penuh emosi dan penekanan, agar dia sadar.


"Kau... "


Telunjuk tangan kanannya di acungkan kearahku. Wajahnya terlihat merah padam menahan amarah. Aku tersenyum sinis, agar emosinya semakin terpancing.


"Sarah... "


Kulihat Mas Dani menatap kearahku dengan tatapan, entahlah. Ada rasa bersalah dan malu yang tergambar jelas di sana.


"Diam, Mas. "


"Apa kamu tahu, Desi?  Kamu bagaikan benalu dalam rumah tanggaku ini. Yang tadinya hanya menumpang, kini malah merebut cinta dan kasih sayangnya dariku. Merebut apa yang seharusnya menjadi milikku. Benalu memang begitu adanya. "


"Kau... Mbak Sarah, hati hati dalam berucap. Disini kaulah yang paling di untungkan. Segalanya tersedia. Aku memberimu banyak uang, harta melimpah. "


Dia memang Mentransfer banyak uang kerekeningku, tapi bukan itu yang kubutuhkan. Yang kumau hanyalah suamiku kembali lagi untukku, bukan materi atau kekayaan.


"Tapi dengan tidak tahu bertrimakasih, mbak malah kelayapan di luaran sana. Pulang di antar laki laki yang berbeda, selalu. Atau jangan-jangan... "


Dia menjeda ucapannya, lalu menatap perut buncitku.


"Jangan jangan anak yang mbak kandung bukan anaknya Mas Doni, lagi? "


Kali ini aku benar benar murka mendengar penuturannya. Kutampar pipi kirinya kuat, hingga membuat dirinya hampir jatuh terjungkang.


"Kau... Hati hati dalam bicara! "


Kujambak rambutnya kuat hingga membuatnya meringis. Namun, terasa ada sebuah tangan kekar yang meraih tanganku, lalu menyingkirkan tangan ini dari tubuh benalu itu.


"Mas kecewa sama kamu, Sarah.! "

__ADS_1


What the...


Bersambung...


__ADS_2