
"Kenapa nggak bilang kalau jadi mau ke sini? Kalau tahu kan, aku bisa beritahu bawahan ku untuk menyambut mu," tukas Jervario saat mereka berdua telah berada di ruangan Jervario.
"Ck ... aku bukan tamu kebesaran pake disambut-sambut segala. Tapi kamu serem juga ya kalau marah," ucap Mentari seraya meletakkan paper bag yang dibawa dan tas tangannya juga.
"Aku marah pada orang yang memang pantas untuk aku marahi."
"Tapi apa kamu nggak kasihan? Jangan main pecat aja kayak gitu lah. Apalagi dia sedang hamil," tukas Mentari. Ia memang kasihan. Meski benci, tapi ia tidak bisa benar-benar membenci.
"Jadi aku harus bagaimana? Membiarkannya aja, gitu?"
"Ya nggak gitu juga. Kasih dia kesempatan plus peringatan, kalau masih buat ulah, baru benar-benar diberhentikan."
Jervario menghela nafasnya, kemudian ia segera menelpon sekretarisnya agar menangguhkan pemecatan Erna setelah sebelumnya memberikan surat peringatan terlebih dahulu. Selain itu, Jervario juga meminta Erna meminta maaf pada Mentari atas kelakuannya tadi. Itupun bila ia masih mau bekerja di sana.
Melihat Jervario menuruti perkataannya, membuat Mentari tersenyum penuh arti. Tiba-tiba Mentari mengingat kata-kata Jervario tadi yang mengatakan bahwa dirinya adalah calon istrinya.
"By the way, kamu kok bilang aku calon istrimu? Emangnya kamu nggak malu ngaku-ngakuin aku calon istrimu? Kamu dengar kan kata perempuan itu tadi, aku ini bukan perempuan baik, mandul lagi. Nggak pantes buat kamu yang ... yang apa ya ... pokoknya nggak pantes." Mentari berujar seraya mengeluarkan satu persatu makanan yang dibelinya tadi sebelum tiba di sana
"Sebenarnya dia siapa sih? Kok kayaknya kenal banget sama kamu. Kayaknya bukan itu aja, dia kayak benci gitu ke kamu," tanya Jervario mengabaikan kata-kata yang baru saja Mentari ujarkan dan tanyakan.
"Oh ... Dia bukan siapa-siapa sih. Hanya istri dari mantan suamiku," ucap Mentari santai. "Kita makan yuk, aku udah laper banget," ujar Mentari seraya melebarkan senyumnya.
"Apa? Jadi dia ... "
"Udah, nggak usah bahas dia lagi, malesin banget," lirih Mentari sambil menyendokkan nasi ke piring Jervario.
"Maaf," lirih Jervario merasa tak enak hati. "Makasih ya," imbuhnya seraya menerima sepiring nasi putih disusul lauk pauk dan sayurannya.
"Hemmm ... " Mereka pun lantas makan dalam diam. Sesekali keduanya saling melirik melalui ekor mata masing-masing, tak sepatah kata pun keluar dari bibir mereka berdua.
"Jer, muka kamu kok kayak agak pucat gitu? Kamu sakit?" tanya Mentari sambil memperhatikan wajah Jervario.
"Emmm ... aku cuma sedikit pusing aja kok kayaknya masuk angin," jawab Jervario sambil mengunyah nasi dalam mulutnya dengan setengah enggan.
Mentari lantas meletakkan piring nasinya lalu duduk di sebelah Jervario dan meletakkan punggung tangannya di dahi Jervario.
__ADS_1
"Kamu demam?" Mentari membulatkan matanya saat ia merasakan panas yang menjalar saat menyentuh dahi Jervario.
"Aku nggak papa, kok, Ri. Kamu lanjutin lagi makannya sana. Beneran deh, aku nggak papa," ucap Jervario sambil tersenyum, berusaha menampilkan dirinya baik-baik saja.
Mentari menghela nafasnya, "ya udah."
"Kamu mau ke mana?" tanya Jervario saat melihat Mentari menuju pintu hendak keluar, bukannya melanjutkan makannya.
"Aku mau minta tolong sekretaris kamu beliin obat penurun panas. Eh, atau kamu punya dokter pribadi?" Bukankah biasanya keluarga kaya itu memiliki dokter keluarga atau dokter pribadi.
"Nggak usah, Ri. Di ruangan ini obat-obatan lengkap kok. Mama sering nyetok soalnya. Mama selalu wanti-wanti anak-anaknya sakit mendadak kayak gini." Jervario berujar sambil menunjuk ke arah almari tempat ibunya biasa meletakkan obat-obatan.
"Benarkah?" seru Mentari dengan mata berbinar. "Wah, mama kamu perhatian banget ya! Pasti bahagia banget ya jadi kalian, selalu diperhatikan mama meskipun kalian udah gede-gede kayak gini. Malah udah punya buntut masing-masing," ucap Mentari seraya tersenyum lebar. Ia segera menghabiskan makanannya. Setelahnya ia gegas mengambilkan obat untuk Jervario.
"Kamu juga bisa mendapatkan perhatian mama kok."
"Hah! Gimana caranya?"
"Gampang kok."
"Eh, itu jangan! Bukan jadi anak angkat juga kali, Ri," sergah Jervario tidak setuju kalau Mentari jadi anak angkat ibunya, yang artinya jadi saudara angkatnya juga. Pokoknya big no!
"Lha, terus gimana caranya?" gumam Mentari lagi seraya menyodorkan obat penurun panas dan segelas air putih hangat.
Jervario pun segera menerimanya dan meminum obat itu. Setelahnya, ia menyerahkan kembali gelas yang airnya hanya bersisa setengahnya saja. Mentari pun menerimanya dan meletakkannya di atas meja. Kemudian Mentari kembali memfokuskan pandangannya pada Jervario yang belum menjawab pertanyaannya.
"Kamu udah kayak istri aku aja, ngurusin aku makan. Urusin aku pas lagi sakit, kenapa nggak sekalian kamu jadi istri aku aja, Ri? Otomatis kan kamu jadi anak mama aku juga," ucap Jervario santai sambil tersenyum tipis dengan sorot mata sedikit sayu.
"Jerva, lagi sakit aja masih bandel usil sih!" omel Mentari. "Jawab dulu pertanyaan aku tadi, kok malah ngelantur ke arah lain sih!"
"Lah, itu tadi udah aku jawab."
"Yang mana?" Mentari tampak mengingat-ingat perkataan Jervario barusan. "Kamu belum ada jawab pertanyaan aku deh."
"Ada."
__ADS_1
"Yang mana? Jawab lagi deh, jangan ngawur!"
Jervario terkekeh lalu meraih tangan Mentari dan menggenggamnya, "kamu tinggal jadi istri aku, otomatis kamu akan jadi anak mama aku. Mama pasti akan menyayangimu seperti mama menyayangi kami," ujar Jervario membuat Mentari kembali menempelkan punggung tangannya di dahi Jervario.
"Sepertinya demam membuat kamu jadi makin ngawur deh, Jer! Kamu lebih baik pulang aja terus istirahat biar nggak makin ngawur kayak gini," ucap Mentari seraya membereskan bekas makan mereka berdua tadi.
Jervario menghela nafasnya, susah sekali meyakinkan Mentari, pikirnya.
'Apa aku harus melamar secara romantis ya? Masa' aku ngomong serius dianggap ngawur.' batin Jervario sambil mendengkus keras membuat Mentari segera menoleh.
"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanya Mentari sedikit mencemaskan keadaan Jervario. Apalagi saat melihat Jervario memijit kepalanya sendiri.
"Iya, aku sakit. Tapi sakitnya tubuhku tak sesakit hatiku yang ucapannya dianggap ngawur," sahut Jervario sedikit ketus membuat Mentari bingung sendiri.
'Dia kenapa sih? Nggak mungkin kan dia tadi serius?'
Setelah beberapa kali membujuk, Jervario akhirnya bersedia pulang ke rumah tapi dengan syarat Mentari harus ikut mengantarkannya ke rumah. Padahal ada sopir yang akan menjemput Jervario, tapi tetap saja ia ingin Mentari turut serta. Ia juga beralasan Asha juga merindukannya dan ingin sekali bertemu. Mentari sempat protes sebab ia membawa mobil sendiri, tapi akhirnya ia mengalah setelah mendapat telepon dari Asha yang meminta tolong ikut mengantarkan ayahnya pulang ke rumah.
Sebelum pulang, sesuai perintah Jervario tadi, Erna pun menghadap pada kedua orang tersebut. Dengan terpaksa, ia meminta maaf pada Mentari.
"Maafkan atas kelancangan saya Bu Mentari. Saya berjanji tidak akan mengulanginya kembali," ujar Erna dengan wajah tertunduk. Tentu saja ia mengatakan itu dengan perasaan tak ikhlas. Dalam hati, ia menggerutu tak henti-henti. Erna heran, mengapa nasib Mentari bisa seberuntung itu? Sudahlah kaya, sekarang disukai atasannya pula. Suaminya jadi bawahan Mentari, dan dirinya jadi bawahan calon suami Mentari. Mengapa mereka bernasib sama-sama jadi kacung sih? Berharap jadi istri bos, malah jadi kacung.
'Tunggu saja kau Tari, kalau Daddy sudah menceraikan istrinya dan menikahiku, aku pasti akan jadi orang kaya juga dan kau pasti takkan bisa merendahkan ku lagi.'
Erna oh Erna, padahal Mentari tak pernah sekalipun merendahkan dirimu, tapi rasa iri mu saja yang selalu membuatmu berpikir buruk pada Mentari. Bahkan saat kau mengambil suaminya saja, Mentari dengan ikhlas melepaskan suaminya untukmu. Kurang apalagi Mentari padamu?
Sisi batin Erna berbicara, tapi ia tepis pikiran tersebut. Dalam benaknya, Mentari tetap saja salah. Ia sengaja ingin menyombongkan diri padanya. Dan Erna benci itu.
"Sudah. Tidak apa. Silahkan kembali ke tempatmu!" ujar Mentari tak mau terlalu berlama-lama berbicara dengan Erna. Namun, dalam hati, Mentari dapat melihat kalau Erna sebenarnya tidaklah tulus. Ia yakin, dalam hati Erna tak henti-hentinya menggerutu kesal karena harus meminta maaf padanya. Ia sengaja melakukan itu agar Erna sadar tempatnya itu ada dimana dan ia bukanlah apa-apa bagi dirinya. Ia juga ingin menunjukkan kalau kehilangan Shandi tak berarti apa-apa baginya. Ia masih bisa bangkit dan berdiri dengan kedua kakinya. Bahkan hidupnya jauh lebih baik setelah lepas dari para benalu di rumah tangganya dahulu.
Diam-diam, Mentari menyeringai. Ia jadi membayangkan bagaimana kalau mantan mertuanya tahu kalau menantu kesayangannya itu telah membohonginya dengan mengaku bekerja sebagai manager di JVS? Pasti sangat menyenangkan pikirnya.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1