
Prosesi pemakaman baru saja usai. Satu persatu para pelayat pun mulai berpamitan setelah sebelumnya mengucapkan untaian kalimat duka cita pada Shandi dan keluarga. Tampak Septi masih tergugu di atas pusara sang ibu. Septi tahu, kepergian sang ibu ada andil dirinya juga. Ibunya terlalu shock mendengar kabar tentang keguguran dan kanker serviks yang Septi alami sehingga rahimnya harus diangkat. Impian ibunya untuk memiliki seorang cucu benar-benar pupus. Meskipun Rohani masih memiliki Septian, tapi tak mungkin juga ia menyuruh anak laki-lakinya itu menikah dini. Rohani hanya sempat berharap, semoga kehidupan Septian jauh lebih baik ke depannya. Tidak meniru sifat buruk yang ia turunkan pada anak pertama dan keduanya. Ia juga berharap, Septian sehat dan tak memiliki masalah dengan organ reproduksinya sehingga ia bisa memiliki keturunan kelak sebab berharap pada Shandi dan Septi sudah tidak mungkin lagi.
Septi sangat mengetahui, sepanjang mengalami sakit stroke, ibunya terus-menerus menyesali perbuatannya. Kehidupan kedua anaknya hancur berantakan karena ulah dirinya. Seandainya ia bisa menjadi ibu yang lebih bijak dan mengajarkan kebaikan pada anak-anaknya, mungkin segala kerumitan hidup ini takkan terjadi dan ia yakin, kehidupan anak-anaknya pasti akan bahagia meskipun tanpa kehadiran buah hati di antara mereka.
Tapi kini semua telah terjadi. Waktu tak mungkin diputar kembali ke masa lalu. Yang mereka bisa saat ini hanyalah memperbaiki diri. Septi dan Shandi berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya.
Sebelum pulang ke rumah, Septi dan Shandi terlebih dahulu mengundang Mentari dan Jervario untuk mampir ke rumah mereka. Tapi Jervario menolak sebab ia tahu Mentari sudah cukup kelelahan dan ia membutuhkan waktu untuk istirahat. Setelah mengucapkan kalimat turut berbelasungkawa, Jervario dan Mentari pun segera pamit langsung dari daerah pemakaman menuju rumah.
"Sayang, kamu kenapa? Tempat duduknya nggak nyaman atau ada yang sakit?" tanya Jervario khawatir saat melihat Mentari tampak duduk dengan tidak tenang di kursinya.
"Eh ... itu ... anu, bang, sebenarnya sejak subuh tadi pinggang Riri rasanya sakit banget. Sampai ke paha gitu. Rasanya lemes banget kaki Riri," ucap Mentari jujur membuat Jervario terkejut.
"Kenapa kamu nggak bilang sih, sayang? Mana di pemakaman tadi kamu lama berdiri," omel Jervario. Bukan omelan karena kesal, tapi lebih ke perasaan khawatir.
Lalu Jervario pun mencari tempat untuk sedikit menepi membuat Mentari mengerutkan keningnya.
"Kok berhenti, bang?" tanya Mentari heran. Tapi Jervario tak mengindahkan. Ia justru langsung mengambil minyak kayu putih dan meminta Mentari duduk membelakanginya. Kemudian Jervario menumpahkan beberapa tetes minyak kayu putih di tangannya dan mulai membalurkannya di pinggang Mentari dengan sedikit gerakan memijit. Setelahnya di area betis dan paha bawah.
"Gimana sekarang?"
"Agak mendingan sih ta-tapi aduh ... aaargh ... "
__ADS_1
"Kenapa, sayang? Makin sakit?" tanya Jervario dan Mentari mengangguk.
"Mungkin kamu udah mau lahiran, sayang," tukas Jervario mulai panik.
"Hah, tapi kan masih kurang lebih 4 Minggu lagi, bang HPL-nya?" tanya Mentari gusar.
"Melahirkan itu, nggak selalu sesuai HPL, sayang. Bisa juga lebih cepat atau lebih lambat dari waktu perkiraan. Kita ke rumah sakit sekarang, oke!" seru Jervario yang langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit tempat mereka biasa melakukan pemeriksaan kehamilan. Beruntung mereka telah mempersiapkan segalanya jauh-jauh hari. Mereka tak perlu khawatir tentang pakaian bayi sebab tas berisi perlengkapan bayi sekaligus kebutuhan ibu selepas melahirkan telah sejak 2 Minggu yang lalu tersedia di mobil itu, lebih tepatnya ada di kursi belakang jadi mereka bisa langsung ke rumah sakit tanpa memikirkan apa-apa lagi. Di antara kesakitannya, Mentari menyempatkan menghubungi Jeanara dan memintanya menghubungi sang ibu mertua. Setelah selesai, Mentari pun gegas menutup panggilan yang bersamaan dengan tibanya mereka di rumah sakit Cinta Medika.
Namun, baru saja Jervario hendak memapah Mentari turun dari dalam mobil, tiba-tiba saja cairan berwarna sedikit keruh dan hangat mengalir dari sela-sela paha Mentari membuat Mentari yang memang baru pertama kali mengalami hal tersebut seketika panik. Beruntung Jervario selalu sigap. Karena ini pengalaman keduanya memiliki seorang anak, Jervario tidak begitu panik. Meskipun ada rasa gugup, tapi ia tetap berusaha untuk tenang. Ia tidak boleh merasa gugup apalagi linglung sebab hal itu justru akan membuat Mentari kian panik.
Tak lama kemudian, rombongan perawat dan dokter koas datang membantu membawa Mentari dengan brankar untuk dibawa ke ruang pemeriksaan. Setelah memastikan Mentari memang akan segera melahirkan, mereka pun segera membawa Mentari ke ruang persalinan.
"Bang, sa-kit banget. Aduh ... " ringis Mentari saat rasa nyeri itu kian menyebar hingga ke sekeliling perut dan pinggangnya. Pembukaan 8, tak butuh waktu lama lagi bayi akan segera dilahirkan membuat rasa sakit itu kian berdenyut membuat nafas Mentari terengah-engah. Tangannya yang digenggam Jervario mengepal erat.
"Kamu benar, bang. Sebentar lagi, aku akan menjadi seorang ibu sebenarnya. Aku akan menikmati setiap rasa sakit ini. Rasa sakit sebagai bukti perjuangan ku yang tidaklah mudah. Rasa sakit ini, belum apa-apa dari penantian panjangku. Bang, terima kasih telah hadir dalam hidupku. Aku ... sangat mencintaimu," ucap Mentari dengan dada naik turun dan nafas terengah. Tak lama kemudian, pembukaan telah sempurna.
Dokter yang bertugas membantu persalinan pun telah bersiap untuk membantu proses persalinan buah cinta Jervario dan Mentari.
"Kepala dan punggungnya agak diangkat sedikit ya, Bu dan pusatkan perhatian ibu ke mari. Matanya harus selalu terbuka, nggak boleh ditutup. Tarik nafas dalam-dalam, lalu hembusan melalui mulut. Ibu harus fokus pada satu titik ya, Bu," tukas dokter tersebut sambil menekuk kedua kaki Mentari untuk membuka jalan lahir. "Kalau saya beri aba-aba, segera ikutin ya, Bu. Ini kepala dedeknya udah kelihatan," sambung sang dokter. "Tarik nafas dalam-dalam, hembuskan dan ... mengejan. Ya, terus dorong, Bu, sebentar lagi, ya ... Alhamdulillah ... "
Oeek ... oeek ... oeek ...
__ADS_1
Terdengar tangis melengking dari bayi berjenis kelamin laki-laki yang baru saja Mentari lahirkan. Rasa haru menyeruak. Mata Mentari sampai dipenuhi kaca-kaca bening yang siap pecah kapan saja.
Tiba-tiba Mentari kembali merasakan nyeri di sekeliling pinggang dan perutnya kembali, sama seperti saat ingin melahirkan anak pertamanya tadi. Mengikuti instruksi, akhirnya pada hitungan ketiga, bayi berjenis kelamin perempuan pun berhasil Mentari lahirkan.
Oeek ... oeek ... oeek ...
Bola-bola bening yang sejak tadi berkumpul di bola mata Mentari akhirnya pecah. Rasa haru, bahagia, bangga, memenuhi rongga dada sepasang insan manusia itu. Jervario lantas mendekap tubuh Mentari yang bergetar karena tangis bahagianya.
"Bang," lirih Mentari dengan berlinang air mata. Ia benar-benar merasa bahagia sekarang. Ia tak menyangka, akhirnya ia benar-benar menjadi seorang ibu. Ia tak menyangka, akhirnya ia bisa melahirkan bayinya sendiri dari rahimnya sendiri. Ia tak menyangka, impian dan harapannya yang sempat kandas kini justru terwujud. Bertahun-tahun ia menantikan kehadiran sang buah hati, akhirnya perjuangannya benar-benar terwujud. Ia masih tak menyangka, ia berhasil melahirkan. Tapi rasa sakit yang masih ia rasakan pun tangis melengking dari bayi-bayi mungilnya menjadi bukti, semua bukanlah mimpi. Semua nyata. Impiannya ... akhirnya terwujud. Ia akhirnya bisa merasakan menjadi seorang ibu yang sebenarnya. Puji dan syukur, tak henti-henti Mentari gumamkan dalam hati atas anugerah tak terhingga yang telah Allah limpahkan padanya dan keluarga kecilnya.
"Sayang, kamu berhasil sayang, kamu hebat. Akhirnya kamu telah jadi seorang ibu seutuhnya. Akhirnya kesabaran dan penantianmu berbuah manis. Terima kasih sayang, Abang benar-benar mencintaimu," ujarnya sambil menciumi seluruh permukaan wajah Mentari.
...***...
Othor promosi novel baru othor ya kak, silahkan mampir.
Judul :
...DIBUANG KARENA HAMIL ANAK PEREMPUAN...
__ADS_1
Kisah Mentari dan Jervario udah mau ending, jadi jangan lupa tap favorit novel ini ya!
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...