
Dengan penuh percaya diri, Rohani turun dari mobil taksi yang mengantarkannya ke JV Showroom tempat dimana Erna bekerja. Setelah membayarkan sejumlah uang sesuai argo, Rohani pun bergegas masuk ke dalam sebuah gedung yang sangat besar dan luas yang terdiri atas 5 lantai tersebut dan bertanya pada salah seorang pegawai di sana.
"Selamat siang, Bu, ada yang bisa kami bantu?" tanya wanita cantik itu sopan. Entah mengapa ia merasa tujuan kedatangan Rohani bukanlah untuk membeli mobil. Bukan bermaksud menilai dari penampilan, tapi itu merupakan feeling perempuan cantik tersebut. Apalagi terlihat jelas kalau Rohani sudah memasuki usia senja, mana mungkin bisa mengendarai mobil mewah yang showroom mereka jual.
"Saya ingin bertemu manager di sini. Katakan saja, saya ibu mertuanya datang berkunjung," ucap Rohani pongah membuat perempuan cantik itu terperangah. Bukan tanpa alasan, setahunya Pak Nino, manager mereka masih single, 'apa mungkin pak Nino udah married diam-diam? Ah, nggak mungkin lah. Kalau iya, yah, patah hati berjamaah dong. Udahlah pak Jerva udah taken cewek lain, eh pak Nino juga udah sold out.' gumam karyawan wanita JV Showroom itu.
"Sebentar ya Bu, saya akan panggilkan pak Nino dulu," ucap karyawati itu yang gegas membalikkan badannya kemudian terus berjalan menuju interkom yang ada di meja resepsionis.
"Eh, tunggu ... " baru saja Rohani ingin menghentikan langkah karyawati itu dan menanyakan mengapa ia justru ingin mencari orang bernama Pak Nino tapi karyawati itu justru telah berlalu dengan langkah panjangnya.
"Duh, kenapa dia justru ingin memanggil yang namanya pak Nino sih? Kan aku carinya Erna? Ah, sudahkah. Mungkin itu tangan kanan atau kata orang-orang tuh asistennya si Erna. Wah, hebat juga si Erna, nggak salah emang aku pilih menantu. Meskipun tidak sekaya Tari, tapi pekerjaannya cukup bagus dan yang paling penting, dia bisa kasi aku cucu, keluarganya jelas dan cukup berada, nggak kayak si Tari itu. Bisa bangun perusahaan uang dari mana coba? Jangan-jangan dia ... "
"Selamat siang, Bu. Maaf, apa benar ibu mencari saya? Ada keperluan apa ya?" tanya seorang laki-laki muda dan tampak pada Rohani membuat wanita tua itu bergeming menatap bingung ke arah Nino.
"Kamu siapa ya? Saya tidak mencari kamu. Saya itu mencari menantu saya yang kerja di sini. Dia itu manager di sini, cepat panggilkan dia," ketus Rohani sambil melipat kedua tangannya di depan dada membuat Nino dan karyawati yang tadi memanggil Nino saling tatap dengan wajah bingungnya.
"Tapi saya manager di sini, Bu. Dan saya ... masih lajang, belum menikah. Saya juga tidak kenal ibu, mengapa ibu mengaku-ngaku sebagai mertua saya?" tukas Nino heran campur bingung.
"Apa?" pekik Rohani kaget. "Jangan ngaku-ngaku kamu ya! Saya bisa meminta menantu saya memecat kamu kalau kamu tetap ngaku-ngaku sebagai manager di sini. Dasar, nggak tahu malu!" hardik Rohani yang kini sudah berkacak pinggang membuat beberapa karyawan sampai mendekat, ingin melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Beberapa konsumen pun ikut berdiri tak jauh dari mereka untuk melihat sebenarnya apa yang sedang terjadi.
"Tapi Bu, apa yang disampaikan pak Nino itu benar. Dia manager di sini. Begini saja, kalau boleh tahu, siapa nama menantu ibu itu? Biar kami cek, dia karyawan bagian apa," sela karyawati yang masih setia berdiri di samping Nino.
Rohani mendengkus, lalu ia mengucapkan satu nama yang sontak saja membuat semua karyawan terkekeh geli. Baru saja kemarin nama seseorang yang disebut itu membuat kegaduhan dan kali ini nama itu yang lagi-lagi jadi sumber kegaduhan.
"Maksudnya Ernayanti Kasturi?" tanya karyawati itu memastikan. Lalu dengan pongahnya, Rohani mengangguk pasti membuat semua karyawan tergelak sambil menutup mulut membuat Rohani menatap aneh mereka semua.
"Kenapa kalian pada tertawa? Apa kalian ingin dipecat?" hardik Rohani dengan tampang tak tahu malunya membuat mereka yang sejak tadi berusaha menahan tawa justru tergelak kencang.
"Ya Allah, Bu, Bu, manager di sini itu cuma satu, yaitu pak Nino. Dan asal ibu tahu, nama yang ibu sebutkan itu hanyalah SPG di showroom ini, bukan manager. Kalau ibu tak percaya, ibu bisa tanyakan langsung ke bagian personalia," tukas karyawati yang sejak tadi berada di sana.
__ADS_1
"Nggak, itu nggak mungkin. Kalian pasti berbohong kan. Kalian iri dengan menantuku, iya kan!" hardik Rohani tidak mau terima kebenaran.
"Kayaknya si Erna itu emang ngaku-ngaku ke semua orang sebagai manager, pak. Bapak sudah dengar kan keributan tempo hari, yang mana ada SPG yang membuat keributan dengan calon istrinya pak bos, nah itu si Erna. Dia ngaku-ngaku sebagai manager juga. Malah kemarin sempat dipecat, tapi calon istri pak bos justru memaafkan dan minta jangan dipecat. Jadi dia cuma dikasi surat peringatan aja sama minta maaf langsung ke calon Bu bos. Tapi karena lagi-lagi terjadi keributan di sini akibat ulahnya, entah deh bagaimana nasibnya kelak," celetuk salah satu resepsionis yang baru saja kembali dari toilet.
"Begini saja, bisa panggilkan SPG bernama Ernayanti itu kemari? Sebaiknya ibu ini langsung menyelesaikan kesalahpahamannya pada yang bersangkutan. Tidak enak didengar pelanggan. Jangan sampai pak Jerva mendengar keributan ini, bisa-bisa ... "
"Itu bukannya Erna?" tunjuk seseorang ke arah lift yang baru saja terbuka.
"Iya, kok dia kayaknya habis nangis gitu ya!"
"Erna ... " pekik Rohani senang melihat keberadaan menantunya.
"Ma-ma," cicitnya gelagapan.
"Bu Kayla, ada apa ya? Kenapa muka dia kayak gitu?" celetuk salah seorang karyawan yang kepo.
"Dia lagi-lagi membuat ulah dengan calon Bu bos, ditambah lagi-lagi dia buat keributan karena mengaku-ngaku sebagai manager, jadi kali ini pak Jerva benar-benar marah dan benar-benar memberhentikannya secara tak hormat," tandas Kayla, sekretaris Jervario di JV Showroom membuat semua orang terperangah, termasuk Rohani yang wajahnya telah pucat pasi saat mengetahui kenyataan sesungguhnya.
"Ma, mama, mama nggak papa?" tanya Erna panik, namun belum sempat Rohani menjawab, ia sudah terlebih dahulu kehilangan kesadaran.
...***...
Satu jam telah berlalu dan kini Rohani sudah berada di dalam salah satu ruangan perawatan di rumah sakit. Rohani kembali mendapatkan serangan jantung yang untungnya ringan. Ruangan yang di tempat di rohani bukanlah merupakan ruangan VIP sehingga ia tidak sendirian di dalam sana. Di dalam sana juga tidak terdapat fasilitas sofa seperti ruangan VIP sehingga Erna harus menunggu di kursi yang tepat ada di luar ruangan. Erna yang sudah kelelahan menunggu, lantas menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata. Tak lama kemudian dengan tergopoh-gopoh Shandi pun datang. Ia pun langsung mencecar Erna dengan berbagai macam pertanyaan terutama mengenai penyebab ibunya pingsan di tempatnya bekerja. Erna hanya bungkam ia merasa malu karena telah mengaku-ngaku sebagai staf manager di JV Showroom dan kini bahkan telah dipecat akibat kebodohannya sendiri.
Satu jam kemudian, akhirnya Rohani sadar lalu menceritakan semuanya pada Shandi. Mata Shandi terbelalak, ia pun menatap Erna dengan tajam. Bagaimana mereka selama ini telah ditipu mentah-mentah oleh wanita itu. Seandainya Erna tidak sedang hamil saja, tentu ia sudah mengusirnya karena telah menipu mereka selama ini.
Erna hanya terdiam membisu. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat. Jadi ia memilih pulang untuk menenangkan diri.
Sementara itu, di rumah Jeanara, Mentari tampak tergelak kencang saat mendengar cerita Jeanara tentang apa yang terjadi hari ini di showroom milik saudara kembarnya itu. Bukan Jervario yang bercerita, tapi Kayla yang sebenarnya teman sekolahnya dulu. Bahkan kini mereka masih berteman baik karena itu dengan senang hati Kayla menceritakan apa yang sudah terjadi.
__ADS_1
"SPG aja ngaku-ngaku sebagai manager, sungguh nggak tahu malu. Itu si mantan mertuamu itu juga, pasti malunya sampai ke ubun-ubun. Udah sok-sokan mau pecat karyawan Jerva, eh taunya menantunya yang justru dipecat. Wkwkwkwk ... benar-benar deh, nggak habis pikir ada orang yang urat malunya kayak udah putus semua kayak gitu," tutur Jeanara sambil tergelak kencang.
"Mereka selalu aja merasa hebat, merasa paling tinggi derajatnya, sekalinya jatuh, sakit kan. Sampai pingsan gitu. Entah pingsan beneran atau cuma pura-pura karena kadung malu."
"By the way, Ri, aku salut sama loe bisa bertahan selama 5 tahun dengan mertua model kayak gitu."
Mentari terkekeh, "iya ya! Mungkin kalau ada penghargaan sebagai menantu tersabar, gue pasti udah jadi pemenangnya ya nggak, Je!"
"Yo'i, bener banget. Gue bener-bener salut sama loe."
Sedang asik mengobrol sambil menimang-nimang baby Andara, putri dari Jeanara dan Abdi, tiba-tiba ada suara bariton yang menginterupsi obrolan mereka.
"Hai calon istri," bisiknya tiba-tiba di samping telinga Mentari. Jeanara yang mendengar kata-kata saudara kembarnya itu sontak saja tergelak kencang, berbeda dengan Mentari yang justru bersungut-sungut.
"Jerva, ih, nyebelin banget sih, datang-datang ngagetin!" sungut Mentari yang justru membuat Jervario tersenyum lebar kemudian ia mengecup pipi Mentari secepat kilat membuat wanita cantik itu membeku.
"Cie ... cie ... udah berani cipika cipiki nih! Halalin dong, Va, halalin, biar bebas merdeka mau apa aja," seloroh Jeanara membuat Jervario makin tergelak, sedangkan Mentari justru menunduk dengan muka memerah dan bibir mengerucut.
"Bantuin makanya, jangan omdong aja, Jea! Susah bener soalnya luluhin hati sahabat kamu yang cantik ini," imbuh Jervario yang kini sudah duduk di samping Mentari. Bahkan tanpa sungkan ia telah melingkarkan lengannya di pinggang Mentari lalu meletakkan dagunya di atas pundak Mentari, sedangkan tangan lainnya sibuk menjawil pipi Andara yang sedang terjaga sambil memandang Mentari dan Jervario.
"Baby Andara bantuin uncle juga dong, bujuk onty Riri biar mau nikah sama Uncle," ucap Jervario membuat Mentari menoleh dengan mata mendelik, tapi Jervario justru tersenyum dengan lebarnya. Jarak mereka yang terlalu dekat membuat debaran jantung keduanya berdetak lebih cepat. Keduanya bahkan sampai kesulitan menelan ludah.
"Aku masih menunggu keputusan kamu, mau ya nikah sama aku!" bisik Jervario pantang menyerah.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...