Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
EMPAT PULUH DUA


__ADS_3

Mentari baru saja tiba di ruangannya. Saat baru saja ia mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya, tampak Belinda masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ada apa, Bel?" tanya Mentari sambil menatap lekat pada paper bag yang dipegang Belinda.


"Ini Bu, tadi ada di meja kerja saya. Di sini ditulis untuk ibu," ujar Belinda seraya menyodorkan sebuah paper bag.


"Apa isinya?" tanya Mentari penasaran. Ia tak boleh sembarangan menerima sesuatu. Bisa saja itu merupakan sesuatu yang berbahaya jadi ia harus selalu hati-hati.


"Isinya makanan, Bu."


"Makanan?" beo Mentari bingung. "Coba bawa kemarin!" titahnya.


Belinda pun mendekat dan meletakkan paper bag itu di hadapan Mentari. Mentari pun membuka paper bag berwarna coklat tersebut. Ternyata benar, di dalamnya berisi makanan. Sebuah stereofom berisi mie ayam Bandung dan beberapa potong cheesecake dan sebotol susu kedelai. Di dalam sana juga terdapat sebuah kartu. Mentari pun segera mengambilnya dan membaca isinya.


Dear Mentariku.


Hai, aku yakin kau tahu siapa aku.


Oh ya, aku membeli sarapan pagi ini di tempat biasa langganan kita. Pasti kamu suka.


Selamat menikmati Mentariku.


Semoga harimu indah dan menyenangkan.


Dari seseorang yang selalu mencintaimu.


Mata Mentari seketika terbelalak. Tak lama kemudian, terdengar gelak tawa dari bibir Mentari. Belinda hanya menatap Mentari dengan ekspresi bingung. Benaknya bertanya, sebenarnya dari siapa makanan tersebut hingga membuat atasannya itu tergelak kencang.


Mentari benar-benar tak habis pikir, betapa mantan suaminya itu tak tahu malu dan tak tahu diri. Dengan percaya dirinya ia mengirimi Mentari sarapan pagi berikut sebuah ucapan dan pernyataan cinta. Sebuah kesia-siaan yang hakiki.


"Emangnya aku nggak mampu beli sendiri? Setelah menyia-nyiakan lalu kau ingin menarik perhatianku kembali? Berapa bodohnya aku kalau mau kembali padamu. Meskipun laki-laki di dunia ini hanya tersisa dirimu pun aku tak sudi kembali," decih sinis Mentari.


Meskipun ia menyukai makanan itu, tapi ia tak sudi sama sekali menyantapnya.


"Bel, ambil untuk kamu saja makanan ini. Kalau kamu nggak mau, kasiin saja ke orang lain," pungkas Mentari yang langsung diiyakan Belinda.


Ia pun kembali mengemas makanan tersebut. Karena Belinda sudah sarapan, ia pun tak berminat memakan makanan tersebut. Belinda pun menyimpan makanan tersebut di atas mejanya.

__ADS_1


Saat sedang mengerjakan pekerjaannya, seorang staf bagian akunting datang untuk menyerahkan laporan yang sempat Mentari minta revisi. Sebelum staf tersebut beranjak, Belinda pun menyerahkan paper bag berisi makanan tersebut kepada staf akunting tersebut. Dia yang menang belum sempat sarapan pun menerimanya dengan girang dan segera membawanya.


"Apaan tu, Ci?" tanya rekan kerja Cici, staf akunting perusahaan tersebut.


Cici pun mengangkat ke atas paper bag itu memamerkan pada staf lainnya.


"Dikasi mbak Belinda. Katanya dari Bu bos. Bu bos dapat kiriman dari fansnya terus dikasiin ke aku. Duh, pas banget, perut aku lagi lapar, belum sempat sarapan. Rejeki anak sholehah,"serunya antusias membuat yang lainnya berseru girang.


"Apaan isinya? Wah, cicip dong, kayaknya enak," ujar salah satu rekannya.


"Silahkan aja. Rejeki mesti dibagi bukan, biar berkah," ujar Cici membuat yang lain pun turut mendekat. Ada yang memang ingin mencicipi tapi ada juga yang hanya ingin melihat.


"Bu bos hebat banget ya, dikelilingi banyak cogan. Masih penasaran sama mantan lakinya."


"Ho'oh, kok bisa-bisanya ya cerein Bu bos yang cantik dan baik, kaya juga kayak gitu. Kayaknya ada yang salah sama otak mantan lakinya ya!"


"Ssst ... udah, udah, kita di sini buat kerja, bukan gosipin Bu bos. Entar Bu bos marah bisa kacau deh. Hati-hati sama marahnya orang baik dan orang diam lho, sekalinya marah, bisa hancur segalanya," timpal staf lainnya.


Tanpa mereka sadari, ada seorang karyawan yang duduk dengan wajah tertunduk dalam. Hatinya begitu kecewa saat pemberiannya justru diberikan kepada orang lain. Perasaannya begitu kacau. Harapannya untuk meraih hati Mentari kini kian menjauh. Mentari kini semakin tak tergapai. Apakah mungkin ia bisa meriah Mentari kembali, sedangkan kesempatan untuk mendekat saja ia tak punya. Mentari benar-benar tak memberikan sedikitpun celah untuknya mendekat. Mungkin apa yang rekan kerjanya katakan itu benar, hati-hati dengan marahnya orang baik dan orang diam, sebab sekalinya marah, maka segalanya akan hancur, seperti apa yang ia alami saat ini.


...***...


Mata Mentari membeliak saat menerima pesan dari Jervario. Mentari mencak-mencak sambil mengomel-ngomel setelah menerima pesan tersebut.


"Ni duda udah gila kali ya, seenaknya nyuruh orang bawain makan siang. Minta beliin karyawannya kenapa? Dia kan pasti punya aspri, kenapa nggak minta asprinya aja? Atau delivery order bisa bisa pilih suka-suka dia. Emang aku ini siapa? Seenaknya nyuruh orang," dumel Mentari sambil mengetikkan balasan untuk Jervario.


[OGAH!!!]


tring ...


[Oh, kamu ingin aku makan siang di sana aja ya! Oke!]


Mentari membulatkan matanya saat membaca pesan balasan dari Jervario yang makin semena-mena.


[Eh, siapa yang mau makan siang bareng kamu di sini? GR!]


[Oh kamu mau ajakin aku makan siang di luar? Ayo!]

__ADS_1


"Astaga, si duda makin lama makin gila! Awal-awal kayak triplek dilaminating, tapi kok makin ke sini makin ... makin apa ya? Aaaargh ... pusing!"


"Bu, ibu kenapa? Apa terjadi sesuatu?" seru Belinda dengan wajah paniknya. Saat ia sedang memeriksa beberapa berkas, ia mendengar pekikan dari dalam ruangan Mentari dan Belinda sangat tahu itu merupakan suara atasannya. Belinda pun panik dan langsung masuk ke ruangan sang bos.


"Belinda . Ah ... tidak, aku tidak apa-apa. Kembalilah ke mejamu," tukas Mentari sambil mengibaskan tangannya.


Mentari menghela nafasnya setelah Belinda keluar dari ruangannya.


"Semua gara-gara si motor matic itu."


[Jadi mau yang mana? Mau bawakan aku makan siang? Mau aku ke sana? Atau aku jemput seperti kemarin dan makan di luar?]


Kembali, sebuah pesan masuk ke ponsel Mentari. Membuat Mentari mendengkus.


[Yayaya, aku akan datang ke sana bawa makan siang. PUAS!!!]


[Puas sekali janda kesayanganku!]


Gubrak ...


...***...


"Sep, malam ini ada tamu dari luar negeri lho! Bule-bule tajir."


"Oh ya?"


"Iya. Aku pernah tuh sampai dapat puluhan juta dalam semalam."


"Cuma temenin minum bisa dapat puluhan juta? Wow, kira-kira, aku diajak nggak ya?"


"Aku yakin, kamu bakal diajak. Apalagi kamu masih baru, biasanya mereka Berani bayar sampai berkali lipat. Yang penting, kamu dandan yang paripurna malam ini. Siapa tahu, salah satu dari mereka kecantol sama kita terus mau jadiin kita pacar, dapat pacar bule, tajir melintir, enak tahu."


"Aku mau banget, Mel. Semoga ya, Mel. Aku nggak sabar lagi pingin punya pacar orang kaya. Aku sebel banget soalnya sama mantan kakak ipar aku itu, mentang kaya jadi sok."


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2