Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
SERATUS SEMBILAN


__ADS_3

"Fatma," panggil Shandi pada Fatma yang sedang mengajari Rafi menulis.


"Iya, tuan," sahut Fatma seraya mendekat membuat Shandi mendelik.


"Tuan?"


"Eh, anu, mas, maaf," cicit Fatma sambil menundukkan wajahnya dengan wajah memerah. Shandi menghela nafasnya, sambil menggelengkan kepala.


"Aku kan sudah bilang, biasakan memanggilku mas. Apalagi sekarang kau adalah istriku walaupun masih sebatas status, tapi aku sungguh-sungguh akan kembali menikahimu setelah anak itu lahir. Aku menikahimu bukan sekedar untuk memberi anak itu status, tapi benar-benar berniat menjadikannya anakku, begitu juga dirimu, aku serius ingin menjadikanmu sebagai istriku, jadi tolong, biasakan itu. Aku tidak mau, ada yang menggunjing kita dan menyadari kalau anak itu bukanlah anakku. Walaupun anak itu bukanlah anak haram, tapi anakmu dari suamimu terdahulu, tapi tidak ada yang tahu mengenai hal itu. Nanti yang ada mereka mengira, anak itu adalah anak hasil hubungan gelap kita sebelum menikah, kau mengerti kan maksudku?" tukas Shandi dengan sorot mata teduhnya membuat Fatma mengangguk.


Ya, sudah semenjak 3 bulan yang lalu Shandi menikahi Fatma. Bukan pernikahan atas dasar cinta, tapi keinginan untuk melindungi kedua buah hati Fatma.


3 bulan yang lalu, Shandi merasa curiga dengan perut Fatma yang kian membuncit. Tepatnya seminggu setelah ibunya meninggal. Shandi pun menginterogasi Fatma sebab ia takut menimbulkan berbagai macam spekulasi di dalam masyarakat. Apalagi mereka hanya tinggal berempat, yaitu dirinya, Septi, Fatma, dan Rafi. Sebenarnya Shandi tidak membutuhkan tenaga Fatma lagi sebab Rohani telah tiada, tapi ia tak tega sebab Fatma tidak memiliki tempat tinggal dan pekerjaan. Jadi ia membiarkan saja Fatma di rumah itu.


Shandi benar-benar terkejut, ternyata Fatma sedang hamil. Awalnya Shandi marah karena Fatma tidak jujur, namun Fatma menceritakan kalau ia pun baru tahu belum lama ini sebab selama ini ia tidak mengalami tanda-tanda kehamilan sama sekali. Setelah mengetahui fakta itu, Shandi pun berniat menikahi Fatma, tujuannya tentu untuk melindungi Fatma dan anak dalam kandungannya dari berbagai gunjingan yang bisa saja terjadi. Namun pernikahan ini tidaklah seperti pernikahan umumnya, tentu itu karena keadaan Fatma yang sedang hamil anak orang lain. Alhasil, meskipun mereka telah menikah, tetapi mereka tetap tidur di kamar terpisah. Namun Shandi berjanji akan memperlakukan Fatma sebagaimana seorang istri, pun anaknya, ia akan menganggap anak-anak Fatma seperti anaknya sendiri dan ia akan menikahi Fatma kembali setelah ia melahirkan.


"Ma-maaf," cicit Fatma pelan membuat Shandi menghela nafasnya.


"Sudahlah. Ini, ambillah. Jangan diam saja kalau susumu habis. Aku ingin anak itu tumbuh sehat tanpa satu kurang apapun. Jadi jangan sungkan untuk meminta, begitu juga susu Rafi. Rafi masih masa dalam masa pertumbuhan, ia harus makan makanan yang bergizi dan minum susu agar ia tumbuh dengan sehat."


"Baik, mas. Terima kasih," ujar Fatma dengan mata berkaca-kaca. Ia tak menyangka, majikan yang telah menjadi suaminya itu akan memperlakukan dirinya juga anaknya dengan begitu baik.


"Oh ya, yang berminat over kredit rumah ini akan datang sore nanti. Semoga saja mereka mau jadi kita bisa segera mencari rumah baru. Tidak apa kan kalau rumahnya nanti lebih kecil dari ini?" tanya Shandi yang berniat over kredit rumah itu. Ia sudah tak sanggup membayar kredit rumah itu. Apalagi Septi, semenjak keguguran, Edward benar-benar membuangnya dan tak pernah mengiriminya uang lagi. Jadi Shandi berniat membeli rumah baru menggunakan uang hasil over kredit itu.


"Fatma nggak papa kok mas. Yang penting mas nggak perlu pusing lagi memikirkan biaya kredit rumah," jawab Fatma lembut membuat Shandi tersenyum dan mengusap pipinya.


Sontak saja pipi Fatma bersemu merah mendapatkan perlakuan itu. Shandi memang tak berani melakukan lebih. Ia sedang berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. 2 kali gagal dalam berumah membuatnya berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Apalagi keberadaan Fatma dan Rafi telah menjadi obat dalam kehidupannya yang sepi. Ia akan berusaha untuk membuka diri untuk Fatma dan dia pun akan menganggap anak-anak Fatma seperti anaknya sendiri. Ia menganggap kehadiran Fatma dan anak-anaknya sebagai anugerah bagi dirinya yang tidak bisa memiliki keturunan. Dia akan menjaga anak-anak itu sebaik mungkin seperti anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


...***...


"Mami dedek Agya sama Ayla nangis," teriak Asha sambil berlarian menuruni anak tangga mencari keberadaan sang ibu yang sedang menyiapkan makan makan siang sebab sebentar lagi Jervario akan pulang. Semenjak kedua buah hatinya lahir, Jervario lebih suka makan siang di rumah. Alasannya karena ia ingin memanfaatkan waktu sebaik-baiknya bersama keluarganya.


Mentari yang mengetahui itu gegas mencuci tangan dan mengelapnya dengan lap tangan yang tergantung di dekat wastafel.


"Kok bisa nangis sayang?" tanya Mentari sambil menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.. Sebenarnya Mentari memiliki seorang baby sitter untuk membantunya mengurus kedua buah hatinya, tapi hari ini baby sitternya tidak bisa datang sebab ada keluarganya yang sakit di kampung.


"Tadi dedek Ayla yang duluan nangis, Mi, terus dedek Agya bangun ikutan nangis," adu Asha yang memang tadi berada di kamar orang tuanya sambil menggambar. Mentari memang meminta Asha belajar di kamarnya saja agar bayi yang baru berusia 3 bulan itu tidak benar-benar ditinggal sendirian.


Bayi kembar yang diberi nama Agya Castello Tjokroaminoto dan Ayla Castella Tjokroaminoto itu kini telah tampak anteng setelah sebelumnya diberi ASI yang telah dimasukkan ke dalam dot. Saat sedang sibuk atau saat kedua-duanya menangis, Mentari memang lebih memilih memberikan ASI menggunakan dot, sebab ia masih kesulitan bila harus menyusui langsung dua orang bayi.


Ternyata Ayla terbangun karena merasa lapar, sedangkan Agya yang tidur di box bayi sebelahnya pun ikut menangis karena terkejut. Saat keduanya sedang menyusu, terdengar suara deru mobil memasuki pekarangan rumah. Mentari tahu, itu suara mobil suaminya. Tak sampai 10 menit, muncullah Jervario di dalam kamar dengan senyum merekah. Ia pun gegas ke kamar mandi untuk mencuci tangan, muka, dan kakinya. Setelah itu, barulah ia mendekati kedua bayinya yang baru saja selesai menyusu.


"Halo, sayang," sapanya pada sang istri sambil mengecup dahinya. "Halo anak-anak papi," sapa Jervario pada anak-anaknya. Ia lebih dahulu mengecup dahi Asha, kemudian disusul mengecup dahi Agya dan Ayla bergantian.


"Wah, kak Asha pinter banget udah bisa jagain adek," puji Jervario membuat senyum Asha makin lebar.


"Iya dong kan dengan adik harus sayang, itu kata mami. Bu guru juga bilang gitu." Ucap Asha bangga. Mentari lantas mengusap kepalanya dengan sayang.


"Kita makan dulu yuk, sayang, bang." Ajak Mentari yang langsung diangguki oleh Jervario dan Asha.


Setelah selesai makan siang, tiba-tiba terdengar suara keributan dari luar rumah Jervario dan Mentari. Keduanya pun saling menoleh, merasa bingung karena keributan itu terdengar jelas berasal dari depan rumahnya. Tak lama kemudian, sekuriti yang bertugas menjaga rumah itu masuk dengan tergopoh-gopoh.


"Anu tuan, di depan ... banyak wartawan," adu sekuriti kediaman Jervario.


"Wartawan? Untuk apa mereka ke sini?" tanya Jervario heran. Pun Mentari yang ikut penasaran.

__ADS_1


"Saya juga nggak tahu tuan. Mereka cuma bilang mau minta klarifikasi foto-foto Anda yang sedang beredar."


"Foto suami saya? Foto apa, bang?" tanya Mentari penasaran.


"Abang juga nggak tahu, Yang."


Tak lama kemudian, terdengar suara dering ponsel.l, baik di ponsel Mentari maupun ponsel Jervario.


"Halo," jawab Jervario pada panggilan dari Dario.


"Jer, loe buka link yang gue kirim. Gawat, loe ada masalah besar."


"Masalah apa?"


"Liat aja dulu, loe pasti shock. Kalau bisa Mentari jangan ... "


"Abang ... " belum sempat Dario menyelesaikan kalimatnya, Mentari telah terlebih dahulu berteriak membuat Jervario pun segera menghampiri istrinya. "Tolong jelaskan, apa maksudnya foto ini? Dan ... siapa dia?" Mentari menyodorkan ponselnya dan menunjukkan foto-foto yang tengah viral saat ini.


Jervario mengerutkan keningnya, "sayang, jangan salah paham. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan," sergah Jervario tak ingin istrinya salah paham.


Mentari mendelik tajam membuat Jervario menelan ludahnya kasar.


"Sayang, itu ... "


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2