Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
ENAM PULUH SATU


__ADS_3

Tak terasa setelah melalui perjalanan udara hampir 16 jam lamanya, akhirnya Mentari dan Jervario telah tiba di negara yang terkenal dengan menara Pisa-nya. Selain itu, negara Italia memiliki julukan Negeri Sepatu Boots atau Lo Stivales sebab bentuk geografis negara tersebut yang menyerupai sepatu boots yang sedang menendang sebuah kerikil bila dilihat dari peta.


Setibanya di Italia, mobil jemputan dari hotel yang telah Jervario booking sebelumnya tampak telah menunggu kedatangan mereka. Mereka disambut dengan ramah dan dipersilahkan masuk ke dalam mobil yang telah mereka bukakan.


Mereka tiba di hotel saat sudah tengah malam. Oleh sebab itu, Jervario meminta Mentari membersihkan diri terlebih dahulu setelah itu beristirahat. Mereka akan menghabiskan bulan madu di negara itu selama 1 Minggu. Jadi tak apalah mereka melewatkan malam pertama mereka. Bukankah masih ada hari esok. Lagipula, apa enaknya melakukan malam pertama di saat fisik sedang merasa begitu lelah. Tentu kegiatan indah dan nikmat tersebut harus dilakukan dengan kondisi fisik dan stamina yang luar biasa agar hasilnya pun luar biasa. Meskipun Jervario sudah lama tidak menikmati kenikmatan pergulatan panas di atas ranjang, tapi ia masih dapat mengontrol dirinya.


"Kamu capek?" raya Jervario seraya membaringkan tubuhnya di samping Mentari.


Meski ini malam keduanya tidur di ranjang yang sama dengan Jervario, tapi rasa gugup itu masih saja mendominasi. Mentari menunduk, mengalihkan pandangannya agar tidak bersitatap dengan Jervario. Ia tak mau Jervario memergoki wajahnya yang bersemu merah karena melihat dada Jervario yang bidang dan pelukable.


"Lumayan," cicitnya namun masih terdengar jelas di telinga Jervario karena suasana yang begitu sunyi.


"Mau ku pijit?" tawar Jervario yang sebenarnya tulus, namun Mentari justru berpikir itu hanya modus.


"Ah, ng-nggak usah. Aku-aku nggak papa kok. Dibawa tidur juga mendingan," tukas Mentari menolak secara halus.


Jervario tersenyum lalu tangannya terulur mengusap pelan pipi Mentari yang halus dan mulus tanpa polesan.


Jantung Mentari makin tak karu-karuan. Apalagi saat Jervario mendekatkan wajahnya kemudian mencuri satu kecupan tepat di atas bibirnya.


"Ya udah, kalau gitu kita tidur ya! Kamu pasti capek banget. Aku juga sih," tuturnya lembut. Lalu Jervario merentangkan tangannya dan menyelipkannya di bawah kepala Mentari. Di bawanya tubuh Mentari ke dala dekapannya. Jantung keduanya berpacu dengan begitu kencang. Mereka pun dapat saling merasakan degupan luar biasa di jantung masing-masing. Jervario mengecup dahi Mentari lembut kemudian mengucapkan selamat malam sebelum keduanya benar-benar terbuai dalam lelapnya.

__ADS_1


...***...


"Good morning, istri." Mentari yang baru saja mengerjapkan matanya sedikit terpana melihat sosok laki-laki yang kini bergelar sebagai suaminya tersebut telah membuka mata dengan wajah yang terlihat sudah sangat segar.


"Morning too, bang. Eh, Abang udah mandi?" tanya Mentari sembari mengucek matanya yang masih belum benar-benar terbuka lebar.


"Hmmm ... "


"Emang ini udah jam berapa?"


"Ini udah jam 9 pagi."


"Apa?" seru Mentari terkejut. Ia pun segera menegakkan punggungnya sambil merapikan surainya yang berantakan. Ini merupakan kali pertama ia bangun sesiang itu. Mungkin efek terlalu lelah atau mungkin juga ini pengaruh adaptasi waktu membuat Mentari tak sadar bila sekarang sudah cukup siang.


Mentari pun mengangguk dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Tak sampai 30 menit, Mentari telah keluar dengan memakai. kimono handuk yang panjangnya hanya menutupi separuh pahanya. Jervario yang tadinya sedang bermain ponsel sampai tak bisa mengalihkan pandangannya dari tubuh molek nan segar Mentari. Hasratnya yang lama terpendam seketika terpantik. Tapi ia harus bersabar dahulu sebab untuk menuntaskan hasrat bukankah memerlukan tenaga yang mumpuni. Dan untuk memenuhinya, ia dan Mentari harus makan yang cukup terlebih dahulu.


Jervario makin kesulitan menelan ludahnya saat melihat Mentari perlahan memakai **********. Apalagi saat tubuh Mentari sedikit membungkuk membelakanginya untuk mengenakan segitiga pengaman berenda berwarna merah. Kepala Jervario mendadak pening l. Jervario menatap miris golok naganya yang sudah membesar di dalam sana. Dia seakan sudah tak sabar ingin masuk ke dalam sarungnya yang hangat.


"Sabar ya golok! Kita makan dulu, setelah itu baru kita hajar si sarung sampai kamu benar-benar puas. Aku juga sudah tak sabar ingin membenamkan kamu di dalam sana," tuturnya pada sang golok naga yang sudah tak sabar ingin menjajah sang gua kenikmatan milik istri tuannya.


"Kamu ngomong sama siapa sih, bang?" tanya Mentari yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya membuat laki-laki itu tersentak gelagapan.

__ADS_1


"Aku ... aku nggak ngomong apa-apa kok," kilah Jervario. Mana mungkin ia berkata jujur kalau tadi dia sedang berbicara dengan golok naganya yang sudah tak sabar ingin masuk ke sarungnya dan menjajah lubang kehangatan itu.


"Oh ya? Tapi perasaan tadi aku dengar kamu sedang ... "


"Kita makan dulu yuk. Tadi aku udah pesan sarapan dengan room servis," ajaknya untuk mengalihkan perhatian Mentari agar tidak membahas mengenai ia yang tadi berbicara sendiri.


...***...


Usai makan, mereka duduk-duduk di balkon kamar hotel. Balkon itu tepat menghadap ke danau Como. Danau Como sendiri merupakan salah satu danau terbesar dan terdalam di Eropa. Danau Como yang indah sering dimanfaatkan sebagai destinasi wisata banyak orang maupun pasangan yang ingin berbulan madu seperti Jervario dan Mentari. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan di sini, mulai dari berolahraga air, bersepeda, hingga hunting foto.


Jervario meminta Mentari duduk sambil bersandar di dadanya. Awalnya mereka hanya berbincang ringan, tapi suasana jadi memanas saat Jervario pelan-pelan mendaratkan bibirnya di tengkuk Mentari. Mentari menegang seketika, nafasnya tercekat, bulu-bulu di sekujur tubuhnya seketika meremang. Apalagi saat tangan Jervario yang melingkari perutnya bergerak perlahan masuk ke dalam kaos yang dikenakan Mentari. Tangan itu mengusap pelan perut Mentari. Dengan gerakan seduktif, membuat desir-desir halus kian menjalar.


Sesekali Mentari merintih dengan mata terpejam saat Jervario menghisap kulit lehernya, meninggalkan jejak basah khas kepemilikan. Mentari hanya bisa meremas ujung kaosnya yang perlahan tersingkap karena jemari-jemari kokoh Jervario yang kian merambat ke atas hingga berhenti tepat di salah satu penutup squishy jumbo miliknya. Kemudian jemari itu perlahan menyelinap ke dalamnya dan bermain di salah satu kismis Mentari. Jemari itu memainkan kismis itu dengan gerakan memilin membuat Mentari tak mampu menahan ******* yang keluar dari bibir berisi miliknya.


"Ahhh ... "


Mendengar itu, hasrat Jervario pun kian terpancing, kemudian ia ...


...***...


Maaf gantung, anak othor tetiba sakit gigi jadi rewel. Entar malam othor lanjut lagi ya! 🙏😁

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2