Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
DELAPAN PULUH DUA


__ADS_3

Brakkkk ...


"Apa-apaan ini, An? Malu-maluin nama keluarga saja kalian, hah!" bentak Habibie pada Andrian yang baru saja tiba di rumahnya. Ia langsung terbang ke Indonesia setelah mendapatkan telepon dari sang ayah setelah mendampingi putranya, Affan melakukan operasi transplantasi ginjal.


Tentu saja ginjal yang diambil adalah milik ibunya sendiri. Tak ada pilihan lain bagi Milea. Ia begitu mencintai Andrian dan tak ingin diceraikan. Jadi ia terpaksa merelakan salah satu ginjalnya untuk didonorkan dengan putra kandungnya sendiri.


Setelah operasi berjalan lancar, Andrian pun gegas melakukan penerbangan untuk kembali ke Indonesia sebab di telepon Habibie terdengar sedang marah besar. Entah apa penyebabnya, ia belum tahu apa-apa.


"Apa ini, pa? Kenapa papa marah-marah sama aku?" tanya Andrian heran sambil menatap lekat selembar kertas yang terkapar di atas meja kerja papanya.


Glekkk ...


Adrian tertegun setelah membaca kata demi kata dalam surat tersebut. Ternyata itu adalah surat panggilan dari kepolisian. Ternyata mantan suami dari istrinya tersebut benar-benar merealisasikan perkataannya. Ia benar-benar menempuh jalur hukum untuk memberikan pelajaran pada mereka semua. Ia pikir, semua yang dikatakan Jervario hanya sekedar ancaman belaka. Sebab seminggu ini semua tampak biasa saja dan tenang-tenang saja. Seperti tak ada pergerakan apapun. Tapi nyatanya, apa yang dikatakan Jervario benar-benar ia buktikan dan inilah buktinya, selembar kertas panggilan dari kepolisian Jakarta pusat untuk dirinya dan sang istri. Entah bagaimana dengan kedua orang tuanya, apakah juga dilaporkan atau tidak. Ia tidak tahu.


Andrian memejamkan matanya. Ia tahu, disini ia salah. Tapi ini ia lakukan dengan terpaksa. Ia hanya ingin menyelamatkan nyawa sang anak. Ia memang egois karena tidak memikirkan nasib Asha bila salah satu ginjalnya diambil. Ia juga tidak terpikir konsekuensi dari perbuatannya tersebut. Ia pikir, rencana mereka akan berjalan mulus dan tanpa hambatan sama sekali. Tapi ia lupa, manusia bisa berencana tapi Allah lah yang menentukan. Dan kini ia benar-benar menyesali perbuatannya. Apalagi ia ternyata telah ditipu mentah-mentah oleh istrinya sendiri.


"Apa sebenarnya yang sudah kalian lakukan sampai putra pemilik TJ Group melaporkan kalian ke polisi, hah? Tidak mungkin kan dia melaporkan kalian begitu saja tanpa alasan. Kita tidak pernah bersinggungan dengan mereka. Bisnis kita berbeda. Jadi tak mungkin mereka menuntut karena masalah perusahaan. Jelaskan pada papa, Andrian! Jangan hanya bungkam!" bentak Habibie sambil menggebrak meja kerjanya. Nafasnya menggebu. Ini pertama kalinya dalam seumur hidupnya anggota keluarganya harus berurusan dengan polisi. Dan yang lebih memalukan ini merupakan ulah perbuatan anak dan menantunya. Entah apa yang sudah dilakukan suami istri tersebut sehingga harus berurusan dengan pengusaha lain dari ibu kota.


Andrian menelan ludahnya kasar, kemudian menunduk.


"Pa, sabar! Jangan marah-marah! Ingat kondisi jantungmu. Kita dengarkan dulu penjelasan Andrian. Bisa jadi ini hanya kesalahpahaman saja." Ibu Andrian, Anita, mencoba menenangkan Habibie sambil mengusap punggungnya.


Habibie menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.


"Sekarang, jelaskan sejelas-jelasnya, jangan ada yang ditutupi!" titah Habibie yang mulai tenang.


Andrian lantas mengangkat wajahnya kemudian mengangguk. Ia pun mulai menceritakan segalanya tanpa ada yang ditutupi sedikit pun.


"Bodoh kau Andrian. Bodoh, sangat bodoh. Inilah yang membuat papa dan mama menentangmu menikahi Milea itu dulu. Sebab mama dan papa dapat melihat dia bukanlah perempuan baik-baik. Dia tak lebih dari perempuan egois. Kau lihat sendiri, bagaimana ia meninggalkan anak dan suaminya hanya demi menikah denganmu. Dia bukan hanya istri yang buruk, tapi ibu yang sangat buruk. Dan kini, hanya karena tak ingin kesenangannya terganggu, ia bahkan rela berbohong dan mengorbankan putrinya yang masih sangat kecil untuk dijadikan pendonor. Ayah mana yang tak marah saat anaknya yang masih begitu kecil harus diambil salah satu organ pentingnya untuk orang lain? Bagaimana bila yang terjadi sebaliknya, Affan yang mereka korbankan untuk Putri mereka, apa kau rela begitu saja, hah?"


Andrian menggeleng, tentu ia takkan rela melihat anaknya menderita karena salah satu organ pentingnya didonorkan pada orang lain meskipun itu saudara seibu mereka sendiri.


"Kau tak rela bukan? Begitu juga mereka. Seharusnya kau berpikir panjang dan tidak mengikuti rencana gila istrimu itu."

__ADS_1


Habibie menghela nafasnya, "jadi bagaimana keadaan Affan saat ini?"


"Alhamdulillah, operasi berhasil tapi Affan masih dalam masa observasi, pa."


"Sebenarnya papa ingin memintamu menceraikan Milea, tapi setelah apa yang dia lakukan, papa serahkan semuanya padamu. Dia benar-benar ibu yang buruk. Papa sama sekali tidak respek dengan dirinya."


"Dimana-mana, seorang ibu bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk anak-anaknya, tapi istrimu sungguh keterlaluan. Ibu yang bukan siapa-siapa gadis kecil itu saja merasa sakit hati, apalagi ayahnya yang sudah berjuang untuk merawat dan membesarkannya selama ini. Mama benar-benar kecewa dengan istrimu itu, Yan," ujar Anita yang memang benar-benar merasa kecewa dengan perbuatan anak dan menantunya.


"Papa harap, kau selesaikan masalah ini sesegera mungkin. Papa tidak mau ikut campur. Bila kalian memang harus merasakan dinginnya lantai di balik jeruji besi, itu sudah jadi risiko kebodohanmu yang mau-mau saja menjalankan rencana gila istrimu itu," ketus Habibie dengan wajah masam.


Ia benar-benar kecewa dengan kebodohan putranya tersebut. Entah karena terlalu mencintai istrinya atau terlalu menyayangi anaknya, sehingga dengan bodohnya Andrian mau menjalankan rencana gila yang akhirnya akan menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam penjara.


Andrian hanya mengangguk lesu, ia pun bingung harus melakukan apa. Ia lantas mengambil ponselnya dan menghubungi pengacaranya.


...***...


Seminggu telah berlalu semenjak pertama kali diketahuinya kehamilan Mentari. Saat ini mereka masih di rumah sakit Mounth Elisabeth sebab Mentari masih harus melakukan bed rest total. Kandungannya sangat lemah sehingga harus melakukan perawatan dan observasi lebih lanjut. Setelah keadaan Mentari dinyatakan aman, barulah mereka akan pulang ke Indonesia.


Karena keadaan Mentari yang belum stabil akhirnya keluarga besarnya lah yang datang menyusul ke Singapura. Mereka belum tahu perihal perbuatan Milea yang hampir saja menjadikan Asha sebagai donor ginjal bagi putranya. Jervario memang sengaja belum menceritakannya karena ia masih ingin fokus mengurus Mentari. Jervario berencana menceritakannya secara langsung agar tidak menimbulkan keributan.


"Wa'alaikum salam," sahut Mentari dan Jervario bersamaan.


"Mama, papa, Jea, dan Kak Abdi, kok kalian tiba-tiba ada di sini?" cetus Mentari membulatkan matanya. Saat ini ia sedang makan siang dengan disuapi oleh Jervario. Mentari sudah menolak dan ingin makan sendiri, tapi Jervario kekeh ingin menyuapinya. Akhirnya Mentari hanya bisa menghela nafas patuh.


"Surprise dong," seru Jeanara heboh. "Yeay, akhirnya sahabat plus kakak ipar aku hamidun juga. Jadi seneng deh. Terbukti kan, bibit sodara kembar aku tuh top cer pake banget," ucap Jeanara tanpa filter membuat Nanda mencubit pinggangnya.


"Mama apa-apaan sih? Sakit tau ma dicubit," cebik Jeanara.


"Mulut kamu itu bisa dikontrol sedikit nggak sih!" Nanda memelototi anaknya yang memang dari dulu selalu semaunya sendiri kalau bicara.


"Kan aku bilang apa adanya, ma. Sekarang terbukti kan, kamu nggak mandul, Ri. Jangan-jangan mantan suami sialan kamu itu yang mandul teriak mandul," cetus Jeanara membuat Jervario tersenyum smirk.


"Hal itu nggak perlu diragukan lagi. Justru itu bagus kan, berkat itu, aku bisa jadi sama Riri," sambung Jervario sambil meletakkan piring yang isinya sudah tandas.

__ADS_1


"Keadaan kamu bagaimana, nak?" tanya Nanda lembut. Sungguh Mentari merasa bahagia sekali dipertemukan dengan keluarga ini. Sebab berkat keluarga itu, ia dapat merasakan kasih sayang yang lengkap dan juga harmonis.


"Mentari baik, ma. Alhamdulillah," sahut Mentari seraya tersenyum.


"Asha mana?" tanya Nanda lagi saat tidak melihat keberadaan Asha.


"Ashaa ikut Revin jalan-jalan, ma. Mumpung dia nggak ada kelas hari ini katanya."


"Ngomong-ngomong, kalian kok mendadak ada di Singapura? Kalian nggak melakukan bulan madu dadakan kan?" cetus Jeanara yang sejak beberapa hari yang lalu merasa penasaran. "Dan kenapa kamu bisa sampai harus bed rest total di sini? Ini bukan karena loe digempur habis-habisan oleh si matic kan, Ri?" sambung Jeanara lagi membuat suaminya hanya bisa menghela nafasnya.


"Nggak, kami nggak ada rencana bulan madu dadakan. Kami malah datang kemari dadakan banget. Tanpa persiapan sama sekali," sahut Jervario.


"Lho, jadi apa alasannya?" sambung Abdi yang juga penasaran.


"Ini semua karena Milea."


"Milea?" koor keempat orang itu sambil saling menoleh satu sama lain.


"Memang apa hubungannya? Dia ada di sini juga?" tanya Nanda.


Lalu mengalirlah cerita dari bibir Jervario tanpa ada yang ditutupi sama sekali.


"Gila ya perempuan satu itu. Nggak habis pikir, tega banget. Padahal dia ibu kandung Asha, tapi kok tega kayak gitu."


"Aku juga nggak habis pikir. Kenapa bisa ya aku dulu jatuh cinta sama perempuan berhati monster kayak dia?" cetus Jervario menerawang ke masa lalu.


"Namanya juga pelarian," sahut Jeanara yang sudah terkekeh. "Gara-gara patah hati jadinya menjatuhkan pilihan ke perempuan yang salah." Ungkap Jeanara membuat Mentari melirik ke arah suaminya yang salah tingkah. Memang benar apa yang dikatakan Jeanara, gara-gara patah hati, ia justru menjatuhkan pilihan ke perempuan yang salah. Tapi ia tidak menyesali semua itu sebab bila ia menyesal sama saja ia menyesali keberadaan Asha. Bukankah berkat Asha lah ia bisa bersatu dengan Mentari. Ia yakin, sebesar apapun cintanya pada Mentari, tanpa keberadaan Asha, semua akan semakin sulit. Justru Mentari lebih dahulu jatuh cinta pada putrinya itu


"Udah, nggak usah ungkit masa lalu. Yang penting masa sekarang. Oh ya, jadi apa tindakanmu selanjutnya? Nggak mungkin kan kamu diam aja, tanpa memberikan efek jera kepada mereka?" Gathan pun akhirnya bersuara. Gathan sejak dulu tak pernah berubah. Selalu irit bicara dan hanya akan bersikap lemah lembut dan banyak bicara, dan hal tersebut pun menurun pada Jervario.


"Tentu aja, pa. Aku nggak mungkin biarin mereka begitu saja. Mereka sudah melakukan kesalahan fatal. Sebab bila Jerva terlambat sedetik saja, Jerva nggak sanggup bayangin apa yang akan terjadi pada Asha. Mereka benar-benar keterlaluan," tukas Jervario yang masih saja emosi setiap mengingat kejadian seminggu yang lalu. Bahkan gara-gara mereka juga Mentari kini harus terbaring di rumah sakit. Andai tak ada masalah itu, pasti saat ini kondisi Mentari baik-baik saja.


"Baguslah. Papa pun akan melakukan hal sama bila itu terjadi pada kalian. Kesalahan mereka benar-benar fatal. Semoga mereka bisa menyadari kesalahan mereka dan tidak mengulanginya lagi di masa depan," pungkas Gathan yang diangguki semuanya.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2