Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
SERATUS ENAM


__ADS_3

Kini Mentari dan Jervario telah tiba di kediaman Rohani. Ternyata, permintaan Shandi bertemu dengan Mentari kemarin tak lain untuk meminta maaf padanya sekaligus menyampaikan keinginan Rohani untuk bertemu dengannya.


Sebenarnya berat bagi Mentari untuk menginjakkan kakinya lagi di rumah mantan mertuanya itu. Rumah yang meski dibeli dengan KPR, tetapi di dalam dalamnya ada sumbangsih dari dirinya demi membahagiakan mantan mertuanya itu, yang ternyata tetap saja tidak dianggap sama sekali.


Rumah itu juga menorehkan cukup banyak kenangan. Rumah dimana ia pernah menjadi menantu yang baik agar bisa diterima dengan baik pula. Banyak harapan yang membumbung tinggi saat ia tinggal di sana, tapi di sana juga harapannya dihempaskan dengan kata-kata sarat penolakan. Perjuangannya tak pernah dianggap, justru lukalah yang tertoreh begitu mendalam.


Shandi memang kemarin meminta maaf sebesar-besarnya pada dirinya atas segala luka yang pernah ia torehkan, meski memaafkan, tapi rasa perih di dada ternyata masih begitu terasa. Padahal Shandi sampai merendahkan harga dirinya dengan bersimpuh di hadapannya, tapi namanya luka, tak semudah itu untuk sembuh. Meskipun maaf telah terucap dari bibirnya, namun tetap saja belum mampu meredam segala sakit yang telah mereka torehkan.


"Tari, aku tahu kesalahanku pasti takkan termaafkan, meskipun aku bersimpuh berminggu, berbulan, bahkan bertahun, luka di hatimu takkan pernah sembuh, namun aku tetap ingin memohon maaf sebesar-besarnya padamu atas segala khilaf dan salahku. Aku benar-benar sangat berdosa padamu. Dosa dan salahku pasti terlampau banyak hingga takkan mungkin termaafkan. Tapi aku tetap memohon, maafkan aku, maaf, maaf, maaf. Aku juga memohon maaf atas nama mama dan Septi sebab mereka kerap menghina dan merendahkanmu. Mereka kerap mengatakanmu mandul, padahal aku lah di sini yang mandul. Kau wanita yang sempurna, Tari. Akulah yang tidak sempurna di sini, bukan kamu." Ucap Shandi sambil bersimpuh membuat Mentari tersentak hingga segera berdiri dari tempat duduknya.


"Sudahlah mas, berdirilah. Nggak enak dilihat yang lain," seru Mentari terkejut sekaligus kerasa risih saat melihat Shandi yang bersimpuh di kakinya. Lalu ia pun meminta Shandi agar kembali duduk di kursinya. "Luka yang kalian toreh memang terlalu dalam. Bahkan setiap melihatmu, perih dan sesak itu masih terasa, seakan membekas di relung jiwa. Tapi aku sudah mencoba berdamai dengan keadaan. Mungkin ini sudah takdir kita. Meski aku belum bisa sepenuhnya memaafkan, tapi aku akan mencoba ikhlas atas segala takdir yang telah digariskan Tuhan padaku," tukas Mentari membuat Shandi tertunduk sambil tergugu. Di ruangan itu hanya ada dirinya didampingi Belinda, sedangkan Jervario ada urusan mendesak jadi ia tidak bisa menemaninya siang itu.


'Aku memang merasa hancur atas segala perbuatanmu dan keluargamu, mas, tapi setelah ku pikir-pikir, kalau aku tetap bertahan denganmu, mungkin aku takkan pernah merasakan bagaimana rasanya mengandung apalagi menjadi seorang ibu. Entah harus bersyukur atau menyesali, yang pasti berkatmu, akhirnya aku bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang tidak pernah ku rasakan saat bersamamu dulu, yaitu cinta dan kasih sayang dari keluarga dan memiliki buah hati. Meskipun Asha tidak terlahir dari rahimku, tapi kehadirannya menyempurnakan kebahagiaanku. Dan kini ditambah dengan dua bayi di dalam rahimku, membuat semuanya kian sempurna. Kau sebenarnya laki-laki yang baik dan aku tahu kau pun dulu tulus mencintaiku. Tapi takdir cinta kita harus sampai di sini, mas. Semoga kelak kau bisa menemukan seseorang yang bisa menyempurnakan hidupmu, seperti aku yang telah menemukan penyempurna hidupku,' lanjut Mentari dalam hati.


Mengetahui Mehtari-lah yang datang, Septi pun segera berhambur ke luar dari dalam rumah. Bahkan ia langsung saja bersimpuh di bawah kaki Mentari membuat wanita hamil itu berjengit kaget hingga reflek memundurkan tubuhnya. Untung saja Jervario selalu sigap berdiri di samping Mentari sehingga laki-laki itu segera menahan tubuh istrinya agar tidak sampai terjatuh.


Kemudian tiba-tiba saja, terdengar isak lirih dari wanita yang sedang duduk bersimpuh di lantai itu. Padahal mereka masih berada di teras rumah, tapi Septi menghempaskan segala rasa malunya demi memohon maaf pada Mentari, wanita berhati mulia yang pernah ia sakiti dengan kata-kata tajam dan menusuk dari bibirnya.

__ADS_1


"Mbak Tari, Septi mohon maafkan segala kesalahan Septi. Maafkan Septi, mbak, Septi benar-benar menyesal sudah mengatakan kata-kata buruk pada mbak Tari. Septi malu mbak, Septi salah, Septi benar-benar menyesal sudah berbuat begitu buruk sama mbak Tari. Padahal mbak Tari nggak pernah jahat sama Septi, padahal mbak Tari selalu naik sama Septi, mbak Tari juga selalu mencukupi kebutuhan Septi, tapi Septi masih aja jahat. Ampuni Septi, mbak, Septi salah, ampuni Septi yang begitu bodoh nggak bisa melihat kebaikan hati mbak, maafkan Septi, mbak. Ampuni segala kesalahan Septi, mbak, Septi benar-benar menyesal," raung Septi sambil terus bersimpuh di bawah kakinya.


Rasa sesak itu kembali menggelegak. Memori tentang hinaan, cacian, cemoohan, ejekan, kata-kata sinis, pedas, dan tajam yang pernah mereka ucapkan padanya melintas begitu saja. Mentari meletakkan telapak tangannya di depan dada. Sesak, sakit, memilukan, terasa begitu mencengkram relung sanubarinya.


Nafas Mentari memburu, seiring rasa sesak yang kian bertalu. Khawatir terjadi sesuatu pada sang istri, Jervario pun segera menarik Mentari ke dalam pelukannya. Melihat bagaimana ekspresi Mentari, sontak saja batin Shandi menjerit. Sehebat itu kah rasa sakit yang telah keluarganya beri sehingga respon Mentari terlihat begitu menyakitkan. Pun Septi yang melihat hal tersebut makin meraung, menyesali perbuatannya yang sudah begitu kelewatan. Adakah kesempatan baginya untuk menorehkan kata maaf dari mantan kakak iparnya itu? Sedangkan mendengar permintaan maafnya saja membuat Mentari tampak begitu kesakitan?


Jervario mengusap punggung Mentari dengan penuh sayang seraya memberikan kecupan di puncak kepalanya. Perlahan rasa sesak di dadanya mulai memudar. Setelah ia merasa lebih tenang, Mentari pun kembali menghadap Septi.


"Jujur, apa yang kalian lakukan itu benar-benar menyakitkan. Bahkan seribu kata maaf pun takkan bisa menebus rasa sakit yang aku rasakan selama ini. Setulus hati aku menyayangi kalian. Setulus hati aku memperlakukan kalian seperti keluarga sendiri. Setulus aku membaktikan diri demi mendapatkan cinta kalian. Tapi apa yang aku dapat? Apa balasan kalian? Kalian justru menghina, merendahkan, mencaci maki, mencemooh, dan yang lebih menyakitkan kalian menusukku dari belakang. Kalian berkonspirasi agar Mas Shandi menyelingkuhi ku. Padahal kau seorang wanita, tapi sampai hati kau membuatku kehilangan segalanya," teriak Mentari yang mencoba meluapkan segala sesak yang mencengkram batinnya.


Jervario yang baru pertama kali melihat luapan emosi sang istri pun segera menggenggam tangannya. Berharap ia bisa memberikan ketenangan pada sang istri. Apalagi saat ini Mentari sedang hamil tua, tentu ia tidak mau istrinya tiba-tiba kontraksi dini akibat tak bisa mengontrol emosinya.


Mentari menghela nafasnya, "kau tahu Sep, rasanya itu sakit. Sakit sekali. Ketulusanku kalian balas dengan sebuah pengkhianatan, itu benar-benar menyakitkan," lirih Mentari. Air matanya mengalir. Mengingat masa lalunya, sama saja membangkitkan memori menyakitkannya. "Tapi ... aku akan mencoba untuk berdamai dengan masa lalu. Mungkin saat ini aku belum bisa benar-benar memaafkanmu, tapi aku akan mencobanya," ujar Mentari pelan. "Berdirilah. Kau belum benar-benar pulih kan? Nanti perutmu kembali sakit," tutur Mentari lembut membuat Septi makin meraung.


Kini Mentari dan Jervario telah duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian Fatma datang seraya menghidangkan teh untuk tamu-tamu tuannya. Tampak seorang anak kecil mengekori sang ibu yang hendak menghidangkan teh tersebut membuat Mentari tersenyum lembut.


Shandi yang melihat itu lantas menjelaskan siapa Fatma dan anak laki-laki yang terus mengintip dari balik tirai. Mentari lantas memanggilnya dengan isyarat lambaian tangan membuat anak kecil itu mendekat. Lalu Mentari mengambil sebuah coklat yang ada di dalam tasnya dan menyerahkannya pada anak laki-laki itu membuatnya tersenyum lebar.

__ADS_1


Baru saja Mentari ingin menyapa anak laki-laki itu, panggilan Septi menginterupsi semuanya. Apalagi wajah Septi tampak panik. Ternyata di dalam kamar, tampak Rohani dengan dada yang sudah naik turun dan wajah pucat menggumamkan sesuatu.


"Mbak, kayaknya mama mau ngomong sama mbak Tari," ujar Septi panik.


Mentari pun gegas mendekat dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang Rohani.


"Ta-rhi, ma-af-kan ma-ma. Ma-ma sa-lah ba-nyak sa-ma ka-mu. Ma-ma ... "


"Ma, mama nggak usah banyak bicara dulu. Mama masih sakit. Kita ke rumah sakit dulu ya biar mama sehat dan bisa bicara banyak sama Tari," ujar Mentari tapi Rohani menggeleng dengan bola mata yang terus bergetar dan sedikit melotot. Melihat hal tersebut, Mentari reflek menggenggam tangan Rohani.


"Ma-ma su-dah nd-ak ku-at. Ma-ma mo-hon ma-af-kan ... ma-ma ... "


Setelah mengucapkan itu, tangan Rohani seketika luruh dan jatuh begitu saja ke atas kasur. Mentari sontak terkejut dan matanya kian terbelalak saat melihat wajah Rohani telah saputih kapas. Kelopak matanya memang tidak tertutup, tapi tanda-tanda kehidupan benar-benar telah lenyap membuat Shandi, Septi, dan Septian yang baru saja pulang menjerit dan meraung. Mentari pun ikut meneteskan air matanya. Jervario yang selalu setia mendampingi Mentari mere mas pelan pundaknya untuk menyalurkan ketenangan.


'Tari sudah memaafkan, mama. Pergilah yang tenang, ma. Semoga amal ibadah mama di terima di sisi Allah SWT,' batin Mentari.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2