Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
SEMBILAN PULUH DELAPAN


__ADS_3

Selepas makan malam, Jervario dan Mentari menemani Asha di kamarnya. Seminggu tidak bertemu secara langsung dengan putrinya, membuat rasa rindu kian membuncah. Ya, Jervario bukan hanya merindukan sang istri, tapi juga buah hatinya. Putri kecilnya yang sangat ia cintai. Sampai kapanpun, ia akan terus menyayangi anak-anaknya, meskipun tak lama lagi mereka akan dikaruniai sepasang bayi mungil dari Mentari. Ia akan tetap mencurahkan cinta dan kasihnya untuk anak-anaknya tanpa membedakan sama sekali. Mereka adalah anugerah yang diberikan sang pencipta. Takkan ia sia-siakan anugrah itu dengan mengabaikan apalagi pilih kasih. Ia harap, anak-anaknya tumbuh dengan penuh cinta dan saling mencintai terlepas mereka lahir dari rahim yang berbeda.


Jervario pun merasa amat sangat bersyukur sebab telah dikaruniai istri yang bukan hanya cantik fisik tapi juga hati. Ia begitu menyayangi putrinya seperti menyayangi putrinya sendiri. Bahkan Mentari tak pernah melewatkan satu hari pun untuk membuatkan putrinya sarapan pun bekal agar putrinya dapat merasakan bahwa ia benar-benar dicintai ibu sambungnya itu. Apalagi setelah mendengar curahan hati putrinya waktu itu, yang mana ia merasa khawatir Mentari tidak benar-benar menyayanginya dan akan tidak menyayanginya lagi setelah memiliki anak yang lain. Semenjak itu, Mentari kian mencurahkan kasih sayang dan perhatiannya pada sang putri agar ia merasa benar-benar dicintai setulus hati.


"Sweetheart, i Miss you so much," bisik Jervario seraya mengecupi leher putih Mentari. Mentari yang sedang duduk di depan meja riasnya seraya mengaplikasikan skincare malamnya tanpa sadar melenguh saat lehernya dikecup dan dihisap oleh sang suami.


"Eeengh ... bang," lenguh Mentari. Leher merupakan salah satu tempat sensitif bagi Mentari jadi sangat wajar bila ia langsung melenguh saat bibir Jervario mulai menjelajahi kulit lehernya, pun lidah nakal Jervario yang menjilati kulitnya dengan gerakan seduktif.


"Papi mau jenguk dedek, boleh?" bisik Jervario lagi. Nafas hangat Jervario yang menerpa telinga Mentari membuat calon ibu itu memejam dengan bulu kuduk yang sudah meremang.


"Mau jenguk dedek atau ... main sama Sofia?" desis Mentari seraya menikmati sentuhan demi sentuhan dan sapuan hangat lidah sang suami di permukaan kulitnya.


Jervario terkekeh kemudian mengecup pipi Mentari gemas, "kalau bisa dua-duanya, kenapa tidak. Istilahnya, buy one get 2." Jervario terkekeh setelah mengatakan hal tersebut. Sedangkan Mentari justru mesem-mesem. Kehamilannya memang sering membuat hasratnya meluap-luap. Seminggu tidak merasakan belaian mesra dari sang suami, membuatnya harus meredam sendiri gairah yang tak tersalurkan itu.


"Emang nggak capek? Abang nggak jetlag gitu?"


"Capek sih, tapi ... rasa capek Abang akan menguap seketika setelah bisa main sama Sofia. Sofia kamu itu bikin candu, tahu nggak. Kangen banget sama kamu sama servisan Sofia juga. So, Abang bisa kan bertemu dedek dan bermain dengan Sofia malam ini?"


"As you wish, suamiku sayang. I'm yours."


Sontak saja jawaban Mentari dengan nada sensualnya membuat libidonya makin menanjak. Apalagi saat Mentari mulai mengalungkan kedua lengannya di lehernya. Tanpa ba bi bu, Jervario langsung menggendong Mentari seperti anak koala yang bergelantungan di tubuh induknya dan membawanya ke sofa panjang di kamar mereka. Mentari pasrah. Ia pun sudah sangat merindukan kegiatan menyenangkan ini. Apalagi Jervario begitu pintar memuaskannya. Ia seakan begitu hafal titik-titik sensitif di tubuhnya sehingga hanya dengan permainan jari-jemarinya saja sudah mampu membuai hingga membuatnya melayang tinggi.


Kini, Jervario telah duduk di sofa dengan Mentari berada di atas pangkuannya. Jervario mulai menyapukan bibirnya di atas bibir Mentari yang sudah menjadi candunya semenjak pertama kali mereka berciuman.


Tangan Jervario tak mau diam, ia pun ikut bergerak, menjelajahi setiap inci kulit sang istri, memperlakukannya bak ratu, membuainya dengan begitu lembut hingga menimbulkan candu. Perlahan, permainan kian memanas. Bahkan kini keduanya telah nyaris tanpa busana. Melihat mata sang istri yang telah dipenuhi kabut gairah, Jervario pun segera menurunkan celananya pun milik sang istri. Tampak sang golok naga telah berdiri gagah perkasa siap menggempur Sofia dengan sombongnya, lalu jlebbb ...


"Aahhhh ... "


Tring ... tring ... tring ...

__ADS_1


"Bang, itu suara dering hp Abang," lirih Mentari yang sudah dikuasai kabut gairah. Tapi nalarnya masih bekerja, telinganya pun masih bisa mendengar dengan jelas dering ponsel yang memekakkan telinga itu membahana.


"Nanti saja ahhhh ... kita tuntaskan dulu permainan kita." Jawab Jervario dengan nafas terengah sebab ia sedang sibuk menggarap Sofia dengan gerakan maju mundur cantik.


Suara dering ponsel berhenti, menyisakan suara tubrukan kulit dan era*ngan yang saling bersahutan-sahutan.


Tring ... tring ... tring ...


"Bang, kayaknya penting banget itu sampai telepon lagi," lirih Mentari dengan nafas tersengal akibat gempuran maha dahsyat dari Jervario.


"Abaikan saja. Ini waktunya kita quality time, sweetheart."


Tring ... tring ... tring ...


"Aaargh, sial! Siapa sih ganggu aja!" desis Jervario seraya memejamkan matanya, namun ia tetap berusaha menikmati kehangatan dan kenyamanan serta rasa luar biasa di bawah sana ketika golok naganya menghujam Sofia istrinya, pun Sofia yang mencengkram erat golok naganya.


Tring ... tring ... tring ...


"Bang ... " lirih Mentari dengan nafas memburu.


"Sebentar sweetheart, sebentar lagi, Abang akan segera sampai."


"Aaahhhh ... " desahnya bersamaan saat mereka telah sampai ke puncak.


Nafas keduanya tersengal, dering telah berhenti beberapa detik yang lalu. Namun, golok naga Jervario masih betah berada di dalam cengkeraman Sofia.


"Once again?"


Baru saja Jervario berniat menambah ronde kedua, dering ponselnya lagi-lagi terdengar nyaring membuat Jervario menggeram karena terpaksa melepaskan miliknya dari cengkeraman Sofia.

__ADS_1


Dahi Jervario mengerut saat membaca nama pemanggil di layar ponselnya.


"Kenapa bang? Siapa yang telepon sampai berkali-kali gitu?" Mentari mendekat seraya menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Dario," jawab Jervario singkat. "Awas aja kalau telepon untuk hal yang nggak penting. Aku kirim ke puncak Jayawijaya dia, biar tahu rasa," desis Jervario kesal sebab telah mengganggu kegiatan skidipluplup dirinya dengan sang istri. Mentari terkekeh mendengar omelan sang suami, namun ia tetap tak beranjak. Ia pun penasaran dengan apa yang ingin disampaikan Dario pada suaminya.


"Apa loe malam-malam telepon? Udah bosan hidup loe? Atau udah bosan kerja sama gue? Bilang aja kalo udah bosan! Sadar nggak sih loe, loe udah ganggu waktu skidipluplup gue, tahu nggak!" sentak Jervario kesal sesaat setelah panggilan Dario ia angkat.


Dario terkejut hingga berjengit kaget saat mendengar suara melengking Jervario padanya. Dario menghela nafasnya sebelum mengatakan hal yang ingin ia sampaikan.


"Bro, besok bisa bantu jadi saksi pernikahan gue sama Belinda nggak? Gue ama Belinda digrebek warga dan dipaksa kawin ... "


"Nikah ... " sentak seseorang dari belakang telepon yang Jervario dan Mentari sadar itu merupakan suara Belinda sebab panggilan itu mereka loud speaker.


"Apa? Coba ulangi lagi? Kalian apa tadi? Digerebek? Astagaaaa Dario, loe malu-maluin gue aja tahu nggak! Kalau loe udah nggak sabar skidipluplup sama Belinda, kenapa nggak ajak nikah aja dulu. Loe tahu kan nggak boleh kawin sebelum nikah!" cetus Jervario kesal.


"Justru itu bro, loe mau kan jadi saksi? Biar halalan bin toyiban gue skidipluplup sama si Belinda. Besok siang gue tunggu di rumah sakit Pelita ruang mawar nomor 103 jam 10. Awas nggak datang, gue santet loe!" jawab Dario sekenanya membuat Belinda yang berdiri di belakangnya langsung menjewer telinga Dario.


Sementara itu, di kediaman Tjokroaminoto kini tampak heboh. Jervario segera mengabari hal ini pada keluarga besarnya. Kebetulan Jeanara dan Abdi sedang menginap di sana dan masih tampak berbincang di ruang tamu jadi Jervario langsung saja menceritakan apa yang baru saja disampaikan Dario.


Jeanara terkekeh, "kayaknya dia udah nggak sabar mau honeymoon ke Lombok tuh. Jer, jangan lupa siapin hadiah spesial buat dia ya! Kalo gue, udah siap nih, trip sekaligus honeymoon ke Lombok selama 1 Minggu full. Paket lengkap, full servis juga. Loe harus lebih spesial lagi tentunya. Secara, dia bukan sekedar Aspri, tapi juga sohib setia loe!"


Jervario menggelengkan kepalanya, masalah hadiah, gampang menurutnya. Justru ia masih penasaran dengan cerita dari Dario. Ia sangat tahu, sahabat sekaligus asisten pribadinya itu tak mungkin melakukan sesuatu yang dilarang jadi ia kembali menghubungi Dario kemudian Dario pun mulai menceritakan kronologis kejadian sebenarnya membuat Jervario dan Mentari bernafas lega.


"Jodoh nggak kemana!" gumam Mentari turut berbahagia karena Belinda akan segera menikah dengan Dario. Meskipun ia tahu Belinda belum memiliki rasa pada Dario, tapi ia tahu pasti, Dario tulus mencintai Belinda. Ia harap, Dario dapat membahagiakan Belinda. Sedikit banyak, ia tahu mengenai Belinda.


...***...


...Double up done!!!...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2