
Apa dia juga sudah lupa pada anak yang sedang kukandung? Mulai dari awal kehamilan dialah yang paling posesif terhadap diriku. Sepadat apa pun jadwal pekerjaannya itu tidak membuat dia lupa akan setiap tanggal dimana kami harus melakukan pemeriksaan kandungan.
Tiap-tiap malam yang kami lalui, tiada absen dia menyapa sang buah hati yang sedang bertumbuh dalam rahim ini. Ucapannya yang begitu tulus sungguh membuat cinta dalam hati semakin kuat berakar. Setiap elusan lembut di perut ini, menambahkan kekuatan di kala diri merasa lelah akibat mual yang terus menyiksa.
Bila pagi tiba, dialah yang biasanya membuatkan sarapan. Tidak di ijinkannya aku menyentuh perkakas dapur itu. Bahaya katanya. Walau pun hanya sekedar telur mata sapi, tapi rasanya sungguh begitu nikmat.
Dulu kamu selalu ada untukku, Mas. Namun sekarang dirimu sudah semakin jauh dari jangkauanku. Cintamu tiada lagi dapat kurasakan, dan keberadaanmu semakin lama semakin memudar.
Apa kau masih peduli terhadapku, kepada kami?
***
Setelah melakukan pemeriksaan, aku berjalan menuju kantin Rumah Sakit ini. Akibat perdebatan pagi tadi membuat aku lupa akan sesuatu, bahkan hanya untuk sekedar sarapan.
Semangkok bubur ayam sudah tersaji di hadapan. Aromanya yang begitu menguar membuat perut keroncongan. Aku terkekeh sendiri, lalu mengelusnya lembut.
'Kamu pasti lapar yah sayang. Maafin mama yah. '
Setelah memanjatkan doa agar di beri kekuatan, aku langsung melahap makanan itu. Sangkin begitu menikmatinya, aku sampai tidak sadar jika seorang wanita yang berparas cantik sudah duduk di hadapan.
"Eh, "
Aku tersenyum kikuk saat dia memperhatikanku.
"Bumil memang gitu yah, mbak. "
Kami terkekeh bersama. Jarang ada orang seramah dia. Wajahnya yang terlihat natural tanpa ada polesan make up, sungguh membuat daya tarik tersendiri bagi yang memandang. Sepertinya dia orangnya baik dan ramah.
"Kesini lagi ngapain mbak? Ngak mungkin hanya sekedar makan. "
Tak henti-hentinya bibir ini mengukir senyum. Pertanyaannya selalu di ikuti oleh lelucon.
"Periksa kandungan. "
"Sendiri? "
Dia terlihat bingung terlihat dari keningnya yang berkerut.
"Kerja. "
Sungguh, mengingat Mas Dani saja langsung menjatuhkan semangatku. Dan sepertinya dia menyadari akan ketidaknyamanan hati ini hingga bibir merahmelami yang tadinya selalu mengukir senyum, perlahan memudar.
"Eh, usia mbak berapa sih? Kayak masih ABG gitu. "
Kini aku tidak lagi mampu menahan tawa akibat ucapannya barusan. Astaga, Yah Tuhan... Mahluk apa ini yang Engkau hadirkan di saat hatiku kacau seperti ini?
"Kamu memang luar biasa. Udah tua begini masih aja di bilang ABG. "
"Ih , mbak. Aku benaran nanya lho. "
__ADS_1
"Aku 29 tahun. "
Hening.
Dia diam dengan tatapan yang sedang meneliti tiap jengkal wajah ini, lalu turun kebawah, perut.
"Benarkah? Mbak cantik sekali. "
Ucapannya terlihat tulus, tapi tidak kutanggapi serius sebab aku tahu bagaimana kondisi wajahku saat ini. Sejak awal kehamilan aku tidak lagi pernah melakukan perawatan.
Ada rasa senang yang sulit kuartikan saat mendengar penuturannya barusan.
"Hamil anak keberapa, mbak? "
Ucapnya seraya tatapan mata kembali tertuju kebagian perut.
"Anak pertama. "
Aku membiarkan dia bertanya. Ntah kenapa setiap pertanyaannya membuat sakit yang kupendam seminggu ini terasa terobati.
"Suami mbak orang sibuk sepertinya yah. Masa istri hamil anak pertama di biarkan pergi sendiri. "
Seperti ada belati tajam yang menancap di hati. Marah? Bukan. ucapannya itu benar. Jika bukan karena wanita itu mungkin kami berada disini bersama.
"Sibuk sama istri barunya sih, ia. "
"Apa semua laki laki seberengsek itu yah, mbak? "
Dan kali ini akulah yang paling terkejut. Dia belum tahu bagaimana perjalanan rumah tangga kami, ntah siapa yang benar dimatanya jika semua sudah tersingkap.
"Husss... Jangan ngomong gitu. Suamiku orangnya baik kok, dan dia nikah lagi juga atas persetujuan saya juga. "
Ada yang ngilu dalam dada saat kata itu terucap. Bayangan antara pasangan itu kembali menari nari dalam pelupuk mata.
"Setiap wanita memiliki alasan dalam menentukan pilihan. Terkadang mereka juga harus merelakan kebahagiaannya sendiri. Dan membagi suami bukanlah perkara biasa. "
Manik matanya menatapku lekat-lekat. Seolah ingin menelanjangi hati yang retak dan di tutupi oleh tawa hambar yang selalu kutebar kepada siapa saja.
"Aku juga wanita mbak. Walau pun aku blom ngerasain bahtra rumah tangga, tapi hanya mendengar saja aku udah ngerasain. Ucapanmu barusan udah menjelaskan semuanya. "
Aku diam saja, tak mampu membalas ucapannya yang begitu mengena kehati.
"Sesakit apa pun yang mbak rasain nanti, ingatlah buah hati yang mbak kandung. Jika mbak merasa ngak kuat dan putus asa, ingat kembalilah bayi yang menemani mbak bahkan dalam situasi terberat pun. Kalau mbak udah mengerti apa artinya kehadirannya dalam rahim mbak, maka dialah satu satunya alasan buat bertahan. "
Hatiku begitu berdesir mendengarnya. Tangan bergetar, air mata pun tumpah. Aku menunduk dalam diam, menunggu setiap kalimat yang akan keluar lagi. Dulu aku hidup bersama seorang janda tanpa anak, dan sama sekali tidak mengenal orang tua kandungku. Kata bunda, orang tua angkatku, dulu aku di temukan di pinggir jalan dengan luka di bagian kepala. Saat itu aku sudah berumur 10 tahun, tapi ingatan tentang siapa aku sama sekali hampa. Dalam saku baju yang kukenakan ada sebuah kotak berbentuk hati berukuran kecil, dan di dalamnya ada kalung dan kata selamat ulang tahun, tepat di hari itu. Dari sanalah Bunda tahu jika tanggal lahirku. Kalung itu juga masih kukenakan sampai saat ini karna itu adalah pesan terakhir Bunda sebelum dirinya berpulang saat aku sudah selesai menuntaskan pendidikan menengah atas. Sayang, segala kebaikan hatinya belum sempat kubalas.
Dan semenjak saat itu aku tidak lagi pernah mendapat nasihat. Bahkan untuk sekedar curhat saja aku tidak lagi punya. Kala hati menginginkan bahu untuk menangis, bantal adalah tempat pelarian. Saat ini, seperti ada kekuatan yang datang, hidup jadi memiliki tujuan.
"Jagalah bayimu sebaik baiknya. Lupakan segala keluh kesahmu, lalu berbahagialah dengan si kecil di dalam sana. Jadilah wanita tangguh. Jangan mau di injak injak. Kita kaum wanita juga masih memiliki hati yang ingin merasakan kebahagiaan. Jika beban di rasa terlalu berat, datanglah kesini. Aku selalu berada di rumah sakit ini. "
__ADS_1
Ucapannya terdengar sedikit bergurau, tapi begitu mampu terserap oleh hati. Kuhapus air mata, lalu memandangnya yang sedang tersenyum.
***
Aku pulang dari Rumah Sakit di antar oleh Evha, gadis yang banyak memberikan dorongan untuk menjalani hari hari. Di depan seorang pria yang ternyata adalah kakaknya menyetir mobil sambil melemparkan lelucon.
Keluarga yang humoris, pikirku.
Betapa bahagianya jika hidup di tengah tengah keluarga yang seperti ini.
***
"Siapa dia? "
Baru saja sampai di rumah, aku langsung di todong oleh pertanyaan yang tidak bermutu.
"Teman. "
Kataku jujur.
"Teman? Hallah... Masa mau berduaan di dalam mobil? "
Aku menatap tajam pada wanita yang amat kubenci. Dalam keadaan seperti ini dia masih saja menyalakan api.
"Lalu bagaimana dengan kau yang merebut suami orang? "
Terlihat wajahnya tiba tiba berubah menjadi kaku dan memerah. Dia marah, aku tidak peduli.
"Lihatkan Mas istrimu ini. Sudah hamil masih aja berduaan bersama laki laki lain. Atau jangan jangan anak yang dalam kandungannya it... -"
Plak.
Aku langsung menampar pipinya. Rasanya itu belum cukup untuk membungkap mulut kotornya.
"Sarah, kamu apa apaan? Lagian apa yang di katakan desi itu benar. "
Tiba tiba dunia terasa berputar. Kutatap matanya nanar. Air mata sialan ini keluar dengan tidak mengenali waktu. Bagai bom, ucapannya sungguh membunuh hatiku.
"Jadi kamu membela dia? Dia yang udah ngerebut kamu dari aku Mas? Apa masih pantas dia di sebut sebagai seorang wanita, sedangkan tindakannya begitu menjijikkan? "
"SARAH... "
Mas Dani berteriak marah memanggilku. Aku benci. Aku benci situasi ini.
"MINTA MAAF! "
Lanjut Mas Dani tegas. Dia bagaikan hakim di tengah kami, dan tindakannya bagai menjatuhkan hukuman yang tidak sah terhadapku.
Aku berlari kekamar, mengumpulkan baju pada koper dengan di sertai isak tangis.
__ADS_1