
Rasanya semua ini bagaikan mimpi buruk yang datang di saat sakit yang kemarin belum juga sembuh. Berat rasanya menerimah kenyataan dimana suami yang seharusnya menjadi pelindung, malah menjadi hakim.
Ucapannya begitu melukai hati, dan tatapannya begitu mencekik relung hati. Rasanya setiap sendi hampir lepas, mengingat bagaimana awal mula kehancuran yang datang.
Aku mengemasi pakaian sambil tergugu, menahan sesak dalam dada yang semakin membuat oksigen sulit untuk kugapai.
Kukancing koper dengan tangan gemetar, lalu menjatuhkan diri kelantai. Dengan bersandarkan sisi ranjang, kukeluarkan semua tangis yang masih mengendap di dalam sana. Tangisku semakin pecah saat kesadaran mulai menghampiri. Kuelus perut dengan lembut sambil membisikkan kata 'maaf' berulang kali. Sungguh bodohnya aku yang menjatuhkan diri tadi, yang berarti juga menyakiti buah hati yang berkembang disana. Besarnya rasa sakit hati kepada Mas Dani membuatku lupa diri.
***
Dengan langkah lunglai tak tahu arah, aku keluar dari kamar dengan sebuah koper besar di tangan kanan. Tentu kalian akan mengatakan jika aku sangat bodoh. Tentu. Sebab diri ini juga tidak memungkiri kenyataan itu.
Ini rumahku, hasil keringatku sendiri. Seharusnya merekalah yang keluar dari rumah ini, bukannya aku. Namun, aku belum siap untuk kehilangan Mas Dani. Masih ada cinta dalam hati ini untuknya. Kalau dia yang keluar dari rumah ini, maka peluang untuk Desi akan semakin besar.
"Dek... "
Terdengar suara mas Dani saat aku hampir meraih gagang pintu. Aku berhenti, diam mematung tanpa menoleh.
"Maaf ... Maaf. "
Ucapannya terdengar tulus dan ada kesungguhan di dalamnya. Wanita, oh wanita. Kenapa Wanita di takdirkan untuk lemah dalam menghadapi sesuatu? Mas Dani memelukku dari belakang, dengan kata maaf yang tiada henti ia lontarkan. Pertahanan yang kubuat sejak tadi, akhirnya rubuh. Aku membalikkan badan dan menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Kamu semakin sulit untuk kukenali, Mas. Cinta yang sejak dulu kau hadirkan dalam hati yang sempat remuk, kini semakin memudar. "
Mas Dani meraih tangan kananku, lalu mengecupnya. Ada hati yang tercabik cabik di dalam sana saat perhatian yang beberapa waktu ini tidak lagi pernah kudapat.
"Tinggalkan wanita itu , Mas. Tidak masalah buatku kalau harus hidup susah. "
Kemudian mata itu mulai menatap kedalam kedua bola mataku, seakan sedang membaca setiap kesungguhan yang menari-nari di dalam sana.
"Tapi kita udah terlanjur menanda-tangani kontrak. "
Secercah harapan yang sempat hadir dalam diri, kini jatuh dan pupus. Aku lupa akan kontrak yang sudah kami tanda tangani sebelumnya. Kontrak yang jika di langgar, makan akan kena denda 1 Miliar Rupiah.
__ADS_1
"Mas... "
Mata ini menatap dirinya yang berdiri dengan kedua bola mata yang juga menatap intens ke arahku. Dengan penuh rasa terluka, pertanyaan yang selalu mengganggu pikiranku harus kupastikan sebelum pergi.
"Apa cinta itu sudah hadir dalam hatimu, untuknya? "
Sepertinya dia agak terkejut dengan pertanyaanku barusan. Dia mengalihkan pndangan agar aku tidak dapat membaca pikirannya. Sungguh hancur hati ini saat mengetahui jika cinta untuk Desi ternyata sudah bersemayam dalam hatinya.
"Bahkan saat dia menghancurkan rumah tangga kita, menghancurkan diriku, bahkan menginjak-injak harga diri istrimu ini, kau masih sempat menaruh hati kepadanya? "
Kali ini bukan suara lembut bagai tak bertenaga yang kukeluarkan. Melainkan penuh tekanan dengan nada yang naik beberapa oktaf. Kuhempaskan tangan yang mencoba untuk menenangkanku itu. Dengan penuh emosi, segala uneg-uneg kukeluarkan di depan wajahnya.
"Sekarang kau juga ikut dalam membunuhku, Mas. Membunuh hati dan diri ini. Kejam sekali cara permainan kalian mas. "
Suara deheman mengalihkan pandanganku. Disana, di dekat sofa, Desi berdiri dengan gaya santai tanpa perasaan bersalah. Kedua tangan bersedekap di depan dada.
"Inikah yang dimaksud dengan istri tunduk kepada suami? "
Dengan senyum licik dan tatapan sinis dia menatap kearahku. Ingin sekali kujambak-jambak rambutnya, dan kuinjak injak mulutnya.
Wajahnya nampak memerah yang mungkin sedang menahan amarah.
"KALAU BUKAN KARNA KAU, SI PENGHANCUR RUMAH TANGGA ORANG, TIDAK MUNGKIN KAMI SEPERTI INI. "
Dia mulai melangkah kedepan, mendekat kearahku. Dengan perasaan was-was, kutatap matanya yang menantang.
"Apa kau bilang? "
Tangannya terangkat ingin menamparku, kututup mata sambil menunggu tangan menjijikkan itu menyentuh pipi ini.
1 detik, 2 detik, tapi tidak ada rasa apa apa yang kurasakan. Kubuka mata perlahan, ingin melihat ada apa dengan si iblis ini.
Ternyata tangan Mas Dani yang menghalanginya.
__ADS_1
"Stop ... "
Suara Mas Dani terdengar menggema keseluruh penjuru ruangan. Kutatap matanya dalam dalam, kali ini bukan dengan perasaan terluka atau tersakiti, tapi dengan amarah yang membara.
"Ngak usah bersuara, Mas. Cukup sampai disini rasa sakit untuk hari ini kamu berikan. "
Kuraih koper yang sempat terlepas akibat perlakuannya tadi.
"Sarah, jangan pergi. "
Mas Dani menatap memohon kepadaku. Sepertinya dia sudah menyerah. Entah dia mulai menyadari kesalahannya atau tidak, aku tidak tahu.
"Kalau mau pergi, yah silahkan. Ngak usah banyak drama kalau mau pergi. "
"Desi! "
Tak kuhiraukan suara Mas Dani yang menegur maduku itu.
"Aku pergi bukan untuk selamanya mas. Kamu jangan senang dulu, karna aku hanya mau nenangin diri sementara waktu ini. "
Kuseret koper sambil mengacuhkan suaranya yang terus memanggil. Di depan sudah terparkir mobil Fortuner putih, dengan seorang wanita muda di depan kemudi. Senyumnya sungguh menghipnotis, membuat rasa sakit perlahan hilang seperti ada secercah harapan yang membuatku melayang.
Dia turun dan memasukkan koper ke dalam bagasi.
"Siap, nenek lampir? "
Aku terdiam mendengar ucapannya.
"Coba lihat gambar dirimu pada kaca di depan. Itu bahkan lebih buruk dari sekedar si Nenek Lampir. "
Dia terkekeh. Menjengkelkan, tapi memang benar sih apa yang dia katakan. Sungguh berantakan sekali penampilanku hari ini. Dengan wajah kusut dan tampak menyedihkan. Di tambah lagi dengan pancaran wajah yang penuh ingin di belaskasihani.
Dia menepuk bahuku sambil mengeluarkan bom yang mengembalikan kesadaranku.
__ADS_1
"Wanita tidak di ciptakan lemah. Kaum prialah yang memandang begitu. Sejatinya, tidak ada yang sekuat hati wanita. "
Bersambung...