
Hari ini MTR Furniture tengah mengadakan family gathering untuk seluruh karyawannya di sebuah resort yang sengaja di sewa Mentari untuk menyenangkan semua karyawannya. Sebenarnya hal ini bukan semata-mata untuk menyenangkan, tetapi untuk merayakan satu tahun usia bayi kembar mereka, yaitu Agya Castello Tjokroaminoto dan Ayla Castella Tjokroaminoto.
Sebagai ungkapan rasa syukur, Mentari pun mengadakan family gathering di sebuah resort yang terletak di tepi pantai untuk seluruh karyawannya. Dalam acara itu, para karyawan diizinkan membawa anggota keluarga mereka, terang saja mereka merasa sangat bahagia. Kapan lagi mereka bisa menikmati liburan bersama keluarga di tempat yang begitu indah seperti saat ini.
Mentari tampak duduk berbincang dengan Agya yang berada dalam pangkuannya. Bocah laki-laki itu tampak tertawa melihat anak-anak bermain kejar-kejaran. Ingin ikut turun, tapi langkahnya yang masih goyang membuatnya hanya bisa bertepuk tangan dengan tawa lucunya. Sedangkan Ayla berada di pangkuan ayahnya Jangan tanyakan Asha, melihat banyaknya anak-anak, membuatnya tak bisa diam. Setelah berkenalan singkat, ia pun langsung ikut bermain dengan teman-teman barunya tersebut.
Mentari, Jervario, Dario, Jeanara, dan Abdi tengah duduk bersantai di bawah tenda berbentuk payung tepat menghadap ke arah pantai. Semilir angin berhembus di bawah teduhnya langit membuat semua orang kian larut dalam suasana kekeluargaan.
"Mas," panggil Belinda yang baru muncul dengan baby Arinda dalam gendongannya. Ya, Belinda kini telah menjadi seorang ibu. Bayi yang baru berusia 4 bulan itu diberi nama Arinda Noviani
"Eh, sayang, Arin udah bangun?" tanya Dario sambil berdiri dan mengambil bayi berusia 4 bulan itu ke dalam gendongannya. "Eh, princessnya ayah udah bangun! Mau main di pantai, hm? Boleh ... tapi nanti. Tunggu gede kayak kak Asha," ujarnya sambil terkekeh.
"Eh iya, tadi Asha main ke mana ya, bang? Kok nggak kelihatan," tanya Mentari sedikit khawatir. Meskipun di sana banyak orang, tapi namannya seorang ibu akan langsung khawatir saat tidak melihat keberadaan anaknya.
"Tadi dia main kejar-kejaran di sana," sahut Jervario sambil menyipitkan matanya, memandang ke sekeliling mencari keberadaan sang putri.
"Itu Asha, Ri. Dia lagi memapah anak laki-laki itu." Ucap Jeanara saat melihat keberadaan sang keponakan sedang membantu seorang anak laki-laki berjalan. Sepertinya kakinya sedang terluka.
Jervario yang melihatnya segera berlarian mendekati Asha.
"Asha, kalian kenapa?" tanya Jervario khawatir.
"Asha nggak papa kok Pi, tapi adek ini kakinya luka. Tadi dia jatuh di sana," tunjuk Asha tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Ya udah, sini biar papi gendong." Ucap Jervario, tapi anak laki-laki itu justru takut. Ia justru bersembunyi di balik tubuh kecil Asha yang memang lebih besar dari dirinya. "Adek kenapa? Itu papi kakak, jangan takut." Asha berbicara dengan lembut sambil menggenggam tangan anak laki-laki itu.
"Yuk ikut Om, kita obati kakinya biar bisa main lagi," ujar Jervario sambil tersenyum. Anak laki-laki itu pun mengangguk sambil mendekat. Setelahnya, Jervario pun mengangkat anak laki-laki itu ke dalam gendongannya dan membawanya ke tempat mereka duduk-duduk santai tadi.
Kemudian Jervario pun meminta Dario mencari kotak obat dan mulai mengobati kaki anak laki-laki itu.
Mentari merasa familiar saat melihat anak laki-laki yang sedang diobati kakinya itu. Sejenak, Mentari mencoba mengingat-ingat dimana ia melihat anak laki-laki ini.
"Rafi," panggil suara yang begitu familiar di telinga Mentari. Suara itu tampak tersengal, Mentari pun lantas menoleh dan mengerjapkan matanya.
"Ayah ... " seru anak laki-laki itu girang.
Mendengar anak laki-laki itu memanggil Shandi ayah membuat Mentari membulatkan matanya.
"Eh, Ta ... eh Bu Tari maksudnya. Maaf, apa anak saya sudah merepotkan ibu dan keluarga?" tanya Shandi tak enak hati saat matanya bersirobok dengan netra Mentari.
__ADS_1
"Ah, nggak kok. Tapi mas Shandi, dia kan ... "
"Oh, itu, iya, kini Rafi sudah saya anggap anak sendiri. Saya sudah menikahi ibunya," ucap Shandi sembari tersenyum. Meskipun ada rasa gugup saat bisa melihat Mentari dengan jarak yang cukup dekat seperti ini, tapi ia berusaha untuk tampak biasa saja.
"Mas Shandi, Rafi nya ketemu?" pekik Fatma dengan langkah panjang mendekati Shandi. Shandi pun lantas menoleh dan mengangguk sebagai jawaban.
"Ekhem, itu, tadi Asha liat Rafi jatuh jadi dia ajak kemari untuk kami obati," ujar Mentari setelah berhasil mengendalikan keterkejutannya. Netranya sambil sesekali melirik ke arah bayi dalam gendongan Fatma yang usianya tampak tak jauh beda dengan baby Arinda.
"Oh ya Bu Tari, perkenalkan, ini Fatma ... istri saya." Ujar Shandi memperkenalkan. Fatma yang masih familiar dengan Mentari pun menyapanya dengan sopan.
"Perkenalkan Bu, nama saya Fatma dan ini putri kami namanya ... Mentari."
Degh ...
Mulai dari Mentari, Jervario, Belinda, Dario, Jeanara, hingga Abdi membeliakkan matanya.
Secinta itukah Shandi pada Mentari sampai nama sang putri pun diberi nama Mentari?
Tapi bukan hanya itu yang ada di dalam pikiran Mentari, melihat Shandi memiliki seorang bayi, membuatnya berpikir, pantas saja saat datang ke rumahnya waktu itu Mentari melihat perut Fatma sedikit membuncit, apakah saat itu Fatma tengah hamil?
Tapi ah sudahlah, semua sudah punya kehidupan masing-masing. Mentari tak mau terlalu memusingkannya. Hanya saja, Mentari menangkap wajah masam sang suami. Mungkinkah ia cemburu karena namanya dipakai oleh Shandi untuk nama anaknya? Dalam hati, Mentari terkekeh sendiri. Terserahlah kalau Shandi memang masih mencintainya, bukankah yang penting hatinya kini hanya tertaut pada satu pria saja, yaitu suaminya saat ini. Tapi Mentari tak menampik, ia turut berbahagia melihat mantan suaminya itu telah meraih kebahagiaannya. Meski bukan dengan dirinya, ia tetap merasa turut berbahagia. Karena sejatinya, jodoh setiap manusia itu telah digariskan oleh yang Maha Kuasa. Shandi kini bukan hanya memiliki istri, tapi juga anak-anak yang membuat hidupnya terasa lebih sempurna. Meskipun mereka bukan darah dagingnya, tapi sepertinya Shandi sungguh sangat menyayangi mereka.
...***...
"Kenapa sih nama anaknya mesti pake nama kamu?" Omel Jervario sebal membuat Mentari terkekeh.
"Ya suka-suka dia lah, bang. Belum ada hak patennya jadi nama itu bebas digunakan siapapun kan."
"Iya, cuma ... "
"Cuma apa?" goda Mentari.
"Udah ah, nyebelin banget tuh orang."
"Astaga, perkara nama aja cemburu," ejek Mentari sambil tergelak. "Ya udah, biar Abang nggak kesal lagi, Riri kasih kado, mau?"
Jervario yang awalnya membelakangi tubuh sang istri lantas segera membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Mentari. Jervario pun tersenyum lebar mendengar akan mendapatkan kado dari sang istri.
"Kado? Kado apa?" tanya Jervario penasaran.
__ADS_1
Mentari lantas merogoh saku celananya dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Setelahnya, ia meletakkan sesuatu itu ke dalam telapak tangan Jervario. Jervario yang melihat benda itu seketika saja terbelalak kemudian dengan binar bahagia ia langsung menggendong Mentari dan berputar-putar.
"Terima kasih, sayang. Kadonya ... sangat-sangat Abang suka. Selamat mami, papi jadi makin cinta deh. I love you more and more." Ucapnya kemudian membanjiri wajah Mentari dengan kecupan.
Di saat Mentari tengah berbahagia dengan kehamilan keduanya, di sebuah rumah, tampak seorang perempuan dengan wajah sendunya sedang tertunduk lesu. Di hadapannya, tampak ada seorang laki-laki duduk di atas kursi rodanya pun menatap sendu wajah gadis yang ternyata ia cintai. Sayangnya karena kesalahannya di masa lalu, membuat mereka harus kehilangan calon buah hati mereka.
Ya, dia adalah Edward. Setelah tahu Septi keguguran karena mendengar dirinya menelpon sang istri, Edward terus dihantui rasa bersalah. Bahkan setelah berpisah, ia baru menyadari kalau ia telah benar-benar jatuh cinta pada Septi.
Karena terus dirundung rasa bersalah, Edward pun memilih menceraikan istrinya. Ia yang kehilangan arah jadi sering mabuk-mabukan hingga mengalami kecelakaan yang menyebabkan sebelah kakinya harus di amputasi.
Tak ingin dirundung rasa bersalah, ia pun memberanikan diri menemui Septi dan memohon maaf. Ia pun mengajak Septi untuk menikah.
"Tapi ... tapi aku udah nggak sempurna lagi. Aku ... "
"Aku tidak mempedulikan itu lagi, honey. Bukankah aku pun sudah cacat saat ini. Aku pun sudah tidak sempurna lagi. Kalau perlu, kita mengadopsi saja, aku nggak masalah asalkan kau mau menikah denganku." Ujar Edward dengan sorot mata penuh kesungguhan.
"Tapi ... bukankah kita berbeda. Dan lagipula, apakah keluargamu mau menerimaku yang cacat ini," tutur Septi lirih. Kedua tangannya saling meremas satu sama lain. Keringat dingin bercucuran di sekujur tubuhnya. Sebenarnya ia pun masih cinta, tapi ... perbedaan mereka dan orang tua Edward, membuatnya gamang.
Edward tersenyum, "kita tidak berbeda, honey. Asal kau tahu, sudah lebih dari 1 bulan ini aku menjadi mualaf. Keluargaku juga sudah memberikan lampu hijau, jadi ... apa lagi yang kau khawatirkan?"
"Be-benarkah? Kau tidak sedang membohongi ku kan?" cecar Septi dengan mata membulat.
"Kau meragukanku? Kalau begitu, silahkan langsung tanyakan sendiri dengan mommy dan Daddy ku," ujarnya sambil menunjuk ke arah pintu. Dari sana muncul wanita paruh baya berparas asli Indonesia dan seorang pria paruh baya berwajah bule. Mereka tersenyum lebar ke arah Septi.
Septi sampai berkaca-kaca melihatnya. Ia tak menyangka, setelah kejahatan yang ia lakukan selama ini, masih ada bahagia untuk dirinya. Ia pikir, selamanya ia akan terus sendiri dalam kesendirian, tapi nyatanya ...
"Menikahlah dengan putraku, nak. Kami, mommy dan Daddy Edward meminta maaf atas kesalahan putraku di masa lalu dan izinkan ia menebus segala kesalahannya dengan menjadi pendamping hidupmu untuk selamanya. Tenang saja, kau tak perlu takut, bila Edward macam-macam denganmu, mommy dan Daddy sendiri yang akan menghukumnya, bagaimana? Kau mau menikah dengan putra bodoh Mommy dan Daddy? Menjadi menantu Mommy dan Daddy?" ujar wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Edward tersebut.
Septi tak bisa untuk tidak mengangguk. Dengan air mata yang bercucuran, ia pun menjawab bersedia. Membuat Edward pun ikut menitikkan air mata. Ia bersyukur, wanita yang ia cintai dan pernah ia lukai masih mau memaafkannya dan menerima dirinya kembali.
...***...
Akhirnya, kisah Mentari dan Abang matic berakhir juga dengan HAPPY ENDING. Terima kasih untuk semua pembaca setia karya othor. Sampai jumpa di cerita berikutnya. Yang belum mampir ke cerita othor terbaru, silahkan mampir ya, judulnya DIBUANG KARENA HAMIL ANAK PEREMPUAN.
Pengumuman top fans get pulsa diumumkan entar malam atau paling lambat besok ya kak! Ditunggu dukungannya.
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
...***...
__ADS_1