
Hari berganti begitu cepat, tak terasa kehamilan Mentari sudah memasuki bulan ke sembilan. Kehamilan kembar tentu membuat ukuran perutnya lebih besar dari kehamilan biasanya. Hari-hari Mentari pun kini kian menyenangkan dan membahagiakan. Dikelilingi orang-orang terkasih dan selalu mendapat perhatian serta dukungan dari orang-orang terdekat, membuat kehidupannya jauh lebih berwarna atau lebih tepatnya sangat bahagia.
Karena kehamilannya yang sudah memasuki bulan kesembilan, Mentari pun mulai meliburkan dirinya dari pekerjaan kantor. Seperti dahulu, kini pekerjaannya ia serahkan kembali pada Galih. Namun ia akan tetap mengontrol dan menyelesaikan bagiannya dari rumah. Tak jarang, Belinda datang ke rumah ditemani Dario untuk menyerahkan berkas-berkas yang butuh pemeriksaan dan tanda tangannya.
"Malam Bu Mentari," sapa Belinda ramah.
Ya, semenjak menikah dengan Dario, Belinda kini mulai mau tersenyum. Apalagi setelah ibunya menjalani operasi pemasangan ring dan kini keadaannya sudah jauh lebih baik, membuat hari-hari Belinda kian berwarna. Nyatanya, bukan hanya Mentari yang kini menjemput bahagianya, tapi juga Belinda. Ia tak henti-hentinya mengucap syukur karena dipertemukan dengan wanita sebaik Mentari. Ia sudah seperti matahari yang menerangi kehidupannya yang sempat suram. Karena itu, ia kini sudah bisa bersikap lebih ramah pada orang lain. Tentu saja sosoknya yang datar, tapi tiba-tiba mau mengembangkan senyum membuat semua orang yang mengenalnya jadi penuh tanda tanya dan pertanyaan itu terjawab saat Belinda membagikan satu persatu undangan pernikahannya pada semua karyawan MTR Furniture tanpa terkecuali.
"Sore sayang," sapa Dario seraya membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Belinda masuk setelah sebelumnya mengecup dahi Belinda dengan sayang. Ia sedang berada di MTR Furniture untuk menjemput kekasih halalnya. Sekarang, ia tak perlu menjadi sopir dadakan Jervario lagi sebab atasannya kini telah memiliki sopir pribadi. Hal ini dikarenakan ia tak mau terlalu merepotkan Dario. Bila dahulu mungkin tak masalah sebab Dario masih single, tapi kini ia merasa tak enak hati. Dario sudah memiliki seorang istri, sudah tentu ia membutuhkan waktu yang cukup untuk sekedar quality time. Kesibukan keduanya membuat mereka hanya memiliki waktu bersama di malam hari dan saat weekend. Tentu Jervario tak ingin egois. Ia yang telah lebih dahulu memiliki keluarga tentu sangat paham akan hal itu.
"Sore juga, sayang," jawab Belinda lemah.
Mendengar suara suara Belinda yang sedikit parau sontak saja membuat Dario merasa khawatir. Setelah duduk di balik kemudi dan memasang seat belt, ia segera meraba dahi Belinda.
"Kamu sakit, sayang?" tanya Dario khawatir. Tapi dahinya tidak terasa panas seperti dugaannya.
"Nggak kok. Cuma agak lemes aja. Rasanya capek banget. Mungkin karena tadi pekerjaan aku banyak benget," jawab Belinda lesu.
"Mau ke rumah sakit? Wajah kamu pucat soalnya," tawar Dario.
Belinda menggeleng, "nggak usah. Aku nggak papa kok, dibawa istirahat palingan juga udah enakan lagi. Tapi sebelum itu, anterin aku ke rumah Bu Mentari ya. Aku mau anterin berkas ini sama nyampein pesan seseorang."
"Hmmm ... Pesan seseorang? Siapa?" tanya Dario seraya menyalakan mobilnya dan mulai menekan tuas untuk melajukan mobilnya keluar dari halaman lobi perusahaan.
"Itu, tadi mantan si bos nemuin, awalnya dia minta nomor Bu Mentari, tapi aku nggak kasi. Ada hal penting katanya. Jadi dia titip pesan aja, katanya dia mau ketemu, sebentar aja. Ada yang mau disampein."
__ADS_1
"Ck ... mau ngapain sih? Awas aja kalo mau macam-macam," decak Dario sebal. Dia sudah tahu tentang mantan suami Mentari dan kelakuannya. Tentu saja ia khawatir Shandi akan macam-macam dengan istri atasan sekaligus sahabatnya itu.
"Kayaknya yang mau dia sampein emang penting deh, mas. Kita nggak boleh su'udzon. Semoga aja dia nggak macam-macam lagi. Selama di kantor juga, dia nggak pernah aneh-aneh. Kerja seperti biasa. Walaupun ya ... masih suka curi-curi pandang pas Bu bos lewat," ujar Belinda bijak.
"Hmmm ... semoga aja."
Tak lama kemudian, akhirnya mobil yang dikendarai Dario pun telah tiba di kediaman Tjokroaminoto. Belinda pun segera menemui Mentari dan menyerahkan berkas-berkas. Tak lupa ia menyampaikan pesan dari Shandi dan setelah berbicara dengan sang suami, ia pun mengizinkan Shandi menemuinya besok di kantor MTR Furniture.
"Bel, muka kamu pucet banget. Kamu sakit?" tanya Mentari khawatir.
"Nggak kok, bu. Aku cuma nggak enak badan aja."
"Udah periksa ke dokter?"
"Jangan sepelekan kondisi tubuhmu, Bel. Ingat, kesehatan itu penting."
Tiba-tiba Mentari teringat sesuatu.
"Kamu kapan terakhir kali datang bulan?" tanyanya membuat alis Belinda mengerut.
"Emmm ... " Belinda mencoba mengingat-ingat, "2 bulan ini kayaknya ... belum, Bu," jawab Belinda terbata dengan mata membulat.
Mentari tersenyum, " pulang ini ke apotek dulu, oke. Pastikan segera agar bisa lebih hati-hati setelah memastikannya. Ingat itu!" tandas Mentari yang diangguki Belinda dengan senyum lebarnya.
Dan sesuai arahan Mentari, sebelum pulang ke apartemen yang merupakan hadiah pernikahan dari Jervario, Belinda mampir dulu ke apotek.
__ADS_1
"Mau beli obat apa, Nda? Biar aku aja yang turun."
Belinda menggeleng, ia belum bisa mengatakan sesuai dugaannya dan Mentari. Ia ingin memastikan terlebih dahulu. Selama menikah, Dario memang tidak pernah menanyakan perihal belum adanya tanda-tanda kehamilan pada Belinda. Ia pernah bertanya, tapi Dario justru tersenyum. Ia mengatakan tidak apa, mungkin belum rejeki. Mungkin mereka disuruh berpacaran dahulu. Maklum, mereka kan nikah karena fitnah dan penggrebekan.
"Nggak usah, mas. Biar aku sendiri aja. Entar mas nggak ngerti obat apa terus yang bagaimana. Mending aku sendiri aja," tolak Belinda. Dario pun hanya mengangguk, tak membantah. Setelah berlalu beberapa menit, Belinda pun kembali lagi ke dalam mobil sambil menenteng sebuah kantong berwarna putih. Sifat Dario yang tidak terlalu kepo membuat Belinda tenang. Dan setibanya di rumah, seakan sudah tak sabar untuk mengetahui hasilnya, Belinda pun bergegas masuk ke kamar mandi sambil membawa kantong plastik tadi dan sebuah cawan kecil.
Setelah beberapa menit berlalu, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam kamar mandi membuat Dario seketika panik. Ia yang sedang duduk di tepi ranjang sontak berdiri dan berhambur ke kamar mandi. Bahkan ia langsung saja mendobrak kamar mandi, padahal kamar mandi tak dikunci sama sekali.
"Sayang, kamu kenapa? Ada apa? Apa kamu terjatuh? Mana yang sakit? Bisa jalan nggak? Perlu aku gendong?" cecar Dario dengan wajah paniknya.
Belinda justru terkekeh melihat wajah panik sang suami. Belinda lantas menarik lengan Dario dan meletakkan sesuatu di atas telapak tangannya. Tapi sebelum Dario melihat apa yang Belinda letakkan di atas telapak tangannya, Belinda lebih dahulu mengecup bibir Dario membuat laki-laki itu terkejut. Kemudian Belinda mengangkat telapak tangan Dario dan menunjukkan apa yang ia letakkan di atasnya. Awalnya Dario bingung sebab ia tidak tahu apa yang Belinda letakkan itu, sebuah benda pipih berukuran kecil dengan garis dua merah di atasnya.
"Selamat jadi ayah, sayang. Aku mencintaimu," tukas Belinda membuat Dario terperangah. Bukan hanya karena pernyataan Belinda kalau ia akan menjadi seorang ayah, tapi juga karena untuk pertama kalinya, setelah beberapa bulan menikah, Belinda mengucapkan kalimat yang mampu membuat hatinya seketika berbunga-bunga.
Rasa bahagia menyeruak, dengan mata berkaca-kaca ia kembali menatap benda pipih tersebut, "ini ... "
"Ini namanya test pack atau alat test kehamilan, dan garis dua merah ini artinya aku positif hamil. Selamat ya, sayang. Akhirnya kita akan menjadi orang tua," ucap Belinda menjelaskan membuat Dario tak mampu membendung kebahagiaannya. Ia lantas memeluk erat tubuh sang istri seraya mengucapkan terima kasih dan ungkapan betapa ia mencintainya.
"Masya Allah, terima kasih sayang, terima kasih atas kebahagiaan tak terhingga ini. Terima kasih juga karena kau akhirnya membalas cintaku. Aku mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu," pungkas Dario dengan binar bahagia di wajahnya. Ia lantas merenggangkan pelukannya dan menarik tengkuk Belinda kemudian mulai menyapukan bibirnya dengan lembut dan penuh cinta.
...***...
Ya ampun, dari kemarin siang update bab seratus empat belum lolos juga. Padahal yang part hareudangnya udah othor cut. Revisi dah 3 kali, terus sudah posting ulang juga, tapi sampai pagi ini belum terbit juga. 😓
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1