Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
ENAM PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Melihat kedatangan orang yang sungguh tak pernah ia duga akan muncul kembali setelah sekian tahun lamanya, tentu saja membuat Jervario penasaran. Bagaimana tidak, sejak mereka berpisah 3 tahun yang lalu, tak pernah sekalipun perempuan itu menampakkan dirinya di hadapannya pun anaknya. Meskipun memang, perempuan itu kadangkala menghubungi sang putri, tapi hanya sekedar itu. Apalagi setahunya, semenjak mereka berpisah, wanita itu langsung menggelar pernikahannya dengan seorang lelaki yang konon katanya merupakan cinta pertamanya. Ia bahkan rela meninggalkan dirinya dan anaknya demi cinta masa lalunya itu. Sebesar itulah rasa cinta mantan istrinya itu pada kekasih masa lalunya itu.


Miris, Jervario pernah merasa miris dengan diri dan anaknya yang ternyata tak pernah benar-benar ada di hati wanita yang pernah ia cintai itu. Tapi ia berusaha untuk merelakan. Toh mungkin mereka tidak berjodoh. Ia tak mau menghalangi kebahagiaannya. Bila memang dia bahagia dengan cinta masa lalunya itu, maka ia akan merelakannya. Ia tak mau menghalanginya apalagi mengekangnya untuk tetap berada di sisinya yang mana hal tersebut bisa saja memicu sesuatu yang tidak mereka inginkan, misalnya perselingkuhan. Sebelum hal itu benar-benar terjadi, maka meski dengan berat hati, Jervario pun memilih melepaskan dengan syarat hak asuh putrinya harus jatuh ke tangannya dan Milea pun menyetujuinya.


Namun kini, sesuatu yang begitu mengejutkan terjadi. Mengapa setelah bertahun-tahun ia tak menampakkan batang hidungnya, Milea tiba-tiba muncul kembali. Tepat di saat kepulangannya ke Indonesia dari berbulan madu. Karena itu, disinilah mereka kini berada. Jervario, Mentari, Nanda, Milea, dan Andrean telah duduk di ruang tamu untuk membahas tujuan kedatangan pasangan itu. Sedangkan Asha, telah ia titipkan pada baby sitter mereka. Sebenarnya Mentari tidak ingin ikut campur dalam pembicaraan itu, tapi menurut Jervario ia harus turut serta sebab ia telah menjadi istrinya. Otomatis apapun yang melibatkan dirinya dan putrinya, maka Mentari harus tahu karena Jervario tak ingin ada sesuatu yang ia tutup-tutupi dari istrinya itu.


"Jadi, jelaskan, apa tujuanmu datang kemari?" tanya Jervario tanpa basa-basi busuk lagi alias to the point.


Milea mendengkus, "apa kau lupa kalau aku ini ibunya Asha? Apa salah aku ingin bertemu dengan putriku?" ketus Milea jengah melihat sikap angkuh mantan suaminya itu. Andrean mengusap punggung tangan Milea dengan ibu jarinya mencoba untuk menenangkan sang istri.


"Setelah 3 tahun kau meninggalkannya?" cibir Jervario sinis.


"Mas ... hiks ... hiks ... jujur, itu bukan mau ku. Seandainya bisa, aku pun ingin ikut andil membesarkan Asha terlepas dari perjanjian kita yang akan menyerahkan hak asuh Asha padamu. Tapi ... "


"Tenang sayang. Jelaskan saja pelan-pelan, dia pasti akan mengerti," ucap Andrean mencoba menenangkan Milea yang tengah terisak. Milea mengangguk sambil menyeka air matanya yang terus mengalir.


Mentari hanya diam, mendengar sambil mengamati apa yang jadi alasan Milea tidak pernah datang menemui putri kandungnya sendiri.


"Mas, 3 tahun lalu sebenarnya aku terkena kanker otak. Apa kau ingat, aku melahirkan Asha secara prematur karena mengalami kecelakaan yang membuat kepalaku cedera dan baru 3 tahun yang aku mengetahui kalau ada gumpalan darah di otak ku. Jadi selama 3 tahun ini aku berjuang mengikuti berbagai macam kemoterapi hanya demi segera sembuh dan bisa melihat Asha secara langsung. Lihat ... " Milea tiba-tiba menarik rambut panjangnya yang ternyata merupakan rambut palsu. Mentari sampai terhenyak saat melihat kepala Milea yang tanpa rambut sama sekali. Ia benar-benar terkejut. Padahal Milea tampak sangat cantik dengan rambut panjangnya, tapi ternyata itu hanya rambut palsu yang ia gunakan untuk menutupi kebotakannya.

__ADS_1


"Kemoterapi memberikan efek samping kebotakan pada diriku. Aku juga dilarang bepergian jauh. Sedangkan aku tinggal di luar kota, tentu tidak mudah bagiku untuk menemui Asha. Selain itu, aku tak ingin Asha melihat kondisiku yang tidak baik-baik saja. Namun kini, aku sudah membulatkan tekad untuk menebus kesalahanku dan waktuku yang hilang bersama putriku dengan pindah ke kota ini. Beruntung mas Andrean mau ku ajak pindah ke mari. Karena itu, aku mohon mas, izinkan aku bertemu dengan Asha. Izinkan aku lebih dekat dengannya. Bagaimana pun, Asha juga putriku, aku mohon," mohon Milea dengan tatapan mengiba.


Mentari tak kuasa menahan sesak dalam dadanya. Ia pun turut merasa bagaimana sakitnya terpisah dengan anak sendiri meskipun itu karena ulahnya sendiri.


Jervario menoleh ke arah Mentari. Sorot matanya seakan menanyakan 'bagaimana menurutmu?'. Mentari pun mengangguk. Nanda yang ditoleh Jervario pun ikut mengangguk. Dirinya pun adalah seorang ibu, tentu menyakitkan saat ia dipisahkan dengan anak yang telah ia lahirkan dengan susah payah.


Jervario menghela nafasnya, kedua wanita kesayangannya mengiyakan. Ia tak ada alasan lain selain turut mengiyakan. Bagaimana pun, Milea memang ibu kandung Asha. Tak mungkin ia memisahkan Asha dari ibu kandungnya selamanya. Ia pun khawatir, bagaimana bila dewasa kelak Asha marah karena dipisahkan dengan ibu kandungnya. Meskipun terpaksa, akhirnya Jervario pun mengangguk mengiyakan.


Milea tersenyum lebar dengan mata berbinar. Begitu pula Andrean, suami Milea saat ini. Mereka tampak begitu bahagia. Tapi entah mengapa, Mentari tiba-tiba saja merasa khawatir. Mentari segera menepis pikiran buruk yang sempat melintas di benaknya.


'Semoga semua baik-baik saja,' batin Mentari bermonolog.


"Terima kasih, terima kasih mas. Terima kasih juga emmm ... " Milea menoleh ke arah Mentari.


"Oh iya, makasih ya Ri. Semoga kalian segera dapat momongan ya!" ujar Milea mendoakan sebab ia tahu Jervario baru saja menikah kembali dengan Mentari.


"Aamiin ... " sahut Mentari, Jervario, dan Nanda bersamaan.


...***...

__ADS_1


"Hmmmppphh ... Huekkk ... hueekkk ... huekkk ... "


Saat sedang menyuapi Rohani sarapan bubur yang sempat ia beli lagi tadi, tiba-tiba Septi merasa perutnya bergejolak hebat. Isinya seakan dikocok-kocok membuat rasa mual tak mampu ia tahan apalagi saat aroma bawang goreng yang ditaburkan di atas bubur ayam itu tercium di indra penciumannya.


Bola mata Rohani hanya bisa berputar, ingin bertanya apa yang terjadi tapi suaranya sungguh sangat susah untuk keluar.


"Hep-hi hamyu henavha?" hanya suara itu yang bisa keluar dari celah-celah bibirnya.


Tapi Septi yang tak kuasa lagi menahan gejolak dalam perutnya pun segera beranjak masuk ke kamar mandi dan memuntahkan cairan bening yang sejak tadi tersangkut di tenggorokannya.


"Hueekkk ... hueeekkk ... hueekkk ... "


"Hep-hi, hamyu hahit?" gumam Rohani susah payah saat melihat Septi keluar dari kamar mandi dengan wajah basah dan bibir pucat. Tangan Septi tampak mencengkram perutnya yang memang terasa begitu nyeri.


Di liriknya bubur ayam yang belum sempat dimakan sang ibu. Lalu ia segera mengambil masker dan memakainya. Barulah ia mulai menyuapi Rohani makan sambil sesekali meringis sakit. Rohani sampai bingung, kenapa Septi bersikap seperti itu. Ia seperti sensitif terhadap aroma sesuatu.


Seketika mata Rohani terbelalak. Apa yang dialami Septi tentu ia pernah merasakannya. Tapi ... bagaimana bisa?


"Hep-hi, hamyu ha-mhil?"

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2