Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
TUJUH PULUH TUJUH


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, Mentari pikir Asha akan kembali seperti semula, kembali dekat dengannya. Tapi ternyata, Asha tampak kian menjaga jarak dengannya. Di depan cermin riasnya, Mentari menghela nafasnya. Ia bingung mengapa putrinya mendadak berubah? Sebenarnya apa yang terjadi selama Asha di Surabaya? Apa Milea telah mengatakan sesuatu yang buruk tentang dirinya? Bukan bermaksud berpikiran buruk, tapi Asha jadi tiba-tiba berubah justru sepulangnya dari tempat orang tua Milea.


Saat sedang melamun, tiba-tiba ada sepasang lengan kekar yang memeluk erat tubuh Mentari dari belakang, membuat perempuan itu tersentak dari lamunannya.


"Bang Jerva," gumam Mentari seraya menghela nafas.


"Kenapa? Kaget?" goda Jervario seraya melayangkan kecupan di pipi kanan Mentari.


"Udah tahu, nanya," ketus Mentari seraya mendelik.


Jervario terkekeh kemudian mencubit hidung bangir Mentari, "mikirin apa, hm?"


"Oh, itu, nggak ada kok, bang," kilah Mentari membuat Jervario menyipitkan matanya.


"Jangan bohong, abang tahu, kamu lagi mikirin sikap Asha yang berubah sama kamu kan!"


"Abang merasa?"


Jervario mengangguk mengiyakan, "Abang juga merasakan perubahan itu. Tapi kamu jangan khawatir ya, Abang akan coba bujuk dia biar kembali seperti biasanya."


"Makasih ya, bang. Riri sedih banget lihat Asha kayak gitu. Riri kangen bisa peluk cium Asha kayak biasanya," ujar Mentari lirih membuat Jervario gegas mengeratkan pelukannya.


"Sabar ya, sayang. Maaf, sementara Abang hanya bisa melakukan itu," pungkas Jervario.


...***...


Malam ini di meja makan hanya ada Jervario, Mentari, dan Asha. Kedua orang tua Jervario sedang berada di luar kota karena Gathan yang harus menghadiri pesta pernikahan putra rekan bisnisnya.


"Asha mau makan sama apa? Mami buat udang asam manis lho, Asha mau kan?" tukas Mentari memasang senyum ceria. Ia tentu tak ingin menunjukkan kesedihannya pada Asha. Ia harap, senyum cerianya dapat menular pada putrinya.


Asha hanya mengangguk tanpa membalas tatapan Mentari. Lalu Mentari pun mulai menyendokkan udang asam manis ke dalam piring Asha.


"Sha, besok kita jalan-jalan ke puncak, mau?" ujar Jervario sambil menyiapkan nasi ke dalam mulutnya.


Asha menggeleng membuat Mentari dan Jervario heran.


"Lho, kok nggak mau, sayang! Tumben. Biasanya tiap weekend kamu pasti sibuk ngajakin papi jalan-jalan," tukas Jervario heran. Mentari hanya mendengarkan sebab ia pun penasaran apa alasan putrinya tak mau diajak jalan-jalan.


"Besok pagi mommy mau ajakin Asha ke rumah nenek lagi, Pi," jawab Asha cepat.


Jelas saja jawaban Asha mengundang tanda tanya di benak kedua orang itu.

__ADS_1


"Tapi mommy kamu nggak ada bilang sama papi, Sha."


"Kata mommy nggak apa-apa. Papi pasti bakal izinin kalau Asha mau."


"Kamu kayaknya seneng banget ikut mommy ya!" tukas Jervario.


"Iya Pi, soalnya di sana Asha bisa ketemu a- eh maksud Asha bisa ketemu nenek sama kakek. Nenek sama kakek suka ajak Asha main terus jalan-jalan."


Entah mengapa Mentari dapat merasakan ada yang ditutupi Asha, tapi apa itu Mentari tak tahu. Mentari harap, Jervario dapat segera menyadarinya.


...***...


tok tok tok ...


Mentari mengetuk pintu kamar Asha, kemudian ia pun masuk ke dalamnya.


"Asha lagi apa, sayang?" tanya Mentari lembut.


Asha mengangkat wajahnya kemudian kembali fokus dengan kegiatan menggambarnya.


"Lagi gambar, Mi, " jawab Asha masih fokus dengan pensil di tangannya.


"Wah, gambar Asha bagus banget! Ini gambar siapa aja?" tanya Mentari.


"Lho, yang ini kok dilewatin? Ini siapa? Terus ... kata Asha ini adek Asha, Asha pingin banget ya punya adek?" ujar Mentari seraya memperhatikan tangan kecil Asha yang tengah mewarnai gambarnya.


"Ini ... " Asha tampak bingung ingin menjawab apa jadi ia hanya menundukkan wajahnya.


"Sha, boleh mami tanya sesuatu?" tanya Mentari hati-hati. Asha mendongak kemudian mengangguk.


"Sha, mami ada salah ya sama Asha?"


Asha pun menggeleng. Memang ibu sambungnya itu tidak memiliki salah apapun padanya.


"Kalau gitu, kenapa Asha cuekin mami terus? Asha tahu nggak, mami sedih lho Asha cuekin mami. Padahal ... mami kangen banget sama Asha. Mami pingin jalan-jalan sama Asha, ngobrol sama Asha, peluk Asha, cium Asha," ujar Mentari dengan wajah sendu.


Asha menoleh pada Mentari. Matanya ikut memerah saat melihat mata Mentari tampak berkaca-kaca. Air mata itu sudah berkumpul di pelupuk mata Mentari. Sekali kedip saja, bah air asin itu akan segera tumpah membasahi pipi Mentari.


"Mami ... " cicit Asha dengan bibir bergetar. "Asha ... Asha juga kangen sama mami," ujarnya yang langsung mendapatkan pelukan dari Mentari. Akhirnya, air mata itu benar-benar tumpah ruah membasahi pipi. Mereka berdua terisak sambil memeluk satu sama lain seolah ingin menumpahkan kerinduan yang lama terpendam di benak masing-masing.


"Kalau Asha kangen sama mami, kenapa Asha cuekin mami? Mami sedih banget. Mami sampai bingung, takut mami udah buat Asha sedih atau kecewa. Apa mami ada salah sama Asha? Kalau ada, kasih tahu mami? Kalau memang mami ada salah, mami mohon maafin mama ya, sayang!" lirih Mentari yang sudah melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah Asha yang juga basah karena air mata.

__ADS_1


"Mami ... mami nggak salah. Asha ... Asha cuma takut."


"Takut apa?"


"Kata mommy, mami itu cuma sayang papi, nggak sayang Asha. Apalagi kalau mami punya adek bayi, pasti mami bakal nggak peduliin Asha lagi. Mami juga akan buat papi nggak sayang Asha lagi, cuma sayang adek bayi aja. Terus Asha pasti akan sering dimarahin," aku Asha sambil terus terisak membuat mata Mentari terbelalak dan mulut menganga tak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini.


"Ya Allah, sayang ... Mami nggak mungkin akan melakukan itu, sayang. Mami ... mami itu sayang banget sama Asha. Meskipun nanti Allah kasih adek bayi di perut mami, Asha tetap akan jadi Putri mami yang selalu mami sayangi. Mami akan sayang Asha sama seperti mami sayangi adek bayi. Asha itu merupakan anugerah dari Allah untuk mami. Meskipun Asha tidak lahir dari perut mami, tapi mami menyayangi Asha seperti anak kandung mami sendiri," tutur Mentari sambil merangkum pipi Asha dengan telapak tangannya. "Percayalah sama mami, mami sayaaaaaang banget sama Asha."


Selesai mengatakan itu, Asha langsung berhambur ke pelukan Mentari lalu menangis tergugu di pelukannya.


"Maafin Asha mami, Asha salah, Asha nakal sudah buat mami sedih. Maafin Asha mami, Asha juga sayang sama mami. Maafin Asha, mami," ujar Asha tergugu di pelukan Mentari.


Mentari lantas mengusap punggung Asha yang bergetar. Mana mungkin ia bisa marah pada bidadari kecilnya ini. Seperti yang ia katakan tadi, meskipun Ashadiva tidak terlahir dari rahimnya, tapi ia menyayangi Asha seperti putri kandungnya sendiri.


"Asha nggak salah kok sayang. Mami nggak marah sama Asha. Asha cuma takut aja mami nggak sayang Asha. Pokoknya Asha harus ingat, sampai kapanpun mami akan selalu menyayangi Asha. Jangan percaya kalau ada yang bilang mami nggak sayang Asha karena Asha itu putri mami yang sangat berharga dan akan selalu mami sayangi sampai kapanpun," pungkasnya sambil mengecupi puncak kepala Ashadiva tanpa melepaskan pelukannya.


Dari ambang pintu, tampak Jervario mengepalkan tangannya. Sejak tadi ia sudah mendengarkan curahan hati Putri kecilnya itu. Ia tak habis pikir dengan apa yang sudah dikatakan mantan istrinya itu pada Asha. Mengapa ia begitu tega mempengaruhi pikiran anak sekecil Ashadiva? Dan ... apa salah Mentari sehingga ia seakan ingin menjauhkan Asha dari Mentari? Mengapa Milea seakan ingin membuat Asha membenci istrinya itu? Padahal Mentari menyayangi Asha dengan begitu tulus, tapi Milea justru mengotori pikiran polos Asha dengan sesuatu yang tidak benar.


Tiba-tiba Jervario kembali berpikir, sejak awal ia memang merasa aneh dengan kemunculan Milea secara tiba-tiba. Mungkinkah ia sedang merencanakan sesuatu? Tetapi apa? Jervario tidak bisa menebaknya.


Melihat Asha sudah kembali ceria dengan Mentari, Jervario pun segera membalikkan tubuhnya dan beranjak menuju ruang kerjanya. Setibanya di sana, ia segera mengambil handphonenya dan menghubungi Dario. Ia ingin meminta Dario menyuruh orang-orangnya mencari tahu tujuan Milea yang muncul kembali setelah sekian tahun menghilang.


Setelah panggilannya terhubung, ia pun segera menyampaikan tujuannya.


"Yo, tolong suruh orang-orang kita untuk menyelidiki tujuan Milea yang muncul kembali setelah sekian tahun ini menghilang!"


'Kenapa memangnya? Apa kau mencurigai sesuatu? Atau dia melakukan sesuatu yang mencurigakan?'


"Hmmm ... Aku awalnya merasa aneh dia tiba-tiba muncul dan mengatakan ingin lebih dekat dengan Asha. Tapi saat ia mengatakan kalau ia terkena kanker karena itu ia tak pernah muncul dan ingin menebus waktunya yang hilang saat bersama Asha, aku jadi mencoba mengerti dan mengizinkannya. Tapi makin ke sini, sikap Milea makin mencurigakan. Ia bahkan mempengaruhi Asha agar menjauhi Mentari. Dia mengatakan hal yang tidak-tidak tentang Mentari pada Asha. Bukankah itu aneh?"


'Kau benar. Baiklah, aku akan meminta orang-orang kita menyelidikinya.'


"Oh ya, satu lagi, ternyata besok Milea akan mengajak Asha ke Surabaya kembali tanpa meminta izin dariku lagi. Pagi-pagi sekali, minta orang untuk stand by dan mengikuti mereka. Aku benar-benar penasaran, sebenarnya apa rencananya. Aku yakin, dia tengah merencanakan sesuatu. Kau mengerti!"


'Siap, bos. Laksanakan!'


Klik ...


Setelah mengatakan itu, Jervario pun gegas menutup panggilan itu.


"Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan, Milea? Awas saja, bila kau berniat macam-macam apalagi sampai berusaha mengusik rumah tanggaku, maka aku takkan tinggal diam. Aku pasti akan membuat perhitungan denganmu," gumamnya dengan sorot mata tajam dan tangan terkepal erat.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2