
Sudah beberapa hari ini Mentari dan Jervario menginap di hotel. Jervario memang sengaja mengundur kepulangan mereka beberapa hari untuk berlibur berdua saja. Sedangkan Asha telah pulang lebih dahulu dengan Oma dan Opa-nya.
Cahaya mentari pagi masuk melalui celah-celah gorden kamar, membuat Mentari yang sebelumnya terlelap mulai mengerjapkan matanya. Sebenarnya mereka telah bangun sejak subuh tadi, tapi karena masih mengantuk, Mentari pun kembali bergelung dengan selimut kehangatan Jervario hingga membuatnya kembali terlelap.
Mentari mengerjapkan matanya. Rasa hangat yang melingkupinya membuatnya merasa begitu nyaman dan terlindungi. Mentari pun mengangkat wajahnya dan memandangi sosok yang masih merengkuh tubuhnya dengan mata yang masih terpejam.
'Kamu tampan banget sih, bang. Lagi tidur aja cakep, apalagi pas lagi senyum. Untung aja kamu pelit senyum, nggak rela rasanya senyum kamu dibagiin secara gratis sama orang-orang. Kamu pelit senyum aja banyak yang naksir, apalagi kalo kamu ramah sama semua orang. Bisa-bisa aku mati cemburu karena tiap hari kamu senyumin semua orang khususnya cewek-cewek,' gumamnya dalam hati sambil memandangi wajah rupawan sang suami.
"Udah puas pandanginnya, hm? Abang tahu abang sangat tampan, tapi nggak juga dipandanginya segitunya," seloroh Jervario tiba-tiba membuat Mentari membulatkan matanya dengan pipi bersemu merah.
"Abang udah bangun dari tadi?"
"Hmmm ... sepertinya ... begitu," sahut Jervario sambil mengulum senyum. Lalu ia membuka matanya perlahan. Tampak Mentari sedang mengerucutkan bibirnya membuat Jervario gemas lantas secepat kilat mengecupnya.
"Bang, jorok ih!" pekik Mentari lalu segera menutup mulutnya.
"Jorok kenapa?" beo Jervario.
"Kan baru bangun. Belum sikat gigi juga," cebik Mentari.
"Tapi nggak bau kok. Kan subuh tadi kita udah kumur-kumur. Kecuali ... kamu ngiler pas tidur barusan."
__ADS_1
"Ih, enak aja. Mana ada," cetusnya sambil mengusap sudut bibirnya. "Tuh nggak ada kan."
Jervario terkekeh melihat tingkah istrinya yang terkadang memang begitu menggemaskan. Jervario merasa amat sangat beruntung bisa mendapatkan istri seperti Mentari. Ia benar-benar tak menyangka, cinta bertepuk sebelah tangannya justru berbalas setelah mereka pernah sama-sama merasakan mahligai pernikahan dengan orang lain. Ternyata jodoh tak selalu yang menjadi pertama, sebaliknya mereka justru berjodoh setelah sama-sama kembali sendiri.
Perceraian memang perbuatan yang dilaknat Allah, tapi bukan berarti tidak boleh. Ada kalanya perceraian merupakan pintu menuju lembaran kebahagiaan yang sebenarnya. Buktinya, banyak yang menemukan kebahagiaan sejatinya setelah melalui fase sakitnya perpisahan. Jervario pun pernah merasakan keterpurukan akibat perceraian. Bukan hanya perempuan yang bisa bersedih, tapi lelaki pun juga memiliki sisi emosional apalagi saat ditinggal secara tiba-tiba oleh seseorang yang dicintai.
Jervario pernah merasakan mencintai Milea. Tapi setelah apa yang ia lakukan, membuat rasa cinta itu kandas seketika. Apalagi Milea tanpa rasa bersalah meninggalkan dirinya dan anaknya hanya demi untuk bersama dengan mantan kekasihnya. Cinta pertamanya. Kecewa, itu yang Jervario rasakan. Tapi ia tak mau berlarut-larut dalam kesedihan dan keterpurukan. Apalagi ia memiliki bidadari kecil yang mesti ia jaga, rawat, dan sayangi, memberinya kekuatan dan semangat untuk menjadi seorang ayah yang baik bagi putri satu-satunya tersebut.
"Sayang, lapar," ujar Jervario seraya merengek manja. Sungguh, pasti takkan ada yang menyangka sosok sekaku, secuek, dan sedatar Jervario ternyata bisa merengek seperti ini. Menggelikan memang, tapi Mentari suka. Sebab Jervario hanya menunjukkan sisi menggemaskannya ini padanya.
"Ya udah, buruan bangun, mandi. Entar aku pesan layanan kamar buat anterin sarapan kita." Ucap Mentari sambil menegakkan punggungnya untuk segera beranjak dari tempat tidur.
Tapi, belum sempat Mentari beranjak, Jervario justru menarik pinggangnya sehingga Mentari kembali terbaring, namun di atas tubuhnya.
"Bang," pekik Mentari seraya mendelikan matanya.
"Aku mau bangun ih. Katanya lapar."
"Abang emang lapar. Lapar banget malah. Soalnya udah lebih dari seminggu puasa. Jadi Abang mau buka puasa dulu."
Mentari mengerutkan keningnya, "udah lebih dari seminggu puasa? Abang jangan bohong deh. Abang ngigau ih. Semalam aja kita makan kok, puasa dari mana coba?" sanggah Mentari.
Memang benar kan kata Mentari, semalam bahkan mereka makan sepiring berdua dengan Jervario yang menyuapinya. Jadi, puasa dari mana? Lagian, kalau suaminya itu puasa lebih dari seminggu, bisa-bisa suaminya terkena busung lapar dong? Atau yang lebih parah, bisa mati kelaparan.
__ADS_1
Bukannya menanggapi omelan Mentari, Jervario justru semakin mendekap tubuh Mentari dengan telapak tangan yang sudah masuk ke balik piyama satin miliknya.
"Abang bukan lapar itu sayang, tapi ... " Jervario memajukan wajahnya dan mencumbu bibir Mentari. "Abang lapar bercinta denganmu," imbuhnya sambil kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Mentari. Dulu*matnya bibir Mentari dengan gerakan sensual. Diketuknya bibir Mentari dengan ujung lidahnya agar memberinya celah untuk melesakkan lidahnya ke dalam sana. Mentari yang baru paham pun lantas memberi celah. Mungkin bila ia adalah tokoh kartun, akan ada lampu yang menyala di atas kepalanya sebagai pertanda ia baru paham atas ucapan ambigu sang suami.
Yah, semenjak masalah Asha tempo hari, mereka memang belum kembali melakukan kegiatan panas mereka. Apalagi saat itu tubuh Mentari sangat lemah dan rentan, jadi ia tidak bisa menyalurkan kebutuhan biologisnya pada sang istri.
Kini, keduanya sudah mulai terbakar gairah. Satu persatu kain yang menempel di tubuh mereka entah pergi kemana. Hanya ada sepasang tubuh polos tertutup selimut yang berbalur peluh. Keduanya sudah larut dalam percintaan hingga saatnya mereka di menyatukan diri.
"Bang," sergah Mentari seraya menempelkan telapak tangannya di dada Jervario saat Jervario hendak menyatukan miliknya dengan goa surgawi Mentari.
"Abang akan pelan, sweetheart. Jangan khawatir!" tukasnya menenangkan. Mentari pun mengangguk dan melebarkan pahanya, memberi akses penuh untuk sang suami menuntaskan hasrat yang sempat tertunda beberapa hari ini.
Kini ... hanya ada suara desa*han dan e*rangan yang memenuhi kamar hotel itu. Keduanya telah terlarut dalam buaian kenikmatan. Jervario menghentakkan miliknya dengan gerakan konstan namun tidak terlalu menggebu. Ia tentu tak ingin menyakiti, baik istrinya maupun calon buah hatinya. Apalagi buah hati yang kini hadir di rahim istrinya merupakan sesuatu yang sudah sekian lama Mentari nantikan. Tentu ia ingin mewujudkan impian sang istri yang ingin menjadi wanita sempurna, wanita sesungguhnya dengan melahirkan seorang buah hati.
Bisa hamil dan melahirkan adalah impian hampir setiap perempuan. Namun, tak semua perempuan dapat merasakannya. Ada yang bisa dengan mudah, ada juga yang butuh perjuangan dan pengorbanan, bahkan ada yang sudah sekian lama berjuang, namun tetap saja hasil tak sesuai harapan. Tak ada yang bisa disalahkan sebab itu bukan kemauan mereka. Semua sudah takdir dan semua telah tertulis di Lauhul Maffudz. Manusia hanya bisa berusaha, tapi Allah-lah yang maha menentukan. Jadi, buat para moms pejuang garis dua, jangan pernah berputus asa atau merasa insecure, oke! Semoga para moms pejuang garis dua, segera mendapatkan kabar gembira, seperti Mentari yang akhirnya menemukan cahayanya.
...***...
Kini Mentari dan Jervario telah dalam perjalanan pulang ke rumah. Setelah berlibur selama 1 Minggu di negeri singa, mereka pun harus segera kembali. Banyak pekerjaan yang sudah menanti mereka. Sebenarnya mereka masih ingin menikmati momen berdua di negeri singa tersebut, tapi mereka tak bisa abai pada kewajiban mereka. Mereka memiliki pekerjaan yang harus mereka kerjakan.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam, akhirnya mobil taksi yang Jervario dan Mentari tumpangi telah tiba di kediaman Tjokroaminoto. Namun, baru saja mereka menginjakkan kaki mereka di dalam rumah, ternyata mereka telah disambut oleh sesosok yang membuat Jervario seketika menggeram menahan emosi.
"Mau apa lagi kau datang kemari, hah?" bentak Jervario dengan suara baritonnya. Tatapan matanya nyalang, seolah tengah bersiap ingin menerkam. Mentari yang melihat perubahan sang suami dalam waktu singkat sampai tertegun. Begitu pula sosok itu yang seketika saja bersimpuh. Namun tetap saja, ia tak mampu menarik simpati dari seorang Jervario Tjokroaminoto.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...