Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
TUJUH PULUH SATU


__ADS_3

Siang ini Jervario mengajak Mentari dan Asha makan siang bersama. Sebelum itu, Mentari ingin menjemput Asha di sekolahnya. Asha pulang sekolah pukul 10 pagi. Karena Asha masih TK, tentu jam pelajarannya pun hanya sebentar.


Namun baru saja Mentari tiba di sekolah Asha dengan diantarkan Belinda, sosok yang baru Mentari ketahui merupakan ibu kandung Asha ternyata telah lebih dahulu berada di sana. Mentari bingung, apa tujuannya? Bila memang ingin bertemu kan bisa mengatur waktu terlebih dahulu, tidak bisa datang mendadak seperti ini. Meskipun ia adalah ibu kandung Asha, tapi tetap saja, ia harus meminta izin pada Jervario terlebih dahulu selaku ayah kandung yang memegang hak asuh atas Asha.


"Hai Mil," sapa Mentari ramah.


"Eh, kamu, Ri. Aku nungguin Asha pingin ajak dia jalan, nggak papa kan?" tanya Milea to the point. Seolah ia bisa seenaknya saja hanya karena statusnya yang merupakan ibu kandung.


"Emmm ... kamu udah izin sama papinya Asha?" tanya Mentari.


"Eh, itu, udah kok. Iya, udah," ucapnya sedikit ragu.


"Tapi bang Jerva tadi telepon minta kami datang ke kantornya untuk makan siang bersama, dia nggak bilang kalau Asha mau pergi sama kamu." Mentari mengungkapkan yang sebenarnya. Jelas saja hal tersebut membuat Milea agak gelagapan.


"Maksud aku, aku baru akan menghubunginya setelah menanyakan sama Asha, dia mau nggak pergi sama mamanya," ujar Milea sambil menekankan kata mamanya seolah ingin menunjukkan statusnya terhadap Ashadiva.


"Oh, ya udah, kalau gitu kamu telepon bang Jerva dulu deh soalnya sebentar lagi bang Jerva mau meeting," ujar Mentari sambil tersenyum lembut.


"Nggak usah deh, besok aja. Katamu tadi kalian mau makan siang kan, kalau begitu aku pulang dulu," ujarnya tersenyum seraya membalikkan badannya dan masuk ke dalam mobil.


Beberapa pasang mata tampak memandanginya sejak sedang berbicara dengan Milea tadi. Entah apa yang mereka pikirkan, Mentari tak ingin ambil pusing.


Tak lama kemudian, bel tanda jam pelajaran berakhir pun berbunyi, di saat bersamaan Asha tampak keluar sambil berlarian bersama teman-temannya menuju ke orang tua masing-masing.


"Mami," pekik Asha girang saat yang menjemputnya adalah Mentari.


Mentari pun segera berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Asha sambil merentangkan kedua tangannya. Lalu Asha pun segera masuk ke dalam pelukan Mentari. Asha tampak begitu ceria. Sudah sangat lama Asha mengharapkan dijemput oleh ibunya dan kini akhirnya impiannya itu terwujud walaupun yang menjemputnya bukanlah ibu kandungnya sendiri. Tapi ia tetap sangat senang sebab sejak mengenal Mentari sejak itu juga Asha mengharapkan Mentari lah yang akan menjadi ibunya kelak.


"Mami, Asha seneng deh dijemput mami. Makasih mami," ucap Asha yang kemudian langsung mencium pipi Mentari dengan sayang.


"Mami juga senang bisa jemput Asha. Oh ya, tadi papi telepon terus suruh kita ke kantor papi buat makan siang bersama, Asha mau?"


"Mau ... Yeay ... " seru Asha kegirangan sambil melompat-lompat membuat Mentari terkekeh.


Sebelum benar-benar pergi dari sana, Mentari menyapa beberapa ibu-ibu yang juga menunggui anaknya.


"Siang Bu, kami duluan ya, Bu," ujar Mentari ramah.


"Eh, kamu ibu sambungnya Asha ya?" tanya salah seorang ibu-ibu.


Mentari tersenyum lembut, "iya, Bu. Mari."


Tak ingin ditanyai macam-macam, Mentari pun segera berlalu bersama Asha untuk segera masuk ke dalam mobil. Mentari dapat melihat ibu-ibu tadi tampak berbisik-bisik sambil memandangi mobilnya yang segera melaju. Entah apa yang mereka bahas, Mentari tak peduli. Yang penting baginya, keluarga baik-baik saja.


Tak butuh waktu lama, hanya dalam 30 menit mobil yang dikendarai Belinda telah tiba di pelataran lobby kantor TJ Group. Setibanya di lobby, tampak Dario telah menunggu di depan meja resepsionis untuk menyambut kedatangannya.


"Hai Bu, bos. Selamat datang di kantor kami," ujar Dario seraya tersenyum lebar.

__ADS_1


"Udah ah, Bu bos Bu bos apaan. Yang bos kalian itu bang Jerva, bukan aku," sergah Mentari yang tak ingin dipanggil Bu bos di kantor suaminya.


"Sama aja, kan kamu udah jadi istri pak bos, jadi sekarang kamu udah jadi Bu bos. Benarkah, Bel?" tiba-tiba Dario melongokkan kepalanya menghadap Belinda yang berdiri di belakang Mentari. Belinda mengerjapkan matanya saat ditanyai tiba-tiba kemudian mengangguk dengan wajah datarnya.


"Iya, pak. Itu benar," jawab Belinda benar-benar singkat membuat Dario berdecak.


"Ampun dah, kerja udah sama Mr. triplek, eh ketemu Aspri istri bos yang juga triplek," seloroh Dario cengengesan.


"Heh, nggak boleh ngejekin orang, entar ketulah jadi bucinnya baru tahu rasa," sahut Mentari sambil terkekeh.


"Om, kan om kerjanya sama papi, kenapa om bilangnya kerja sama Mr. triplek. Kok namanya aneh om?" Putri yang sejak tadi berdiri mendengarkan percakapan orang-orang dewasa itu merasa kebingungan sendiri.


"Oh itu ... eee ... "


"Rasain!" ejek Mentari sambil terkekeh, "yuk Sha, papi pasti udah nungguin kita," ajak Mentari pada Asha.


"Bu, kalau begitu saya kembali lagi ke kantor ya!" pamit Belinda sambil sedikit membungkukkan badannya.


"Iya, kamu hati-hati ya! Jangan lupa makan siang!" ucap Mentari yang diangguki Belinda.


Kemudian Dario pun meminta seseorang mengantarkan Mentari ke lantai dimana Jervario berada. Saat Mentari baru memasuki lift, ia melihat sesuatu yang berkilauan jatuh dari sisi kiri tubuh Belinda yang tengah melangkah cepat.


Dario pun segera melangkahkan kakinya menuju ke tempat dimana ia melihat sesuatu yang terjatuh tersebut.


"Gelang? Hmmm ... pantas saja, gelangnya putus," gumamnya saat gelang berwarna perak berbentuk rantai kecil sederhana dengan 3 buah permata. Dario menyunggingkan senyum saat melihat gelang tersebut. "Ternyata dia suka memakai aksesoris juga."


Dario lantas segera melangkahkan kakinya menuju pelataran parkir untuk mengembalikan gelang tersebut, tapi ternyata ia terlambat. Baru saja ia keluar dari pintu lobby, mobil Belinda ternyata sudah lebih dahulu melaju.


...***...


"Wa'alaikum salam," jawab Jervario yang segera mendongakkan kepalanya menatap kedatangan dua bidadari dalam hidupnya itu. Jervario pun segera melepaskan kaca mata kerjanya sambil berdiri dan meletakkan kaca mata tersebut di tempatnya.


"Abang kalau kerja pakai kaca mata?" tanya Mentari. Ia merasa kagum melihat wajah suaminya saat memakai kacamata. Menurutnya, Jervario terlihat berkali-kali lebih tampan saat kacamata itu bertengger di atas hidungnya.


"Hmmm ... untuk jaga-jaga aja , mengurangi efek radiasi," jawab Jervario sambil mengulurkan tangannya untuk disalami Mentari. Mentari pun menyambut tangan itu dan menciumnya takzim. Asha yang melihat hal tersebut pun turut mengikuti membuat Jervario tersenyum.


"Anak papi gimana sekolahnya tadi? Menyenangkan?" tanya Jervario sambil mengangkat tubuh Asha kemudian mendudukkannya di salah satu sofa di ruangan itu.


"Iya Pi. Tadi Asha disuruh bercerita tentang ibu jadi Asha ceritain aja tentang mami. Asha cerita, Asha punya mami yang cantik, baik, dan sayang sama Asha," ujar Asha bercerita dengan semangat membuat mata Mentari berkaca-kaca. Padahal Asha bukanlah anak kandungnya, tapi Asha begitu menyayanginya.


"Anak pintar," puji Jervario.


...***...


Kini mereka tengah menikmati makan siang mereka di sebuah restoran cepat saji sesuai permintaan Ashadiva. Saat sedang makan tiba-tiba Mentari melihat dua orang yang masuk ke dalam sana dengan tangan saling berangkulan yang salah satunya merupakan seseorang yang Mentari kenali. Tiba-tiba saja mata mereka saling bersirobok, tapi Mentari bersikap acuh tak acuh begitu pula dengan seseorang yang dilihat Mentari itu.


"Bukannya dia mantan adik ipar kamu, sayang?" celetuk Jervario tiba-tiba membuat Mentari mendongak.

__ADS_1


"Hmmm ... "


"Tumben dia kalem. Biasanya kalau lihat kamu pasti langsung nyamperin buat ngata-ngatain," tukas Jervario.


"Entahlah. Tapi bagus juga kayak gini. Semoga aja dia udah tobat nggak mau gangguin aku lagi. Malas juga soalnya berurusan sama orang toxic kayak dia," ucap Mentari sambil melambai padanya ke arah Asha yang sedang naik perosotan di area bermain anak.


"Bang, tadi pas mau jemput Asha ternyata di sana aku ketemu Milea. Dia bilang mau jemput Asha terus ajak jalan-jalan tapi karena aku bilang mau makan siang sama-sama Abang, dia nggak jadi deh." Mentari menceritakan pertemuannya dengan Milea.


"Oh ya?"


"Hmm ... tapi aneh deh bang, awalnya dia bilang dia izin sama Abang, tapi pas aku bilang disuruh Abang jemput Asha untuk makan siang bareng, tiba-tiba dia bilang belum bilang ke Abang. Tapi katanya besok dia mau jemput Asha terus ajak jalan. Gimana bang? Diizinin atau nggak?"


"Menurut kamu?" Jervario meminta pendapat Mentari.


"Sebenarnya dia berhak sih buat ajak Asha jalan, cuma kan seharusnya izin dulu. Dia nggak bisa seenaknya gitu. Aku nggak ngelarang lho bang cuma caranya aja, buat aku rada nggak nyaman. Bukan kenapa bang, gimana kalau kita kira Asha dijemput Milea taunya nggak atau sebaliknya, dia tiba-tiba aja jemput tanpa izin, kan kita pasti panik, bang," ujar Mentari mengemukakan uneg-unegnya. Sebenarnya dia merasa ada sesuatu yang janggal dengan Milea, tapi apa ia belum tahu. Ia juga tidak bisa sembarangan menduga dan mengatakannya pada orang lain, takutnya ia dikira cemburu buta atau memfitnah. Jadi ia hanya diam saja sambil mengamati apa yang sebenarnya Milea inginkan. Syukur-syukur dia hanya ingin lebih dekat dengan putrinya, tak lebih.


"Kamu benar, nanti Abang bilang ke dia. Makasih ya sayang udah perhatian dengan Asha," ucap Jervario sambil mengusap pipi Mentari dengan sorot mata penuh cinta.


Mentari tersenyum, "itu udah kewajibanku sebagai maminya, Asha bang. Lagian aku emang udah terlanjur sayang sama Asha," ungkap Mentari.


"Kalau sama papinya, sayang nggak?" tanya Jervario sambil tersenyum menggoda membuat wajah Mentari bersemu merah.


"Kalau nggak sayang, mana mungkin mau tiap malam diajak tempur, bang," balas Mentari sambil mengulum senyum membuat Jervario terperangah kemudian tergelak.


"Astaga, kamu ya! Udah mulai nakal ternyata. Duh, tiba-tiba Abang jadi pingin bertempur nih, gimana ya?"


"Astaga Abang, ih otaknya tolong dikendalikan ya!" Mentari mencubit paha Jervario gemas membuat laki-laki itu tergelak kencang.


Sementara itu, di meja yang lain, ada sepasang mata yang terus menatap lekat kebersamaan Mentari dan Jervario yang tampak sangat bahagia dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aduh," tiba-tiba perempuan itu mengaduh kesakitan pada bagian perutnya membuat laki-laki yang sedang menerima telepon dari posisi agak jauh darinya segera menutup panggilan itu.


"Honey, ada apa?" tanya laki-laki itu khawatir.


"Perutku sakit, honey. Bisa antarkan aku pulang?"


"Baiklah. Tapi ingat, jaga kandunganmu dengan baik. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada anakku, kau mengerti!"


"Kau tenang saja, honey. Tapi sebelum itu, aku harap kau segera mengurus pernikahan kita. Aku tidak mungkin menyembunyikan kehamilanku selamanya. Aku tidak mau orang-orang menggunjingku karena hamil di luar nikah."


"Kau tak perlu pikirkan itu. Pikirkan saja kesehatan kandunganmu. Masalah pernikahan, biar itu jadi urusanku, kau mengerti!"


"Hmmm ... ayo, aku sudah tak tahan lagi. Apa kita periksakan saja? Soalnya perutku sering kali terasa sangat sakit. Aku takut ... "


"Dengar, tak usah banyak pikiran. Semua akan baik-baik saja. Kita akan memeriksakan kandunganmu setelah berusia 4 bulan supaya kita bisa sekaligus USG. Kau tahu bukan, aku sangat sibuk akhir-akhir ini jadi tak perlu kau cemaskan apapun, oke?"


"Baiklah," jawab Septi pasrah. Ia sudah tak kuasa mendebat lagi sebab perutnya sudah kian terasa nyeri mencengkram.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2