Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
EMPAT PULUH LIMA


__ADS_3

"Onty Riiiiii ... " pekik Asha sambil berlarian mendekati Mentari saat Mentari masuk ke dalam rumah orang tua Jeanara dan Jervario. Jervario masih tinggal di rumah orang tuanya. Tentu hal itu ada alasannya, apalagi kalau bukan agar ada yang menjaga putri semata wayangnya, Ashadiva. Dahulu Jervario memang memiliki rumah sendiri, tapi setelah bercerai, rumah penuh kenangan itu ia jual. Namun ia masih memiliki apartemen yang kerap ia gunakan untuk beristirahat. Apartemen itu telah ia miliki sejak ia masih membujang.


Mentari pun merentangkan tangannya untuk menyambut Asha yang sepertinya ingin dipeluk.


"Asha-nya onty makin cantik aja sih!" ucap Mentari seraya menciumi pipi Asha.


"Onty juga makin cantik," sahut Asha sambil melingkarkan tangannya di leher Mentari dan menempelkan kepalanya di bagian dada dengan manja.


"Ck ... mentang ada onty Riri, papi jadi dicuekin." Jervario berdecak sambil memasang wajah cemberut membuat Asha terkikik geli.


"Lho, Jer, kok udah pulang nak? Dan ini ... "


"Ini onty Riri Oma. Kata Onty Jea, onty Riri ini akan jadi mami Asha," celetuk Asha membuat Mentari membulatkan matanya dengan mulut menganga, sedangkan Jervario sudah mengulum senyum sambil membuang wajahnya.


"Oh jadi ini Onty Riri, sahabat onty Jea itu. Selamat datang di gubuk mama, nak. Silahkan masuk! Eh, kalian datang berdua ya?" cerocos Nanda membuat Mentari terbengong ria di tempatnya.


'Gubuk? Mama?' beo Mentari dalam hati.


"I-iya tan- "


"Mama," potong Nanda cepat membuat Mentari meringis.


"I-iya, ma. Kamu datang barengan. Jervanya sakit jadi minta anterin pulang," ucap Mentari membuat Anda segera mengalihkan pandangannya pada sang putra.


"Kamu sakit, nak? Ya Allah, sudah minum obat?" tanya Nanda khawatir. Ia lantas memegang dahi Jervario yang memang cukup hangat.

__ADS_1


"Cuma masuk angin aja kayaknya, ma. Mama nggak usah khawatir gitu. Tadi juga Jerva udah minum obat kok dibantu calon menantu mama," ucap Jervario sambil mengerling jahil ke arah Mentari membuat Mentari diam-diam menginjak kaki Jervario kesal.


"Aduh ... kamu kenapa, sayang? Kok kaki aku diinjek sih?"


"Cie ... udah sayang-sayangan aja," seloroh Jeanara yang baru saja datang.


'Astaga, dua orang ini asem banget pada ngerjain gue mulu sih!' gerutu Mentari dalam hati.


"Udah deh Je, nggak usah ikut-ikutan sodara kamu yang nyebelin ini deh! Enak aja panggil sayang-sayang, emang kapan aku jadi sayangnya kamu," ketus Mentari sambil bersungut-sungut.


Jeanara dan Nanda terkekeh geli melihat ekspresi Mentari yang sedang cemberut.


"Wah, aku kirain kamu udah berhasil Va, tahunya belum toh!"


"Wah, padahal mama udah seneng banget lho pas dengar Jerva sebut kamu calon menantu mama, tapi ternyata belum toh! Tapi masih ada peluang kan!" goda Nanda membuat Mentari gelisah di tempatnya.


"Iya, kalau kalian emang serius, mama bakal seneng banget. Apalagi nama kamu itu udah nggak asing lagi di rumah ini, sampai-sampai art pun udah hapal sama siapa itu Riri alias Mentari," ucap Nanda membuat dahi Mentari berkerut lalu mengalihkan pandangannya pada Jeanara yang pura-pura sibuk dengan bayinya, dan Jervario yang juga pura-pura bercanda dengan Asha membuat Mentari kesal. Lalu diam-diam ia mengulurkan tangannya mencubit pinggang Jervario membuat laki-laki itu mengerang dan menyipitkan matanya ke arah Mentari. Mentari justru melotot membuat Nanda tertawa terbahak-bahak.


"Interaksi kalian lucu banget deh. Mama ke belakang dulu ya, tadi lagi bikin kue. Semoga aja sebentar lagi matang," ucap Nanda seraya berlalu dari hadapan Mentari, Jervario, Jeanara, dan Ashadiva.


"Jer ka- "


"Ssst ... Asha, bobok siang dulu ya sama mbak Titi!" ujar Jervario sambil mengusap rambut Asha yang matanya sudah sedikit sayu.


"Asha boleh bobok sama Onty Riri nggak?" celetuk Ashadiva membuat Jervario melirik ke arah Mentari yang justru kini menggaruk pelipisnya.

__ADS_1


"Emmm ... ya udah, ayo! Kamar Asha ada di mana?" Mentari membawa Asha ke dalam gendongannya. Hatinya menghangat. Sudah lama ia berharap memiliki seorang buah hati, tapi tak kunjung diberi. Ia juga tidak pernah berinteraksi dengan anak kecil dan Asha adalah yang pertama. Ia pernah menggendong anak Galih, tapi hanya sekedar menggendong karena usianya yang masih terlalu kecil.


"Di sana onty," tunjuk Asha pada kamar yang ada di lantai 2.


"Ri, kamu nggak papa?" tanya Jervario.


"Maksudnya?"


"Itu ... kamu nggak papa temenin Asha? Kalau kamu ... "


"Aku nggak papa kok. Asha lucu dan menggemaskan, aku suka," ucap Mentari dengan mata berbinar.


Jeanara tersenyum melihatnya. Dapat ia lihat, binar bahagia di mata Mentari karena bisa merasakan bagaimana jadi seorang ibu meskipun hanya sekedar menemani Asha tidur.


"Jerva, kamu udah benar-benar tertarik sama Riri? Kalau kamu cuma buat dia jadi pelarian, please jangan! Kasihan dia. Udah cukup kesedihan yang ia lalui selama ini. Aku nggak mau lihat sahabat aku sedih lagi. Meskipun ia berusaha menyembunyikan kesedihannya, tapi aku tahu, perselingkuhan dan perceraian yang ia alami, benar-benar menghancurkannya. Aku takut ... dia benar-benar hancur dan tak bisa bangkit lagi bila sekali lagi ia merasakan parah hati," tutur Jeanara sambil menatap ke atas, dimana punggung Mentari menghilang.


"Apa aku terlihat sedang bermain-main?" ucap Jervario datar sambil menatap ke arah yang sama dimana Mentari menghilang masuk ke kamar Asha.


"Aku bukanlah tipe laki-laki yang mendekati perempuan sebagai pelarian. Aku serius tertarik dengan dia. Meskipun aku belum tahu apakah aku sudah jatuh cinta padanya, tapi aku yakin, aku benar-benar menginginkannya, jadi tolong jangan ragukan aku. Tolong dukung aku untuk mendapatkannya. Aku pun tahu, kesedihannya selama ini dan aku tidak pernah berpikir ingin membuatnya terluka. Selain itu, aku yakin hanya dia yang pantas jadi ibu untuk anakku. Dan dia butuh kami untuk pelepas laranya. Mohon bantu aku, yakinkan dia agar mau membuka hatinya untukku," ucap Jervario penuh kesungguhan.


"Tapi kau tahu kan, dia memiliki ketakutan tidak bisa memberikan keturunan? Hal itu yang menjadi salah satu alasan ia enggan membuka hatinya lagi, terlalu takut, terlalu cemas. Meskipun hasil test menyatakan dia subur, tapi dia tetap saja ragu. Kau tahulah alasannya. Suaminya baru berhubungan dengan wanita lain dalam hitungan bulan saja bisa hamil, lalu ia sudah 5 tahun menikah tapi tak kunjung hamil. Rasa ketakutannya itu seakan sudah terpatri kuat dalam relung jiwanya."


"Bukankah hamil itu hak prerogatif Allah? Kalau memang Allah tidak menakdirkannya hadir, kita bisa apa selain menerima. Lagipula bukankah aku sudah punya Asha? Diberi lagi Alhamdulillah, tidak juga tidak apa. Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi kita, hambanya," pungkas Jervario yang membuat Jeanara seketika bungkam.


"Sebagai saudara, aku pasti akan membantumu. Tapi aku juga akan bertindak bila sewaktu-waktu kau menyakitinya. Dia lebih dari sekedar sahabat bagiku, ingat itu!" tegas Jeanara setelah bungkam beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2