Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Kenangan


__ADS_3

Disinilah aku sekarang, di sebuah apartemen yang cukup luas menurut pemikiranku. Setiap ruangan yang kujalani tidak luput dari pandanganku. Kagum. Interior ruangannya begitu indah, serta tata letak setiap benda sungguh membuat siapa pun juga akan memandang takjub. Aku yang biasanya tidak betah tinggal di tempat kediaman orang lain, sekali pun itu keluargaku, berbeda dengan saat ini. Aku merasa sangat nyaman.


Sengaja saat ribut tadi aku langsung menghubungi Evha, seseorang yang kujumpai saat di Rumah Sakit kala itu. Hanya nama dia yang terlintas dalam benak kala sesak tadi datang. Aku juga tidak tahu mau meminta bantuan siapa, karena tidak ada siapa pun yang kupunya. Semenjak Bunda tiada, aku hidup sebatang kara. Semua kulalui tanpa berhenti bersyukur. Kala sesak datang, aku selalu mengucap syukur. Kala kesepian menyapa, aku tetap bersyukur. Semasa Bunda masih hidup, beliau selalu mengajarkan agar selalu mengucap syukur dalam segala situasi dan kondisi.


Hidup sebatang kara tidaklah mudah. Ingin bercerita, agar pedihnya lika liku hidup sedikit meredah. Jika kalian membayangkan hidup seorang diri dalam dunia ini, tapi masih ada mahluk yang bernama sahabat ...  Sungguh indah. Namun, hal itu tidak berlaku bagiku. Tidak ada kata sahabat walau banyak orang yang memberikan uluran tangan padaku. Mereka tidak lebih dari sekedar kumpulan teman.


Bagiku, sahabat itu memiliki tempat yang istimewah dalam hati. Tempat kita untuk menumpahkan apa yang terpendam dalam hati, dan tempat berbagi keluh kesah. Namun, melihat bagaimana sosok sahabat yang hadir dalam hidup teman sungguh membuatku merasa teriris. 


Semua kumulai dengan seorang diri. Bekerja mulai dari mentari menyapa hingga gelapnya malam. Melewati setiap detiknya dalam kesunyian. Namun, aku tidak ingin membiarkan segala leluhan meluncur dengan mudahnya dari bibir ini. Karena setiap langkah kaki yang kubawa, tidak lepas dari penglihatan hati nurani. Banyak di luar sana yang memiliki kehidupan yang begitu mirisnya, bahkan untuk sekedar makan pun terasa sulit.


Apa yang terjadi di masa kini, adalah sebuah jalan menuju kebaikan kamasa depan. Asal hati selalu tertambat kepada sang pencipta, maka tiada yang perlu untuk di ragukan. Pahitnya kehidupan bukan berarti menjadi peluang bagi diri untuk mengutuki takdir.  Bukan.


Tuhan selalu adil bagi setiap manusia, sekali pun dia berlaku jahat. Sama seperti matahari dan hujan, Tuhan menurunkan hujan kepada setiap manusia tanpa memilih siapa yang taat kepadaNya. Namun, tidak jarang pikiran manusia selalu memandang rendah akan sesuatu, mengingat satu perbuatan baik yang perna di lakukan untuk bekal di penghujung dunia nanti.


Setelah lulus SMA, aku tidak kuliah, melainkan langsung bekerja. Bukankah yang bekerja layak makan? 


Tuhan memudahkan langkahku dalam mengais rezeki. Hingga pundi pundi rupiah yang kudapat lumayan, maka aku langsung membeli rumah. Tidak terlalu mewah, tapi aku sangat mensyukurinya. Sampai kami menikah, kami memutuskan untuk tetap tinggal di rumah yang kubeli dengan hasil jeri payahku.


***


"Kalau perlu sesuatu, katakanlah. Nanti aku belikan. "


Ucap Evha di saat kami duduk di balkon apartemen ini. Karena ruangan kami berada di keketinggian, membuat lalu lalang di bawah terlihat sangat kecil dan sorotan cahaya dari lampu lampu mobil dan sepeda motor, mampu memperindah pemandangan.


"Kamu terlalu baik untukku. "

__ADS_1


Ucapku tulus seraya mengalihkan pandangan dari bawah sana kemanik mata coklat itu.


"Tidak ada ukuran terlalu baik dan terlalu buruk. Kita hanyalah sesama manusia yang di tugaskan untuk saling membantu. "


Lagi lagi aku di buat takjub akan ucapanya.


"Hey, usiamu berapa tahun sebenarnya?  Cara bicaramu terdengar lebih dewasa dariku. "


"Dewasa bukan umur, tapi jalan yang di tentukan oleh pikiran. "


Aku di buat tercengang oleh gadis yang duduk di sebelahku. Tatapannya lurus kedepan, entah apa yang sedang bermain dalam benaknya saat ini.


Lalu dia menoleh kearahku, meraih tangan kanan dan menggenggamnya erat dengan sorot mata yang tetap teduh.


"Bisakan aku memanggilmu Kakak? "


"Kamu sopan sekali. "


"Boleh, kan? "


"Tentulah boleh. "


Senyum yang terukir pada bibirnya semakin mengembang, membuat lesung pipi yang berada di pipi kanannya semakin terlihat jelas. Manis.


"Tapi, aku ngak bisa setiap waktu datang kesini. Walau pun ini apartemenku, tapi aku ngak tinggal dsini. Aku masih tinggal bersama keluargaku. "

__ADS_1


Aku mengernyit, masih bingung akan ucapannya.


"Maaf yah kalau nanti aku jarang datang. "


Ucapnya lagi, setelah melihat raut kebingungan yang terpancar dari wajahku.


"Hey ... Tidak perlu meminta maaf. Kamu udah berkorban banyak untukku. Kalau ngak ada kamu, aku ngak tahu apa aku masih waras saat ini atau sudah gila. "


"Kamu ngak boleh ngomong gitu. Apa kamu udah putus harapan?  Apa bayi yang berada dalam kandunganmu tidak juga cukup untuk sebagai alasanmu bertahan?  Bayi yang menemani kala kesukaran hidup selalu bergantian menyapa, kadang juga saat kepedihan itu datang, dia tetap ada bersamamu. "


Jantung terasa berdetak dengan  cepat. Ada yang terasa menyayat hati ketika ucapan itu keluar.


"Bahkan kamu juga perna sampai melupakan keberadaannya. Mengikuti nafsu amarah hingga melampiaskannya pada tubuhmu sendiri, yang artinya juga melampiaskan pada bayi yang sedang kau kandung. "


Ucapannya begitu tajam dan menusuk. Apa aku marah?  Tidak!  Ucapannya bagai tamparan keras yang datang saat tubuh ini menyeret jiwa menuju jurang yang lebih dalam. Dia benar.


"Kita  sebagai wanita harus tetap kuat. "


Kurasakan tubuhku di bawa dalam pelukan hangatnya. Elusan pada bahu sungguh menambah kekuatan yang hampir habis.


"Menangislah. Menangis dengan syahdu. Tangisi dosa dan kesalahan di masa lampau, lalu mulailah menata hidup baru. "


***


Dalam cahaya remang-remang, aku masih betah terjaga dari tidur. Kuraih ponsel yang berada di atas nakas. Pukul  tiga dini hari. Tidak dapat di bohongi jika hati dan pikiran masih melayang jauh pada sosok suami yang entah sedang apa sekarang. Mungkin wanita ****** itu sedang tersenyum penuh kemenangan atas jalan yang kupilih. Ada nyeri yang kembali menyeruak dalam dada, yang kian lama kian menyakitkan. Betapa bodohnya aku yang rela menjadi penanggung segala sakit dalam keluarga kami ini.

__ADS_1


Namun, aku tidak tahu harus berbuat apa apa lagi selain pasrah. Aku tidak sebodoh yang mereka pikirkan. Biarkan saja mereka tetap berdiri pada pemikiran yang dangkal itu, hingga tiba saatnya nanti semua akan berbalik kembali kepada mereka.


Tidak sabar rasanya untuk menunggu hari esok.


__ADS_2