Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Dalam Rumah Tanggaku
TUJUH PULUH ENAM


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu Mentari sebab hari ini merupakan tepat 3 hari setelah kepergian Asha. Meskipun mereka kerap video call pada malam hari, tapi tetap saja tidak bisa menuntaskan kerinduan Mentari pada putri sambungnya itu.


Menurut informasi dari Jervario, sore itu Asha sudah dalam perjalanan pulang. Tak sabar menanti kepulangan Putri kesayangannya, Mentari pun pulang lebih awal dan berencana memasak makan malam sendiri untuk keluarga besarnya, khususnya untuk menyambut kepulangan Asha.


"Semangat banget, sayang," ujar Jervario saat menemani Mentari berbelanja untuk menyiapkan makan malam spesial bagi Asha.


Mentari terkekeh kecil, "aku udah kangen banget sama Asha, bang. Jadi nggak sabar mau masakkin Asha sekalian buat puding juga," sahutnya dengan tangan sambil memilah sayur-sayuran dengan begitu cekatan.


"Makasih ya, sayang karena udah nerima aku sepaket dengan Asha. Makasih juga karena kamu udah begitu menyayangi Asha dengan tulus. Mungkin yang nggak tahu, kalau liat bagaimana sayangnya kamu ke Asha, pasti mereka mengira kamu mami kandungnya. Bikin Abang makin cinta aja," ujar Jervario membuat Mentari tersipu.


"Abang bisa aja. Justru aku hanya yang seharusnya berterima kasih sebab berkat bertemu dan menikah dengan Abang, aku jadi bisa merasakan indahnya memiliki keluarga yang lengkap. Bukan hanya mendapatkan suami dan anak, tapi aku juga mendapatkan orang tua yang komplit, penuh kasih sayang, perhatian, dam pengertian. Oh ya, berkat Abang juga sahabat aku kini telah menjadi saudara. Riri benar-benar bahagia. Sesuatu yang lama Riri idamkan akhirnya bisa Riri dapat dan rasakan," ungkap Mentari sambil menatap laki-laki yang tengah menatapnya dari sisi kanannya.


"Duh, kamu kok gemesin gini sih! Coba ini di rumah, udah Abang terkam kamu," seloroh Jervario membuat Mentari terkekeh geli. "Eh, tapi belum bisa juga ya, kan baru 3 hari," gumam Jervario sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Mentari sampai tak mampu menahan tawanya yang kian berderai karena tingkah konyol suaminya itu.


"Udah bisa kok," celetuk Mentari sambil memilih buah apa yang akan dimasukkannya dalam puding.


"Apa? Apa katamu tadi, sweetheart? Tolong ulangi lagi?" Jervario menoel-noel lengan Mentari agar menoleh kepadanya.


"Nggak ada siaran ulang, sayang."


Mendengar Mentari memanggilnya sayang, sontak saja senyum Jervario merekah begitu lebarnya. Ia tak mampu menyembunyikan buncahan kebahagiaan itu. Ia benar-benar merasa sangat bahagia.

__ADS_1


"Beneran, kamu udah itu?" bisik Jervario membuat Mentari mendelik tajam ke arahnya. "Eitz, kok gitu sih matanya, Yang. Aku serius. Kan biasanya perempuan haid itu lebih dari 3 hari. Kayak Jea aja bisa sampai seminggu lho. Lha, ini baru 3 hari, beneran udah bersih?" tanya Jervario yang benar-benar penasaran. Ia takut, ia sudah berekspektasi tinggi, tau-tau diterjunkan ke dasar bumi alias gatot, gagal total.


"Beneran Abang. Kalau nggak percaya, Abang periksa sendiri nanti," bisik Mentari membuat Jervario membulatkan matanya.


"Yang, kamu kesambet dimana sih? Perlu Abang bawa ke tempat ruqiyah? Kok tumben omongannya menjurus ke ... ekhem ... mesyum-mesyum manja gitu."


Mendengar Jervario mengiranya kesambet, Mentari lantas mencubit lengan Jervario gemas.


"Enak aja dibilang kesambet," hardik Mentari seraya melotot. Setelahnya Mentari menghela nafas, "Riri juga heran sih sebenarnya. Biasanya benar-benar bersih tuh pas hari ke-lima, tapi bulan ini justru lebih cepat dari biasa."


"Oh, gitu. Tapi bagus deh artinya Abang udah bisa skidipluplup lagi kan! Ah, senangnya!" ujar Jervario dengan wajah sumringah membuat Mentari tersenyum simpul dengan pipi bersemu merah.


Pukul 7 lewat 14 menit, akhirnya mobil yang mengantarkan Ashadiva pulang telah tiba. Mentari yang baru saja selesai memasak makan malam pun bergegas mencuci tangan dan melepaskan apron di tubuh rampingnya. Setelahnya, ia gegas berlari untuk menyambut kepulangan Asha.


"Sha, peluk mami gih! Mami udah kangen banget sama Asha, tahu nggak! Mami bahkan sampai minta papi temenin ke swalayan untuk belanja biar bisa masak sendiri untuk menyambut kepulangan kamu. Sana gih, kasihan mami udah nungguin!" ujar Jervario agar Asha mau menghampiri Mentari. Mana ia tega melihat Mentari bersedih karena merasa diabaikan oleh Asha. Padahal ia sejak tadi sudah begitu bersemangat menyambut kepulangan Asha, tapi respon Asha sungguh di luar ekspektasinya.


Asha menoleh ke arah Mentari kemudian pelan-pelan mendekat ke arah Mentari. Mentari yang melihat Asha mendekat pun gegas merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Asha


Rasanya bahagia sekali saat Asha mau dipeluknya. Tapi kebahagiaan itu hanya berlangsung beberapa detik saja sebab baru saja ia dapat memeluk Asha, Asha langsung melepaskan pelukannya. Tidak seperti yang sudah-sudah, Asha tak mau lepas dari pelukannya.


Binar bahagia itu seketika meredup menjadi kesedihan. Matanya memanas. Bila dibiarkan pasti akan membentuk genangan kemudian tumpah menjadi derai air mata. Tak ingin merusak suasana, Mentari pun segera mempersilahkan semua orang untuk makan malam.


Mentari makan dengan tidak begitu semangat. Semangatnya yang tadi sempat membara benar-benar lenyap tak bersisa. Apalagi saat Asha tampak mengabaikannya. Asha justru kian dekat dengan ibu kandungnya. Ia selalu tersenyum dan berbicara dengan ibunya. Menceritakan keseruan-keseruan selama dirinya pergi dengan ibu kandungnya. Jujur, Mentari merasa amat sangat cemburu. Bolehkah Mentari merasa cemburu dengan ibu kandung Putri suaminya itu? Mentari menundukkan wajahnya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Tiba-tiba perutnya terasa seperti diaduk-aduk. Tak ingin merusak suasana hangat makan malam di meja itu, Mentari permisi ke toilet yang ada di kamarnya. Setibanya di kamar mandi, Mentari memuntahkan begitu saja apa yang baru disantapnya barusan. Semuanya, nyaris tak bersisa. Hingga hanya ada cairan kekuningan yang keluar barulah mual muntahnya benar-benar berhenti.


Wajah Mentari seketika memucat. Matanya memerah. Tanpa bisa dicegah, air mata Mentari luruh begitu saja disertai isakan yang tak tertahan di bibirnya. Entah mengapa, ia seakan merasa patah hati dengan sikap Asha barusan. Bahkan rasanya lebih menyakitkan dari saat ia mengetahui Shandi berselingkuh dengan Erna. Rasanya ... amat sangat sakit.


"Sayang, kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa wajah kamu pucat gini? Kamu sakit, hm?" cecar Jervario panik. Ia sengaja menyusul Mentari saat melihat gelagat tak biasa dari istrinya itu. Dan ia jadi kian panik saat melihat wajah pucat Mentari. Apalagi istrinya itu kini sedang menangis, membuatnya kian khawatir.


"Sayang, tolong jawab, kamu kenapa? Ada yang sakit? Kita ke dokter sekarang ya!" cecar Jervario lagi tapi Mentari menggeleng. Ia justru memeluk erat tubuh Jervario dan menumpahkan tangisannya kembali di dada suaminya itu.


"Sayang."


"Tolong, tetaplah seperti ini! Sebentar saja. Aku nggak papa kok. Aku nggak sakit. Riri paling cuma kelelahan. Dibawa tidur juga pasti langsung enakan." Jawabnya tanpa melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"Ya udah, kalau begitu, sekarang kamu istirahat ya!" tutur Jervario tak ingin memaksakan kehendaknya. Kemudian tanpa aba-aba, Jervario langsung membopong tubuh Mentari dan membaringkannya di kasur dengan perlahan.


Dipandanginya wajah pucat Mentari yang menatap sayu dirinya. Disekanya sisa-sisa air mata di pipi Mentari. Jervario yakin, Mentari tiba-tiba seperti ini karena sedih diacuhkan putrinya. Ia pun sebenarnya penasaran, mengapa Asha tiba-tiba berubah. Ingin ia segera bertanya, tapi ia tak ingin membuat Asha tiba-tiba berpikir buruk tentang Mentari. Bisa jadi Asha mengira Mentari yang mengadukan hal yang tidak-tidak padanya. Jadi ia akan melihat perubahan sikap putrinya itu beberapa hari ini. Kalau masih seperti ini, artinya ada yang tidak beres yang terjadi selama 3 hari ini, namun ia tidak tahu itu apa. Tidak mungkin bukan ia menuduh mantan istrinya itu yang tidak-tidak, apalagi tanpa bukti sama sekali.


"Awas saja kalau sampai kau merusak kepercayaanku, Milea! Bila itu benar terjadi, maka aku takkan pernah memaafkanmu," gumam Jervario sambil menatap sendu Mentari yang baru saja tertidur. Diusapnya kepala Mentari dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Maafkan aku yang belum benar-benar bisa membahagiakanmu seperti janjiku, sayang. Tapi aku akan mengusahakan apapun itu demi kebahagiaanmu," gumamnya tanpa melepaskan tatapannya dari wajah pucat Mentari. Tanpa ia sadari, sejak beberapa menit yang lalu, ada sepasang mata yang juga mengawasinya dengan sorot mata yang sulit diartikan.


...***...


Dear yang masih ngikutin cerita othor, sabar ya kalo alurnya jengkelin. Tapi tenang kok, othor nggak akan bikin masalah menjelimet mumet apalagi panjang kali lebar nggak kelar-kelar. 😄 Yang udah jadi pembaca setia othor, pasti udah hafal. 😁😁😁


Tapi makasih banyak lho yang tetap setia ngikutin cerita ini. Terima kasih banyak yang udah like, komen, kasih hadiah, nonton iklan, kasih vote, dan kasih rating 🌟🌟🌟🌟🌟.

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2