
"Kak, Robotnya bisa gerak sendiri. "
Seorang bocah laki-laki berbinar menatap takjub pada benda di hadapannya, begitu juga dengan anak perempuan yang di panggil kakak oleh bocah laki-laki itu.
"Wah ... Keren banget dek. "
"Kakak, coba tombol yang itu di pencet. "
Mereka kembali tertawa lepas, melihat aksi Robot di hadapan mereka. Ayah mereka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, sedangkan ibunya kadang menoleh kebelakang, melihat buah hatinya dan ikut merasa tergelitik akan kepolosan mereka. Hingga suara tawa itu makin lama mulai meredah, dan berganti dengan teriakan yang di susul oleh suara hantaman benda yang begitu kuat.
Darah.
Tampak banyak darah yang mengelumuri tubuh kedua bocah kecil itu, ada yang menggumpal di area kepala.
"Adik... "
Suaranya begitu menyayat hati ketika melihat bocah laki laki itu hampir tak jelas wajah karna tertutupi oleh cairan berwarna merah.
***
Peluh membanjiri baju dan bahkan rambutku hampir seperti habis keramas oleh keringat.
Mimpi itu lagi.
Entah apa maksud dan artinya, aku tidak tahu. Mimpi yang sering hadir bahkan sejak aku masih remaja begitu betah bersemayam dalam diri ini. Saat menoleh kesamping, aku tidak menemukan suamiku disana. Aku hampir lupa, kalau dia pasti sedang menghabiskan malam yang indah dengan maduku di kamar utama.
__ADS_1
Aku melangkah keluar kamar, tenggorokan yang kering rasanya sungguh menyiksa. Selesai menengguk segelas air putih aku kembali berjalan menuju kamar, tapi tanpa tahu dirinya mata ini menatap kearah pintu kamar itu. Sebagai istri tentu sangat menyakitkan melihat suaminya di bagi meski dengan alasan apa pun itu.
Aku menekan dada kuat-kuat, berusaha agar air mata tidak lagi keluar. Namun, sama saja. Tetesan bening itu masih juga keluar. Luka semalam dimana Mas Dani pergi meninggalkan aku seorang diri di kamar kecil ini, untuk menemani istri barunya belum juga sembuh. Sekarang luka itu semakin lama semakin mengangah.
Pernikahan mereka hanya di lakukan secara Siri, aku tidak tahu apakah halal bagi mereka untuk tidur dalam satu ranjang atau tidak.
Kembali aku melangkah menuju kamar, tapi sebelum aku beranjak pintu itu tiba-tiba terbuka. Mas Dani keluar dan sepertinya dia terkejut melihat kehadiranku.
"Lho, adek kok ada disini? "
Aku tidak menjawab, cukup menatap manik matanya. Berharap pancaran kesakitan dalam mataku dapat menjelaskan semuanya. Tangannya terulur menghapus air mata yang aku sendiri tidak sadar kalau tetesan itu kembali datang. Dia menarikku dalam pelukannya, lalu kubalas dengan memeluknya kuat. Dirimu hanya untukku, Mas. Jangan pergi, jangan acuhkan aku.
Aku merasakan kalau bahunya bergetar, kulepas pelukan dan melihatnya yang sedang menangis.
Ap kamu juga merasa tersakiti, Mas? Dsini akulah yang paling berat menanggung beban ini.
Kini akulah yang menghapus air mata itu, lalu menangkupkan telapak tangan pada pipinya. Aku ingin kembali selerti dulu. Mengelus wajah itu dalam malam malam yang kulewati sebelumnya. Memeluk tubuh lelakiku, kala mimpi buruk datang menyapa tanpa bertanya.
Hanya dia yang kupunya. Hanya dia yang mengerti diri ini, hanya dia pula yang selalu ada dalam keadaan apa pun itu.
"Mas, aku kangen. Aku ngak mau kayak gini mas. "
Kutatap matanya dalam. sungguh, kesakitan ini tidak dapat kutanggung seorang diri.
Ketika hendak memeluknya kembali, maduku itu keluar dengan tatapan tak suka melihat aku berada bersama dengan suamiku. Rasa benci itu langsung hadir bahkan hanya melihat wajah mulusnya. Kugenggam tangan suamiku kuat-kuat, berharap dia tidak pergi lagi.
__ADS_1
"Lho, mas ... Kenapa ada disini? Aku cariin di kamar ngak ada, ternyata disini. Bobo lagi yuk. "
Serasa mendidih darahku mendengar ucapannya barusan, seakan Mas Dani adalah suaminya sendtubuhSadar ngak dia kalau disini dialah yang ngak punya hak atas suamiku? Kenapa dia semakin semana-mena dalam rumah ini? Mungkin kalau bukan karna bantuan pekerjaan itu, sudah kuusir dia malam ini juga.
Ini adalah rumahku, rumah yang kubangun dengan penuh perjuangan semasa belum menikah dengan Mas Dani. Pernah berpikir untuk menjualnya agar hasilnya bisa di gunakan Mas Dani untuk buka usaha, tapi dia menolak dengan alasan kalau rumah ini penuh dengan kenangan.
"Desi, Mas Dani juga suamiku. Kamu masih ingat atau udah lupa sama tujuanmu datang dalam rumah tangga kami? Jadi kamu ngak begitu berhak sama suamiku. "
Kali ini emosiku sungguh tak dapat terkontrol lagi. Mas Dani mengelus bahuku dan matanya menyiratkan agar aku diam saja. Sungguh terlalu. Ada apa denganmu, Mas kenapa begitu patuh dengan iblis itu?
"Sudahlah mbak, mbak juga lagi hamil kan. Seharusnya mbak itu ngerti bahagaimana sakitnya tidur dalam awal kehamilan. Sekarang aku sangat butuh kehadiran mas Dani. "
Ucapnya tanpa rasa bersalah. Geram sekali rasanya. Kenapa tidak laki laki yang menghamilinya saja yang menemaninya tidur? Dimana otaknya?
"Sudahlah dek, Desi benar. Saat ini dia begitu membutuhkan mas. Kamu sekarang tidur yah. "
Hampir tidak percaya aku mendengar penuturan suamiku barusan. Kutatap matanya dengan rasa kecewa yang sangat-sangat mendalam.
Kamu berubah, Mas.
Kulepaskan genggaman pada tangannya, lalu berlari menuju kamar. Kututup pintu kamar dengan keras, menjatuhkan tubuh dan bersandar pada pintu. Dadaku terasa sesak. Air mata keluar dengan sangat menyakitkan. Sama sekali tidak menyangkah akan perkataannya tadi yang lebih memilih maduku itu.
Kuelus lembut perutku yang sudah membesar. Disana ada buah hati kami. Apa kamu mendengar semuanya, nak? Apa kamu ikut merasakan kesakitan yang bunda rasakan?
Di dalam sana anakku tidak lagi merasakan elusan lembut tangan Ayahnya. Sudah dua hari semenjak pernikahan mereka berlangsung, Mas Dani tidak lagi pernah mengelus bahkan menyapa anaknya.
__ADS_1
Pagi pagi sekali dia sudah harus berangkat bersama maduku ke kantor, dan pulang ketika malam menjelang. Semua waktunya seakan tersita oleh perlakuan wanita licik itu.