
Hari sudah menjelang malam, semburat senja pun sudah mulai menghilang ditelan kegelapan malam. Di salah satu bangku rumah sakit, tampak seorang lelaki masih mengenakan setelan kemeja kerja lengkap sedang tertunduk lesu. Gurat kelelahan tergambar jelas di wajah tampannya. Berkali-kali ia menghela nafas, menetralisir kegundahan hati, menanti kabar dari ruang UGD dimana sang adik berada.
Sepulang kerja tadi, saat baru saja Shandi hendak menyalakan motor tuanya untuk pulang ke rumah, tiba-tiba saja ada panggilan telepon. Melihat panggilan itu berasal dari sang adik, Shandi pun gegas mengangkatnya. Tidak biasanya adik perempuannya itu menghubungi dirinya kecuali ada suatu hal. Shandi pun segera mengangkat panggilan itu. Raut wajah Shandi seketika berubah tegang. Dari seberang telepon, ternyata yang menghubunginya bukanlah adiknya, tapi teman sang adik. Ia mengabarkan kalau adiknya datang ke rumah temannya itu sudah dalam keadaan berdarah-darah dan akhirnya pingsan. Merasa bingung sekaligus takut, temannya pun mengambil ponsel Septi dan membuka kunci layarnya dengan sidik jari Septi dan segera menghubungi nomor nomor Shandi yang ia ketahui adalah kakak dari Septi.
Shandi pun dengan segera memacu motornya ke rumah teman Septi dan membawanya ke rumah sakit. Ia belum tahu apa yang terjadi. Ia pun bingung, panik, khawatir, cemas, segala rasa campur aduk membuatnya kebingungan sendiri.
Mentari yang sejak tadi duduk di salah satu kursi, ikut menunggui, hanya diam tanpa bicara sepatah katapun. Ingin bertanya, tapi ia rasa belum saatnya.
Ceklek ...
Pintu ruang UGD terbuka dan seorang dokter diikuti seorang perawat keluar dari dalam sana dengan raut wajah tenang.
"Keluarga pasien?" tanya dokter tersebut.
Lalu Shandi pun mendekat. Mentari tetap menjaga jarak dengan berdiri tak jauh dari posisi Shandi.
"Bagaimana keadaan adik saya, dok? Dia baik-baik saja kan?" tanya Shandi dengan raut wajah panik. Siapa yang tak panik saat melihat sang adik tengah berdarah-darah dan pingsan seperti itu. Shandi memang melihat ada beberapa luka di bagian lengan, telapak tangan, dan kaki Septi. Seharusnya itu tidak terlalu parah, tapi yang membuat Shandi bingung adalah darah yang mengalir kedua paha Septi. Apalagi darah itu terlihat begitu segar dan banyak hingga membasahi kemeja putihnya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan adiknya? Memang beberapa Minggu ini ia tidak bertemu dengan Septi sebab adiknya itu mengatakan kalau ia ada pekerjaan di luar. Shandi yang sudah terlalu pusing dengan segala masalah yang ada dalam hidupnya, termasuk sang ibu yang masih terkapar sakit dan belum mengalami kemajuan apapun hingga membuat Shandi tidak begitu memikirkan keadaan adik perempuannya itu, termasuk dimana ia tinggal dan apa pekerjaan sebenarnya.
Dokter tersebut menghela nafas berat, kemudian mengatakan sesuatu yang membuat dunia Shandi terasa runtuh. Jantungnya bak ditikam belati, sangat tajam, perih, menyakitkan. Mengapa ini harus menimpa adiknya, pikirnya?
__ADS_1
"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan kandungan adik Anda. Selain itu, setelah melihat rekam medis pasien, pasien mengalami kanker serviks stadium 2. Untuk keselamatan nyawa pasien, kami sarankan pasien segera menjalani operasi pengangkatan rahim sebelum kanker menyebar ke jaringan sekitarnya," tukas dokter itu pelan tapi menusuk membuat dunia Shandi seketika berhenti.
Adiknya hamil?
Adiknya mengalami kanker serviks dan harus menjalani operasi pengangkatan rahim?
Shandi seketika linglung. Kakinya melemas, bak jelly, benar-benar tak ada tenaga. Wajahnya pias, sorot matanya kosong, seakan nyawanya tercabut dari raganya.
"Untuk prosedur tindakan selanjutnya, kami harap Anda segera mengurus administrasinya! Waktu Anda tidak banyak lagi, apalagi pendarahannya masih belum bisa kami hentikan. Kita harus bertindak sesegera mungkin demi keselamatan nyawa adik Anda," tukas dokter tersebut sebelum kembali masuk ke dalam ruangan UGD.
"Operasi? Ba-bagaimana ini? Aku ... aku tidak punya uang sebanyak itu. Pasti biayanya besar, aku harus bagaimana ya Tuhan? Septi ... kakak harus bagaimana?" racaunya.
Bola-bola kaca yang tadi menyelimuti bola matanya seketika pecah. Dadanya sesak membayangkan kesakitan sang adik di dalam sana.
Hiks ... hiks ... hiks ...
"Aku harus apa? Aku harus bagaimana? Bagaimana ini?" racau Shandi sambil menjambak rambutnya sendiri.
Mentari seketika iba. Tapi ia tak ingin mendekat walaupun sejengkal untuk menenangkan laki-laki yang pernah bertahta di hati dan hidungnya itu. Ia harus sadar, kini mereka tidak memiliki hubungan sama sekali. Ia juga harus ingat siapa dirinya sekarang. Hingga sebuah tepukan di pundaknya membuat perempuan hamil itu menoleh. Lalu ia pun segera berhambur ke dalam pelukan orang itu yang ternyata suaminya sendiri.
__ADS_1
Tadi setelah melihat Septi lah yang dibawa ke UGD membuat Mentari berniat ikut menungguinya. Septi memang pernah bersikap jahat padanya, tapi kejahatan tak selalu mesti dibalas dengan kejahatan bukan? Biarkan tangan Allah yang bertindak. Selain itu, bagaimana pun Septi dan Shandi pernah menjadi bagian dari dalam keluarganya. Shandi pun tidak pernah benar-benar menyakitinya. Ia tahu, semua yang dilakukan laki-laki itu atas dasar perintah sang ibu. Meskipun ia tak dianggap oleh keluarga mantan suaminya itu, tapi ia tak ingin bersikap kejam. Apalagi ia melihat Shandi hanya seorang diri dalam keadaan kebingungan. Mentari dapat melihat, Shandi pun kebingungan dengan apa yang menimpa adiknya itu. Karena itu, ia pun segera menghubungi suaminya untuk meminta persetujuan setelah sebelumnya menjelaskan apa yang terjadi untuk menghindari kesalahpahaman.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Jervario yang belum tahu keadaan sebenarnya.
"Dia keguguran dan harus menjalani operasi pengangkatan rahim sebab ternyata Septi mengalami kanker serviks," ujar Mentari menjelaskan secara singkat membuat Jervario cukup terkejut. "Bang, aku boleh bantu mereka nggak?" tanya Mentari hati-hati.
"Bantu? Bantu apa?" Jervario mengerutkan keningnya.
"Sepertinya dia nggak punya biaya untuk melakukan operasi. Boleh aku membantu membiayainya?" tanya Mentari. Meskipun ia akan mengeluarkan uangnya sendiri, tapi ia tetap harus meminta persetujuan sang suami. Semuanya demi menghindari kesalahpahaman. Ia tak mau suaminya salah paham dan mengira ia masih ingin berhubungan atau bahkan masih memiliki perasaan dengan laki-laki yang pernah membersamainya lebih dari 5 tahun itu.
Jervario mengerutkan keningnya, menimbang sejenak, kemudian mengangguk. Ia percaya, istrinya itu membantu atas dasar kemanusiaan, bukan karena masih mencintai mantan suaminya itu. Jadi ia tak perlu terlalu khawatir. Ia mengerti, bagaimana pun mereka pernah menjadi bagian dalam hidup istrinya.
"Hmmm ... lakukanlah," ujar Jervario seraya tersenyum lembut.
Setelah mendapatkan izin, ia pun mendekat pada Shandi, tapi tetap dengan sedikit berjarak.
"Mas Shandi, ayo kita segera ke bagian administrasi. Septi harus segera dioperasi. Kita tidak punya waktu banyak lagi, cepatlah!" tukas Mentari membuat Shandi terperangah tak percaya ternyata mantan istrinya masih bersedia membantunya. Ia mengerjapkan matanya, lalu menoleh ke arah Jervario yang mengangguk.
"Ta-tapi ... "
__ADS_1
"Sudah, cepatlah. Tak perlu banyak bicara lagi," ketus Mentari dengan raut lelahnya.
"Tari ... terima kasih," serunya dengan bercucuran air mata. Ia pun segera melangkahkan kakinya mengejar Mentari yang sudah lebih dahulu melangkah bersama suaminya.